
Tengah malam, Raka terbangun karena tidak bisa tidur. Gelisah, itu yang ia rasakan saat ini. Dengan gerakan yang sangat pelan, ia turun dari kasur kemudian merogoh sebuah kotak di kolong ranjang.
Kotak itu bewarna biru dengan motif polkadot, terlihat seperti kotak mainan. Saat membuka kotak itu, ia langsung tersenyum dan mengambil buku dari kotak itu. Ya, kotak itu bukan berisi mainan. Raka membuatnya terlihat seperti kotak mainan padahal isinya tumpukan buku. Buku-buku favoritnya. Ada yang tentang psikologi, bisnis, dan bahasa Prancis.
"Aku tidak akan bisa tenang kalau belum menghabiskan satu buku." Gumamnya sambil membuka halaman. Entah itu penyakit (?) Atau memang keunikan. Ia akan merasa gelisah dan pusing sepanjang hari kalau buku yang ia baca belum habis. Sehari satu buku. Itulah kebiasaannya dari dulu.
Tentunya ia sembunyikan itu dari neneknya. Lynn tidak akan pernah tau. Ia selalu menggunakan seribu cara untuk menutupi 'kegelisahan' tersebut.
Tak terasa 1 jam berlalu. Raka buru-buru merapikan bukunya, dan memasukkan kedalam kotak. Tidak lupa ia dorong ke arah kolong dan naik ke atas kasur lalu tidur dengan perasaan lega.
Pagi harinya, mereka beraktivitas seperti biasa. Kejadian kemarin, sudah mereka lupakan. Lynn bersiap-siap ke toko, sedangkan Raka menikmati sarapannya. "Nenek akan pulang terlambat. Mungkin malam." Katanya sebelum pergi.
"Jangan lupa makan ya. Istirahat saja sebentar kalau merasa lelah." Kata Raka sambil memeluknya.
Lynn mengangguk dengan tersenyum.
"Besok, kita belanja untuk persiapan liburan akhir tahun, yaaa. Kan sudah lama tidak jalan-jalan." Ia mengira cucunya akan senang dengan kejutan ini, tapi tidak.
Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu jalan-jalan. Lebih baik kita membeli stok cemilan dan menikmatinya di rumah." Katanya.
"Memangnya kamu tidak bosan di rumah terus? Tidak mau pergi ke sesuatu tempat. Misalnya wahana permainan?" Ia sangat heran dengan cucunya yang tidak menyukai tamasya. Sangat berbeda dengan anak kecil pada umumnya.
"Kalau aku bosan, aku akan mengatakannya pada nenek. Tapi, kalau nenek ingin pergi ke suatu tempat, aku akan ikut menemani." Lynn terkekeh mendengarnya. Akhirnya, ia pamit pergi, meninggalkan cucunya yang sendirian itu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Bulan Desember tiba.
Mall dan toko sudah ramai pengunjung. Banyak orang yang berbelanja untuk menikmati liburan akhir tahun bersama keluarga. Dan yang paling di tunggu-tunggu adalah salju.
Seakan mendapat mainan baru, anak-anak langsung berhamburan ke jalanan yang sudah di tutupi salju. Ada yang bermain bola salju, ada juga yang membuat boneka salju.
Begitu juga dengan Raka yang fokus membuat rumah salju atau iglo. Katanya ia ingin merasakan tinggal di situ. Lynn membersihkan salju di depan rumahnya agar terlihat bersih.
Malam harinya, angin salju datang tiba-tiba dengan kencang. Para warga langsung buru-buru pulang karena udara semakin dingin. Jalanan sepi, begitu juga toko dan mall sudah sepi pembeli. Hanya ada beberapa bus yang masih beroperasi.
__ADS_1
"Bbrrr!! Dingin sekali. Uuuuhhh padahal aku habis makan sup hangat." Kata Raka sambil menggosok-gosok telapak tangannya. Lynn datang dengan membawa nampan berisi dua gelas minuman coklat hangat. Langsung saja ia ambil dan memegang gelasnya yang hangat.
"Ini lebih baik. Fuuhhh."
"Seharusnya kita buat perapian di dalam rumah ya." Ucap Lynn sambil menikmati minumannya.
Raka menggeleng tanda tidak setuju. "Biaya untuk membuat perapian itu tidaklah sedikit. Lagi pula, dengan adanya makanan dan minuman hangat juga sudah cukup, kok." Katanya. Setelah itu, suasana mendadak hening. Mereka sibuk menghangatkan badan.
"Tahun depan, rencananya kita akan pindah. Rumah ini akan nenek sewakan saja. Bagaimana?" Kata Lynn memecah keheningan. Raka melihat neneknya dengan tatapan bingung. Ia diam membisu. Tapi tak lama ia bersuara.
"Aku tidak mau mengatakan apa-apa. Semua itu keputusan nenek. Yang penting, nenek bahagia. Itu saja." Jawabnya sambil menundukkan kepalanya. Entah kenapa, ia tidak bisa melihat wajah neneknya.
Mereka pun menghabiskan minumannya kemudian bersiap tidur. "Raka, ayo tidur. Menulisnya di lanjut besok saja." Ucap Lynn melihat Raka sibuk menulis sambil memegang kepalanya.
"Sebentar lagi selesai. Nanti aku menyusul. Lampunya dimatikan saja. Aku tidak apa-apa kok" katanya sambil tersenyum lebar. Lynn akhirnya pergi ke kamar dan duduk di ranjangnya. Ia merasa cucunya menyembunyikan sesuatu.
"Kenapa aku tiba-tiba teringat Alan? Ya, dia kan selalu datang tiba-tiba. Kalau dia datang dan menyakiti nenek lagi, bagaimana ya? Seharusnya ku h*bisi saja dia waktu itu." Monolognya.
Dia takut, sangat takut. Hal buruk terjadi pada neneknya. Dia sengaja duduk di ruang tamu dan pura-pura menulis meskipun lampu sudah dimatikan, untuk memantau apakah dia akan datang atau tidak.
Jam menunjukkan pukul 12:30 malam. Angin salju berhembus makin kencang. Udara semakin dingin. Tapi, bocah satu ini tidak merasa kedinginan. Jantungnya berdetak sangat kencang. Keringat mengucur deras. Perasaannya makin gelisah. Ia pun bangun dari tempat duduknya dan membuka gordennya sedikit.
Matanya terbelalak kaget. Yang ia khawatirkan terjadi. Alan datang. Langsung ia mengecek pintu. Sudah terkunci. Gorden sudah tertutup rapat. Ia duduk di lantai sambil mengatur napasnya.
BUGH BUGH!!!!
"HEI BUKA!" katanya dengan berteriak dari luar. Ia terus menggedor pintu. Sampai akhirnya....
BRAAKK!!!
Pintu terbuka paksa sampai rusak. Angin kencang berhembus masuk kedalam rumah. Raka mengatur napasnya sambil mengepalkan tangannya.
"Beruntung kamar nenek sudah ku kunci." Batinnya..
"Heh.. si s*al*n ini. Sok berani sekali menghadang ku." Raka tidak gentar ia terus berdiri menghadangnya masuk ke kamar.
__ADS_1
"Mana wanita itu?" Tanyanya santai.
"Dia ibumu! Kalau kau datang hanya untuk mengganggunya, lebih baik keluar!!" Ucapnya dengan berteriak.
Merasa diinjak olehnya, Alan mengangkat tangannya siap untuk memukul cucu kesayangan ibunya.
"Jangan! Hentikan! Jangan sakiti dia!" Tiba-tiba Lynn keluar dari kamarnya. Raka terkejut, bagaimana bisa neneknya keluar padahal, dia yakin sudah mengunci kamarnya.
"Kalau begitu, berikan aku semua uangmu. Atau-"
PLAK!
Satu hal yang tak pernah Raka lihat selama tinggal bersama neneknya adalah ekspresi marahnya. Tidak pernah ia lihat neneknya marah. Sedikit pun, tidak pernah. Kesal sedikit saja, tidak pernah. Baru kali ini, ia melihat bagaimana neneknya marah.
Alan, yang baru pertama kali ini di tampar oleh ibunya, kaget.
Sama seperti Raka, ia belum pernah melihat ibunya marah. Hanya sedih dan menangis. Itu yang ia tau tentang ibunya. Pipinya terasa panas setelah di tampar sampai meninggalkan bekas.
Dengan muka yang merah padam, ia mengepalkan tangannya. Ingin membalas tamparan keras itu.
"APA KURANGNYA IBU? KURANG SABAR APA SELAMA INI?! SEMUA KELAKUAN BURUKMU, IBU TERIMA. IBU TETAP SAYANG SAMA KAMU! SELAMA INI, IBU BERJUANG KERAS UNTUKMU. TAPI, INI YANG KAMU BERIKAN PADA IBU?! IBU TIDAK BUTUH UANG MU. IBU HANYA INGIN KAMU MENJADI ORANG BAIK DAN HIDUP NORMAL. KEHIDUPAN MU SEKARANG INI TIDAK NORMAL!"
Lynn berteriak melampiaskan semua yang selama ini ia tahan. Napasnya terengah-engah. Kecewa, sedih, kesal, ia keluarkan semua. Kemudian, saat membalikkan badannya untuk kembali ke kamar, tiba-tiba......
"Jangan!"
Jleb!
"Wanita S*aln!"
Lynn di tusuk dari belakang dan terjatuh. Darahnya keluar deras. Napasnya mulai hilang. Pandangannya mulai kabur. Air matanya keluar, Tubuhnya tidak berdaya. Ia melihat cucunya berdiri kaku di depannya, shock dengan apa yang ia lihat.
"Aku menyesal tidak mendengarnya. Cucuku, maafkan nenek, yaaa. Sepertinya kita tidak bisa pindah rumah tahun depan." Ucapnya lirih. Setelah itu, ia menutup matanya dan........
(Detik-detik berakhirnya season 1)
__ADS_1