Warm Home

Warm Home
Season 3 Chapter 1


__ADS_3

Mansion William


Tok tok!


"Permisi, Tuan Muda. Ada hal penting yang--"


"Masuk saja""


Pelayan itu membuka pintu dengan sangat pelan, lalu masuk. Tak lupa ia menguncinya.


"Tuan muda, ada kabar baik dan buruk untuk anda. Kabar baiknya adalah pria itu sudah bangun dari koma dan setelah di periksa, ia sehat. Kabar buruknya adalah dia mengalami amnesia. Dia tidak bisa mengingat apa-apa. Saat dokter bertanya namanya, ia lupa."


Kata pelayan itu. Seseorang yang di panggil Tuan muda itu diam. Entah kenapa, hari ini Tuan muda itu agak aneh. Biasanya ia langsung merespon.


Dibalik tirai tipis itu, terlihat seorang bangsawan muda yang sedang membaca koran dengan kepala yang menengadah ke atas. Tanpa berpikir panjang, pelayan itu langsung membuka tirai tersebut lalu melihat tuannya yang sedang memegang kepalanya. Ia terlihat kesakitan.


Pelayan itu menyentuh keningnya dan terkejut. Suhu tubuhnya sangat panas. Tuannya terserang demam. Ia langsung membantu tuannya berbaring lalu mengambil koran yang ada ditangannya tapi, tuan muda itu menahannya.


"Jangan sekali-kali kau mengambilnya! Aku akan membacanya nanti." Ucapnya sambil menahan sakit.


"Tuan muda, kondisi tubuh anda sangat lemah sekarang. Beristirahatlah. Saya akan menyiapkan pakaian anda yang baru." Ucapnya sambil mengambil koran itu dari tangannya lalu meletakkan diatas meja.


Sejam kemudian, dokter datang dan memeriksa tuan muda yang terbaring lemas.


"Tuan, sepertinya anda harus banyak beristirahat. Tubuh anda sangat lemah. Terlalu banyak beraktivitas juga tidak bagus untuk kesehatan. Biarkan tubuh anda beristirahat sesuai waktunya. Beruntung lambung anda baik-baik saja."


Tuan muda hanya diam sambil memijat pelipisnya. Kepalanya benar-benar pusing. Yang dokter itu katakan benar. Dari jam 5 pagi ia sudah mulai bekerja sampai malam jam 11. Istirahatnya hanya sebentar, itupun tidak teratur. Untuk makan saja, harus di paksa orangtuanya dulu. Benar-benar workaholic.


"Ini obat-obatan yang harus diminum. Ingat ya, Istirahat dan makan yang teratur. Dan paling penting adalah pikiran yang tenang. Anda terlihat stress. Sebaiknya, anda ceritakan pada orang tua supaya...."


Dokter itu langsung menutup mulutnya saat melihat tuan muda menatapnya tajam.


"Terimakasih atas sarannya." Kata tuan muda .


"Haha. Iya, sama-sama. Kalau begitu, saya undur diri." Kata Dokter itu dengan tersenyum kaku. Ia pun langsung berpamitan dan keluar dari kamar.


"Uhuk uhk! Ha..... Bagaimana bisa aku beristirahat kalau tenggorokan ku sakit begini." Kata tuan muda. Pelayannya datang menghampirinya dengan semangkuk sup hangat. Ia langsung menyuapi tuannya yang duduk bersandar di kasur sambil mengalihkan tatapannya ke jendela.


"Apakah ada yang mengganggu pikiran anda sampai sakit seperti ini?" Tanya pelayan itu.

__ADS_1


"Gio, kita kecolongan. Bocah itu diracun dan sekarang ia koma." Jawab tuan muda sambil meremas selimutnya. Pelayan itu terkejut sampai tangannya terhenti saat hendak menyuapi tuannya.


"Bagaimana bisa?! Padahal --"


"Aku sudah menyuruh salah satu diantara 'mereka' untuk menyelidiki siapa pelaku nya. Mereka yakin bahwa pelakunya adalah orang dalam karena, ia bisa dengan mudahnya menghindari kamera CCTV.... Ah!" Kepalanya makin sakit saat ia berbicara.


"Kalau begitu, tuan muda sekarang istirahat yaa. Biarkan mereka yang mengerjakan tugasnya."


Tuan muda mengangguk. Tak lama, buburnya habis lalu ia meminum obat yang sudah ditebus tadi.


"Tuan muda, sebelum saya keluar dari kamar, apakah ada yang ingin Anda sampaikan?"


"Jaga orang itu baik-baik. Jangan biarkan ia keluar dari tempat itu. Perketat pengawasannya!"


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Mansion George.


Pagi hari


"Tuan muda..... Hiks! Mau sampai kapan anda tidur seperti ini? Ini sudah hari ke 10 dan anda belum bangun juga. Hiks! Tuan Raphael menghilang... Tuan George sudah mengirim banyak orang untuk mencarinya tapi, belum ditemukan juga keberadaannya. Tidak ada yang tau kemana ia. Bangunlah Tuanku. Jika anda yang mencarinya, saya yakin pasti akan mudah ketemu."


Tanpa disadarinya, Raka membuka matanya sedikit tapi pandangannya kosong.


Pelayan itu beranjak dari duduknya lalu merapikan kamar tersebut, tanpa menyadari sesuatu yang sedang terjadi pada tuan kecilnya. Kamar itu bercahaya remang jadi, Nicholas tidak bisa melihatnya jelas terlebih ia sibuk.


"Oh iya! Aku belum menyiapkan air hangat." Kata Nicholas lirih. Ia pun langsung berjalan ke kamar mandi untuk mengisi baskom dengan air hangat. Namun sialnya, ia terpeleset. Akhirnya, ia harus mengganti pakaiannya. Untungnya, pakaian-pakaiannya sudah ia pindahkan ke kamar itu.


Tok tok!!


"Nicholas...".


Pelayan itu terburu-buru saat mendengar suara orang di balik pintu itu, sehingga penampilannya berantakan.


"Ah! Tuan George. Selamat pagi." George memperhatikan seorang pelayan yang menyambutnya dengan keheranan..


"Kenapa penampilanmu seperti ini?"


"Tadi saat saya sedang menyiapkan air hangat, saya terpeleset di kamar mandi sehingga pakaian saya basah semua."

__ADS_1


George mengangguk pelan kemudian masuk kedalam, menghampiri cucunya. Matanya memperhatikan seisi ruangan itu lalu menatap pelayan yang terlihat kurang sehat.


"Jendelanya masih tertutup?" Nicholas terkejut. Ia panik karena lupa untuk membuka jendela. Akhir-akhir ini, Ia banyak melamun dan seperti orang yang banyak pikiran. Sehingga ia sering lupa dan tidak fokus dengan apa yang di kerjakan nya. .


"Katakan. Apa yang mengganggu pikiranmu sampai melupakan banyak pekerjaan?" Tanya George. Nicholas yang masih dengan penampilan berantakan, hanya menundukkan kepalanya dan menggeleng pelan. Ia benar-benar tidak berani untuk melihat sedikit saja wajah Tuan itu.


Tanpa disadari dua orang itu, tangan Raka bergerak dan matanya terbuka sedikit. Ia berusaha memanggil seseorang tapi sangat sulit baginya.


"Haaa.... Yasudah. Raka biar aku yang urus. Cepat rapikan penampilanmu sekarang dan kerjakan tugas-tugas yang belum di selesaikan!" Kata George meninggalkan Nicholas yang masih diam. Lalu George membawa kain beserta baskom berisi air hangat untuk membersihkan badan cucunya.


Baru saja sampai di ranjangnya, George terkejut dengan apa yang dilihatnya. Matanya Raka terbuka, dan ia sedang memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Mulutnya terbuka sedikit seakan ingin mengatakan sesuatu.


"Cucuku. Kau sudah sadar??" George menggenggam tangan cucunya dengan perasaan yang sangat bahagia. Nicholas yang mendengar tuan muda yang sudah bangun, langsung berjalan menghampirinya. Tidak peduli dengan tugasnya yang belum selesai.


"Nich, panggilkan dokter sekarang!" Titah George. Nicholas pun langsung melaksanakannya setelah itu, ia memberitahu bahwa 30 menit lagi dokter akan sampai.


Bocah itu menoleh kanan kiri seperti orang yang mencari sesuatu. Lewat gerakan tangan, ia mengisyaratkan bahwa ia bertanya tentang keberadaan kakaknya.


George berusaha tenang padahal hati dan pikirannya panik bagaimana menjawabnya. Tiba-tiba pintu terbuka dan masuk Grace disusul suaminya. Ia langsung memeluknya erat dengan perasaan lega dan bahagia. Raka tidak terlihat bahagia, ia malah seperti orang yang kebingungan.


"Siapa?" Tanyanya dengan lirih dan suaranya yang terdengar serak. Grace langsung menguraikan pelukannya lalu menatap George seakan bertanya apa yang terjadi padanya. Edward memegang tangan istrinya agar merasa tenang.


"Tenang dulu, jangan panik. Sebentar lagi, dokter akan datang. Nanti kamu dengarkan saja penjelasannya."


Akhirnya Grace mengikuti saran suaminya lalu duduk di sofa kamar itu.


Dokter pun datang dan semua orang terkejut terlebih Nicholas yang menelpon.


"Where is our sleeping beauty? Oh! Sudah terbangun."


Yang datang malah Hans bukan Dokter yang ditelpon tadi.


"Hah? Kenapa kau yang datang? Tadi kan..." Nicholas bertanya-tanya.


"Oh! Dia juga datang." Kata Hans sambil menatap wajah sayu Raka. Ajaibnya... Bocah itu langsung tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya.


"Paman." Katanya lirih, memanggil pria yang baru datang itu. Hans, dia orang yang diinginkan Raka. George lega dengan kedatangan Hans bisa mengalihkan perhatiannya. Dan membuat Raka tidak bertanya tentang keberadaan kakaknya.


Tapi ia juga khawatir karena sudah lama mencari, namun belum ketemu sampai sekarang.

__ADS_1


__ADS_2