
Dapur.
"Mau roti atau buah?" Tanya Raka sesampainya di dapur.
"Ah! Biarkan aku yang menyiapkan sarapan. Sudah lama sekali aku tidak membuat apa-apa."
Raka mengangguk menuruti kakaknya. Ia pun duduk memperhatikannya dengan sedikit tersenyum.
"Raka. Persediaan susu hampir habis. Bulan ini, kamu belum belanja ya?"
"Ooh! Aku belum mencatat apa yang harus dibeli. Akhir-akhir ini, aku merasa mudah lelah."
Raphael menatap adiknya yang terlihat melamun sambil berpangku tangan. Matanya yang sayu tertuju ke jendela dapur yang terbuka sedikit. Ia penasaran dengan kegiatan adiknya selama ia berada di kota M. Ia merasa ada yang membuat adiknya stres.
"Raka, ayo kembali ke kamar." Bocah itu langsung tersadar dari lamunannya. Ia pun segera membantu kakaknya membawa sarapan yang sudah siap saji menuju kamar mereka. Setelah keluar dapur, tak lupa Raka menguncinya kembali.
Dengan perlahan, mereka menaiki tangga yang menurut Raphael sangat panjang karena mereka melangkah satu persatu dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. "Cih! Sudah seperti pencuri saja." Gumamnya.
`````````````````````````````````````````````````````
Tak terasa, mereka telah sampai di depan pintu kamar. Raka langsung membuka pintu menggunakan kakinya di karenakan tangannya penuh membawa nampannya yang tampak penuh.
"Ya ampun! Sudah sangat tersiksa dari tadi! Ka-kakiku.... Huuuh!" Raka yang melihat wajah kelelahan kakaknya hanya berdecih.
"Itu kan karena Kakak yang tidak terbiasa. Kaki mu terlalu lemah." Celetuknya. Raphael tidak membalas ucapannya, hanya diam memperhatikan adiknya yang terlihat acuh.
Ya, Raphael memang lebih lemah soal fisik, itulah yang membuatnya minder dan berpikir bahwa dirinya tidak berguna.
Mereka pun menikmati sarapan dengan keheningan. Raphael memperhatikan adiknya yang santai, tidak merasa bahwa perkataannya tadi membuat kakaknya tersinggung.
Raka telah menyelesaikan rotinya. Ia pun hendak meraih segelas susunya namun, tangannya di tahan oleh kakaknya.
Deg!!
Jantungnya berdetak lebih kencang saat melihat mata Merah tersebut. Tangannya sedikit bergetar, ia mulai merasakan ketakutan. Entah kenapa, ia seperti terhipnotis. Raka tidak bisa mengalihkan pandangannya.
"Kakak? Ada apa?" Tanyanya sambil tersenyum kaku.
Sambil melepas tangannya, Raphael balik bertanya. "Pernahkah kamu berpikir kenapa nenek mu selalu menyuruh mu untuk diam?"
Lidahnya kelu, pikirannya seketika buntu. Meskipun batinnya bertanya-tanya, penyebab Kakaknya membicarakan tentang neneknya secara tiba-tiba. Ia hanya diam, tidak bisa menggerakkan mulutnya karena pandangannya masih tertuju pada mata merah yang seakan-akan menyala.
Tiba-tiba ia terkejut dengan jari yang menunjuk ke arah wajahnya yang mulai berkeringat.
"Lemme tell you. Karena kamu tidak bisa membedakan siapa lawan bicara mu, cara bicara mu yang blak-blakan tanpa memikirkan perasaan orang lain, dan.... Kamu belum bisa memilih kata mana yang harus digunakan untuk kondisi tertentu!"
"Sudah banyak perkataan yang keluar dari mulut mu yang membuatku (awalnya) tersinggung, kemudian membuat sisi lain dari diriku hidup. Otakku bisa menyaring perkataan-perkataan mu yang menyakitkan itu lalu, merubahnya menjadi kata-kata penyemangat. Tapi, tidak semua orang seperti itu! Setiap orang, memiliki cara berpikir yang berbeda. Kamu harus belajar cara berbicara dengan benar."
Seketika, badannya lemas. Tenaganya entah hilang kemana. Hatinya berasa di remuk oleh keluhan yang baru saja ia dengar langsung dari mulut Kakaknya. Selama ini, Lynne memang selalu menyuruh Raka untuk tidak berkata apapun saat berada di luar rumah kecuali bersama neneknya. Ia sempat kesal dan marah dengan larangan aneh tersebut.
Dirinya sering melanggar karena membuat hatinya tidak nyaman. Terlebih saat marah, ia selalu di suruh untuk diam dan membaca buku atau melakukan kegiatan lainnya yang ia sukai agar tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Matanya berair, muka nya berasa di tampar bolak-balik oleh Kakaknya. Ia pun memberanikan diri untuk melihat ekspresi kakaknya. Sudah berubah. Ya, Raphael kini terlihat sendu. Ia adalah seseorang yang mudah tersentuh. Apalagi jika menyangkut orang-orang kesayangannya.
__ADS_1
"Aku tidak mau... Melihat mu menderita di masa depan karena kebiasaan buruk mu ini yang akan menggerogoti kebahagiaan yang kamu nantikan."
Raka bukanlah anak yang bodoh. Ia mengerti, semua perkataan Kakaknya akan berguna untuk kehidupan sehari-hari nya. Wajahnya menunduk, ia menyeka air matanya yang terus mengalir. Raphael tidak tega melihatnya, langsung mengusap pelan kepalanya.
"Maaf, ya. Kalau kamu merasa tersakiti. Tapi, aku benar-benar tidak mau-"
"Tak perlu minta maaf. Kau benar. Hiks! Selama ini, nenekku benar tapi, aku tidak pernah mau mendengarnya. Aku yang seharusnya meminta maaf. Selama ini, kau telah mengingatkan ku tapi, aku sangat keras kepala sehingga..."
"Susunya sudah dingin. Bagaimana ini? Mau ku buatkan yang baru?" Tanya Raphael yang sedang mencairkan suasana.
Raka mengangkat kepalanya lalu tersenyum. "Tak perlu. Aku sudah terbiasa meminum susu dingin."
Kehangatan dan kebahagiaan kamar itu telah kembali. Mereka bercanda sampai sakit perut karena menahan tawanya.
"Sudahlah, Raka. Perutku sakit menahan untuk tidak tertawa."
"Menurut anda lucu?? Menurut saya, tidak. Wahh! Sudah pukul 05:20. Lebih baik aku ke kamar mandi untuk mengganti pakaian. Sudah lama tidak melakukan exercise. Sekarang Kita siap-siap ke lapangan sebelum para majikan bangun."
"Majikan, ya??"
Sesampainya di lapangan, mereka langsung melakukan pemanasan setelah itu, berolahraga sesuai kemampuan masing-masing. Raphael yang tidak biasa berolahraga, ia beristirahat di bangku dekat pohon. Sedangkan Raka, dia masih berlari mengelilingi lapangan.
"Olahraga apa yang kau suka?"
"Tidak juga. Dulu, aku hanya berlari dan memanjat pohon tinggi."
"Ajari aku memanjat, ya. Aku juga ingin. Kedengarannya seru!."
Raka mengangguk, ia setuju. Membayangkan bersantai di pohon sambil menikmati cemilan kesukaannya bersama kakaknya akan menjadi momen yang sangat menyenangkan.
"Nanti, ya. Kalau kita ada jadwal-"
"Jadwal kita sepertinya sudah berantakan. Kita harus membuatnya lagi. Haaah! Menyebalkan." Katanya murung.
__ADS_1
Bagi mereka, tidak mudah menyusun jadwal kegiatan sehari-hari. Terkadang, ada gangguan kecil yang membuat semuanya berantakan, tidak sesuai jadwal.
"Iya juga yaaa. Bulan ini, hari-hari ku sangat berantakan. Nanti kita buat sama-sama ya."
Raphael menggeleng. "Kegiatan kita banyak perbedaannya. Kamu kan bekerja, aku tidak. Belum lagi mengatur keuangan...." Tiba-tiba ia terdiam, lalu berdiri karena ingat sesuatu.
"Uang! Ya, uangmu! Ya ampun, Raka. Maaf ya, aku--"
"Itu memang jatah mu." Sahut Raka santai. Ia menggeleng cepat tidak setuju.
"Itu kan uang mu, hasil kerja keras mu. Aku kan hanya --"
"Kau pikir, aku bekerja untuk siapa?! Hah?!" Ucap Raka dengan membentak. Raphael diam, hatinya masih menolak menerima uang itu.
"Aku bekerja untuk kebutuhan kita berdua. Memang, memiliki uang banyak dari hasil kerja adalah impianku. Tapi, aku bukan orang yang RAKUS dan... Kau saudara ku jadi, uang itu untukmu juga. Kalau sudah punya uang banyak, mau apalagi?! Terimalah, atau aku akan sangat marah."
"Duh.... jangan marah begitu. Aku hanya tidak ingin kamu merasa di manfaatkan kan. Dan ku kira, uang itu kamu pinjamkan untukku."
Raka menatapnya sinis. Ia kesal karena pemberiannya tidak di terima.
"Tak perlu di kembalikan! Ambil uang itu untukmu."
"Iya iya. Kalau begitu, Terimakasih."
"Tidak perlu, kita kan harus saling berbagi. Sudahlah!Ayo, kita lanjutkan lagi."
"Apa?! Jangan bercanda. Aku sudah sangat lelah.." keluhnya sambil berbaring di atas rumput.
__ADS_1
"*Ooh jadi, dia yaaa. Yang katanya Reinkarnasi Tuan Nathanael. Wajahnya ada mirip juga sih! Ya, meskipun sedikit. Tapi, yang Membuatku penasaran adalah matanya. Baru kali ini aku melihat*"