
Tak terasa sudah waktunya untuk tidur. Dua bocah beda usia itu masih belum mengantuk. Raphael menenggak minumannya karena haus setelah bercerita panjang lebar. Dihadapannya, seorang bocah yang diam sambil menahan air matanya.
Hatinya tercabik-cabik mendengar cerita masa lalunya yang sangat menyedihkan dan tak kalah sengsara. Ia makin merasa bersalah karena telah menyakitinya.
Haaaahhh!
Raka mencoba menetralisir perasaannya dan menahan diri untuk tidak menangis. Tapi, usahanya gagal. Ia mulai menangis dan menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.
"Sebenarnya.... A-aku kesini untuk minta maaf lagi. Aku tidak bedanya dengan orang-orang yang membully mu dulu. Ma-maafkan aku. Hiks! Aku egois. Menganggap diriku paling menderita. Padahal, kau lebih menderita. Aku tidak pernah merasakan tidur di luar dan tersiksa di panti asuhan."
Raphael langsung mengusap kepalanya.
"Sudahlah.. lupakan. Bukannya kamu sudah minta maaf? Kan ku bilang kamu bukan jahat. Hanya sedang kesal. Kita main yuk! Kan aku mengajakmu kesini untuk bermain. Kamu belum pernah punya mainan, kan?"
Raphael berusaha mengalihkan pembicaraan dan membuat suasana baru yang menyenangkan. Ia tidak pernah membenci Raka. Bahkan, sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Tentunya tanpa sepengetahuan Raka.
"Bagaimana cara membersihkan mainan sebanyak ini?" Tanya Raka yang saat ini sedang mengikat pita boneka yang ia lepas tadi.
"Aku minta tolong nanny. Tentunya aku tidak bisa mengerjakannya sendiri. Hehehehe. Mainannya kan sangat banyak." Jawabnya sambil terkekeh.
"Aku baru sadar kalau boneka yang kau punya juga tidak kalah lucu dari boneka yang kau berikan padaku. Ohya! Boneka itu tenyata memiliki nama, yaa." Ujarnya sambil tersenyum. Menandakan Hatinya sudah membaik.
"Begitu ya? Terimakasih. Mau lagi? Aku masih punya banyak." Katanya sambil menunjukan seluruh boneka miliknya.
Raka diam kemudian menggeleng pelan. Tapi, tangannya menunjuk ke mainan kereta yang masih berjalan di relnya.
"Bolehkah aku meminjam mainan yang itu?" Tanyanya. Dari Matanya terlihat bahwa ia sangat menginginkan mainan itu. Raphael mengangguk.
Ekspresi Raka terlihat sangat senang. Ia memang belum pernah memiliki mainan seperti itu. Karena.... Tidak mau memberatkan neneknya yang susah payah mengumpulkan uang untuk makan sehari-hari.
"Pasti harganya mahal." Gumamnya.
Tok.tok!
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar itu. Saat Raka ingin membukanya, ternyata sudah di buka duluan oleh kakeknya yang menatap mereka berdua dengan tajam.
"Mulai lupa waktu, ya?" Ucapnya dengan nada yang datar.
Dua bocah yang sedang asik mengobrol itu saling menatap. Akhirnya Raphael berdiri dan berjalan mendekati kakeknya.
"Maaf ya, kakek. Kita tidak akan mengulanginya lagi." Katanya dengan pelan.
"Aku tidak melarang kalian bermain. Aku melarang kalian bermain sampai lupa waktu. Terlebih kau, Raka." Ucap George sambil mengalihkan pandangannya pada bocah yang di sebutnya.
Raka diam, dia tau ini salah. Kakeknya marah bukan tanpa alasan. Beliau Sudah tau masa lalunya yang sering sakit-sakitan.. Maka itu, selalu di suruh istirahat. Bahkan saat masih jam 11, ia seringkali di suruh tidur. Tapi , ia merasa sulit untuk tidur di jam tersebut.
Memang dia bukan anak yang mudah di suruh tidur. Dulu, saat bersama neneknya, tidak jarang dia terbangun tengah malam kemudian langsung membaca buku. Saat di suruh tidur siang, ia malah melakukan aktivitas lainnya.
"Huuh! Ya sudahlah. Ayo kita rapikan semuanya. Sudah sangat malam." Ujar Raka saat kakeknya sudah kembali ke kamarnya. Raphael mengangguk dan langsung menata kembali boneka-bonekanya ke tempat semula. Raka menyalakan vacum cleaner untuk membersihkan debu dan kotoran kecil yang ada di lantai.
Tak lama, semuanya sudah rapi dan bersih. Mereka kemudian mencuci tangan dan duduk di karpet bulu.
Raphael bangkit dari duduknya dan mematikan lampu kamar. Raka langsung membuka gorden dan tampaklah pemandangan malam yang indah.
"Wah! Ada bulan. Cantiknya..." Gumam Raphael.
"Bintangnya juga banyak tuh." Ucap Raka menimpali.
Setelah memandang langit malam yang indah, mereka memutuskan untuk tidur karena sudah sangat mengantuk. Raka tertidur pulas di atas karpet bulu itu sambil tersenyum dengan sebuah boneka kelinci putih yang ukurannya agak besar.
Sedangkan Raphael tidur di kasurnya, di kelilingi boneka-boneka kesayangannya. Tidak lupa, ia menutup kembali gordennya dan menyalakan lampu tidur sebelum naik ke kasurnya.
Pagi telah datang. Matahari sudah terbit dan bersinar cerah. Tapi, hal itu tidak berpengaruh pada dua bocah yang masih tertidur pulas itu.
Seorang pelayan masuk ke kamar dan membuka gorden lebar-lebar. Cahaya matahari yang menyilaukan pandangan masuk dan berhasil membangunkan dua bocah itu.
"Ah!! Ini pasti Nich. Dia selalu mengganggu tidurku." Gumam Raka sambil menutup wajahnya. Raphael langsung duduk dan turun dari kasurnya. Ia menepuk-nepuk pelan lengan Raka. Alhasil, Raka yang merasa terusik langsung bangun dan duduk.
Ia terkejut melihat kakeknya sudah duduk di hadapannya dengan terus menatap mereka berdua.
"Ini tidak boleh terulang lagi. Lihat! Sudah jam 9 dan baru bangun. Kalian berdua harus disiplin soal waktu. Kakek tidak mau hal ini terulang kembali. Pekan besok, jadwal kalian sudah harus teratur dan itu terserah kalian. Harus kalian sendiri yang mengatur. Mengerti??"
__ADS_1
Mendengar 'ceramah' dadakan dari kakeknya, mereka hanya diam sambil berekpresi terkejut. Saat George sudah keluar, mereka menghela nafasnya lega. Kemudian Raka berdiri dan bersiap keluar dari kamar itu.
"Sepertinya kita harus menyendiri dahulu untuk menyelesaikan tugas." Kata Raphael sambil merapikan kasurnya. Raka menolehkan kepalanya dan mengangguk. Ia sudah tau tugas yang di maksud.
"Baru saja aku ingin mengajakmu ke dapurku." Kata Raka saat berada di ambang pintu.
"Nanti sajalah. Yang penting, bebas tugas dulu."
Kemudian Raka keluar dan menutup kembali pintunya.
\------\_\_\_\_\_------\_\_\_\_\_-----\_\_\_\_\_\_------\_\_\_\_\_\_-------\_\_\_\_\_-----\_\_\_
Ruang kerja George.
"Jonathan, bagaimana perkembangan toko kue itu?" Tanya George pada asisten kepercayaannya.
"Perkembangan sangat baik. Makin banyak pengunjung yang datang. Saran saya, lebih baik toko itu di perluas. Di sampingnya ada sebuah ruko yang dijual. Saya sudah mengeceknya langsung. Bangunannya kokoh dan luas. Sepertinya baru selesai di bangun." Jelasnya.
"Ide bagus. Tapi, Aku ingin memberitahunya dulu. Kau tunggulah di sini. Dia akan datang sebentar lagi."
Tak lama, orang yang ditunggu kedatangannya masuk.
Raka melihat kakeknya duduk bersandar di kursinya dan di sampingnya ada seorang pria dewasa yang diyakininya sebagai asisten kakeknya.
Raka hanya duduk dan menunggu dengan penasaran hal penting apa yang akan di bahas. Lalu, pria dewasa yang bernama Jonathan itu duduk berhadapan dengan cucu majikannya. Saat pertama kali melihatnya, ia langsung merasakan aura yang berbeda darinya.
"Sepertinya dia bukan sekedar anak kecil." Batinnya.
"Sebelum memulai, saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya Jonathan, asisten kakek anda."
Bocah itu hanya mengangguk pelan. Ia tidak mengatakan apa-apa. Benar-benar sifat pendiam nya belum berubah.
"Ini mengenai toko kue mendiang nenek anda. Selama ini, Tuan George yang mengurusnya. Karyawan yang bekerja di tambah oleh beliau karena makin banyak pelanggan berdatangan dan peminatnya juga bertambah.
4 orang bertugas di dapur, dan 3 orang bertugas melayani pembeli.
Saat ini, toko tersebut makin sempit dan harus di perluas. Disebelah toko kue itu, ada sebuah ruko kosong yang masih baru. Saya sudah mengeceknya. Bangunan itu luas, memiliki 2 lantai dan sangat bersih. Ada satu ruangan di bagian atas yang cocok untuk pembuatan kue. Bagaimana menurut anda?"
George geleng-geleng melihat tingkah cucunya. Raka hanya diam, bahkan ekspresinya datar. Matanya menatap tajam asistennya.
Sedangkan Jonathan yang melihat kelakuan bocah yang di hadapannya itu merasa canggung karena tidak ada respon darinya. Kemudian ia menoleh kepada tuannya dan di balas dengan anggukan.
"Sudah sangat lama saya memikirkan hal ini. Dan sebenarnya... Saya sudah mengetahui bahwa Tuan George yang mengurus toko tersebut." Ucap Raka sambil menyeruput tehnya.
__ADS_1
Mendengar hal itu, George mengerutkan keningnya dan menatap wajah cucunya yang tersenyum ke arahnya.
"Tidak masalah sih... Kalau memang harus di perluas, lakukan saja. Tapi ingat! Saya tidak ingin resepnya di rubah. Itu saja. Haaaa. Syukurlah..... Kalau ada yang mengurusnya. Setidaknya, saya bisa lega. Dan tidak merasa bersalah pada mendiang nenek saya." Ujarnya dengan tenang.
1 jam kemudian, Jonathan undur diri dan keluar dari ruangan itu. Tinggallah 2 orang beda generasi yang saling diam, fokus pada pikirannya masing-masing.
"Bocah aneh ini. Sejak kapan dia tau kalau aku yang mengurus toko neneknya? Apa dia pernah masuk kesini diam-diam? Atau.... Zack yang memberitahunya? Tapi, tidak mungkin Zack. Aku tau betul dia. Ku tanyakan sajalah nanti."
"Kenapa dia menatapku seperti itu? Ah! Jangan-jangan soal tadi, ya?? Jelas aku tau! Kan aku pernah membantunya merapikan kertas-kertas yang bertumpuk di atas mejanya itu. Lalu, ada kertas yang bertuliskan nama toko kue nenekku. Penasaran, yaaa ku baca. Terus, kalau tau kenapa?!! Memangnya ada masalah?!"
Mereka berdua terus berbicara dalam hati dengan raut wajah yang menunjukkan tidak senang. Saking fokusnya, mereka tidak sadar dari tadi, Zack dan adiknya Nicholas sudah berdiri dekat pintu dengan saling tatap.
"Sepertinya ada bermasalah. Eh! Bagaimana kalau Kita keluar saja?" Tanya Nicholas dengan berbisik.
"Ya. Keluar saja sendiri. Kalau di marahi tuan, jangan mengadu." Jawab Zack sambil melirik tajam adiknya.
"Tak perlu berbisik, katakan saja." Ucap George tiba-tiba memecahkan keheningan.
"Baiklah, time's up. Waktunya ke dapur. Selamat --"
"Hey, bocah aneh. Siapa yang membolehkan mu keluar? Duduk!" Kata George sambil melotot. Raka tidak takut, malah memasang muka masamnya.
"Pria tua. Aku lapar. Meskipun hanya diam, tapi tenagaku juga sudah terkuras banyak." Mereka yang berada di ruangan itu terkejut mendengar respon Raka yang sangat berani.
"Tadi, kau mengatakan apa? Duduk sekarang atau mau di hukum? Suruh pelayan mu mengambil kebutuhan mu."
Nicholas yang bergidik ngeri langsung keluar dan berlari menuju dapur. "Ya ampun! Tuan muda berani sekali. Seingatku, tidak ada cucunya tuan yang se-berani tuan Raka."
Nicholas langsung masuk ke dapur pribadi tuannya dan mengambil makanan yang porsinya cukup besar dan sebotol susu dari kulkas. Setelah itu, ia langsung keluar dan tak lupa menguncinya kembali.
Dengan tergesa-gesa ia mendorong troli yang berisi makanan dan minuman menuju ruang kerja tuan George. Tak lama ia tiba di tempat tujuan dan masuk dengan nafas yang memburu.
"Ayo, tuan-tuan. Silahkan di nikmati makanan dan minumannya. Haaaaaa! Melelahkan!" Kini giliran Zack yang geleng-geleng melihat kelakuan adiknya yang....(gitu dah)
"Bocah, saya bosan menunggu. Cepat jelaskan." Ucap George sambil berdiri menghampiri bocah yang asik menikmati cemilannya.
"Tuan terhormat ingat tidak? Saya kan pernah merapikan kertas-kertas yang bertumpuk di atas meja kerja anda. Naah, kan ada kertas yang bertuliskan D'Sweets, nama toko kue nenek saya. Lalu saya baca sebentar kertas tersebut. Dari situlah saya tau." Jelasnya.
"Cerdas sekali kau." Ucap George terkekeh.
"Saya kan keturunannya Tuan Nathanael. Ayo, silahkan di nikmati cemilannya."
Suasana mendadak hening dan tegang. Mendengar nama itu, George dan dua pelayan itu saling tatap. Mereka bertanya-tanya bagaimana ia bisa tau mengenai orang tersebut. Padahal, sudah lama sekali tidak ada yang menyebutkan nama itu. Bahkan sebelum Raka hadir di mansion.
"Jangan-jangan......"
__ADS_1