Warm Home

Warm Home
Season 2 Chapter 25


__ADS_3

2 hari kemudian....


"Selamat pagi. Wah! Matahari bersinar sangat cerah hari ini. Tapi.... Salju masih turun di malam hari lho! Sekarang tuan muda ganti baju yaa. Ah iya! Hari ini menunya ayam bakar. Sudah lama kan, tidak merasakan ayam bakar??? Hahaha! Makanya, anda harus bangun, jangan tidur terus yaa. Hari ini pakai piyama lagi yaaa supaya anda bisa tidur dengan nyaman. Wah! Ada piyama baru. Baru kemarin Tuan Raphael membelinya. Anda pasti suka."


Ya,,,, Setelah Raka dinyatakan koma, orang-orang yang menjenguknya selalu mengajak bocah yang masih 'tidur' itu berbicara. Mereka yakin, Raka bisa mendengar suara mereka meskipun tidak ada respon.


Nicholas, sebagai pelayan setianya tidak pernah berhenti mengajaknya berbicara meskipun tau, bocah itu tidak bisa merespon. Raphael juga mengajaknya bicara di waktu tertentu. Ia tidak keluar kamar kecuali ada keperluan.


Tidak ada rasa bosan di hatinya berada di kamar 24 jam tanpa mainan. Ia malah mengisi waktunya dengan membaca, menulis, dan menggambar. Sebelumnya ia juga suka membaca dan menulis tapi, tidak sesering ini. Tidak hanya itu, Wajahnya tidak terlihat ceria lagi seperti biasa.


Ekspresinya datar, sering diam dan terlihat serius serius. Nicholas yang selalu memperhatikannya setiap hari, sampai mengira kalau sosok Raka masuk kedalam tubuhnya.


Seperti saat ini, ia sedang membaca buku sambil memegang pensil di tangan kanannya. Tidak peduli siapa yang datang, ia tetap fokus menatap bukunya. Kecuali, kalau ada perawat yang datang, ia langsung beralih perhatiannya.


"Tuan, waktunya sarapan." Ucap Nicholas sambil menyodorkan sebuah nampan berisi segelas susu hangat dan dua lembar roti yang dioleskan selai kacang. Bocah rambut panjang itu belum makan apapun sejak bangun tidur. Ia hanya merapikan kasurnya, mengganti pakaiannya dan minum segelas air mineral.


"Terimakasih sudah mengingatkan. Aku akan makan 10 menit lagi." Sahutnya sambil tetap fokus. Kali ini ia sedang menulis. Lebih sulit lagi menghentikannya kalau sudah menulis. Ia akan marah jika ada yang mengganggunya saat sedang menulis.


"Aku akan lupa apa yang ku baca tadi." Begitu katanya.


Nicholas menyerah, ia kembali ke tugasnya merapikan kamar tuannya, kamar tamu yang disulap menjadi kamar rawat inap VIP.


"Nich. Tolong berikan ini kepada kakek. Katakan saja padanya bahwa Tugas adikku sudah selesai semua."


Nicholas menerima beberapa lembar kertas yang diberikannya. Ia mengernyitkan dahinya karena tidak tau arti tulisan-tulisan itu.

__ADS_1


"Tugas bahasa spanyol." Ucapnya sambil tersenyum tipis. Nicholas mengangguk pelan lalu keluar dari kamar, tak lupa menutup rapat pintunya


"Raka, kamu harus segera bangun untuk mengungkapkan semua fakta yang kamu pendam." Ucapnya lirih sambil menatap adiknya. Tangannya terus memotong-motong roti lalu memakannya sambil meremas roti itu.


Flashback tahun 1986 pertengahan November.


Jam 23:00 Mansion sudah sepi. Para pelayan sudah tidak ada yang bekerja. Sudah dari jam 21:00 mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. George juga sudah tidur pulas di kamarnya.


Tapi.... Tidak semua penghuni mansion tidur. Ada dua bocah aktif yang masih betah melek. Mereka berjalan dengan sangat pelan menuju suatu tempat. Sebuah Lorong yang menuntun mereka ke suatu tempat rahasia yang tidak boleh ada yang masuk. Kecuali pemilik mansion itu.


"Raka, jangan kesitu lagi. Kalau ketahuan kakek, nanti kamu dimarahi lho. Bisa-bisa dihukum juga. Ayo kembali ke kamar. Katanya mau membantu ku merapikan boneka." Kata Raphael yang berusaha mengalihkan perhatian adiknya.


Raka sangat keras kepala. Ia tidak menghiraukan perkataan kakaknya. Ia benar-benar masih penasaran dengan ruangan terpencil itu.


"Sudahlah, kembali saja ke kamar. Aku berani disini sendirian. Pokoknya, aku mau masuk!" Ucapnya meyakinkan. Sampailah mereka di depan pintu ruangan itu. Raka mengambil sesuatu dari sakunya. Tangannya langsung sibuk mengutak-atik lubang kunci itu dan tak lama....


Pintu berhasil terbuka. Raka menahan pintunya agar tidak terbuka lebar. Ia pun masuk disusul kakaknya yang berusaha menenangkan diri.


Uhuk!!!


Raphael tiba-tiba batuk karena tebalnya debu di ruangan itu. Raka menyalakan lampu senternya dan berkeliling santai. Raphael tidak berani bergerak. Ia menoleh kanan kiri mengawasi jika ada yang datang.


"Hhm?!! Buku apa ini?" Raka menemukan sebuah buku usang yang tebal. Buku itu dalam keadaan terbuka. Ia menyoroti cahaya ke arah buku itu lalu meniup sedikit supaya terlihat isinya.


"Melvin Anastacius Vicenzo.... Oh! Dan Ini anaknya?"

__ADS_1


Bukannya mengantuk, Bocah itu terus membaca guna menuntaskan rasa penasarannya. Saking asiknya, ia sampai lupa akan kakaknya.


"Minum ini atau adik kesayanganmu yang meminumnya dan mati perlahan." Kata seorang pria yang menodongkan pisau lipat di leher Raphael sambil memberikan botol kecil berisi cairan yang warnanya gelap. Orang itu juga menjambak rambut panjangnya dengan kuat sampai ia meringis kesakitan.


Raphael menahan tangisnya, badannya gemetar ketakutan. Ia ingin berteriak tapi, khawatir adiknya menjadi korban. Tangannya terulur untuk mengambil botol berisi cairan misterius itu.


Baru saja memegangnya, dari arah belakang ada yang merebut botol itu. Ternyata orang itu Raka dan hal yang mengejutkan terjadi. Raka meminumnya habis lalu badannya tiba-tiba lemas.


Ia terduduk di lantai menahan badannya yang hendak jatuh tengkurap. Raphael memeluknya ketakutan. Perasaan bersalahnya muncul. Ia takut, takut yang adiknya minum tadi adalah racun.


"Hiks! Kenapa kamu melakukannya?? Maafkan --"


Raka menepuk-nepuk pundak kakaknya lalu menggeleng pelan.


"Jangan menangis. Pinjamkan saja punggung mu. Aku tak kuat berjalan." Ucapnya lemas. Raphael mengangguk lalu menggendong adiknya di punggungnya. Perasaan bersalahnya makin bertambah. Merasa sangat lemah dan tidak berguna.


Hal yang ia takutkan dan khawatirkan terjadi. Raka jatuh sakit tiap malam. Ya, hanya di malam hari. Badannya demam, keringatnya mengucur deras. AC di kamar tidak mempan baginya. Badannya terus mengeluarkan keringat panas dingin.


Raphael setia menemani dan merawatnya. Meskipun mengantuk, ia berusaha untuk tetap terjaga.


"Kakak tidur saja. Sudah pukul dua dini hari. Nanti --"


"Sudah... Sudah.... Kamu tenang saja, kalau sudah tidak tahan kantuk Aku akan tidur." Katanya sambil berusaha tersenyum padahal hatinya menangis.


Kejadian itu tidak ada yang tau, bahkan George juga tidak tau. Mereka berdua berhasil menyimpannya rapat-rapat.

__ADS_1


Sampai akhirnya.... Tepat tanggal 2 Januari 1987...


__ADS_2