
"Hai, Kita bertemu lagi." Kata seseorang yang tiba-tiba muncul didepan matanya.
"Goodness!! Kau siapa sih sebenarnya?! Dari tadi senang sekali membuat ku kaget." Kata Raka dengan nada yang sedikit membentak. Kemudian, ia melihat pelayannya duduk di bangku dari kejauhan.
"Nich. Kau pasti tau kalau ada yang datang, kan? Kenapa --"
"Ssttt! Jangan membuang energi mu untuk marah-marah. Aku yang menyuruhnya untuk diam." Kata bocah bermata merah itu.
"Ada perlu apa? Cepat katakan. Aku sudah sangat lelah untuk berbicara dan mendengar pembicaraan."
Raphael tidak tersinggung. Ia tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Masuk yuk. Kita mengobrol di kamarku saja. Angin malam tidak--"
belum selesai ia bicara, Raka mendorongnya kuat sampai terjatuh.
Untungnya, Sikutnya hanya lecet sedikit. Bocah yang terjatuh itu tidak menangis, Ia malah memperhatikan matanya Raka yang memancarkan kesedihan yang mendalam.
Nicholas berlari menghampiri mereka tapi, ia mundur saat Raphael mengisyaratkan dengan gelengan. Dengan gerakan mulut, ia mengatakan pada pelayan itu bahwa dia baik-baik saja.
"Tak perlu berbuat baik padaku. Urusi dirimu sana! Ingat! Aku hanya butuh nenekku. Satu-satunya orang yang tulus menyayangi ku. Orang yang pertama kali mengajarkan ku tentang kehidupan! Ya. Aku bukanlah cucu kakek yang baik. Aku selalu merasa tidak puas dan menginginkan sesuatu yang lebih untuk diriku sendiri.
Dengar sendiri, kan?! Aku bukan orang baik. Sejak kehadiran ku di sini, banyak masalah yang terjadi. Pelayan di pecat gara-gara aku. Aku menyesal meninggalkan kota S. Hiks..."
Bocah malang itu menangis lagi. Hatinya masih hancur atas kematian neneknya. Ia menangis terisak-isak sampai dadanya terasa sesak.
"Ya, Tidak seharusnya aku menikmati semua kemewahan ini. Hiks! Aku seharusnya bekerja di toko kue nenekku yang sekarang entah kondisinya seperti apa. Hiks! Aku hanya memikirkan kehidupan ku sendiri tanpa --"
"CUKUP! CUKUP, RAKA! KAMU TERLALU KEJAM PADA DIRIMU SENDIRI! TIDAK BOLEH KAMU MENGATAKAN SEPERTI ITU! SUDAH TERLALU BANYAK KAMU MENYAKITI DIRI SENDIRI.
BAYANGKAN JIKA KAMU TETAP DI KOTA ITU SENDIRIAN! KAMU PIKIR, ITU HAL YANG MUDAH?! Hiks hiks! KAMU HARUSNYA MENERIMA KENYATAAN BAHWA NENEKMU TIDAK AKAN KEMBALI LAGI. SEKARANG, KAMU HARUS FOKUS PADA DIRIMU SENDIRI!"
Para pelayan yang mendengar teriakkan itu, langsung menghampiri sumber suara. Terlihat dua bocah yang menagis di taman sambil adu mulut. Nicholas sibuk menenangkan tuan kecilnya yang terlihat menyedihkan.
__ADS_1
Salah satu pelayan berlari menuju kamar George. Ia mengetuk pintunya dengan cukup keras. Zack membukanya dengan menatapnya bingung. .
"Mana Tuan George? Hah.. hah..." Tanya pelayan itu.
"Ada apa? Cepat katakan!." Kata Zack yang penasaran.
"Di taman, cucunya Tuan George sedang bertengkar. Mereka sulit di hentikan." Kata Pelayan itu dengan sekali tarikan nafas.
George yang mendengar itu, langsung turun dari kasurnya. Matanya yang mengantuk sekarang telah terbuka lebar lagi.
"Antarkan aku kesana!" Titahnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Tuan muda, sudah. Saya mohon hentikan ini. Jangan sakiti diri anda. Sudah, jangan berkata apapun lagi. Sekarang, kita ke kamar dan istirahat yaa." Bujuk Nicholas.
Raka tidak berkata apa-apa. Ia hanya diam sambil mengatur napasnya. Sedangkan Raphael, penampilannya sudah berantakan. Ia sempat di tampar oleh Raka sampai pipinya merah.
Ia tidak melawan dan berniat membalas. Ia mengerti apa yang Raka rasakan sekarang.
Raka memperhatikan bocah itu dengan tatapan heran. Meskipun hatinya masih kesal, entah kenapa di hatinya yang terdalam ada rasa segan terhadapnya.
"Di dunia ini, banyak orang yang lebih menderita lagi dari Kita. Jangan merasa diri sendiri paling menderita. Mereka yang lebih menderita dari Kita, bisa maju dan berdiri tegak dengan kakinya sendiri. Meskipun banyak goresan yang menyakitkan. Sampai jumpa besok."
Setelah mengatakannya, ia pergi meninggalkan Raka yang masih diam. George, Zack dan pelayan tadi sudah sampai dari tadi bahkan mendengar perkataan terakhir Raphael yang membuat mereka terkejut.
Ya, Raphael memang cerdas seperti Raka tapi, tingkahnya sama seperti anak kecil pada umumnya. Ia suka bermain bahkan juga menyukai boneka. Menurutnya, dunia anak kecil sangat menyenangkan.
Berbeda dengan Raka yang berperilaku seperti orang dewasa. Maka itu, terlihat jelas kecerdasannya yang berbeda..
Selama ini, memang tidak ada yang tau kecerdasannya seperti apa. Benar-benar terlihat seperti anak kecil pada umumnya. Tak heran jika perkataannya tadi membuat mereka yang mendengarnya tercengang.
"George langsung menghampiri Raka. Penampilannya berantakan padahal, baru saja beberapa saat yang lalu ia mengganti bajunya.
__ADS_1
"Nicholas. Selama satu bulan, kau temani Raka. Pindahkan barang-barang mu ke kamarnya. Jangan biarkan dia keluar kamar sendirian." Titah George sambil mengelus punggung cucunya.
Nicholas mengangguk kemudian mengangkat badan tuannya yang masih kecil itu. Setelah kepergian mereka, George menyusul di belakang dan mengajak Raphael masuk.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Di kamarnya, Raka tertidur pulas di temani pelayannya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pelan pintu kamar lalu Nicholas langsung membukanya. Ternyata itu George. Dia berjalan dari kamarnya sendirian menuju kamar cucunya.
"Biasanya dia tidak akan langsung pulas. Hari ini sangat berat baginya. Ada perasaan bersalah saat melihatnya menangis tadi. Padahal, aku berjanji akan membahagiakannya tapi, ternyata tidak semudah itu." Kata George sambil mengusap rambut tebal cucunya. Tatapannya memancarkan kesedihan.
Semua itu tidak lepas dari penglihatan Nicholas yang sedari tadi memperhatikan betapa sayangnya George pada cucunya.
"Suatu saat, Tuan muda akan tau seberapa besar anda menyayanginya. Sekarang, beliau masih labil. Jangan merasa bersalah. Mungkin tuan muda masih belum terbiasa dengan gaya hidup dan keadaan yang baru." Ujarnya menghibur.
Kemudian Zack datang untuk menemani George kembali ke kamarnya. Nicholas menutup kembali pintu dan tiba-tiba seorang bocah yang sedang duduk di kasur Raka mengejutkannya.
"Ya ampun! Anda suka sekali mengejutkan orang. Tapi, tunggu. Kapan anda datang?" Bocah itu Raphael. Dia membawa dua boneka kelinci ukuran sedang dan kecil.
"Tadi aku buru-buru masuk saat pintu terbuka. Hehe... Tenang saja aku tidak akan berisik." Jawabannya sambil tersenyum.
Nicholas melihat pipinya yang ada bekas tamparan tadi. Ada rasa bersalah karena ia kurang cepat menjauhkan tuannya saat itu. Ia kalah cepat dengan Raka.
"Hmmm... Pipi anda, apakah masih perih?" Tanyanya. Bocah itu menggeleng pelan.
"Ini tidak seberapa. Tak usah di permasalahkan. Malah hatiku yang merasa perih saat melihatnya menangis. Ekspresi wajahnya marah tapi.. saat ku lihat matanya, ia memancarkan kesedihan. Aku yakin dia menampar ku bukan karena benci. Ada perasaan yang sulit di lupakan olehnya. Kehilangan seseorang yang sangat berharga di hidup kita bukanlah hal yang mudah. Dia masih belum siap kehilangan."
"Maafkan tuan muda, ya." Kata Nicholas.
"Tak perlu minta maaf. Aku tidak merasa kesal sama sekali. Aku ingin tidur di sini. Selamat tidur semuanya." Ucapnya sambil merapihkan bantalnya.
Setelah itu, ia meletakkan boneka kelinci berukuran kecil warna biru di samping Raka. Setelah itu, ia tidur tepat di bawah kakinya.
Nicholas hanya diam melihat tingkahnya yang gemas dan dewasa. Ia sangat berharap tuan kecilnya mau berteman dengan Raphael.
__ADS_1
×××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××