Warm Home

Warm Home
Season 2 Chapter 2


__ADS_3

George ikut senang mendengar cerita kehidupan cucunya yang 'unik' ini.


"Minumlah dulu, setelah itu kamu lanjutkan lagi." Katanya sambil menuangkan secangkir teh. Ia tau, cucunya yang pendiam ini sudah merasa haus karena terlalu banyak bicara.


"Oh, terimakasih." Setelah itu, ia melanjutkan ceritanya.


"Aku sebenarnya tau dunia anak kecil seperti apa. Hanya saja tidak cocok untukku. Pernah mencoba bermain dengan anak tetanggaku tapi, aku merasa tidak nyaman. Aku senang membaca buku sendirian di kamar.


Orang-orang sering menyarankan pada nenekku untuk menyekolahkanku agar bisa punya teman banyak, tidak kesepian, bisa bersosialisasi, DLL. Aku malah tidak tertarik dengan itu semua. Aku sudah terlalu asik dengan dunia ku sendiri."


Tanpa Raka sadari, ia tersenyum sepanjang ia bercerita dari tadi. George diam-diam memperhatikan sambil menahan tawanya. Senyuman itu mengingatkannya dengan seseorang yang sangat berharga di hidupnya.


"Ternyata kamu bisa tersenyum juga, ya." Kata George.


"Tentu! Aku ini manusia normal. Bisa tersenyum." Cetusnya. Dalam hati, ia komat-kamit menahan kesalnya.


"Jangan pasang wajah seperti itu. Ayo, tersenyum lagi. Nanti wajah tampanmu di penuhi kerutan sebelum usia tua." Kata George yang gemas melihat bocah yang kesal itu.


Kemudian ia turun dari sofa dan menghampiri bunga mawar hitam yang menarik perhatiannya dari tadi.


"Nenek sudah meninggal ya?" Tanyanya tiba-tiba.


"Nenek? Maksud--"


"Istrinya kakek." Kata Raka yang sukses membuat George terbelalak. "Bagaimana ia bisa tau?" Tanyanya dalam hati.


"Tak perlu kaget begitu. Baru masuk kamar saja sudah bisa ku tebak." Kata bocah itu sambil berjalan menuju bunga yang bewarna ungu


"


"Saat masuk, aku melihat bunga tulip ungu dan mawar hitam dalam satu vas. Tulip ungu melambangkan kesetiaan dan mawar hitam melambangkan perpisahan kematian atau kesedihan. .


Dan di sampingnya ada bunga mawar merah dan anggrek yang melambangkan cinta sejati. Cinta, kesetiaan, dan kesedihan.


Dari bunga-bunga itu bisa di ambil makna : 'Aku akan setia mencintaimu meskipun kita berpisah (karena kematian).'


Dan di dekat ranjang ada bunga myosotis yang melambangkan cinta sejati dan kesetiaan. Nama lain dari bunga itu adalah Forget-me-not."


"Hahahaha! Ya, kamu benar. Haaa! Sungguh sangat sulit bagiku untuk melupakan cinta pertama dan terakhir. Dialah yang menemaniku sejak awal merintis usaha sampai sukses sama-sama dan terkenal dimana-mana.


Saat aku merasa lelah dan putus asa, dia yang menyemangatiku. Maka itu, sulit bagiku untuk bangkit dan melihat kenyataan bahwa ia telah tiada. Sampai sekarang, terkadang aku masih menolak kenyataan bahwa ia sudah berada di alam lain."


Wajah pria paruh baya itu berubah sendu. Matanya memanas, airmata sudah siap tumpah.


Raka langsung memeluk kakeknya untuk menghibur. Ia merasa bersalah dengan apa yang telah dikatakannya.


"Maaf, aku membuat kakek sedih."


George tersenyum dan menggeleng pelan.


"Aku tau kau masih lapar. Kita ke dining room dan makan di sana." Kata George mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau cucunya merasa bersalah. Raka mengangguk kemudian berjalan menuju pintu dan membukakan untuknya.



"Sepertinya fasilitas di sini lengkap." Kata Raka saat berkeliling mansion.


"Sengaja membuat lengkap. Karena aku bukan tipe orang yang suka keluar. Aku suka melakukan aktivitas di dalam rumah saja. Menurut ku itu Lebih nyaman."



Bocah itu tidak mendengar kakeknya, ia sibuk jelalatan memperhatikan desain bangunan tersebut dan fasilitas yang ada di dalam bangunan kokoh dan tinggi itu.



"Kau akan betah disini. Tak perlu keluar rumah, yang kau butuhkan sudah tersedia." Kata George dengan sedikit menaikkan suaranya karena jarak mereka agak jauh.


Para pelayan memperhatikan interaksi dua orang beda generasi itu. Mereka seakan dua orang yang sudah lama kenal.



"Syukurlah.... Raka mulai merasa nyaman. Semoga saja betah tinggal di sini." Ucap Hans dalam hatinya, melihat kedekatan Kakek dan cucunya.


__ADS_1


Plak!



"Aw! Zack! Selalu mengagetkan ku." Protesnya saat ada yang memukul bahunya tiba-tiba.


"Jangan melamun disini. Ayo kita ke kebun tempat berteduh dulu. Kau pasti rindu." Kata Zack sambil membawa toples berisi kue.



"Jangan khawatirkan tuan muda. Aku yakin, Dia akan beradaptasi dengan mudah." Hans mengangguk kemudian berjalan mengikuti sahabatnya.



~~~~~~~~~~~~~\`\`\`\`\`\`~~~~~~~~~~~~~~~



Raka sampai di depan pintu bewarna putih. Gagangnya bewarna kuning emas. Ia menatapnya dan George bergantian.



"Kakek menyuruhku masuk ke dalam?" Tanyanya.


George hanya mengangguk. Kemudian, ia membuka pintu yang agak berat dan tinggi itu. Baru saja membukanya, bau harum nan menggoda keluar dari ruangan tersebut. Bau makanan yang lezat.



"Hhhmmm.... Chicken soup!" Kata Raka dengan mata yang berbinar-binar. Kemudian ia melihat hidangan sebelahnya dengan mata yang terbelalak.



"Ooh tidak! Sebanyak ini harus ku makan? Bolehkah aku membawa kabur chicken soup nya saja??" Monolognya.


George memperhatikan gelagatnya kemudian tersenyum. Mengerti arti dari raut wajahnya.



Mereka duduk bersebelahan. Ya, George sengaja melakukannya karena ingin melihat apakah sayur itu akan ia makan atau tidak.



Raka memakan soup itu dengan lahap sampai habis. Sedangkan sayurannya, ia dorong sedikit demi sedikit. George diam, pura-pura tidak tau. Sebenarnya ia sudah curi pandang dari tadi.



"Ehm!"



Suara George mengejutkannya. Ia menoleh ke samping, terlihat kakeknya tersenyum penuh arti.


"Ayo, buka mulut mu. Tidak baik menyia-nyiakan makanan. Harus makan sampai habis."



Raka menggeleng cepat dan menutup mulutnya. Ya. Dari dulu, Lynn, mendiang neneknya seringkali menuruti apa yang ia suka dan tidak suka. Bocah itu sangat sulit makan sayur. Dia lebih suka buah. Katanya manis dan lezat tidak seperti sayur.



"Aku jamin, kau akan memintanya lagi. Ini sungguh enak. Ayolah." Bujuk George.


Akhirnya, bocah itu pasrah dan membuka mulutnya. Saat mengunyah, matanya berbinar-binar dan menyuapnya lagi sampai habis.



"Enak!" Satu kata yang keluar dari mulutnya setelah menghabiskan semangkuk sayur itu.



"Namanya Ranch Dressing. Kalau mau lagi, katakan saja pada chef Bard. Dia yang bertugas memasak disini." Jelasnya.


__ADS_1


Raka hanya manggut-manggut sambil mengelap mulutnya dengan kain lembut.



"Jadi ke perpustakaan?" Tanyanya sambil berjalan keluar. Bocah itu mengangguk dan mengikutinya dari belakang.



Di sisi lain....



3 orang pria dewasa sedang mengobrol santai menikmati udara sejuk di kebun buah.



"Hei! Kalian belum menceritakan padaku siapa bocah yang bermata ungu itu. Katanya, dia di marahi oleh Ben dan Tuan George marah besar karena ternyata bocah itu cucunya Tuan... " Kata si pelayan muda.



Zack yang sifatnya pendiam, hanya mengangguk sambil memejamkan matanya. Ia benar-benar menikmati waktu istirahatnya. Akhirnya, Hans yang menjawab.



"Namanya Raka. Dia memang cucunya tuan George yang hilang.Oh ya. Kamu harus memanggilnya tuan muda. Dia kan sudah menjadi bagian dari Tuan." Kata Hans sambil memainkan apel yang di tangannya.


"Waah aku makin penasaran. Bagaimana kalau aku menjadi pengasuhnya?"



"Yakin???" Kali ini Zack bersuara.


"Hahahaa dia belum tau berhadapan dengan siapa." Kata Hans dengan nada mengejek.



"Lupakan saja!! Simpan saja di pikiranmu. Sekarang, nikmati udara sejuk ini. Sudah lama kita tidak kumpul bertiga." Kata Hans mengalikan pembicaraan.



"Ah! Kamu kan terlalu banyak menghabiskan waktu di klinik. Sedangkan Zack, ia selalu sibuk dengan keperluan Tuan George." Kata pelayan muda itu dengan nada sedikit kesal.


"Yang berisik, silahkan keluar." Kata Zack dengan nada yang sedikit tinggi.



Hans dan pelayan muda itu saling menatap dan memilih untuk memakan buah yang tadi mereka petik. Takut kalau Zack akan marah. "Hiii! Menakutkan." Jerit Hans dalam hati.



"Kamu lihat pintu yang bewarna coklat itu?" Tanya George saat menemani cucunya keliling mansion.


Bocah itu mengangguk.


"Buka, dan masuklah." George mendorong sedikit tubuh kecil itu. Raka yang penasaran akhirnya berjalan menuju pintu yang dimaksud kemudian membukanya.


Saat sudah terbuka, ia diam mengamati isi ruangan itu. "Waaaahhh! banyak buku di sini. Ruangannya juga bersih dan wangi. Jangan-jangan, ini perpustakaan yang kakek maksud." Gumamnya.


Seketika lupa dengan kesedihan dan kepedihan yang ia rasakan. Buku-buku yang tertata rapi ada di mana-mana. Buku-buku itu di susun berdasarkan kategorinya masing-masing sehingga mudah untuk menemukan judul yang ingin di baca.


"Ada novel juga! Waah ini yang ingin ku baca."


George melihat dari kejauhan betapa senangnya ia. Saat anak-anak seusianya bermain dengan teman-teman, ia asik mencari buku keinginannya. Tak jarang bocah pintar itu pergi diam-diam ke perpustakaan yang jaraknya cukup jauh hanya untuk meminjam buku yang ingin ia baca.


Setelah puas melihat cucunya, George akhirnya pergi meninggalkannya sendirian dan berjalan sendirian ke kamar.


Zack yang sedang membawa keranjang buah melihat tuannya berjalan-jalan sendirian, langsung menghampirinya.


"Tuan. Kenapa anda tidak memanggil saya jika ingin jalan-jalan?" Tanya Zack dengan khawatir.


"Aku baru saja mengantar cucuku ke perpustakaan. Jangan berlebihan, aku tidak se-rapuh itu." Kata George sambil terus berjalan.


"Jangan tinggalkan keranjang mu di tengah jalan."

__ADS_1


Zack terkejut, ia hampir melupakan keranjang yang ia bawa tadi. "Semoga dengan kehadiran tuan muda, bisa membawa kembali kebahagiaan yang hilang." Ucap Zack dalam hati sambil berjalan di belakang tuannya.


__ADS_2