
Bulan November.
Tak terasa, sudah berada di akhir tahun 1986. Suasana mansion itu tenang dan damai. Tidak ada keributan dan aksi bully lagi. Para pelayan bekerja dengan baik. Mereka bisa bergerak bebas sejak Faye dikeluarkan dari mansion.
Pemuda yang di perintahkan Faye itu tidak di pecat karena ia memang tidak bersalah. Hutang-hutangnya pun semua sudah di bayar oleh George.
Dapur milik Raka juga sudah diperluas. Perabotannya makin banyak dan lengkap diganti dengan yang baru. Raka sering membuat kue dengan jumlah yang banyak dan membagikannya pada para pelayan. Mereka sangat menyukai Raka yang tidak pernah merendahkan mereka karena beda status.
×××××××××××××××××××××××××××××××××××××××
Raka merasakan momen di akhir tahun yang sangat berbeda sejak kepergian sang nenek. Biasanya, ia dan neneknya akan membuat kue kering yang banyak sampai memenuhi semua toples yang mereka punya.
Sekarang, Raka melakukan hal yang sama tapi, dengan orang yang berbeda. Raphael dan Nicholas harus berada di dapur seharian. Mereka yang tidak terbiasa membuat kue, tentunya harus berhadapan dengan Omelan bocah satu ini.
"Aduh! Sudah kubilang jangan terlalu banyak mengoles menteganya. Lihat! Kuenya jadi berminyak. Tipis-tipis saja."
"Maafkan saya. Saya belum pernah -"
"Kak, ya ampun..... Bukan begitu caranya. Pakai cetakan saja. Ah! Kenapa tidak ada disini? Belum disiapkan juga? Goodness!!!"
"Maaf ya... Aku lupa."
Tanpa mereka sadari, pintu dapur dari tadi sudah terbuka sedikit. Sehingga, George dan pelayannya, Zack melihat dan mendengar semua ocehan Raka sambil menahan tawanya.
"Kalian berdua. Nicholas dan Raphael, bersihkan diri sekarang. Zack, bantu dia. Raka.... Raka.... Kau seharusnya memanggil Zack. Bukan mereka berdua."
Ucap George yang mengagetkan mereka.
"Memangnya anda pernah beritahu saya kalau Zack bisa?" Ketusnya sambil mengelap meja yang kotor.
"Sudah.. sudah. Zack, bantu dia sampai selesai. Nicholas. Bersihkan dirimu. Setelah itu, datang ke kamarku. Mengerti??"
Nicholas mengedipkan matanya lalu menganggap pelan. "Hiks! Lebih baik aku di sini saja. Zack, tolong aku" batinnya sambil menatap Zack dengan ekspresi memohon.
"Keluar sana, Haha! Sekali-kali memang harus bergantian. Selamat bekerja, Nicholas." Ucapnya dengan mengejek.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Hiks! Tuan George yang baik, tolong jangan siksa saya lagi." Ucap Nicholas dengan memohon. George hanya tersenyum tipis sambil terus membaca kertas yang ia pegang.
"Kalau aku menyiksa mu, kau sudah berada di alam yang berbeda dan tidak akan bisa hidup dengan kakakmu." Katanya sambil mengejek.
"I-ini... Lebih sulit daripada membuat kue. Jangan begini... Hiks! Saya bukan seperti Zack yang otaknya encer." Ucapnya dengan terus memohon.
"Oke, baiklah tapi ada syaratnya."
"Oh! Apa itu?"
George menyeringai. "Tidak ada bonus tahun ini. Hahahahaa."
Mukanya langsung memucat saat mendengar kata-kata itu. Nicholas memang sangat bersemangat soal uang. Tidak seperti kakaknya yang dewasa.
Zack tidak pernah meminta bonus, meskipun sangat membutuhkan uang lebih. Malah, adiknya yang pernah nekat meminta bonus pada George karena merasa sudah bekerja keras. Padahal, saat itu belum ada setahun mereka bekerja di situ. . George menanggapinya dengan tertawa. Mendiang istrinya juga tau sifat konyol Nicholas. Tapi, ia tidak pernah merasa terusik.
"Sudahlah jangan banyak mengeluh. Cepat rapikan kertasnya sesuai dengan angkanya. Ku beri waktu 5 menit dari Sekarang. MULAI!"
"Tuan muda, tolong aku. Aku berjanji akan lebih rajin lagi membuat kue" batinnya menangis.
__ADS_1
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Aku harus menyiapkan kamar untuk ayah dan ibu. Katanya, mereka akan menginap di sini. Waah aku sudah tidak sabar. Hhmm... Kamar yang mana yaaa yang cocok untuk ayah dan ibu." Kata seorang bocah yang sedang berjalan bolak-balik di depan kamar-kamar yang masih kosong.
"Tuan muda sepertinya kelihatan bingung. Ada yang bisa saya bantu?" Jose yang sedang membersihkan lantai dekat kamar-kamar itu, tiba-tiba melihat Raphael yang bolak-balik. Ia pun langsung menghampirinya.
"Aku bingung... Kamar mana yaaa yang cocok untuk ayah dan ibu? Yang ini sepertinya terlalu besar. Kalau yang itu, cukup besar tapi, tidak ada kamar mandinya. Huhh. Semuanya bagus-bagus." Katanya sambil cemberut.
"Hhmmm.... Sebaiknya --" belum selesai bicara, ia di panggil oleh kepala pelayan. Jose langsung pamit dan pergi meninggalkan Raphael yang masih bingung.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°\=\=\=\=\=°°°°°°°°°°°°°°°\=\=\=\=\=\=\=
"Akhirnya selesai juga! Waah Sungguh melelahkan tapi, puas juga." Ucap Raka puas sambil melihat kue-kue hasil buatannya.
"Baru kali ini saya membuat kue sebanyak ini. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan".
"Zack, sekarang giliran ku yang membersihkan. Kau duduk saja. Kan kita berdua yang bekerja, buka kau sendiri. Aku sudah cukup istirahatnya."
Zack menoleh sebentar dan tetap melanjutkan pekerjaannya. Raka akhirnya merebut kain yang di pegang Zack lalu menyuruhnya duduk.
"Kau ini. Susah sekali di suruh berhenti. Kalau ku bilang istirahat, ya istirahat. Sana duduk di kursi itu. Makanlah cemilan yang sudah ku sediakan!" Zack pasrah, ia tidak mau membuatnya lebih marah. Akhirnya ia duduk dan menikmati cemilan itu.
"Wah lezat! Sebaiknya ku sisihkan untuk Nicholas. Pasti dia sedang 'menangis' hahahaha."
Raka memperhatikan ekspresi aneh Zack saat memakan cemilan itu, senyum-senyum aneh. Begitulah yang dipikirannya. Yaaa karena Zack sangat jarang untuk tersenyum. Kakak adik itu memang sifatnya bertolak belakang.
Tak lama, dapur sudah bersih dan perabotan sudah tertata rapi. Kue-kue yang dibuat tadi sudah masuk ke dalam toples kaca dengan berbagai ukuran.
"Toples ukuran kecil untuk para pelayan. Yang dua ini, spesial untuk kalian berdua. Ini, untuk kakek. Dan ini untukku dan kakak. Suruh Nich yang membagikan." Ucap Raka yang sibuk meletakkan toples-toples itu ke dalam troli.
--------------------------------------------------------------------------
"Nich... Kau di--"
Grep!
Baru saja masuk, ia langsung di sambut oleh adiknya yang terlihat kelelahan. .
"Hiks! Tolong aku, Zack. Tuan itu menyiksa ku." Ucapnya lirih memohon.
"Apa kau bilang?! Mau dihilangkan bonus akhir tahun mu?" George ternyata mendengar suaranya.
"Hahahaha. Sekarang, kau tau kan rasanya menjadi kakakmu. Kurangi kekonyolan mu." Kata George meledeknya.
"Haaa! Sudah sudah. Sekarang, tuan muda menyuruhmu --"
"Tuan muda? Baiklah! Aku kesana sekarang." Padahal Zack belum selesai bicara, tapi adiknya sudah lari entah kemana.
"Cih! Belum kapok juga " gumamnya sambil menggeleng.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Brak!
"Tuan, apakah anda memanggil saya?" Tanya Nicholas sambil membuka paksa pintu dapur. Untung saja tidak rusak. Raka menatapnya horor, ia yang sibuk menghias kue, merasa terusik.
"Maaf. Saya terlalu bersemangat.hehe" katanya sambil tersenyum senyum lebar.
__ADS_1
"Kau lihat troli itu kan? Bagikan pada para pelayan. Dan ingat. Buka dan tutup pintu pelan-pelan, BISA KAN? NICHOLAS." Ucapnya sambil melotot horor.
"Iya, baiklah. Selamat menikmati hari anda." Setelah itu, ia keluar dari dapur tanpa menutup pintunya. Raka berdecak kesal. Ia membiarkan pintunya terbuka dan melanjutkan pekerjaannya.
Tiba-tiba, ada seseorang yang berdiri di belakangnya dari jarak jauh. Orang itu berdiri di samping pintu, memperhatikan bocah yang sibuk itu. Matanya menyapu seluruh sudut ruangan seperti orang yang mencari sesuatu.
"Kau pikir, aku tidak tau ada yang berdiri di belakangku?" Ucap Raka tiba-tiba. Sontak membuat orang itu terkejut.
"Masuk saja, tidak masalah. Ada hal penting yang ingin dibicarakan?" Orang itu tidak menjawab, ia hanya berjalan mendekat lalu berdiri di sampingnya.
"Ini ada surat dari Tuan Muda." Orang itu menyelipkan kertas yang digulung kecil kedalam saku kemeja Raka.
"Katakan pada Tuan Muda yang Terhormat itu. Saya, Rakasha Frederic Nathanael Vicenzo menunggu kehadirannya di depan mata saya. Saya benar-benar penasaran dengan sosok yang Terhormat itu."
"Anda akan segera bertemu. Suatu hari nanti. Jika beliau sedang tidak sibuk." Kata orang itu sopan.
"Hahahaha 'sibuk', ya..." sahut Raka sambil tersenyum tipis. Lalu, orang itu keluar tanpa pamit dan membiarkan pintu itu terbuka.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
"Kak. Kapan orang tua kakak datang?" Tanya Raka sambil berbaring di ranjangnya.
"Kata ibu, pertengahan Desember nanti. Biasanya, ayah akan lebih sibuk saat akhir tahun. Bahkan seringkali menginap di penginapan dekat perusahaan karena sudah sangat lelah untuk pulang kerumah." Jawabnya sambil sibuk merapikan mainannya.
Raka kemudian bangun dan duduk di ranjangnya sambil memperhatikan Raphael yang terlihat sangat sibuk dengan kumpulan mainannya.
"Makanya, kalau punya mainan sekedar saja. Jangan banyak-banyak begini. Sudah lewat jam 9 lhoo. Nah! Disitu ada lagi. Ya ampun!" Omelnya. Raka memang tidak pernah memiliki tumpukan mainan. Ia hanya punya tumpukan buku.
Melihat mainan yang berceceran kemana-mana membuatnya pusing. Sifatnya sangat perfeksionis. Ia tidak bisa melihat benda yang berantakan sedikit saja. Karena dari dulu, kalau ada barang yang sedikit berantakan langsung di rapikan oleh mendiang neneknya. Dan itulah yang ia contoh. Saat neneknya berangkat kerja dan rumah masih berantakan, dialah yang merapikan.
Tok. Tok!
Tangan mereka berhenti seketika, takut kalau itu kakeknya yang mengetuk. Mereka pun langsung berdiri dengan perlahan, dan berbaring di atas kasur masing-masing.
"Permisi..... Tuan muda. Saya membawakan susu anda yang tertinggal di dapur." Kata orang di balik pintu.
Mereka berdua menghela nafas lega. Rupanya itu Nicholas. Raka langsung membuka pintu dan
Jreng!!!
Kakeknya berdiri di samping pelayannya. Raka langsung berjalan mundur ingin menutup pintunya.
"Bocah-bocah nakal! Mau bersembunyi? Di kamar kalian ada jam besar, kan? Kalian pasti tau kenapa aku meletakkan jam besar di kamar kalian." Ucap George menatap tajam dua cucunya.
Raphael menunduk, ia tidak berani menatap wajah kakeknya. Berbeda dengan Raka yang meminum susunya dengan santai lalu memberikan gelasnya pada Nicholas.
"Kakek, lebih baik istirahat. Tadi, kita merapikan kamar sebentar. Baru saja mau tidur. Tak perlu pasang muka seperti itu." Raphael dan Nicholas terkejut mendengar omongannya yang santai.
Raka sudah terbiasa dengan wajah marah kakeknya maka itu, ia sudah tidak takut lagi.
"Besok kau harus memberikan catatan pengeluaran bulanan mu. Sebelum jam 11 harus berada di tangan ku." Setelah mengatakan itu, George langsung pergi meninggalkan tiga orang yang saling menatap.
"Yang benar saja?! Besok kan hari Sabtu. Jadwal bebas. Waaah tidak boleh seperti ini." Protesnya saat sedang berbaring di atas kasurnya.
"Makanya, jangan menyahut. Minta maaf saja. Oh!Besok ku buatkan jus alpukat segar manis untukmu supaya semangat. Bagaimana?"
Raka tidak menjawab, ia hanya menggerutu sampai ketiduran. Raphael hanya tertawa kecil lalu menyusul ke alam mimpi. Tanpa ia ketahui, hal buruk terjadi pada orang tua angkatnya. Dan itulah sebabnya mengapa ia di tempatkan kembali di mansion George.
__ADS_1