
"Akhirnya... Sampai juga. Waah aku merindukan tidur nyenyak ku." Ucap Hans saat membuka pintu rumahnya. Raka terdiam sejenak saat melihat isi rumah itu. Rapi sih .. tapi, lantainya sedikit kotor.
"Sudah berapa Minggu kau tidak membersihkannya?" Tanyanya santai. Hans hanya melengos ke kamar dan
Bruk!
"Ooohh kasur kuu. Akhirnya.... Kita bertemu lagi. Selamat malam." Setelah itu, ia tidur.
Raka melongo melihat kelakuannya. Satu kata untuk 'dokter' ini Jorok. "Kok bisa ya, dia tidur dengan badannya yang kotor?" Bahkan Hans belum menutup pintu rumahnya.
Akhirnya, dia lah yang memasukkan dan merapikan barang-barang itu. Tas, baju, makanan. Semua dia bereskan sendiri. Setelah itu, dia membersihkan lantai dan membuang sampahnya.
Satu jam kemudian, dia berbaring di lantai memperhatikan langit-langit ruang tamu. Badannya tidak lelah, lebih tepatnya pikirannya. Ia memikirkan kehidupan selanjutnya.
Raka, si bocah mandiri. Ia tidak mau bergantung terus menerus pada Hans. Dia sendirian, tidak punya keluarga. Bukan, dia tidak tau keluarganya.
Tiba-tiba perutnya berbunyi, ah! Dia lupa kalau belum makan. Maksudnya, belum makan sampai kenyang.
Akhirnya, ia berjalan mencari dimana dapur. "Itu dia! Hhhmmm... Paman punya makanan apa ya?"
Langsung saja ia membuka kulkas dua pintu itu. Bagian bawahnya hanya ada daging kaleng, 3 butir telur, dan bawang Bombay.
Saat membuka kulkas bagian atas ada dua potong daging fillet, dan satu paha ayam. Ia memejamkan matanya, fokus memikirkan apa yang harus ia masak.
"Oh ya! Aku pernah melihatnya dibuku. Tapi tidak begitu ingat resepnya. Sudahlah ku coba saja. Mudah-mudahan enak."
Akhirnya, ia mengeluarkan daging kaleng, 3 butir telur dan bawang Bombay. Tangannya gesit mengupas dan memotong-motong bawang seperti sudah terbiasa.
Dagingnya ia iris tapi tidak terlalu tipis lalu ia bakar dengan mentega. Lalu, daging itu ia oles dengan bumbu racikannya. Baunya sungguh harum.
Ia sangat senang dengan kegiatannya. Semua kesedihan yang bersarang di hatinya hilang seketika. Tak terasa hidangan telah jadi.
"Lebih baik ku bersihkan dapur setelah itu membangunkan tuan tidur." Katanya dengan senyum yang berseri-seri..
30 menit berlalu...
"Paman, ayo bangun." Raka membangunkan Hans dengan menggoyangkan kakinya. Tapi, Hans tidak kunjung bangun. Ia terlalu menikmati alam mimpinya.
"PAMAN! BANGUN!" Akhirnya Raka menyerah, dia pun berteriak. Benar saja, Hans langsung bangun dengan muka yang linglung.
"Ada apa?? Raka? Kenapa kamu disini??" Tanyanya setengah sadar.
"Mau mati kelaparan?" Setelah itu, dia pergi meninggalkan 'tuan tidur' yang masih memproses pikirannya.
"HM?? Bau bawang Bombay. Siapa yang masak? Atau dia membeli makanan diluar sendiri???. Dia tadi keluar sendiri???" Hans belum tau kalau bocah yang sekarang tinggal bersamanya bisa membuat makanan yang lezat.
"Rakaa tadi..--- HM?" Pria yang baru bangun tidur itu bingung melihat Raka dengan santainya makan telur orak-arik dan daging yang terlihat enak.
"Silahkan makan, tuan rumah." Kata Raka saat melihat Hans yang berdiri di hadapannya. Hans langsung menyantap daging itu dan......
"Waah! Apa ini?! Kamu membelinya di mana? Sungguh enak. Yum!!"
Raka tidak menjawab hanya tersenyum miring. Ia tetap melanjutkan makannya sampai habis.
"Biar aku yang mencuci. Kamu duduk di sini saja." Kata Hans saat Raka membawa piring kotornya.
Setelah semua rapi, Hans duduk di sofa ruang tamu. Di sampingnya, Raka yang sedang membaca buku. "Tadi kamu keluar sendiri?" Tanya Hans yang benar-benar penasaran.
"Aku memasaknya sendiri, tidak membelinya." Jawabnya santai sambil membalikkan halaman.
"Apaaaaa??!! Kamu, masak? Memasaknya? Mengiris daging, memotong bawang dan... Dann...." Hans benar-benar tidak percaya. Seorang bocah 5 tahun bisa memasak daging yang lezat.
"Yaaa kalau tidak percaya juga tidak masalah. Sekarang, jangan menggangguku lagi, Ya. Tuan Rumah yang terhormat.." Katanya sambil tetap fokus membaca. Raut mukanya sudah berubah.
Hans tentu melihat itu dan langsung beranjak dari sofa. . "Haaahh! Benar-benar mengejutkan." Batinnya sambil berjalan ke kamar mandi.
Di kediaman Tuan George
Seorang pelayan berdiri tegak di depan ruang kerja tuannya dengan perasaan yang agak takut. "Haaahhh! Semoga tuan bisa tenang." Katanya menenangkan diri.
Tok Tok!
"Masuk." Zack menghembuskan napasnya lagi. Kemudian membuka pintunya. Langsung ia masuk dan menutup pintu kembali.
"Kamu terlihat tegang begitu. Ada apa?" Tanyanya sambil menatap pelayannya tapi, Tangannya tetap sibuk mengetik. Di sampingnya, ada seorang asisten yang setia membantunya mengurus perusahaan.
__ADS_1
"Ada kabar kurang baik, tuan. Hhmmm ...." Kata Zack bingung bagaimana menyampaikannya. George pun mengisyaratkan asistennya untuk keluar. Setelah itu, Zack melanjutkan kata-katanya.
"Telah terjadi tragedi pembunuhan di kota S tepatnya di rumahnya... Lynn White."
Brak!
Benar saja, George menggebrak meja dan mukanya merah padam, mata birunya melotot.
"Tu-tuan." Zack sungguh terkejut melihat reaksi tuannya.
"Siapa yang terbunuh? Pelakunya siapa??! Kalau bicara yang lengkap.! Cepat katakan!" Katanya dengan tatapan yang tajam.
"Di rumah itu ada 2 orang yang terbunuh. Lynn White, dan anaknya, Alan Jackson. Nyonya Lynn di bunuh oleh anaknya. Di tusuk dari belakang. Sedangkan Alan di bunuh oleh..... *Glek!* "
George geram mendengarnya, ia benar-benar di buat sangat penasaran oleh pelayannya. Ia menunjuk muka pelayannya
"CK! Cepat katakan--"
"Alan di bunuh oleh Raka." Akhirnya ia mengatakannya dengan sekali tarikan napas.
George terdiam, otaknya memproses apa yang baru saja ia dengar. Matanya terbelalak, raut mukanya pucat. Memorinya mengingat kejadian puluhan tahun yang lalu, saat dirinya masih muda.
"Kenapa.... Kenapa terjadi 'lagi'? Tidak! Tidak boleh terulang lagi." Seketika kepalanya sakit. Dadanya terasa sesak.
Zack buru-buru membantunya bersandar. Kemudian memberinya segelas air.
George mengatur napasnya kemudian memejamkan matanya. Masih belum percaya dengan berita tersebut.
"Kata salah satu perawat di klinik Hans mengatakan bahwa sudah lama Hans tidak ke klinik. Padahal, masa liburnya sudah selesai. Kemudian ada seorang dokter memberitahu saya.
Tanggal 10 dini hari, Saat itu, ia sedang duduk di ruangannya . Ia mendengar suara ribut dari ruang tamu dan menghampirinya. Seorang petugas kebersihan sedang menenangkan seorang bocah yang keadaannya sangat kacau.
Tangannya berlumuran darah, matanya sayu. Ia mengatakan bahwa neneknya sakit. Namun, saat ia dan petugas itu melihatnya, mereka merasa janggal. Dokter itu langsung memegang tangannya dan terkejut. Yang katanya sakit, ternyata sudah meninggal."
"Cukup! Sekarang, kau pergi ke rumah Hans. Dan bawa anak itu kesini. Biarkan dia tinggal bersamaku."
Zack tidak menjawab. Ia berpikir sebentar kemudian berkata "Tidak semudah itu, Tuan. Kalau dia tidak--"
BRAK!!!
"Hans.. Kau berhutang penjelasan padaku." Gumamnya sambil berjalan cepat ke kamarnya.
Esok harinya di pagi hari.....
Sebuah keributan kecil terjadi di rumah Hans.
"Raka, sudah ku bersihkan tadi. Ayolah..... Kamu cukup duduk manis di sini, oh! Aku punya koleksi buku yang--"
"Cerewet! Aku sedang tidak ingin membaca. Aku harus melakukan sesuatu untuk menghilangkan stres." Kata bocah pintar itu sambil mengelap jendela.
Sejak bangun tidur, ia langsung mandi kemudian melakukan pekerjaan rumah. Bahkan, dia juga memasak. Saat Hans melarangnya, ia malah marah dan mengancam akan membanting barang.
"Jangan membuatku merasa bersalah. Ini sudah jam 10. Istirahat saja ya. Kan kamu juga belum pulih. Lihat! Aku juga sudah menyiapkan cemilan kesukaanmu. Oh! Ada--"
"Iya, iya! Aku berhenti sekarang. Huh! Aku tidak terbiasa duduk diam melamun menunggu malam." Bocah itu akhirnya menyerah dan pergi ke dapur untuk mencuci tangan. Setelah itu, ia langsung membuka kulkas dan mengambil eskrim kesukaannya.
Saat berjalan ke ruang tamu, ia mendengar suara yang belum ia kenali.
"Sepertinya ada tamu. Lebih baik---"
"Raka." Baru saja ia ingin kembali ke dapur, tiba-tiba Hans memanggil.
Raka berjalan ke arah ruang tamu dengan perlahan dan melihat seorang pria yang seumuran dengan Hans tapi badannya lebih tinggi sedikit. Matanya bewarna coklat, rambut pirangnya sangat rapi dan memakai stelan jas abu-abu.
Pria itu memperhatikannya dari atas sampai bawah. Kemudian membungkukkan badannya.
"Tuan George sedang menunggu kedatangan anda saat ini. Sekarang, tuan muda ikut saya ke kediaman beliau ya." Katanya dengan tersenyum...
"??? Haaah??!"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tak!
"Jadi, tuan anda menyuruh ku untuk tinggal bersamanya.? Jangan gunakan bahasa yang berbelit-belit. Aku sedang malas berpikir"
__ADS_1
Zack meminum secangkir kopi yang di sediakan dengan santai sambil mendengar ocehan dari bocah yang sedang kesal itu. Ia tidak merasa terganggu, malah tersenyum melihat bocah yang selama ini membuatnya penasaran.
"Tatapannya benar-benar mirip tuan. Tajam dan menusuk." Batinnya.
Raka sudah merasa tidak nyaman, sedari tadi Zack terus memperhatikan wajahnya. Ia segera turun dari sofa dan berjalan menuju kamar.
"Apakah Anda ingin ikut dengan saya hari ini?" Tanya Zack lagi. Raka membalikkan badannya dan bersandar di tembok.
"Hey, tuan pemaksa. Aku sungguh merasa tidak nyaman dengan tatapan dan perilaku mu sejak pertama kali bertemu. Sungguh mengganggu!
Dan mengenai hal itu... aku setuju. Kita pergi Hari ini kan?"
Zack mengangguk. Sedangkan Hans, dia terkejut mendengar keputusannya. Ia berdiri dan langsung menghampiri bocah itu yang sedang berkemas.
"Apakah kamu yakin??? Sekali menginjakkan kaki di rumah itu, kamu tidak akan bisa keluar lagi."
Raka terdiam berpikir sejenak kemudian ia kembali memasukkan barangnya ke dalam tas.
"Tuhan akan merubah takdir seseorang jika orang tersebut mau berusaha. Jika diam terus, Aku akan semakin stres dan tenggelam dalam kesedihan." Ucapnya sambil tersenyum.
"Kamu belum tau berhadapan dengan siapa. Aku tidak ingin hidupmu--" Ia benar-benar tidak setuju jika Raka sampai
"Hans. Terimakasih sudah menemaniku selama ini. Aku tidak akan melupakan kebaikan mu" ucapnya sambil meninggalkan Hans yang duduk sendirian di kamarnya.
Ia menatap bocah itu dengan nanar. Benar-benar tidak menyangka Raka akan menghadapi mereka. Ia tau betul perilaku keluarga itu.
"Ku harap, kamu semakin kuat dan bisa bertahan." Lirihnya...
"Aku sudah siap. Ayo berangkat." Zack yang sibuk dengan pikirannya menoleh ke arah bocah itu dan terkejut melihat barang bawaannya.
"Waah. Banyak juga ya. Seharusnya saya membawa 2 pelayan lagi." Katanya sambil terkekeh. Mendengar itu, Hans merasa ada peluang untuk menemani bocah itu lebih lama lagi.
"Biarkan aku ikut." Kata Hans sambil berlari menuju pintu ruang tamu. Raka dan Zack saling menatap kemudian mengangguk. Akhirnya mereka berangkat ke kota X menggunakan pesawat pribadi George.
Raka tampak senang menikmati keindahan awan padahal, jantungnya berdegup sangat kencang khawatir dengan kehidupan selanjutnya tanpa seseorang yang biasanya menemaninya, Lynn sang nenek kesayangan.
Kemudian, ia menyenderkan badannya dan memejamkan mata sambil meyakinkan dirinya kalau keputusan ini tidak salah.
Hans memperhatikan gelagatnya dari tadi. Ia tau, Raka sedang tidak baik-baik saja. Tapi, ia tidak mau terlalu ikut campur karena Raka sendiri yang memutuskan.
"Selamat tinggal, Nenek. Terimakasih sudah menyayangi ku dan mengajarkan ku banyak hal. Tolong kuatkan aku. Sekarang aku sendirian. Semoga.... Ya, semoga Aku bisa merasakan kebahagiaan lainnya. Di kehidupanku selanjutnya." Matanya memanas, bibirnya bergetar. Ia berusaha menahan tangisnya.
Zack melihat itu semua, kemudian menghiburnya dengan sebuah hidangan yang belum pernah ia nikmati. Raka tersenyum dan menikmati hidangan tersebut. Meskipun hatinya belum benar-benar terhibur.
************************************************
Tak terasa, mereka sudah sampai di kota X. Raka berdecak kagum melihat kota besar yang di huni oleh masyarakat kelas atas. "Bagaikan langit dan bumi." Gumamnya.
Ya, di bandingkan kota tempat tinggal sebelumnya, Kota S yang serba sederhana bahkan tidak terlihat kesan mewah sedikit pun.
Mobil yang mereka naiki akhirnya sampai juga di sebuah rumah (?) Lebih tepatnya mansion yang bewarna putih, dengan hiasan emas di sudutnya. Atapnya tinggi menjulang benar-benar seperti sebuah istana. Gerbangnya yang bewarna hitam menjulang tinggi dan terdapat duri diatasnya.
"Ini rumah atau istana?" Batinnya bertanya. Kepalanya menengadah ke atas, memperhatikan bangunan yang sangat tinggi itu..
Ceklek!
Kreeeekkk!
Gerbang kokoh itu terbuka dan mereka pun masuk. Baru saja melangkah masuk, Bocah itu terpana dengan pemandangan di depannya. Banyak bunga dengan berbagai macam warna dan ada air terjun kecil yang jernih.
Sejenak, ia lupa dunianya. Ia merasa seperti masuk ke istana bunga. Matanya berbinar, bibirnya melengkung ke atas. Saat sedang berkeliling, ia melihat bunga yang belum pernah ia temui. Seakan terhipnotis, ia langsung mendatangi bunga itu dan memetiknya tiba-tiba...
"Hei! Bocah dari mana kau?! Berani sekali kau memetiknya tanpa izin!" Seorang pelayan menghampirinya saat melihat orang asing yang seenaknya memetik bunga kesukaan majikannya.
Raka terperanjat. Ia melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya. Tangannya selalu 'gatal' jika melihat bunga cantik di hadapannya.
Grep!
"Masuk!. Ikut aku, sini!"
Pelayan itu menggenggam lengannya dan menariknya kasar. Jalannya sangat cepat sampai Raka, yang sedang ditarik olehnya terjatuh.
"BERANI SEKALI KAU MENYAKITINYA , BEN!!!"
Raka dan pelayan itu kaget mendengar suara yang bergema itu. Saat mengangkat kepalanya, ia melihat seorang pria paruh baya yang berdiri tegak dan disampingnya Zack yang menatap tajam pelayan tersebut.
__ADS_1
(Selanjutnya di season 2)