
Musim berganti, Tahun juga berganti. Tak terasa sudah masuk awal tahun 1986.
Sudah dua bulan Raka tinggal di kediaman mewah itu. Seluruh fasilitas, dan kebutuhannya tersedia di sana. Pastinya lebih canggih namun, hal itu tidak merubah kemandirian yang sudah tertanam di dirinya.
Nicholas, pria muda yang energik itu sudah resmi menjadi pelayan pribadinya. Tidak mudah menjadi pelayannya terlebih, Raka adalah anak yang biasa melakukan semuanya sendiri.
Sempat adu mulut karena Raka tidak mau di bantu saat sedang memasak ayam madu, makanan favorit kakeknya. Nicholas sudah tau ia terbiasa di dapur meskipun begitu, ia tetap cerewet karena khawatir tangan kecilnya terluka.
"Tuan muda, kalau saya membiarkan anda melakukannya sendiri, sama saja saya memakan gaji buta. Saya tidak mungkin duduk diam saja. Kalau anda terluka, bagaimana?." Katanya sambil memperhatikan gerak-gerik tuannya yang cekatan.
"Aku sudah terbiasa sendiri. Tolong mengertilah!"
"Tapi, tuan--"
Brak!
Dengan ekspresi kesal, ia menggebrak meja dan menatap tajam pelayannya.
"Nicholas! Tugasmu adalah menuruti semua perintahku. Sekarang, biarkan aku memasak sendiri. Nanti kau yang mencuci semua perabotan yang telah di pakai. Jadi, tak perlu panik begitu. Mengerti?!"
Setelah mengatakan itu, ia meneruskan pekerjaan yang tertunda sebentar.
Semua itu tidak ada yang lepas dari pandangan tajam George. Hans juga menceritakan kegiatan Raka selama tinggal bersamanya pada George dan Zack. Mereka benar-benar terkejut ketika tau bocah yang beranjak 6 tahun itu bisa membuat makanan yang lezat.
Diam-diam, George membuatkannya dapur kecil khusus untuk cucunya yang spesial. Saat sudah jadi, Raka merasa lebih leluasa untuk memasak makanan yang ia mau. Tak jarang ia juga membuatkan untuk kakeknya dan pelayannya yang agak menyebalkan.
Hubungan antara kakek dan cucunya makin dekat. Bahkan Raka juga tersenyum dan tertawa bersamanya. "Terimakasih sudah mau hadir di hidupku." Kalimat itu selalu terucap setiap hari sebelum George tidur.
~`````````~~``````````~~~~
Di pagi hari yang damai... Para pelayan yang sedang mengerjakan tugasny masing-masing tiba-tiba terusik dengan drama yang di buat oleh Nicholas. Dia tidak ikhlas sahabat yang sudah di anggapnya saudara, pulang.
Hans merasa sudah terlalu lama libur, memutuskan untuk kembali kota B.
"Nich! Biarkan Hans pergi! Akhir tahun kau bisa bertemu dengannya lagi. Kau tidak boleh egois" Ucap Zack sambil memegang kepalanya, pusing dengan tingkah adiknya.
"Tuan muda, jaga kesehatan anda, ya." Hans tidak menghiraukan pemuda yang dramatis itu, ia lebih memilih berbicara sebentar dengan bocah yang istimewa di hadapannya.
"Tentu! Maaf ya, gara-gara aku, pekerjaan paman tertunda. Pasti sudah menumpuk ya." Katanya dengan sedikit tersenyum..
"Tidak apa-apa. Jangan merasa bersalah begitu. Saya sangat senang bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama anda. Semenjak mengenal anda, pikiran saya banyak berubah tentang anak kecil."
__ADS_1
Setelah mengobrol sebentar, ia pun pamit. Raka tersenyum menatapnya pergi keluar dari kediaman mewah itu. "Terimakasih sudah membantu ku bangkit." Ucapnya dengan lirih.
Setelah itu, Raka membalikkan badannya untuk masuk kedalam. Belum sempat masuk, tiba-tiba ia terpeleset. Tapi ia tidak jadi jatuh karena badannya di tahan seseorang.
"Maafkan kelalaian saya, tuan muda." Orang itu Nicholas, pelayan pribadinya.
"Tidak apa-apa. Bukan sepenuhnya salahmu. Aku yang kurang hati-hati. Siapa yang bertugas mengepel lantai di ruang tamu? Nanti kalau pelayan lain menginjak dan terjatuh bagaimana?" Katanya panjang lebar.
Nicholas mengangguk kemudian mengantarkan tuan kecilnya ke dapur. Hari ini, Raka ingin membuatkan Swiss roll cake. Dan rencananya, ia akan membuat porsi yang cukup banyak.
Kemarin lusa,ia membuat salad sayur dan beberapa pelayan yang penasaran dengan homemade buatannya, minta izin untuk mencicipi itu. Raka akhirnya memberinya dan mereka suka.
Di dapur Raka
"Tuan muda, berapa telur yang anda butuhkan?" Kali ini Nicholas boleh membantunya karena akan membuat porsi yang cukup banyak. Dan Nicholas tidak akan melewatkan kesempatan ini.
"Sekitar 10 butir." Jawabnya sambil memotong coklat yang akan dilelehkan.
"Waaah adonannya mengembang!!! Hebat sekali. Setelah itu, apa yang anda butuhkan?" Nicholas terlihat senang melihat proses pembuatan kue kesukaannya secara langsung.
"Ambil loyang yang sudah di lapisi mentega itu. Setelah itu, bantu aku menuangkannya."
"Sekarang, waktunya membuat cream. Dan Kau siapkan air gula dan gula halus."
"Siap, tuan." Meskipun badan sudah di penuhi keringat, mereka tetap mengerjakannya dengan senang.
Tanpa Nicholas sadari, dari tadi Raka menahan airmatanya. Masih teringat jelas di benaknya, keseruan dan kebahagiaan yang ia rasakan saat membuat kue bersama neneknya...
"Lupakan!!! Aku harus bangkit! Hidupku harus berubah! Ayo kau bisa!" Ucapnya dalam hati, menyemangati dirinya sendiri.
1 jam kemudian...
"Oh My God!! So pretty and looks delicious!!!" Mata Nicholas berbinar melihat Swiss roll cake yang sudah jadi. Hasilnya sangat cantik sampai ia merasa sayang untuk memakannya.
"Terimakasih sudah membantuku. Oh ya! Hiasanmu tidak buruk juga." Kata Raka dengan ekspresi senang.
"Tuaaannn! Bolehkah saya memajangnya di kamar? Ini adalah kue yang--"
"Sudah cukup. Simpan saja khayalan itu untuk dirimu sendiri."
Nicholas mulai lagi dengan dramanya. Bagaimana bisa kue itu dijadikan pajangan? Yang ada malah membusuk.
__ADS_1
"Sekarang, ku ajarkan cara memotong kue dengan benar supaya hasilnya rapi dan enak dipandang."
Pelayan energik itu memperhatikan tangan kecil tuannya yang luwes memotong kue-kue cantik itu dan hasilnya sangat rapi.
"Kue yang satu itu, biarkan saya yang memotongnya, tuan." Kata Nicholas yang penasaran ingin mencoba memotongnya
Raka mengizinkan, kemudian ia mengelap tangannya dan duduk di kursi yang tersedia di situ. Nicholas memotongnya dengan lancar meskipun hasilnya tidak se-rapi Raka.
"Yang itu untukmu, kakakmu dan pelayan yang mau. Dan ini, untukku dan kakek. Ingat! Jangan sekali-kali kau menyentuhnya. Mengerti?" Kata Raka sambil bersiap keluar dari dapur.
Ia ingin membersihkan badannya yang penuh keringat dan Mengganti pakaiannya yang terdapat bekas tepung.
Sepeninggalnya, ada seorang pelayan perempuan yang masuk dan menatapnya datar dan sinis. Nicholas mengernyitkan dahinya. Berani sekali ia masuk. Katanya dalam hati sambil meletakkan kue-kue itu ke troli.
"Hhhmm... Bisakah kau keluar? Kau pastinya sudah tau kan kalau dapur ini tidak boleh --"
"Cih! Rendah sekali ya harga dirimu sampai memohon untuk menjadi pelayan 'orang yang tidak jelas' itu." Mendengarnya, Nicholas sontak membelalakkan matanya dan menatapnya tajam. Tapi, pelayan itu tidak merasa takut malah berjalan mendekat dan melanjutkan kata-katanya.
"Aku mengatakan ini karena kasihan padamu yang tak pernah di hargai olehnya. Lebih baik berhenti 'main-main' dengan orang yang tak jelas asal usulnya." Setelah itu, ia meninggalkan Nicholas yang mengepalkan kedua tangannya dan masih menatapnya sangat tajam.
Tak lama, Raka kembali ke dapur dan melihat pelayannya menunduk dengan tangan yang terkepal. Ia tidak mengatakan apapun hanya menaikkan alisnya dan mendorong troli berisi kue tersebut dengan santai.
"Tolong di bersihkan ya."
Nicholas yang sibuk dengan pikirannya langsung tersadar dan melihat troli di sampingnya menghilang. Bahkan ia tidak sadar saat Raka datang tadi. Kemudian, ia meminum teh yang dibuatnya tadi dan melanjutkan pekerjaannya.
Raka mendorong troli itu sendirian menuju ruang kerja kakeknya. Mukanya berseri cerah, tak sabar menikmati kue buatannya sambil mengobrol santai bersama kakeknya. Tiba-tiba, ia terpeleset sehingga trolinya melaju dengan kencang. Ia berusaha untuk berdiri tapi, sangat sulit.
"Tolong hentikan troli itu." Katanya sambil berusaha berjalan. Untungnya, ada seorang maid yang menghentikan benda itu kemudian langsung pergi meninggalkan Raka yang memperhatikan wajahnya.
"Kenapa dia terlihat ketakutan?" Tanyanya dengan lirih.
"Tuan muda, anda tidak apa-apa? Tadi ada yang memberitahu kalau anda terpeleset. Tidak terluka, kan?" Tanya Nicholas yang tiba-tiba datang dengan ekspresi khawatir.
"Tak perlu di pikirkan. Sekarang, kau dorong troli ini menuju ruangan kakekku." Katanya sambil menahan sakit di kakinya.
"Anda baik-baik saja, tuan?" Tanyanya untuk menyakinkan.
"Iya." Jawabnya singkat. Padahal, kakinya terasa ngilu dan ada lecet.
"Sepertinya stok kesabaran ku sudah menipis." Gumamnya sambil melirik 3 orang pelayan yang melihatnya dengan tatapan merendahkan.
__ADS_1