Warm Home

Warm Home
Chapter 8


__ADS_3

Esok harinya, Raka seperti biasa membantu neneknya membersihkan rumah. Ia mengelap jendela dengan hati-hati dan perlahan. Rencananya, hari ini ia ingin ikut dengan neneknya ke toko. Sudah lama tidak berkunjung ke sana.


Dulu sebelum punya sepeda, ia rutin kesana. Tapi semenjak punya sepeda, ia sering berkeliling sendirian.


"Nenek sudah selesai?" Tanya Raka sambil turun dari kursi. Lynn yang sedang membersihkan kursi dan meja ruang tamu, menggeleng pelan.


"Sebentar lagi ya." Raka mengangguk. Ia bergegas ke kamar untuk berganti baju.


Tiba-tiba saja Lynn teringat anak laki-lakinya yang entah bagaimana kabarnya di luar sana. Tatapannya berubah sendu.


Menatap kamar yang tertutup yang sudah lama tak berpenghuni. "Kamu sedang apa di luar? Ibu khawatir, nak."


Puk Puk.


Raka menepuk pelan lengannya. Lynn langsung tersadar dari lamunannya. "Nenek melamun? Ada apa?"


"Ah, iya. M-maksudnya tidak. Hanya teringat sesuatu. Kamu sudah siap ya. Tunggu nenek sebentar ya." Lynn bergegas ke dapur untuk mencukur tangannya dan keluar.


Klek!


Lynn mengunci pintu rumahnya dan merapikan bajunya sebentar. Ia melihat cucunya sudah siap dengan tas kecil di punggungnya. "Maaf ya nenek terlambat."


Raka yang membelakanginya neneknya, membalikkan badannya. Tatapannya tajam dan mukanya terlihat kesal.


"Orang yang tidak menghargai perasaan mu tidak pantas di kasihani. Jangan menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran untuk hal yang sia-sia."


Lynn benar-benar di buat terkejut untuk kedua kalinya. Badannya kaku seketika. Tatapan dan cara bicaranya seperti bukan cucunya. Awalnya, Lynn mengira cucunya kesal karena terlalu lama menunggu ternyata bukan itu.


"Uuummm.... Yasudah, ayo kita pergi." Katanya sambil berusaha tersenyum. Tanpa berkata apapun, Raka berjalan cepat mendahuluinya.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Kediaman George


Seorang pria paruh baya sedang melukis bunga kesukaannya dan mendiang istrinya, bunga anggrek dan tulip ungu, Lambang cinta sejati. Sambil mengingat masa lalunya yang indah bersama istrinya.


"Selesai juga." Ucapnya dengan tersenyum.


Tiba-tiba ia mengingat sesuatu saat melihat lukisan bunga tulip ungu. "Anak itu... Ingin sekali bertemu dengannya." Ucapnya lirih.


"Kakek sedang apa?" Seorang bocah bermata bulat dan indah bagaikan ruby tiba-tiba muncul dari belakangnya.

__ADS_1


"Hah?! Raphael? Kapan kamu datang?" Tanya George yang terkejut dengan kehadiran cucunya. Bocah itu hanya tersenyum melihat kakeknya yang kaget.


"Aku sudah datang 5 menit yang lalu. Aku melihat pintu kamar kakek terbuka, langsung saja aku masuk dan ternyata kakek sedang melamun yaaa."


George terkekeh mendengar suaranya yang menggemaskan.


"Memangnya kakek sedang memikirkan apa?" Tanyanya lagi. George melihat hasil lukisannya dan mengusapnya.


"Tidak ada. Kamu ini, cerewet ya seperti Zack."


Ehm!


Tiba-tiba yang baru saja di sebut langsung menyahut. "Iya, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Kata Zack tersenyum ramah.


"Rapikan peralatan lukis ku. Untuk lukisannya, biarkan di sini saja." Zack menunduk hormat.


"Nah, kamu tunggu kakek di taman bunga, ya. Kakek mau ganti pakaian dulu." Kata George sambil mencubit pipinya gemas. Bocah itu mengangguk cepat dan keluar dari kamar.


Klek!


Pintu kamar George di kunci oleh pelayan setianya. George menghembuskan napasnya kasar kemudian duduk di sofa.


"Sepertinya ada hal serius yang sedang anda pikirkan." George memejamkan matanya, kepalanya sedikit pusing. Akhir-akhir ini pikirannya stress.


George memegang kepalanya, badannya mendadak lemas, dan matanya berair. Zack sudah tahu ada hal yang tidak beres dengan tuannya, langsung membantunya berdiri dan memapahnya menuju tempat tidur.


"Saya akan mengatakan pada tuan muda --"


"Jangan! Aku sudah berjanji akan menemaninya dan sekarang telah membuatnya menunggu." Zack menggeleng, ia tidak suka tuannya yang selalu memaksakan diri..


"Tuan muda akan mengerti dan tidak akan kecewa. Saya mohon, istirahatlah untuk saat ini." George mengangguk pasrah, badannya memang sangat lemah. Zack akhirnya pamit keluar setelah merapikan peralatan lukisnya.


Tak lama kemudian, seorang bocah menerobos masuk ke kamarnya dan memeluknya.


"Kakek sakit ya. Istirahat saja yaaa. Aku tak apa, kok. Yang penting Kakek tidak sakit lagi." George tersenyum haru. Zack benar, cucunya akan mengerti kondisinya.


"Ini dia. Sekarang kakek duduk bersandar, biar aku yang akan menyuapi kakek--" katanya sambil mengaduk semangkuk bubur yang ia pegang.


"Hahaha. Kakek mu masih sanggup makan sendiri. Maaf ya sudah membuat mu khawatir."


Mereka berdua pun makan sama-sama. George memakan bubur hangat sedangkan Raphael memakan croissant yang tadi disediakan oleh maid.

__ADS_1


Sore pun tiba, waktunya Raphael untuk pulang. "Kakek jangan sakit lagi. Kalau badan sakit, istirahat saja." Ucap Raphael sambil memeluk kakeknya sebelum pulang.


George mengangguk. "Kamu juga istirahat ya."


Setelah cucunya keluar, Zack mengunci pintu kamar dan menghampiri tuannya yang terbaring lemas.


"Sebenernya, apa yang tuan pikirkan? Jangan terlalu memikirkan mimpi itu. Saya yakin suatu saat pasti akan --"


"Zack, ambilkan foto ayahku." Perintahnya. Zack segera mengambilnya di balik lemari yang tinggi. Foto itu tidak berdebu karena sering di bersihkan. Kemudian ia memberikan kepada tuannya. Dan tidak lupa, sebuah gambar anak kecil yang tampan.


"Terimakasih, oh ya! Aku hampir melupakannya." Ucap George ketika melihat gambar tersebut. Ia langsung membandingkan foto ayahnya dan gambar anak kecil itu.


"Memangnya, tampang dia seperti ini ya? Terlihat bukan seperti bocah pada umumnya yang mukanya Menggemaskan." George heran melihat wajah anak kecil itu, ekspresinya datar.


"Matanya memang bewarna ungu, ya. Unik! Baru kali ini aku--" George tiba-tiba diam karena mengingat sesuatu saat memperhatikan mata ungunya.


"Zack, apakah kamu memikirkan hal yang sama? " Tanya George pada Zack yang tersenyum padanya. "Tentu, tuan."


"Berarti, ini sudah kedua kalinya ia---- hah! Tak habis pikir. Tega sekali mengorbankan anaknya untuk menikmati kemewahan!" Geram George saat mengetahui sebuah fakta.


"Tunggu, tuan. Yang pertama kasusnya berbeda." Ucap Zack tiba-tiba. George memicingkan matanya, ia minta penjelasan dari pelayannya.


"Anak yang pertama di buang karena membawa kutukan sejak lahir. Kutukan berupa rambut bewarna ungu dan mata merah."


George geleng-geleng mendengarnya. "Masih ada ya, yang masih percaya dengan rumor seperti itu."


"Ada satu hal lagi, tuan. Silahkan di baca yang di garis bawahi." Kata Zack sambil menyodorkan selembar kertas. Saat George membacanya, matanya terbelalak. Kaget.


"Napoleon?!! Apa? Ini kebetulan atau.... Hah! Kacau. Berani sekali dia berurusan dengan Napoleon." Tiba-tiba kepalanya terasa berat, ia sedikit terhuyung. Beruntung di sampingnya ada Zack.


"Lebih baik tuan beristirahat. Biarkan orang-orang kepercayaan anda yang mengurus ini." George mengatur napasnya. Ia benar-benar tidak ingin mempercayai apa yang baru saja ia ketahui. Tapi, itulah faktanya.


"Napoleon! Kalian yang telah membunuh keluarga ku. Tak akan pernah ku lupakan kejahatan kalian!!" George berkata sambil mengepalkan tangannya, mengingat masa lalunya yang begitu kelam.


Teringat sangat jelas bagaimana satu persatu keluarganya meninggal, berjuang bersama istrinya mempertahankan perusahaan mendiang ayahnya, dan keluar meninggalkan tempat ia lahir dan dibesarkan karena sebuah fitnah mengenai orang tuanya.


George menitikkan air matanya yang dari tadi ia tahan. Ia menatap pelayannya tajam.


"Aku ingin laporan terbaru mengenai Napoleon. Untuk bocah itu, kirim beberapa orang untuk memantau kehidupannya!" Zack mengangguk patuh.


Setelah itu, ia membantu tuannya berganti pakaian kemudian pamit keluar. George berbaring menatap langit-langit kamar. Matanya melotot tajam seolah ingin menghabisi seseorang.

__ADS_1


"Teruslah berbahagia diatas penderitaan ku. Serapat-rapatnya kalian menyimpan bangkai, suatu saat akan tercium juga."


__ADS_2