Warm Home

Warm Home
Season 2 Chapter 10


__ADS_3

Ruang makan.


Toktok!


"Masuklah." Kata George sambil menyandarkan punggungnya. Masuklah dua cucunya, kemudian ia melihat ke arah pintu dengan mengerutkan dahinya.


"Di mana Nicholas? Bukannya tadi aku menyuruhnya untuk --"


"Dia sedang sakit. Tidak parah sih. Makanya saat sedang berjalan ke sini, aku menyuruhnya untuk istirahat." Jawabannya sambil berjalan menuju kursi yang di samping kakeknya.


Raphael melambaikan tangannya, mengisyaratkan agar ia duduk di sebelahnya. George mengangguk pelan. Kemudian Raka pindah dan duduk di sampingnya sambil memperhatikan hidangan kali ini.


Ikan bakar dengan saus tomat yang lezat, mayonaise dan tidak lupa sayuran yang banyak(menurutnya). Matanya menatap tajam kakeknya, ia tau pasti ini idenya agar dia menyukai sayuran.


"Ayo dimakan. Enak, lho." Ucap Raphael sambil memotong ikannya. Ia sempat curi pandang ke bocah sebelahnya. Muka masam saat melihat semangkuk sayur. Padahal, tidak terlalu banyak. Hanya saja.... Raka memang tidak menyukainya.


Karena tidak mau membuat kegaduhan, akhirnya Raka terpaksa memakan sayuran itu. Caranya makan tidak lepas dari tatapan kakeknya. Ia memakan sayurannya dahulu dengan mayonaise yang telah diaduk dengan saus tomat.


Tak lama, sayuran 'menakutkan' itu habis. Ia menggeser mangkuk kosong itu dan langsung memakan ikan bakar yang sudah mulai dingin.


"HM! It's good and delicious." Gumamnya. George dan Raphael saling memandang kemudian tersenyum menahan tawanya.


Selesai makan, Dua bocah itu berpamitan dengan Kakeknya. Raphael menarik tangan Raka agar mengikutinya. Raka tidak berkata apa-apa, hanya diam mengikuti dari belakang.


Sampailah mereka di sebuah pintu bewarna putih bertuliskan nama Raphael. "Ooh jadi ini kamarnya." Batin Raka.


Pintu terbuka dan aroma wangi nan segar menyeruak keluar. Sekali tarikan nafas, langsung tercium. "Bau... Bunga campur buah. Segarnya...."


Saat masuk, ia terpana melihat isi ruangan itu. Sebuah kamar yang di desain seperti istana boneka. Banyak boneka kelinci dengan aneka warna dan ukuran. Entah kenapa Hatinya merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Ada juga bunga plastik di setiap sudut kamar itu. Bocah yang beranjak 6 tahun itu berjalan mengelilingi kamar yang penuh kejutan.


Tiba-tiba, kakinya menginjak sesuatu yang terasa sangat lembut. Ia terkejut dan mundur dua langkah.


Rupanya, itu adalah karpet bulu bewarna putih. Belum pernah ia menginjaknya. Punya saja tidak.. Hanya melihat dari jauh milik tetangganya.

__ADS_1


"Halus sekali. Waaah! Aku pasti akan tidur nyenyak." Katanya sambil tersenyum.


"Syukurlah... Kamu suka. Aku mengajakmu kesini untuk bermain denganku. Mau, kan?"


Raka berpikir sejenak kemudian bertanya. "Hhhmm... Bagaimana caranya?"


Ya, Raka memang tidak pernah benar-benar bermain. Karena, ia memang tidak suka. Raphael tersenyum kecil.


"Sudah... Santai saja. Sekarang, mainkan saja semaumu. Oh ya! Nih, aku punya mainan kereta. Bisa jalan lhooo pasang saja relnya." Katanya sambil mengeluarkan sebuah mainan dari dalam kotak kayu.


"Dari kakek ya?" Tebaknya. Raphael menggeleng.


"Orang tua angkat ku yang memberinya. Hadiah pertama dari mereka." Jelasnya. Raka menaikkan alisnya.


"Kita sama, Raka. Sama-sama di buang dan tidak di harapkan oleh orang tua kita."


Raka menatapnya heran. Ia benar-benar penasaran dengan kehidupannya dulu. Tak mau berlama-lama, Raphael langsung memulai ceritanya...


~~```````~~`````````~~~


POV Raphael


Aku menangis karena kehausan. Wanita itu langsung membawaku ke rumahnya dan memberi ku air mineral karena dia belum membeli susu.


Singkat cerita, akhirnya beliau merawatku sampai usiaku 2 tahun. Aku ingat sekali saat itu, beliau sedang sakit. Tubuhnya sulit bergerak. Suaminya, dengan kejam menempatkan ku di panti asuhan yang kurang terawat. Jaraknya sangat jauh dari rumah. Aku merasa sedih tapi, sebagai anak kecil, aku tidak bisa berbuat apa-apa.


Di panti asuhan itu, aku di bully hampir setiap hari karena rambutku yang panjang dan bewarna aneh. Pengasuh disitu hanya ada dua orang. Anak-anak yang berada di panti itu sekitar ada 20 orang.


Tidak ada yang menyukaiku. Saat aku mengajak mereka bermain, mereka langsung menjauhi ku. Semuanya mengatakan bahwa aku membawa kutukan.


Entahlah.... Aku tak mengerti soal itu. Aku jarang di beri makan. Aku sering minum diam-diam untuk membuat perut ku kenyang. Tak jarang, aku mengambil makanan dari dapur karena aku sudah sangat lapar.


Saat berumur 4 tahun, tepatnya awal tahun 1982. Seingat ku, pada bulan Februari. Aku memutuskan untuk kabur. Karena sudah tidak tahan dan aku sudah mengetahui caranya supaya tidak ketahuan.


Di malam hari, jam 23:00 saat semuanya sedang terlelap. Aku sudah siap untuk keluar dari neraka itu. Lalu, tidak lupa ku ambil beberapa potong roti dan sebotol air mineral.

__ADS_1


Keadaan sangat sunyi. Hal itu sangat memudahkan ku untuk kabur. Aku mengendap-endap keluar dari dapur, menuju pintu keluar. Takut? Tentu saja! Jantung yang berdegup kencang, tangan gemetar, dan keringat dingin bercucuran. Aku melangkahkan kakiku dengan perlahan dan BERHASIL!


Sepanjang jalan, aku berlari ke arah yang tak menentu. Aku menangis karena tidak punya tempat tinggal. Aku bingung, harus tinggal dimana. Aku tidak punya uang, aku merasa lapar dan haus. Makanan yang ku bawa tidak bisa ku makan semuanya. Aku harus menghemat untuk bertahan selama berhari-hari.


Aku tak ingat sudah berapa hari berkeliling mencari tempat tinggal. Beruntung saat itu musim panas. Jadi, tidak takut kehujanan. Aku kan tidak punya baju. Yaaa sebenarnya punya, tapi sudah robek karena di gunting oleh pengurus panti. Jadi, yang ku punya hanyalah yang melekat di badanku dan kaos orang dewasa.


Pernah suatu ketika aku meminta di belikan makanan yang harganya murah oleh seorang pria dewasa. Dia langsung marah-marah dan mengusirku. Orang-orang tidak menolongku. Mereka menatap ku aneh. Yang ku bisa lakukan hanya menangis.


Aku meneruskan perjalanan ku sampai suatu hari, aku menemukan 'tempat tinggal '. Sebuah ruko yang tak terpakai lagi. Aku tidur tepat di terasnya. Tak ada yang mengusirku. Kalau mengganggu pasti ada. Maka itu, aku sempat membenci orang dewasa. Karena kebanyakan orang dewasa yang kutemui kelakuannya jahat.


Sampai di suatu hari, ada beberapa pemuda yang mabuk. Lewat di depanku, berbicara dengan kata-kata yang tidak pantas di ucapkan. Tidak hanya itu, mereka juga merusak beberapa fasilitas yang ada di situ. Terlihat mengerikan.


Salah satu di antara mereka, melihatku dan menyeringai. Aku gemetar karena dia berjalan mendekat. Aku langsung berlari entah kemana. Tak ku sadari, orang itu sudah tak terlihat dan aku terus saja berlari.


Tiba-tiba, di depanku ada sebuah bangunan yang sangat tinggi dan ada tulisan MAURICE HOTEL. Ingin rasanya minta tolong kepada salah satu orang di situ. Tapi, ku urungkan karena ada rasa takut. Takut akan di usir lagi.


Tiba-tiba, ada seorang pria paruh baya memberikanku sepotong roti ukuran besar dan 2 susu dalam kemasan. Aku memakannya dengan lahap. Maklum... Sudah berhari-hari aku tidak makan. Dan susu itu, ku habiskan langsung.


Pria paruh baya itu memperhatikan ku sambil tersenyum tipis. Kemudian bertanya banyak hal tentang diriku. Ku jawab semuanya. Ku pikir, beliau akan merasa jijik dengan ku. Karena aku sudah lama tidak mandi dan ganti pakaian. Malah sebaliknya, beliau mengajakku ke kediamannya.


Awalnya aku takut, karena trauma dengan kejadian sewaktu berada di panti asuhan. Beliau meyakinkan ku bahwa hal buruk tidak akan terjadi. Aku akan tinggal di kediamannya dan tidur di kasur yang empuk.


Saat sampai di kediamannya, aku di buat kagum karena bangunannya sangat tinggi dan bagus. Banyak pelayan yang menyambutnya. Aku merasa rendah diri. Karena penampilanku.


Seorang maid menghampiri ku dan mengatakan bahwa ia akan membersihkan badanku dan memberikanku pakaian yang baru. Aku berjalan disampingnya.


Tibalah di suatu ruangan yang wangi. Kamar itu sepertinya memang disediakan untuk tamu. Hanya ada kasur, vas berisi aneka warna bunga, meja kecil, lemari dan ada rak ukuran kecil.


Terlihat sederhana tapi aku suka. Kemudian, maid itu menemaniku ke kamar mandi dan memandikanku. Tak lama, badanku sudah bersih dan wangi. Aku melihat ada beberapa stel piyama yang lembut. Aku pun memilih piyama pilihanku dan langsung memakainya.


Rasanya sangat nyaman.


Tiba-tiba, mataku mengantuk dan tertidur pulas. Aku lupa kapan terakhir aku bisa tidur pulas karena, banyak sekali gangguan saat aku tidur.


Singkat cerita, aku benar-benar tinggal di kediaman itu. Pria paruh baya yang ku panggil kakek, membebaskan ku melakukan apa yang ku mau, mengajarkanku apa yang belum ku ketahui. Bahkan aku di berikan orang tua yang sangat menyayangiku dengan tulus. Aku sangat mencintai mereka. Mereka sudah seperti orang tua kandung ku.

__ADS_1


Pertemuan dengan kakek adalah hal yang paling di syukuri dan aku tidak akan pernah melupakan itu. Meskipun sudah banyak merepotkan beliau. Aku tidak akan pernah lupa jasa-jasanya.


POV Raphael end.....


__ADS_2