
"Raka, ayo bangun waktunya berjemur. Sudah jam 7 lhoo." Raphael menggoyang-goyangkan badannya Raka cukup kuat karena saat Nicholas membangunkannya 15 menit yang lalu, ia tidak mau bangun.
"Diam. Ah! Aku masih mengantuk. Hari ini jadwalnya tidur. Aku tidak mau keluar kamar. Badanku lemas. Jangan menggangguku!" Kata Raka sambil masih menutup matanya dan tangannya mendorong pelan orang yang membangunkannya.
"Berjemur di dalam kamar saja ya." Bujuk Raphael.
Raka menggeleng dan menutup mukanya dengan bantal.
"Sudah, biarkan saja. Hari ini, biarkan tuan muda beristirahat penuh. Semoga besok mau beraktivitas seperti biasa. " Kata Nicholas yang membawa troli berisi sarapan dua tuan muda itu.
Akhirnya Raphael menikmati sarapannya di temani Nicholas. Tiba-tiba terdengar suara dari arah bocah yang tidur itu.
"Raka, kamu harus bangun. Isi perut mu dahulu." Kata Raphael dengan nada yang sedikit tinggi. Kelakuan Raka benar-benar menguji kesabarannya.
Nicholas langsung menghampiri tuannya yang masih tertidur. Ia menyingkap selimutnya dengan pelan kemudian mengangkat badan kecil itu ke kamar mandi.
Tak lama, ia keluar dengan wajah yang lebih cerah meskipun sedang cemberut.
"Kau kan punya kamar sendiri. Sana keluar! Aku tidak suka ada orang asing di kamar ku."
Raphael mengangguk. Kemudian membawa nampannya keluar. Tidak ada raut kesal dari wajahnya. Ia hanya tersenyum kecil. Kemudian...
"Temui aku di taman nanti yaa." Setelah itu, ia keluar.
Raka tidak menyahut. Ia diam dan melamun melihat pintu kamar yang masih sedikit terbuka. Nicholas menghela nafasnya. Hati Raka benar-benar sedang dalam kondisi yang buruk. Lalu, ia pamit keluar dan menutup pintu dengan rapat.
"Ini lebih buruk dari sebelumnya. Apa yang harus ku lakukan? Tuan muda bukan seperti anak kecil lainnya yang mudah di rayu dan di hibur dengan bertamasya atau mainan baru." Batinnya. Ia duduk di kebun sambil menikmati udara segar pagi hari.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Dikamar, Raka menyandarkan punggungnya di sofa sambil membaca buku mengenai psikologi. Ia sangat ingin melupakan masa lalunya tapi, ada saja penghalangnya.
"Bisa stres kalau aku begini terus. Haaaaa tolong bantu aku menghadapi kenyataan, Nenek. Aku harus melupakanmu agar aku bisa tetap hidup. Ya, aku harus tetap hidup. Aku tidak mau mati sia-sia. Sudah cukup menangis dan meratap.
Kan aku ingin punya perusahaan sendiri. Aku ingin sukses. Tidak bisa dan tidak boleh begini terus. Aku harus berubah."
Ia berpikir sendiri di kamar yang sunyi itu sambil memakan sarapannya. Matanya terpejam. Ia benar-benar fokus sekarang.
"Oooh! Sudah lama aku tidak menulis keseharian ku. Iya! Aku sangat merindukan buku catatan ku." Bocah itu turun dari Sofanya dan membuka sebuah laci. Mukanya tampak cerah dan senang. Tapi, seketika mukanya berubah kemudian menggelengkan kepalanya.
"Ini kan pemberian dari nenek. Tidak! Aku harus mengganti bukunya. Kan aku ingin merubah hidup. Sepertinya aku punya buku cadangan yang masih kosong." Tangannya sibuk mencari barang yang dimaksud dan.....
"Ya! Ketemu. Dan ini pena kesukaan ku. Ayo mulai!"
Raka menulis diatas kasurnya dengan hati yang mulai merasa lebih baik. Tangannya menulis dengan baik dan lancar.
__ADS_1
Sudah 1 jam lamanya ia menulis. Hasilnya sangat banyak, sudah sekitar 5 lembar ia tulis tentang kehidupan barunya bersama Kakek dan bertemu orang-orang baru. Ia harus menahan air matanya yang ingin menetes Karena teringat neneknya lagi.
"Ah! Cemilan. Sepertinya masih ada di lemari."
Bocah itu turun dari kasurnya dan menghampiri lemari yang di maksud, Kemudian membukanya.
"Waah sudah menipis. Yang penting untuk sekarang masih ada." Lalu ia kembali ke kasurnya dan menulis. Kedua tangannya sibuk. Tangan kirinya menulis, tangan kanannya memegang kue.
Tok.tok!
Sebuah ketukan pintu menginterupsinya tapi,, tidak ia hiraukan. Ia masih sibuk menulis.
"Ayo, fokus! Sedikit lagi!" Katanya sambil mengunyah.
Ketukan itu terdengar lagi dan untungnya, ia sudah selesai.
"Waaah! Pegal juga ya. Hahaha.". Kemudian ia turun dari kasur dan membuka pintu.
Ternyata itu kakeknya, dan Nicholas. Raka mempersilahkan mereka masuk. Tapi, yang masuk hanyalah George. Raka melihat Nicholas yang melambaikan tangannya dan menutup pintu.
"Uumm .. kakek... Hhhmmm.... Apa kabar?" Tanyanya hati-hati. Ia merasa tidak enak karena sempat mengatakan hal yang menyakiti kakeknya.
. George hanya tersenyum sambil mengangguk. Tangannya terulur untuk mengusap kepala cucunya.
"Ma-Maafkan aku. Aku menyakiti perasaan kakek. Padahal Kakek sangat menyayangiku. Seharusnya aku tidak berkata seperti itu." Kepalanya menunduk. Jantungnya berdegup kencang.
"Angkat kepalamu dan dengarkan. Raka." Kata George dengan lembut.
Raka mengangkat kepalanya dan melihat kakeknya tersenyum. Ia makin merasa bersalah.
Ia menangis lagi. "Hiks! Maafkan aku yang selalu merepotkan kakek. Sejak kehadiranku, mansion ini selalu ada masalah. Maafkan aku ya. Hiks! Aku bukan anak yang baik. Aku meminta ini itu tanpa memikirkan perasaan kakek."
George berusaha untuk tidak menangis. Ia memejamkan matanya kemudian memeluk cucunya yang tengah menangis.
"Kau anak yang baik. Kau bisa melakukan apa yang anak kecil pada umumnya belum bisa. Permintaan mu tidak pernah merepotkan. Kakek malah sedih kalau kamu tidak minta apapun. Ingat. Jangan sakiti dan menyalahkan dirimu. Lagi pula... Sebelum kehadiran mu, di mansion ini sudah banyak masalah. Tau tidak? Sejak kau hadir, kakek merasa bahagia dan tidak kesepian lagi."
George mengelus punggung cucunya yang menangis sesenggukan.
"Sudah... Sudah.... Cukup menangisnya yaaa. Mulai sekarang, kau harus bahagia. Katanya hari ini mau beristirahat kan? Jangan sedih lagi. Waktumu masih panjang. Isilah dengan kebahagiaan."
Meskipun sedang menangis, tapi di hatinya Raka merasa lega karena sudah minta maaf kepada kakeknya. Dan di hatinya ia berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan neneknya.
Ya, dia sudah bertekad untuk bangkit dan belajar lebih giat agar bisa sukses saat masih muda.
Tak lama, suara tangisannya hilang. Ternyata cucunya tertidur. George tertawa, gemas melihatnya. Kemudian ia meletakkan cucunya di sofa.
__ADS_1
"Nicholas. Bersihkan kamar ini." Katanya sambil menyelimuti badan cucunya.
Nicholas yang sedari tadi berdiri di depan kamar langsung masuk saat mendengar ia di panggil.
"Baik, Tuan."
Saat ia masuk, tuan mudanya terlihat tidur lelap dengan mata yang sedikit basah.
"Semoga setelah ini anda tidak menangis lagi. Sudah lama kita tidak memetik buah. Oh ya! Ku dengar besok buah strawberry dan apel siap panen lhoo. Selai strawberry yang anda buat saya minta sedikit. Hehe maaf ya."
Walaupun pelayan itu tau tuannya sedang tidur, ia tetap mengajaknya bicara. Tak lama tugasnya selesai. Kamar Raka sudah sangat bersih. Tidak lupa, stok cemilan di lemarinya juga sudah terisi penuh.
"Tuan, bangun sebentar yaa. Ganti baju dulu yuk."
Raka yang merasa terusik langsung bangun. Ia duduk sambil memegang kepalanya.
"Aku mau makan. Kepalaku sedikit pusing."
Nicholas langsung keluar menuju dapur untuk mengambil makanan. Sebelum sampai ke dapur, ia bertemu dengan Raphael yang sedang memperhatikan seorang maid. Saat mendekat, ia melihat ekspresinya datar.
Itu adalah hal yang aneh. Raphael, bocah manis yang sering tersenyum ramah tiba-tiba berekspresi seperti itu, datar.
"Nicholas. Sedang apa disini?" Tanyanya ramah.
"Oh, saya ingin ke dapur untuk mengambil makanan." Jawabnya sambil memperhatikan muka bocah itu.
"Jangan ke dapur. Ambil saja di kamarku. Aku berencana untuk makan bersamanya. Tapi, aku tidak tahu dia sedang apa. Takut mengganggu." Jelasnya.
Nicholas heran kenapa dilarang ke dapur. Tapi akhirnya ia mengikuti tuan kecil itu ke kamarnya.
Saat sampai di kamar, Raphael mendorong troli makanan keluar.
"Lihat! Sudah lengkap dengan cemilannya." Katanya sambil tersenyum. Nicholas mengangguk. Kemudian ia memegang troli itu.
"Biarkan saya yang mendorongnya."
Mereka berjalan beriringan menuju kamar Raka. Nicholas sesekali mencuri pandang. Ia melihat wajah Raphael sedikit kesal sambil melirik ke seorang pelayan yang tersenyum padanya. Nicholas melihatnya keheranan tapi, ia tidak mau bertanya sekarang.
Saat sampai, ia mengetuk pintu dan dari dalam terdengar suara untuk masuk.
"Haaaiii." Sapanya.
Raka sedikit terkejut dengan kedatangannya. Ia bingung harus bagaimana. Akhirnya ia hanya mengangguk.
"Biar aku yang menyiapkan. Terimakasih Nich, sudah membantuku." Katanya dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
"Sama-sama, tuan muda. Sekarang saya undur diri dulu. Selamat menikmati hidangannya yaa. Tuan Raka, semoga hari ini adalah hari terakhir anda menangis. Anda berhak bahagia."
Kemudian pelayan itu keluar meninggalkan 2 orang yang sibuk dengan kegiatan dan pikiran masing-masing.