Warm Home

Warm Home
Season 2 Chapter 16


__ADS_3

Di sebuah ruangan, seorang maid berteriak marah-marah pada bocah di hadapannya. Ia juga tak segan menampar pipi mulusnya sampai bibirnya sedikit terluka.


PLAK!


"Kau pikir, kau itu siapa? Hah! Dasar bocah pungut! Tidak jelas asal usulnya. Aku tidak sudi melayanimu! Mengurus pakaianmu, mencuci piring bekas kau pakai. Tidak Sudi! Kau... Kau seenaknya meminta pada tuan George untuk membuatkan dapur sialan itu. Kau seenaknya menyuruh chef disini membuatkanmu ini dan itu."


"Sudahlah, Faye. Jangan seperti ini. Aku juga kesal, tapi bukan begini caranya. Minta saja pada Tuan--"


"Hey diam kau! Jangan sok peduli. Kau juga tidak menyukainya kan?! Jujur sajalah."


Tak ada yang bisa menghentikannya. Mereka takut pada maid satu ini. Ia memang sudah belasan tahun bekerja di kediaman George. Maka itu, ia sering berbuat seenaknya karena merasa paling berjasa.


"Hey! Sadarlah! Tuan George hanya sedang kesepian, maka itu beliau menempatkan mu disini. Anak jalanan psikopat sepertimu, tidak pantas disini." Kata maid yang bernama Faye sambil menjambak rambut bocah malang itu.


Raka hanya diam. Bukannya tidak mau melawan. Kepalanya sudah pusing, dan tubuhnya lemas.


Seorang maid yang tubuhnya kecil, menghampirinya dan melepaskan tangan Faye dari rambutnya.


"Tuan George memanggil cucunya." Ucapnya tegas.


PLAK!


Ia pun juga menjadi korban tamparan Faye. Tapi, maid itu tidak menyerah. Ia tetap menggendong Raka lalu berlari keluar.


"Tuan muda, Tolong bertahan sedikit lagi, ya. Saya akan membantu anda. Tenang saja. Orang itu akan segera keluar dari kediaman ini. Dan mendapatkan hukuman yang setimpal dari Tuan George. Anda berhak menerima semua fasilitas dan layanan disini." Ucapnya sopan.


Raka tidak menjawab. Ia memperhatikan wajah maid itu lalu menutup matanya. Pingsan.


BRAK!


Maid itu sampai di kamarnya Raka, lalu membaringkan tubuh kecilnya di atas kasur. Raphael yang barusan dari dapur utama, membawakan teko berisi air dan gelas kaca. Ia dan maid itu mengurus Raka yang pingsan dengan cekatan sampai akhirnya, datanglah sang pemilik mansion.


"Anne, ceritakan semua yang terjadi sekarang. Jose, panggil Faye sekarang!" Ucapnya dengan wajah yang datar menahan amarahnya.


Tangannya terkepal kuat melihat cucunya yang berbaring di atas kasurnya dengan wajah yang memerah bekas tamparan dan memar sedikit di keningnya.


Tak lama, pelayan yang bernama Jose itu datang dengan Faye dan seorang pria yang usianya sekitar 40-an, ia adalah kepala pelayan mansion itu.


Dengan posisi masih membelakangi mereka, George memecat Faye, lalu menyuruh Jose untuk mengusirnya. Tentunya Faye menolak keras.


"Kenapa anda memecat saya? Saya sudah menjadi pelayan yang paling setia disini.... Sudah --"


"DIAM! Masih saja tidak mau mengakui kesalahan besar yang telah kau perbuat, hah?! Kau pikir, aku tidak tau keburukanmu selama ini??! Aku sudah banyak menegur dan bersabar atas kelakuanmu yang seenaknya. Tapi, lihat! Kau makin semena-mena.

__ADS_1


Membully pelayan yang baru bekerja sampai melukai cucuku. Kau tidak memperlakukannya dengan baik. Merobek pakaiannya, mengacak-acak dapurnya, sampai memasukkan laba-laba kedalam kulkasnya.


Kalau dibiarkan lagi, bisa saja kau membunuhnya."


Semua perkataan George di dengar oleh para pelayan. Mereka, yang telah menjadi korban bully Faye sudah sangat menanti-nanti momen ini. Ya, Faye yang merasa paling berpengalaman selalu memerintah pelayan lainnya terlebih yang baru bekerja, layaknya seorang bos..


Jose dan Anne juga korbannya. Faye sering menyuruh pelayan lainnya untuk membully pelayan baru. Dengan cara itulah, ia menunjukkan 'kekuasaan'nya.


"Saat itu, saya sedang kesal saja makanya saya merobek pakaian Raka secara tidak sengaja. Dan laba-laba itu, bukan saya yang memasukkan. Saya di tuduh, Tuan. Saya mohon. Percayalah pada saya. Saya sudah--"


Prang!!!


George sudah tidak bisa menahan amarahnya. Ia muak mendengar semua penuturan pelayan itu. Akhirnya, dia menyuruh kepala pelayan untuk memecatnya dan mengusirnya dengan tidak terhormat.


Sudah ketahuan jelas, masih mengelak. Itulah kata pelayan lainnya yang menjadi korbannya. Memang bukan Faye yang menaruh laba-laba itu ke dalam kulkas. Tapi, ia menyuruh salah satu pelayan yang usianya masih sangat muda untuk melakukannya.


Pelayan yang sangat muda itu di panggil dan saat sampai, wajahnya sangat pucat ketakutan. Ia duduk di lantai sambil memohon.


"Ampun Tuan. Jangan pecat saya. Mau kerja dimana lagi. Saya tulang punggung keluarga. Hiks! Saya... Saya.. disuruh dan diancam. Saya terpaksa karena dia bilang, dia akan menyakiti adik perempuan saya. Dia masih kecil.


Saya terpaksa menuruti perintahnya. Saya akan menerima hukuman tapi tolong, jangan pecat saya. Saya tak pernah sekalipun membenci tuan muda." Ucap pelayan itu sambil menangis.


Orang-orang yang melihatnya juga ikut merasa sedih. Dia memang pelayan yang baru bekerja 2 bulan yang lalu.


"Sekarang Katakan. Kenapa pelayan itu bisa memperlakukan mu seperti itu?"


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Flashback.


"Sudah keterlaluan! Selama ini aku sudah banyak bersabar! Inilah alasan aku tidak suka memiliki pelayan"


Raka berjalan cepat dari dapurnya menuju kamar pembantu. Letaknya memang cukup jauh, berada di halaman paling belakang.


Tak lama, ia sampai di depan pintu kayu yang terbuka sedikit, dari dalam terdengar suara ribut. Ia mendekatinya kemudian masuk dengan perlahan.


"Bagaimana kalau laba-laba itu menyakiti tuan muda? Faye, Tuan George bukan orang yang mudah di bohongi. Jika beliau tau aku yang melakukannya, pasti akan langsung dipecat. Dan aku yang merugi, kehilangan pekerjaan." Kata seorang pelayan yang terlihat sangat muda.


"Sudahlah! Kau kan belum bisa membayar hutang-hutangmu, turuti saja perintah ku. Kau akan aman. Lagi pula, kalau bocah itu tiada, pekerjaan kita akan berkurang. Hahah" kata seorang maid yang bernama Faye itu.


"Ooooh! Jadi, kau pelakunya. Baguslah. Dengan begini, Tak perlu kakek susah-susah mencari. Sejak awal, aku juga sudah mencurigai mu. Faye, seorang pelayan yang katanya paling berjasa dan berpengalaman.


Ternyata begini yaaa dibalik topengnya. Dasar licik! Kau tidak pantas bekerja di sini. Membully orang semaunya, mengatur ini dan itu. Padahal, Kau juga seorang pelayan seperti mereka!" Ucap Raka sambil menunjuk mukanya.

__ADS_1


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipinya sampai bocah itu terhuyung. Pelayan muda yang berada di belakang Faye, langsung menghampiri bocah itu dan


"Faye! Kau sudah lewat batas!" Teriak pelayan itu.


Raka menggelen pelan lalu mengisyaratkan agar ia keluar dari kamar itu.


"Katanya berpengalaman tapi kok.... Mudah di 'pancing' " ucap Raka meledek.


"Apa?!" Kata Faye yang siap memukulnya.


"Kau tau, aku sengaja membiarkan dapur itu terbuka sedikit. Dan aku tau ada banyak bahan kue dan cemilanku yang tersimpan di dapur, di curi oleh 'tikus kelaparan' tak heran, ia makin sehat. Hahaha."


Plak plak!


Dua tamparan mendarat di pipinya, kali ini bocah itu terjatuh. Melihat itu, Faye langsung memukulinya. Ia meluapkan semua kekesalan yang dipendamnya selama ini. Tak lama, beberapa orang maid masuk dan menolong bocah malang itu.


"Cukup, Faye! Kau sudah lewat batas! Kali ini, kita tidak akan diam! Sudah banyak kelicikan dan kejahatan yang kau perbuat dan kita diam. Kau takkan bisa mengancam kita lagi!" Teriak maid tersebut sambil bergetar.


Raka yang sudah sangat lemas, ia sudah tidak bisa bergerak karena kepalanya sangat pusing dan tubuhnya sangat sakit. Lalu, ia merasa dirinya di gendong oleh seseorang dan akhirnya pingsan.


Flashback Off.


"PECAT DIA SEKARANG JUGA! AKU TIDAK MAU MELIHATNYA DISINI LAGI. BERANI-BERANINYA KAU MENYAKITI CUCUKU. PELAYAN TIDAK TAU DIRI!"


teriak George dengan wajah yang menampakkan kemarahan yang tak tertahankan.


"Baik, Tuan. Segera saya laksanakan. Kalian berdua seret dia keluar! Dari mansion ini beserta barang-barangnya!" Titah kepala pelayan itu kepada 3 orang pelayan yang berdiri di sampingnya.


Para pelayan yang berkumpul di kamar itu langsung bubar, mereka lega karena tidak akan ada yang menginjak mereka lagi. Sebenarnya, para pelayan itu tidak ada yang membenci Raka. Mereka melakukan itu hanya karena disuruh sekaligus di ancam oleh Faye.


"Kakek, berikan dia gajinya bulan ini dengan penuh dan bonus. Aku khawatir dia akan berbuat lebih di luar sana. Dia orang yang sangat berani dan nekad." Kata Raphael tiba-tiba saat George sedang menyelimuti Raka.


"Yang dikatakan tuan muda benar. Jadi, tidak akan ada celah baginya untuk berbicara buruk mengenai anda." Ucap Zack menyetujui.


"Kau urus saja, Zack. Aku percayakan pada mu." George masih kesal tapi, yang dikatakannya ada benar juga.


"Nicholas, ikut ke ruangan ku. Raphael, kau jaga adikmu." Kata George sambil berjalan menuju pintu. Nicholas mengangguk dan mengikuti tuannya di belakang.


"Baik, kakek. Jangan lupa istirahat yaaa."


(maaf yaa kalau ceritanya membosankan dan alurnya lama. Terimakasih bagi yang sudah mampir)

__ADS_1


__ADS_2