
Taman....
Bruk!!!
"Berhenti menangis! Kenapa kakak sangat lemah?! Hah? Aku bukannya melarang Kakak untuk menangis tapi, aku hanya tidak suka kakak diam saat dihina!" Ucap Raka dengan amarah yang memuncak.
Raphael masih menangis, terlebih saat didorong keras oleh adiknya. Hatinya memang tidak sekuat Raka. Ia memang sering menangis dan sulit untuk menahannya.
"Raka, hiks! dengarkan penjelasan ku dulu." Tangisannya terdengar menyedihkan tapi, tidak membuat Raka luluh.
Dari belakang, Nicholas melihat Raka yang marah-marah dengan nada tinggi. Ia langsung berlari menghampiri tuan mudanya.
"Kau diam situ!" Ucapnya saat melihat Nicholas mendekatinya. Pelayan itu langsung berdiri diam, tidak berani bergerak.
"Jelaskan!" Raphael bergetar hebat mendengar suara bentakan itu. Selain ketakutan, ia juga kedinginan karena udara luar masih sangat dingin. Taman masih dipenuhi salju.
Tangannya menyeka air matanya, berusaha tenang dan berhenti menangis.
"Aku hanya tidak mau membuat keributan di situ. Aku diam bukan karena menerima hinaannya. Aku hanya bersabar, semua ada waktunya untuk membalas-"
Plak!
Tak disangka-sangka, ini kedua kalinya ia ditampar oleh adiknya. Pipinya terasa panas. Ia memegangnya sambil melihat raut wajah adiknya yang mengerikan. Lebih mengerikan dari saat pertama kali mereka bertemu.
"Kau tau??! Ini adalah hal yang paling ku Benci dari Nenekku. Yaitu, diam saat dihina dan diinjak oleh anaknya sendiri! Sudah ku peringatkan untuk bertindak tegas, namun beliau hanya mengatakan padaku untuk bersabar dan menerima semuanya.
Malah minta maaf padahal beliau tidak salah. NENEK MENYURUHKU UNTUK BERSABAR, PADAHAL ORANG G*L* ITU SUDAH KELEWATAN! DIA MENGINJAK HARGA DIRI DAN MEMPERLAKUKAN KITA SEAKAN KITA LAH YANG BERHUTANG JASA PADANYA."
Tangannya masih terkepal kuat, matanya menatap tajam wajah kakaknya yang menyedihkan.
"Beliau tidak mau melawan, karena apa??? 'Harus menjadi orang yang baik, tidak boleh berkata kasar dan BERSABAR SAAT MASALAH MENIMPA KITA. Kalaupun ada yang menghina atau menginjak kita, kita harus SABAR. Suatu saat hinaan itu akan sirna.'
Namun, apa yang terjadi???!!! Kau tau??? BAHKAN TUAN GEORGE BELUM MENGETAHUI APA YANG SEBENARNYA TERJADI DI BALIK PEMBUNUHAN ITU."
Raka mengeluarkan sebuah p*sau lipat dari saku celananya lalu berjalan kearah pohon yang berada di samping lalu menancapkannya ke batang pohon itu. Kemudian ia menoleh ke arah Raphael yang masih ketakutan.
"Nenekku berteriak melawan, karena merasa sudah tidak tahan dengan hinaan yang dilontarkan s**lan itu. Ia baru melawan detik-detik sebelum ajalnya datang. Beliau terb*n*h karena perbuatannya sendiri. Karena kesabaran yang salah!
Aku merasa dendam dan marah karena 'kesabaran' yang selama ini harus dibangun dalam diriku. Maka itu, ku b*n*h langsung b*jng*n tukang mabuk itu. Dan ingat ini! Aku Tidak akan Pernah merasa Menyesal dengan apa yang ku lakukan dulu!!!"
Nicholas, Hans dan Zack terkejut mendengarnya. Ya, selama ini Raka tidak menceritakan detail kejadian itu karena terlalu marah untuk mengatakannya. Ia hanya mengatakan bahwa Alan datang dengan mengamuk, lalu memb*n*h ibunya setelah di bentak oleh ibunya.
"Masih mau bersabar?!! Masih mau DIAM saja? Hei! Sabar pun ada waktunya. Tidak semua masalah, harus kita terima dengan BERSABAR! Ada beberapa hal yang tidak bisa di tanggapi dengan KESABARAN. Kalau sudah menginjak harga diri, tidak perlu bersabar dan menunggu! Harus langsung di tanggapi. Orang-orang sombong itu akan makin besar kepala dan seenaknya kalau kita hanya DIAM!"
Setelah melupakan semua amarahnya, ia masuk kedalam di temani pelayannya. Ia tidak peduli tatapan sinis dari anak-anaknya Axello. Ia terus melangkah menuju kamarnya.
Brak!
Ia membuka pintunya kasar kemudian berbaring di atas lantai. Nicholas berinisiatif mengambilkan pakaian dari lemari dan mengeluarkan cemilan dari lemari kecil dekat meja belajarnya.
Raka tidak memperdulikannya, ia hanya diam menatap langit-langit kamar sambil mengatur napasnya.
"Sekarang, kau baca ini!! Setelah itu, katakan padaku apa yang ada di pikiranmu!". Kata George saat memberikan anaknya koran mengenai tragedi p\*mbn\*hn yang terjadi akhir tahun 1985.
"Kakek...." Gumamnya sambil menatap ayahnya.
"Ya! Aku juga berpikir hal yang sama. Mereka melakukannya sebagai balas dendam yang sudah menumpuk di hatinya. Bacakan lanjutannya!"
"Aku tidak bisa melanjutkan. Bagaimana mereka sama?! Maksud ku kenapa bisa terulang lagi?!" Tanyanya dengan menggebu-gebu.
"Masih meragukannya?! Bahkan ia didatangi oleh kakekmu. Beliau mengatakan padanya untuk membalas perbuatan Napoleon." Axello menanggapi ucapan ayahnya dengan gelengan. Seakan tidak percaya hal itu.
"Bisa saja dia mengada-ngada. Ayah jangan --"
"Axel! Jadi selama ini, kau belum mengenal ayah mu ini siapa?!! Kau pikir aku tidak bisa membedakan mana yang benar-benar jujur, mana yang berusaha untuk 'jujur'."
Axello menghela nafasnya. Ia tidak mau membalas lagi ucapan ayahnya. Masih ada kejanggalan dan keraguan di hatinya. Tapi, ia memilih diam. Meskipun karakternya keras, tapi jika berhadapan dengan orang tuanya ia akan mengalah. Sangatlah jarang ia berselisih dengan orang tuanya.
"Kalau dia membuat ayah susah, beritahu aku. Aku pamit ke kamar. Selamat beristirahat." Setelah anaknya keluar, George memegang kepalanya yang sedikit pusing.
__ADS_1
Hatinya tidak tenang, memikirkan cucunya. Terlebih, ada seorang maid yang memberitahunya kalau Raka menampar kakaknya tadi.
"Ayah.... Apa yang harus ku lakukan? Sudah beberapa hari ini, ayah tidak datang. Haaah! Istriku, kalau kamu masih hidup, kamu akan mendukung ku, kan??" George berbicara sendiri dengan foto ayahnya dan istrinya. Hal yang sering ia lakukan saat sedang ada masalah.
Tok tok!
Suara ketukan membuyarkan lamunannya, ia segera duduk lalu menunggu siapa yang datang. Ternyata Zack dan... Hans. George terkejut dengan kedatangan Hans yang tiba-tiba.
"Sudah lama tidak bertemu Tuan." Sapanya. George hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Setelah itu, tidak ada yang berbicara lagi. Suasana Kamar George hening dan tegang. Tidak ada yang memulai pembicaraan lagi.
Hans pura-pura melihat koleksi bunga di kamar itu. Lidahnya kaku, pikirannya buntu. Ia tidak tau harus bicara apa.
Tok tok!
Suara ketukan pintu terdengar lagi. Hans langsung membukanya dan terkejut saat melihat wajah Nicholas pucat.
"Ada apa, Nich?" Tanya Hans khawatir.
Nicholas tidak menjawab, ia langsung masuk ke dalam dan berdiri di hadapan George.
"Tolong tenangkan cucu anda, Tuan. Di-dia sekarang... mengamuk tiba-tiba di kamarnya. Tangannya berdarah. Kakaknya pun yang berusaha menenangkannya, tidak mempan.". George berdiri dan meminta Nicholas dan Hans untuk ke kamarnya. George berdiri perlahan karena kepalanya sakit sebelah, ia berusaha berjalan cepat menuju kamar cucunya di temani Zack.
Sesampainya di kamarnya, George benar-benar terkejut. Kamar itu sudah dalam kondisi yang kacau. Pecahan beling ada dimana-mana. Terlihat Raka berdiri menghadap jendela dan disampingnya Raphael yang sedang memeluk adiknya. Dari tangan kana Raka, ada darah yang menetes Karena ia sedang menggenggam sebuah beling.
"Aku membenci diriku yang tidak bisa mengontrol emosi. Tapi, sisi lain ku mengatakan untuk melakukannya. Aku sering bingung mana yang benar. Marah-marah memang membuang tenaga ku. Tapi, ada sesuatu yang memberontak dari diriku jika aku diam dan tidak mengeluarkannya."
Ucap Raka sambil melihat pemandangan luar. Matanya berkunang-kunang, tapi ia masih bisa berdiri tegak.
"Tuan Nathanael datang lagi kemarin. Dia terlihat lebih segar. Tidak ada ekspresi mengerikan itu lagi. Dia menatap ku dengan tatapan yang membuat ku penasaran. Dia menyuruh ku untuk tetap bertahan menemani anaknya. Hahaha!."
Tawanya terdengar mengerikan, orang-orang di situ saling menatap kebingungan melihat bocah yang sedang berbicara sambil terus menatap jendela.
Badannya mulai oleng, Raphael menahan badan adiknya yang mulai jatuh. Nicholas menghampiri tuannya untuk membawanya ke kasur tapi ia terhenti karena Raphael mengisyaratkan untuk tidak mendekat.
"Oh ya! Aku menemukan hal menarik saat aku berjalan-jalan di lorong. Kau tau, kak? Aku menemukan buku yang usang, sejarah keluarga ini. Di buku itu, tertulis bahwa generasi pertama sampai ketiga harus meminum suatu cairan gelap untuk menandakan bahwa orang itulah yang akan menjadi penerus keluarga ini."
Tubuh George bergetar mendengar itu. Bagaimana cucunya bisa menemukan 'ruangan' itu. Raka terus tertawa dengan suaranya yang mulai serak. Raphael menangis mendengar cerita adiknya.
"Ada yang selamat, ada yang tidak selamat setelah meminumnya. Kakak tau tidak? Aku mencobanya selama ini, aku menunggu reaksi dari cairan itu. Apakah aku akan selamat setelah meminumnya?"
Duar!!!
__ADS_1
George terduduk di lantai, tidak menyangka apa yang telah dilakukan bocah itu. Untuk apa kau melakukannya? Batinnya bertanya-tanya.
"Kalau aku belum bangun selama tujuh hari, berarti kakak harus siap keluar dari mansion ini seorang diri dengan membawa semua hartaku."
"CUKUP RAKA! CUKUP!!! KAMU SEAKAN MENGHARAPKAN KEMATIAN UNTUK DIRIMU!!! BERTAHANLAH!!!" Raphael berteriak sambil mengguncangkan tubuh adiknya. Raka tidak menjawab, ia hanya tersenyum lalu..... Menutup matanya.
Badannya terkulai lemas tak berdaya diatas pangkuan kakaknya. Diam.... Tidak terdengar lagi suaranya. Kamar itu hening untuk beberapa saat sampai akhirnya.
"JANGAN!!! KAMU TIDAK BOLEH MENINGGALKAN KU! AAAHHH! RAKA!!! JANGAN MEMBUATKU TAKUT. HIKS! TOLONG JANGAN MENGAMBIL ORANG YANG KU SAYANGI!!! DIALAH ADIKKU SATU-SATUNYA!! JANGAN! JANGAN!! AKU TAK PUNYA SIAPA-SIAPA LAGI.".
George berjalan menghampiri cucunya yang terlihat tidur. Saat mengeceknya, ia pingsan. Nicholas berjalan mendekat lalu menepuk-nepuk pipi bocah itu. Lalu berjalan mundur sambil menggeleng pelan.
George sudah di pindahkan ke kasur cucunya. Hans tidak percaya dengan apa yang dilihatnya begitu juga dengan dua sahabatnya.
"Zack, baru saja ku lihat senyumannya tapi...." Hans menangis tersedu-sedu. Ia sangat ingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan bocah itu. Bocah yang menarik perhatiannya sampai merubah hidupnya.
"Dokter akan datang sebentar lagi. Nicholas, panggil pelayan yang lain untuk membersihkan kamar ini." Hanya Zack yang masih tenang meskipun matanya sedang berkaca-kaca.
Raphael menangis tersedu-sedu sambil memeluk adiknya, George juga belum sadar. Tanpa mereka sadari, Axello sudah berdiri sejak Raka masih berbicara. Ia memegang dadanya, matanya terbelalak. Tidak percaya apa yang bocah itu telah lakukan. Bahkan, dirinya tidak pernah tau sejarah keluarganya di generasi pertama sampai ketiga.
Ia berjalan gontai menuju kamarnya lalu memberitahu istrinya apa yang sedang terjadi. Istrinya terkejut bukan main. Wanita baik hati itu akhirnya menawarkan bantuan. Ia ingin memeriksa cairan tersebut.
"Aku tidak tahu dimana botol itu. Ayahku masih belum sadar." Ucapnya.
"Baiklah. Kalau begitu, sekarang antarkan aku ke kamarnya. Oh ya! Apakah pelayannya sudah memanggil dokter?"
"Sudah, sekarang dokter sedang dalam perjalanan."
××××××××××××××××××××××××××××××
"Sayang, kamu sedang mengandung. Tenang, ya. Kamu boleh sedih tapi, Jangan sampai lupa anak kita sini."
Edward menenangkan istrinya, Grace yang menangis sesenggukan setelah mendengar apa yang terjadi pada Raka. Meskipun hanya anak angkat, ia sangat menyayangi bocah itu seperti anaknya sendiri.
"Aku ingin melihatnya." Ucap Grace sambil menyeka air matanya.
"Kita akan kesana setelah kamu tenang. Kita tidak boleh membuat keributan." Grace mengangguk setuju. Ia pun langsung meminum segelas susu yang tadi sudah di siapkan suaminya. Setelah itu, ia mengatur napasnya, berusaha tenang.
"Tuan muda kekurangan cairan. Sekarang juga harus di bawa--""
"Bawa peralatan rumah sakit kesini! Dia tidak boleh keluar!"
Axello datang tiba-tiba. Ia tidak setuju jika bocah itu dirawat di rumah sakit. Ia sangat enggan berurusan dengan banyak orang.
"Tapi, keadaannya sangat gawat, Tuan Axello. Jika tidak segera, racunnya akan menyebar ke bagian otak dan"
"Pokoknya rawat disini! Saya sangat enggan kejadian ini menjadi pusat perhatian semua orang. Bawa semua peralatan yang dibutuhkan kesini beserta perawat yang akan menemaninya!!" Ucapnya lantang.
Dokter itu akhirnya mengangguk, ia tidak ingin berdebat dengan Tuan perfeksionis itu.
30 menit kemudian, 2 mobil datang. Fasilitas rumah sakit benar-benar di pindahkan ke mansion itu. Raka sudah di pindahkan ke kamar bawah. Raphael ikut ke kamar bawah juga. Ia juga ingin ikut merawat adiknya.
__ADS_1
Bocah itu sekarang terkulai lemas di atas kasur kamar barunya. Tangannya terpasang infus, hidungnya juga dipasang selang oksigen. Detak jantungnya masih lemah tapi beruntungnya masih ada harapan.
Nicholas duduk di sofa samping kasurnya menatap tuannya yang sedang 'tidur'. Ia masih belum menerima apa yang terjadi depan matanya.