
"Waah! Paha ayam Kesukaan ku. Terimakasih."
Ucap Raka dengan mata berbinar saat Raphael memberikan makanannya.
"Sama-sama. Ayo, kita mulai makan."
Mereka berdua makan dengan tenang (?) Tidak.... Raka makan dengan sangat lahap seperti orang yang belum makan berhari-hari.
"Menangis sangat menguras tenaga ku. Ya! Aku tidak boleh menangis lagi. Membuang-buang waktu dan tenagaku saja!" Katanya dalam hati.
Tanpa disadarinya, Raphael memberikan porsi lebih ke piringnya. Raka benar-benar fokus dengan makanan lezatnya. Bahkan, sayuran yang biasanya sangat sulit ia makan, kali ini dimakannya dengan lahap. Terlebih ada ayam kesukaannya.
"Dugaan ku benar. Dia pasti makan banyak. Dari kemarin jadwal makannya dia berantakan. Kata Nicholas, dia hanya makan cemilan yang ada di kamarnya."
Raka sudah menyelesaikan makannya. Ia memperhatikan piringnya dan piring Raphael yang beda ukuran.
"Tadi kau makan sedikit ya? Jangan-jangan aku memakan--"
Raphael langsung menggeleng dan memotong perkataannya.
"Aku sengaja memberikan mu porsi besar. Tenang saja sebelumnya aku sudah makan, kok. Aku tau kamu hanya memakan cemilan yang ada di lemari itu, kan??" Katanya sambil melirik ke lemari kecil dekat kasurnya.
Raka menghela nafasnya kasar. Kemudian menatapnya heran.
"Kenapa kau berbuat baik padaku? Aku kan sudah menyakitimu. Bahkan mengusir mu. Tak perlu memaksakan diri. Tidak apa-apa jika kau tidak menyukai ku. Aku tau aku yang salah.
Aku ingin hidup tenang. Nah! Sekarang, aku minta maaf atas semua perbuatan buruk ku. Aku ingin hidup bahagia. Kau juga ingin hidup bahagia kan? Lebih baik jangan berteman denganku. Masih banyak orang di luar sana yang lebih baik dari ku."
Raphael dengan tenang mendengar semua kata-katanya. Ia tersenyum dan mengangguk. Seketika kesunyian datang. Tidak ada yang berbicara lagi.
"Sekarang, giliran aku yang bicara yaa." Kata Raphael mencairkan suasana. Raka yang awalnya melamun langsung tersadar dan menatapnya dengan intens.
"Aku berbuat baik kepada mu karena kamu pantas di perlakukan baik. Kamu bukan orang jahat. Kamu hanya melampiaskan kemarahan Tapi.... Caranya salah. Aku juga salah saat itu. Seharusnya aku lebih menahan diri. Aku minta maaf.
Dan....Aku mengerti kenapa kamu mengusir ku. Kamu hanya ingin ketenangan, kan? Kamu ingin sendirian untuk memperbaiki suasana hati. Ingat! Kamu bukanlah orang jahat. Kamu hanya marah dengan keadaan.
Jangan menyalahkan diri terus. Kamu tidak salah. Kamu adalah kebahagiaan kakek." Jelasnya panjang lebar.
Setelah ia bicara panjang lebar, Raka langsung menuangkan teh ke cangkirnya.
"Kau haus, kan?" Tanyanya sambil menyodorkan cangkir itu.
"Terimakasih." Ia langsung meminumnya habis.
"Mau cemilan?" Tanyanya lagi. Raphael mengangguk.
Raka langsung mengeluarkan separuh cemilannya dari lemari. Melihat itu, Raphael menelan ludahnya.
"Memangnya makanan tadi, belum membuatnya kenyang?" Batinnya.
"Jangan melamun! Ayo di makan. Ambil yang kau mau. Aku ingin bertanya banyak hal tentang dirimu. Tapi, aku lapar jadi, sambil makan saja." Katanya sambil membuka toples.
Bocah rambut panjang itu mengambil cemilan yang berukuran kecil. Saat di buka, ternyata isinya macaron aneka warna. Bentuk lucu.
Raka memperhatikan caranya makan. Sangat berbeda dengan dirinya. Ia cukup berantakan meskipun bisa membersihkannya sendiri. Raphael makan dengan perlahan dan sangat rapi.
"Namamu siapa?" Kata Raka memulai pembicaraan.
Raphael yang sedang menikmati macaron, tersenyum. Kemudian mengelap bibirnya dengan kain.
"Raphael." . Raka berdecak. .
"Memangnya kau tidak punya nama panjang?"
"Suatu hari nanti, aku akan menceritakan masa laluku." Katanya sambil menikmati cemilan yang di tangannya.
"Kau terlihat lebih tinggi dari ku "
"Oh tentu! Umurku 2 tahun lebih tua." Raka membelalakkan matanya. Tidak disangka, orang yang ia tampar kemarin, lebih tua 2 tahun. Hatinya sedikit tercubit.
"Oh... Ku pikir umurnya. Sama." Gumamnya.
"Sepertinya kau anak yang suka bermain yaa. Boneka kelinci yang kau letakkan di sampingku, masih ada di kasurku. Kau sudah melihatnya, kan? Baru kali ini aku memegang boneka yang lembut dan wangi. "
__ADS_1
Raphael tersenyum lega. Ia pikir, Raka akan membuangnya.
"Iya, aku suka bermain. Biasanya, aku bermain dengan nanny." Katanya sambil memperlihatkan sebuah boneka kelinci bewarna merah muda. Rupanya, ia juga membawa bonekanya yang berukuran kecil dan meletakkannya di samping.
"Kau suka kelinci ya?"
Raphael mengangguk. "Kelinci adalah hewan kesukaanku karena dulu saat sendirian, dialah yang menemaniku." Jawabnya dengan tersenyum.
"Tapi, seseorang mengambilnya dariku dan membunuhnya. Kelinci kecilku di lempar olehnya." Senyuman itu memudar, ekspresinya berubah sendu.
"Kejam sekali." Kata Raka bergumam.
"Orang itu meminta sepotong roti padaku. Padahal, dia terlihat seperti orang dari kalangan yang berada. Aku tidak memberinya karena saat itu aku sedang kelaparan. Sudah 5 hari aku tidak makan. Roti itu juga ku dapat dari seorang wanita yang membuangnya."
Raka yang mendengar itu, seketika terasa tertampar. Selama ini, dia yang merasa paling sengsara dan menderita.
"Aku menamparnya pula. Aku merasa jahat sekali. Maafkan aku." Batinnya meringis.
Haaaaaa.....
Raka menghela nafasnya berat. Ia berusaha terlihat tenang. "Sepertinya harus minta maaf lagi. Nanti malam, ku datangi saja kamarnya." Batinnya.
"Terimakasih sudah menghibur ku. Sekarang, Perasaanku sudah membaik." Ucap Raka yang sedang mendorong troli.
"Sama-sama. Syukurlah kalau begitu."
Kemudian Mereka diam. Raka tidak terbiasa memulai pembicaraan kalau menurutnya tidak ada urusan(?)
Mereka pun sampai di dapur. Raka masuk untuk memberikan troli itu kepada pelayan yang bertugas di dapur sedangkan Raphael menunggu di luar.
Raka mendengar gumaman tersebut tapi, tidak menggubrisnya. "Nanti ada saatnya." Batinnya sambil menyeringai lalu ia keluar.
"Sampai jumpa nanti malam." Ucap Raphael sambil berjalan menuju kamarnya.
"HM. Iya, sampai jumpa." Raka berjalan sendirian ke kamarnya. Kamarnya Raka dan Raphael tidak berdekatan. Kamarnya Raka sengaja di buat dekat perpustakaan karena George tau kalau ia suka membaca. Dan tidak jauh dari perpustakaan, ada dapur pribadi Raka.
Sedangkan kamar Raphael, dekat dengan lorong menuju taman. Maka itu, Raphael hampir setiap hari ke taman jika sedang menginap di mansion kakeknya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Sepertinya..... Berteman dengannya bukan hal yang buruk. Berarti, dia akan menjadi teman kedua ku." Gumamnya sambil tersenyum tipis.
Setelah itu, ia sibuk dengan bukunya yang belum selesai di bacanya. Saat sedang fokus membaca, tiba-tiba terbersit di pikirannya
"Bagaimana yaa rasanya bermain dengan anak yang seumuran denganku? Katanya dia suka bermain. Maukah dia bermain denganku??"
Kemudian ia tersadar dan melanjutkan kegiatan membacanya.
Tak terasa, sore telah tiba. Raka yang sedang menulis melihat sinar matahari sore menyoroti kamarnya. Di dekat jendela, ada sebuah boneka kelinci kecil pemberian dari Raphael.
__ADS_1
Matanya menatap boneka itu dan mendapati sesuatu di pita boneka itu. Sebuah tulisan yang langsung dibaca olehnya.
"Cuddles"
Hahahaha! Seketika ia tertawa kemudian memeluk boneka itu. "Welcome to my life, Cuddles. You're my first pet." Katanya dengan tersenyum lebar.
"HM! Wangi. Aku akan merawat mu kalau kau selalu menemani ku." Raka mengangkat boneka itu lalu meletakkannya diatas kasurnya.
Aneh! Belum pernah ia menyukai boneka. Dulu, melihatnya saja sudah tidak minat. Sekarang, sudah berbeda. Entah 'magic' apa yang Raphael gunakan untuk membuat bocah istimewa ini mulai menyukai boneka.
Tok tok!
"Tuan. Hidangan telah siap." Kata Nicholas dari luar.
Raka yang sedang merapikan kasurnya langsung membuka pintu dan kembali merapikan kasurnya. Nicholas memperhatikan gelagat tuannya yang sedikit berbeda.
Tersenyum. Ya, tuannya sedang tersenyum. Entah harus merasa aneh atau bersyukur, ia bingung. Pasalnya, Raka sangat sulit untuk tersenyum apalagi kalau di suruh.
"Mungkin tuan muda sedang merasa senang setelah berbincang-bincang dengan tuan Raphael." Batinnya.
"Hey, Mr Matthew. Jangan melamun." Kata Raka membuyarkan lamunannya.
Nicholas terkekeh. "Kok Saya bisa tidak sadar ya kalau tadi melamun?"
"Oh! Kalau ingin sadar, silahkan kunjungi psikolog" ucap Raka enteng.
"Jangan begitu tuan." Sahutnya dengan sedikit tertawa.
Tiba-tiba, Raka menghentikan langkahnya dan berbalik.
Ia memperhatikan wajah pelayannya yang menurutnya agak sedikit berbeda.
"Kembali ke kamarmu dan beristirahatlah! Aku bisa pergi kemanapun yang ku mau sendirian." Ucapnya.
Nicholas menatapnya heran.
"Sudahlah! Jangan berpura-pura. Kau sedang sakit, kan? Kau kurang istirahat. Sekarang mintalah obat, ganti pakaianmu dan tidur. Istirahat sampai benar-benar sembuh."
Kemudian Raka langsung berjalan cepat meninggalkan pelayannya yang tersenyum.
"Terimakasih, Tuan muda. Sepertinya aku tidak bisa menyembunyikan apa-apa darinya. Padahal aku sudah bertingkah seperti biasa. Tapi tetap bisa ketahuan yaaa. Kakak ku saja belum tau kalau aku sedang sakit. Hhhmm.... Kalau ada yang ingin memberinya kejutan, orang itu harus lebih cerdas dari tuan ku. He-he-he "
Nicholas berbicara sendiri sambil senyum-senyum yang terlihat aneh.
__ADS_1