
Di ruangan yang luas, di penuhi bunga-bunga yang cantik nan harum. Seorang kakek sedang menangis sambil memeluk foto keluarganya yang telah tiada. Di sampingnya, ada seorang pelayan setia yang menghiburnya.
"Sudah, tuan. Tolong jangan di ingat lagi." Katanya.
"Zack, bagaimana aku tidak mengingatnya? Mereka benar-benar mirip. Ucapan ayahku puluhan tahun yang lalu terjadi juga. Dan..... Kenapa harus dia? Aku merasa kasihan padanya. Kehidupannya sudah sangat miris dan sekarang di tambah..."
Zack berpindah ke hadapan tuannya dengan ekspresi meyakinkan.
"Saya yakin. Kehidupan Tuan muda akan berbeda dari mendiang kakek buyutnya. Anda bisa mendidiknya dengan baik." Katanya sambil melihat mata majikannya.
"Kau pasti tau apa yang telah terjadi pada anak itu sebelumnya. Dia melakukan P*MB*NH*N! dan kelakuannya benar-benar mengkhawatirkan. Tidak jauh beda --"
"Tuan. Saya tidak setuju dengan kata-kata anda. Sekali lagi saya katakan. Anda pasti bisa merubahnya. Anda bisa mendidiknya dengan baik. Menjadikannya orang yang sukses di masa depannya. Sekarang, yang harus anda lakukan adalah melakukan pendekatan. Tuan muda harus merasakan kasih sayang dari seorang kakek sekaligus seorang ayah. Anda pasti bisa."
George terdiam mendengar perkataan pelayan setianya. Ia sudah sedikit tenang. Benar! Waktunya masih panjang. Masih banyak waktu yang ia gunakan untuk merubahnya.
"Supnya sudah hangat. Sekarang waktunya makan ya, Tuan. Setelah itu, anda beristirahat. Urusan kerjaan, biarkan asisten anda yang mengurus.." Kata Zack sambil tersenyum.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
3 hari kemudian
"Nich. Nicholas!" Raka memanggil pelayannya yang tiba-tiba pergi entah kemana.
"Padahal tadi dia berdiri di sini lho." Ucapnya sambil berjalan ke pintu. Saat berdiri di ambang pintu, ia melihat seorang maid membawa keranjang pakaian.
Ia ingin melewati dapur itu tapi, ragu.
"Lewat saja. Silahkan." Kata Raka yang menatapnya heran.
"Hhhmmm... Kalau anda mencari Nicholas, Tadi saya sempat melihatnya berjalan ke arah kamarnya. Permisi."
Setelah mengatakan itu, ia langsung buru-buru pergi meninggalkannya. Raka kembali masuk ke dapurnya dan tak lupa menutup pintu.
Kemudian ia bersandar di tembok sejenak.
"Selai coklat sudah di beli, selai strawberry sudah di buat. Oh ya! Bagaimana kalau aku membuat roti. Ingin sekali mencobanya."
Tangannya yang lincah langsung mengeluarkan bahan-bahan yang di perlukannya. Seperti tepung protein tinggi, gula, telur, DLL.
"Aku tidak tau resepnya.. Yaaaa semoga berhasil. Kalau gagal, ku makan sendiri semuanya." Katanya sambil sibuk mengulen.
Mukanya tampak berseri meskipun melelahkan. Badannya pun berkeringat sangat banyak. Entah berapa kali ia mengelap wajahnya.
Beberapa menit kemudian, ia selesai mengulen lalu menutup adonannya dengan kain bersih yang ia siapkan tadi..
"Ke kamar dulu ah! Baju ku benar-benar kotor."
Ia pun keluar dari dapur, tak lupa menutup dan mengunci pintunya.
Dibelakangnya, ada 2 orang yang menatapnya sinis. Mereka melihat bocah itu sudah benar-benar meninggalkan tempat itu.
Salah satu di antara mereka membuka pintu yang di kunci Raka dan masuk. Tak lama, mereka keluar dengan tersenyum.
∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆
"Aduuh! Tuan muda pasti sangat kesal karena aku terlambat. Ya ampun! Kenapa aku bisa lupa yaaa. Untungnya sudah ketemu. Seharusnya aku izin dulu tadi. Aduh!" Kata Nicholas sambil jalan terburu-buru ke dapur.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara benda yang jatuh dari arah dapur. Ia langsung berlari. Khawatir hal buruk terjadi pada tuannya.
Saat sudah sampai di depan dapur, ia langsung membuka pintunya dan secara mengejutkan sebuah baskom kotor terlempar ke arah mukanya.
"Ya ampun! Apa itu? Tuan! Berhenti. Tenang dulu, ceritakan pada saya apa yang terjadi?"
Raka melempar semua barang yang didekatnya. Matanya memancarkan kemarahan yang amat sangat.
Kedua tangannya yang lecet terkepal kuat. Nicholas menghampiri tuan muda yang marah itu tapi, badannya langsung di dorong kuat olehnya. Ia keluar dari dapur dengan berlari. Tak peduli dirinya menjadi tontonan para pelayan lainnya.
"Hei. Seharusnya kalian tidak boleh melakukan itu. Nanti kalau Tuan George murka, bagaimana? Gaji dipotong di tambah di usir dengan cara yang tidak terhormat." Kata seorang pelayan laki-laki kepada rekan kerjanya.
"Aku hanya ingin tau. Seberapa istimewanya bocah itu. Sekarang terbukti kan? Ia hanyalah bocah pada umumnya yang mudah menangis." Katanya sambil tersenyum remeh.
"Pokoknya, aku tidak ikutan! Aku tidak mau gaji ku di potong karena kesalahan mu! Ingat itu!"
^^^^^^°°°°°^^^^^°°°°°°°°°^^^^^^^°°°°^^^^^^^^°°°^^^^^^^^
Raka berlari ke taman, lalu duduk di dekat air mancur. Ia menangis terisak-isak, sambil memegang dadanya.Terlihat sangat menyedihkan.
"Hiks! Aku menyesal! Ku pikir ini keputusan yang benar. Ternyata salah! Seharusnya aku tetap tinggal di rumah nenek walaupun sendirian. Aaarrgghhh!! Bodoh!! Hiks hiks! tidak!!! Seharusnya, aku ikut pergi bersama nenek. Aku sudah lama menahan perlakuan buruk dari mereka.
Aku sengaja diam karena tidak mau membuat kakek resah dengan kehadiranku. Dan Sekarang, ini yang terjadi. Aku tidak minta pakaian baru! Aku tidak minta mainan baru! Aku tidak minta kemewahan! Tapi kenapa?! Hiks hiks!!! Nenek.... Aku tidak bisa sendirian."
Tanpa disadari, George sudah berdiri di belakangnya dari tadi dengan air mata yang mengalir deras. Tentunya ia mendengar semua kata-katanya. Hatinya merasa seperti di remuk.
Ia berjalan pelan menghampiri cucunya yang menagis namun langkahnya terhenti saat seorang bocah bermata merah muncul dari belakangnya. Ia menggeleng pelan. Kemudian, berjalan menghampiri Raka. .
"Halo Tuan muda. Bolehkah saya duduk di samping anda?" Tanyanya sopan.
Kemudian, ia berkata.
"Yang pergi, tetaplah pergi. Kita, yang masih punya banyak waktu harus menjalani kehidupan yang keras ini. Tidak boleh mengharapkan kematian untuk diri sendiri. Saat sedang sedih, ingatlah. Suatu saat kebahagiaan akan datang."
Raka menoleh ke arah suara di sampingnya. Seorang bocah berkulit putih, rambutnya panjang dan indah bewarna ungu, matanya merah seperti Ruby. Bocah itu tersenyum ke arahnya.
Raka memperhatikan rambutnya kemudian, ia berdiri dan berjalan mendekati air mancur. Saat melihat dirinya di air yang jernih itu, ia terkejut.
Warna rambut bocah itu mirip dengan warna matanya. Ungu yang tidak cerah, tidak gelap. Sangat indah.
"Kau siapa?" Tanyanya. Bocah itu tersenyum lalu berdiri menghampirinya.
"Panggil aku Raphael. Sekarang, kita berteman yaa"
Jawabannya sambil memegang tangan Raka yang kotor.
"Tunggu! Tanganku kotor. Menjauhlah! Badanku juga kotor." Katanya sambil mundur.
"Sudah merasa lebih baik?" Tanyanya.
Raka mengangguk kemudian menggeleng. Bocah yang bernama Raphael itu terkekeh kemudian mengajak Raka untuk masuk.
"Aku sudah membuat makanan lezat untukmu. Kita cuci tangan lalu--"
Raka mendorongnya sampai ia terhuyung hampir jatuh.
"Aku tidak peduli dan jangan memperdulikan ku! Anggap aku tidak ada! Lebih baik tinggal sendirian! Pergi sana! Aku hanya butuh nenekku! Kau yang tidak tau apa-apa, lebih baik diam! Nikmati saja makanan itu sendiri! Aku tidak mau! Aku sudah puas makan makanan yang lezat dan bergizi tiap hari! Sekarang, yang ku butuhkan adalah nenekku!
__ADS_1
Berteman?! Boleh! Asalkan kau bisa mengembalikan nenekku yang --"
Belum selesai ia mengeluarkan semuanya, Nicholas datang dan menariknya untuk masuk.
"Maafkan Saya yang bertindak lancang. Tapi, anda harus tenang. Saya mengerti perasaan anda yang hancur. Sekarang, anda beristirahat di kamar, ya." Katanya sambil menggendong majikannya yang hendak menangis lagi.
"Ha.... Mereka benar-benar keterlaluan! Hhhmmm....... Sepertinya aku butuh kamar yang lebih luas lagi. Oh! Kakekku sudah menunggu terlalu lama." Kata Raphael saat melihat kepergian bocah itu.
"Lepaskan aku, Nich! Aku bisa sendiri! Keluar! Biarkan aku sendiri!" Raka marah saat pelayannya membantunya melepaskan pakaiannya.
"Tangan anda terluka." Nicholas tetap melakukan pekerjaannya meskipun Raka mengusirnya.
Nicholas tidak merasa sakit hati sedikit pun. Malah, merasa sedih. Hatinya perih melihat keadaan bocah yang terlihat kuat ini.
"Sekarang saya bantu. Untuk sementara saja, ya. Tolong jangan menolak." Raka akhirnya diam. Ia duduk bersandar di sofa empuknya. Tatapannya kosong, membuat Nicholas khawatir.
"Saya telah menceritakan kepada kakek anda bagaimana para pelayan memperlakukan anda. Sudah waktunya untuk membongkar semuanya. Ohya! Yang mengacaukan adonan anda sudah ketahuan pelakunya. Hari ini juga dia di pecat."
Nicholas mengajaknya bicara agar tuan kecilnya tidak melamun lagi. Tapi, sayang sekali. Raka masih diam.
Tak lama, ia sudah berganti pakaian. Kali ini, di bantu pelayannya. Raka hanya diam dan menurut. Ia tidak mengatakan sepatah katapun.
Saat makan malam pun, ia tidak berkata apa-apa. George sedih melihatnya. Ia ingin sekali memeluk cucunya itu tapi, rasanya sangat sulit.
~~~~~~~\`~~~~\`~~~~~\`\`~~~~~~~~\`\`\`~~~~~
Setelah keluar dari ruang makan, Raka berjalan-jalan sendirian di taman. Nicholas hanya menjaganya dari kejauhan karena ia berkata bahwa ia ingin sendiri.
Bocah itu terlentang di atas tikar yang di bawanya. Di sampingnya ada cemilan kesukaannya dan sebuah susu coklat dalam kemasan.
"Hidup yang normal itu seperti apa ya?" Gumamnya sambil melihat bintang-bintang yang berkilau di langit.
"Hai. Kita bertemu lagi." Kata seseorang yang tiba-tiba muncul didepan matanya.
__ADS_1