
Kota B. Klinik Dr Hans.
"Salju, ya... Mengingatkan ku dengan momen menyedihkan itu. Haaaah! Raka sedang apa ya?"
Hans, dokter muda itu menatap lekat salju yang berjatuhan. Ingatannya tentang tragedi itu mendadak muncul. Saat ini, ia sedang memikirkan bocah pintar itu. Ingin sekali mengunjunginya. Zack menyarankan untuk datang agar bocah itu makin senang di awal tahun .
Tok tok!
"Hans! Waktunya pulang." Ucap seseorang dari balik pintu. Hans melangkah dengan pelan lalu membuka pintunya.
Klek!
"Melamun 'lagi'?" Tanya orang itu, seorang perawat perempuan yang merupakan teman dekatnya Hans
"Tidak. Kau pulanglah duluan. Aku mau menyendiri dulu di sini." Jawabnya lesu.
"Baiklah..."
Sepeninggalnya, Hans berbaring di sofa. Memejamkan matanya dan tak lama, ia tidur.
Saat sedang tidur, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Seseorang masuk, berjalan mengelilingi ruangan itu. Tentunya dengan langkah yang pelan sehingga tidak menimbulkan suara.
"Tak terasa sudah berganti tahun." Gumam orang itu saat melihat kalender tahun 1987 di pajang di atas meja kerja Hans.
"Sepertinya ia sangat lelah sampai tidak menyadari kedatangan kita."
Hans mulai merasa terusik, telinganya menangkap suara yang ia kenal. Perlahan ia bangun dari tidurnya, lalu duduk.
Matanya melihat seseorang yang duduk dihadapannya. Hans terperanjat, nyawanya sudah terkumpul, matanya terbuka lebar.
"Raka?! Kamu datang?! Sama siapa?! Tunggu, tadi aku mendengar suara orang lain." Katanya sambil celingukan.
Puk!
"Sibuk sekali sampai lupa sahabat sendiri." Hans terbelalak saat melihat yang menepuk pundaknya. .
"Zack! Raka! Ya ampun! Aku merindukan kalian. Kapan datangnya??? Ohya! Bagaimana kalau kita berbincang-bincang di rumahku saja." Zack mengangguk setuju.
"Paman terlihat kelelahan. Apakah ada bahan makanan dirumah? Aku ingin memasak untukmu." Seketika Hans tersenyum lebar. Selain orangnya, ia juga merindukan masakannya.
################################
Mereka berjalan kaki menuju rumah Hans. Sengaja, agar Raka bisa melihat-lihat pemandangan Kota B yang indah. Rumah-rumah, toko-toko, taman bermain sudah tertutup salju.
"Ada toko roti yang baru buka akhir tahun kemarin. Mau mampir?" Tanya Hans pada dua orang itu.
"Ayo, Zack. Aku penasaran dengan rasa rotinya." Kata bocah itu sambil berlari masuk. Hans terdiam sebentar, ia agak terkejut dengan perubahan sikap Raka. Raka yang ia tau adalah bocah yang sangat kaku dan selalu berekspresi datar.
"Ia sangat berbeda dari sebelumnya. Banyak hal baru yang mengubah hidupnya." Kata Zack yang menjawab pertanyaan di pikiran Hans yang masih diam.
Di toko itu, banyak sekali roti lezat dengan aneka bentuk dan rasa. Tidak hanya roti, ternyata di situ juga ada kue favorit Raka yaitu cheese cake dengan topping stroberi.
Wah! Banyak sekali tuan muda." Zack terkejut melihat belanjaan Raka. Ia pun mengeluarkan dompetnya tapi ditahan oleh bocah itu.
"Biar aku saja yang membayar." Katanya. Di tangannya sudah ada uang dua ribu Dollar. Kali ini, Hans yang terkejut melihat bocah itu memegang uang yang sangat banyak.
"Terimakasih, sudah mengunjungi toko kami." Kata penjaga toko itu. Hans dan Zack saling pandang saat membawa belanjaan Raka yang sangat banyak. Mereka saja yang sudah dewasa hanya membeli dua roti croissant dan dua potong kue tiramisu.
"Uang jajannya banyak sekali." Gumam Hans. Zack hanya tersenyum tipis.
"Yang pasti, bukan pemberian dari Tuan George." Sahutnya. Hans terbelalak. Tuan George tidak memberinya uang? Lantas, bocah itu mendapat uang dari mana? .
"Jangan mengada-ada! Tuan George bukan orang yang---"
"Tuan muda mendapatkan uang setiap bulannya dari toko kue neneknya. Dia membiarkan Tuan mengelola toko itu sampai sudah membeli ruko baru yang luas agar para pengunjung tidak berdesakan. Tuan muda mendapatkan 30% dari hasil penjualan, tiap bulannya." Jelasnya. Hans mengangguk, tapi masih penasaran.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah sederhana Hans. Masih sama seperti biasa, tidak ada yang berubah.
"Silahkan masuk." Kata Hans saat membukakan pintu. Raka memindai ruang tamu yang juga tidak berubah sama sekali.
Bocah itu bergegas menuju dapur untuk mencuci tangan. Dapur tempat dulu ia memasak makanan untuk pamannya juga tidak berubah. Hanya kran wastafel nya saja yang sudah berganti.
Matanya menangkap sesuatu. Sebuah foto yang di tempel di kulkas. Saat di perhatikan lebih dekat, rupanya itu foto dirinya yang sedang mengupas buah sambil tersenyum. Ia tidak sadar, Hans memotretnya diam-diam.
"Beristirahatlah di kamar. Kamu pasti lelah." Kata Hans saat sedang menyeduh teh.
"Paman dan Zack ingin makan roti?" Tanyanya. Hans mengangguk lalu ia keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi teko dan dua cangkir.
Raka berpikir sebentar. Ia masih belum lelah, bocah itu ingin membuat sesuatu. "Aku ingin tau, didalam kulkas ada apa saja, ya??"
Saat membuka kulkas, ia hanya menemukan ikan tuna dalam kemasan kaleng, bawang, dan daun bawang.
"Aku tau harus membuat apa!"
"Berapa lama kalian akan menginap di sini?" Tanya Hans yang sedang menikmati teh hangat
"Besok siang harus sudah sampai di mansion." Senyumannya memudar saat mendengar jawaban dari sahabatnya.. Hans sangat berharap mereka mereka bisa menginap lebih lama lagi. .
"Kalau merasa kesepian, datanglah ke mansion." Ucap Zack yang langsung di tolak oleh Hans.
"Kenapa??? Tuan George tidak melarangmu untuk berkunjung.". Hans menghela nafasnya. Alasannya tidak mau berkunjung adalah...
__ADS_1
"Aku tidak mau bertemu lagi dengan Tuan Perfeksionis itu. Biasanya, ia akan datang di awal Januari. Kalau aku kesana bulan ini, ahh! Tidak tidak. Kau kan sudah tau betapa 'mengerikan' nya Dia."
Zack hanya terkekeh, ia juga sangat tau bagaimana karakter anak pertama majikannya. GALAK!
George juga orang yang perfeksionis tapi, ia juga dikenal sebagai sosok majikan yang santai dan toleran. Maka itu, para pelayan bisa bekerja dengan santai di mansionnya.
Berbeda dengan Axello, ia adalah sosok yang perfeksionis dan galak. Jarang sekali terlihat santai. Jika ia hadir di suatu tempat, ruangan itu seketika dipenuhi oleh aura yang tegang.
"Kau bukan pelayan lagi, jadi kau bisa menghindar. Masuk saja dari arah samping." Saran Zack. Hans menggeleng cepat,ia seakan Trauma dengan sosok Tuan Perfeksionis itu.
"Lebih baik, aku melamun sendirian di rumah daripada bertemu beliau. MENGERIKAN!"
Zack tertawa melihat ekspresi wajah yang dibuat sahabatnya. .
"Hei. Mau mengunjungi toko kue mendiang neneknya Raka?". Mendengar penawaran itu, Zack langsung setuju. Ia penasaran seperti apa isinya dan Rasa kuenya. Seketika ia teringat sesuatu.
Ia membuka tas hitamnya dan bernafas lega.
"Hampir saja." Gumamnya. Hans menatapnya heran. Baru saja ingin bertanya, aroma masakan lezat memenuhi ruang tamu.. Hans berdiri meninggalkan sahabatnya dan berjalan menuju dapur.
Belum sampai di dapur, ia melihat bocah yang membawa sebuah nampan. Di nampan itu ada dua porsi sandwich, kelihatannya sangat lezat.
"Paman. Tolong bawakan minuman yang sudah ku sediakan di dapur, ya." Ucap Raka. Mukanya tampak berkeringat. Hans langsung bergegas masuk ke dapur dan mengambil nampan berisi minuman dan ada satu piring berisi sandwich.
"Sepertinya ini milik Raka." Pikirnya. Tanpa berlama-lama, ia langsung membawa nampan dan piring tersebut.
"Tuan muda, anda tidak perlu --"
"Sudah, jangan cerewet. Ayo Paman, kita makan sama-sama." Katanya sambil mengelap keringatnya dengan kain yang ia bawa.
Mereka bertiga menikmati sandwich itu sambil sesekali mengobrol. Di sela makan, Hans berkata
"Rumah nenek nasibnya bagaimana?" Tanya Raka. Dua pria dewasa itu saling menatap. Seakan bertanya satu sama lain.
"Jawab saja, aku sudah kuat. Bukankah kita harus menerima kenyataan walaupun pahit? Ya, aku sudah menerima kenyataan bahwa nenek sudah tidak ada meskipun awalnya sulit. Sekarang, aku disini hanya untuk melihat-lihat kota tempat tinggalku dulu."
Hans mengangguk sambil tersenyum lebar. Ia sangat lega, keputusan yang Raka untuk tinggal bersama kakeknya, bukanlah salah. Ia bisa melihat perubahan yang baik dari ekspresi dan tingkah lakunya.
"Setelah ini, tuan muda istirahat yaa." Kata Zack. Raka mengangguk. Kemudian turun dari sofa, berjalan menuju dapur untuk mencuci tangannya. Disusul oleh Zack yang membawa piring bekas pakai.
"Tuan muda, kita tidak bisa berlama-lama di sini. Tiga hari lagi, Tuan Axello akan datang beserta keluarganya." Ucapnya sambil mencuci piring. Raka menghela nafasnya. Lalu meninggalkan Zack sendirian di dapur.
"Semoga anda bisa menghadapinya." Batin Zack.
"Paman. Sepeda keranjang ku di berikan kepada siapa?" Tanya Raka sambil menatap jendela.
"Oh! Ku berikan pada anaknya temanku. Ada sedikit kerusakan tapi tenang saja, sudah di perbaiki." Jawabnya. Raka hanya manggut-manggut, pikirannya melayang entah kemana.
"Aku ingin mengunjungi makam nenekku sekarang." Ucapnya yang membuat dua pria dewasa itu terkejut.
Bocah itu langsung membuka pintu dan berlari keluar. Zack berdecak kesal, Raka berlari sangat cepat. Beruntungnya, jalanan tidak begitu ramai dan mobil tidak ada yang lewat.
"Sial! Aku kehilangan jejaknya!" Gumamnya.
"Hei! Ke arah sini!" Teriak Hans yang berdiri ngos-ngosan di belakangnya. Tanpa berkata apa-apa, Zack langsung menuju ke arah yang Hans beritahu.
__ADS_1
Ia berjalan dengan cepat, dan tak lama sampai di suatu tempat yang sangat luas. Pemakaman Umum.
Matanya menyapu segala arah, mencari keberadaan bocah itu. "Ketemu!" Batinnya .
Seorang bocah yang sedang duduk menatap lurus makam di depannya. .
"Nek, aku mau cerita. Sekarang, Aku tinggal dengan kakekku. Di mansion yang sangat besar dan luas. Aku sudah punya kamar sendiri. Kamarnya luas, dan di mansion itu ada perpustakaan yang sangat luas. Oh ya! Kakek orangnya baik, tegas dan terkadang menyebalkan. Kakek memberikan semua yang ku butuhkan dan ku inginkan. Tapi, beliau sering marah kalau aku belum tidur saat jam 10.
Aku tidak merasa kesepian karena aku punya kakak. Kakak selalu mendengar ceritaku. Dia juga selalu menemaniku kalau aku sedih. Jangan khawatir yaa aku disini baik-baik saja. Hhhmmmm ceritanya sedikit dulu yaaa nanti kalau aku ada waktu luang lagi, aku akan datang kesini lagi.".
Setelah merasa puas bercerita, ia berjalan keluar dari area pemakaman. Ternyata Zack dan Hans menunggunya, ia pun segera menghampiri mereka. ..
"Sudah selesai, tuan muda?" Tanya Zack . Raka mengangguk. Mukanya terlihat senang, tidak ada tanda-tanda ia setelah menangis. Seperti kata-katanya, sudah menerima kenyataan.
"Besok jam 8 pagi, kita harus sudah berada di kota S. Aku khawatir Tuan Perfeksionis datang lebih awal." Ucapnya. Zack mengangguk setuju.
SKIP.....
"Raka, kemarin kamu membeli roti dengan begitu banyak, uang dari mana? Kata Zack, bukan pemberian dari Tuan George lalu..." Hans belum puas dengan jawaban Zack kemarin soal Raka yang bisa memiliki uang sebanyak itu tanpa di beri oleh kakeknya.
"Aku bekerja sebagai tukang ketik. Jadi, kakek sering menyuruhku mengetik dokumen dan memeriksa pengeluaran bulanannya." Jawabnya.
"Kamu tidak lelah? Lalu, kapan kamu bermain?" Tanyanya lagi.
"Kan hanya mengetik. Lagi pula, aku tidak mengerjakannya setiap hari.. Jadi, masih punya waktu untuk bersantai. Kalau bermain, di waktu tertentu saja. Aku lebih suka duduk di sofa sambil mengobrol daripada bermain." Jelasnya.
"Oh! Aku juga dapat uang dari hasil penjualan toko kue nenekku sebesar 30%. Uang itu ku atur sesuai kebutuhan ku." Tambahnya. Hans kini mengerti, kenapa dia bisa jajan sebanyak itu.
"Kenapa kamu tidak meminta saja? Aku yakin --"
"Tidak! Aku tidak mau seperti itu. Awalnya, kakek memang memberiku uang tiap dua pekan. Tapi, setelah ku pikir-pikir, Aku ingin terbiasa bekerja, agar memiliki penghasilan sendiri. Jadi, aku menolak di beri uang secara cuma-cuma, dan meminta pekerjaan yang cocok untukku. Untungnya, kakek tidak melarang."
"Hahahahaa! Hei! Saat aku masih seusia mu, aku sibuk mencari ikan didanau agar bisa makan ikan. Sedangkan kamu, bocah. Meminta pekerjaan. Hahahaha. Sudahlah aku masih bingung dengan cara berpikir mu. Tapi, aku bangga" ucap Hans sambil menatap muka datar bocah dihadapannya.
"Zack, ayo kita pergi. Aku tidak mau terlambat pulang nanti." Katanya sambil meninggalkan Hans yang berekspresi aneh (menurutnya).
"Baik, saya juga sudah siap." Sahutnya membukakan pintu.
"Tunggu! Aku ikut." Ucap Hans yang berlari ke kamarnya untuk mengambil jaket bulunya.
"Kenapa tingkahnya mirip dengan adikmu ya? Jangan-jangan..."
"Dia tidak ada hubungan nasab dengan saya dan adik saya. Memang kebetulan saja bertemu seseorang yang tingkahnya sama seperti adik saya. Maka itu, dia sangat sedih saat Hans berhenti menjadi pelayan. Dia merasa kesepian. Pelayan lain, menjauhinya karena menurut mereka adik saya itu menyebalkan dan suka mencari perhatian dari Tuan George dan mendiang istrinya."
Zack bercerita panjang lebar sambil menatap lurus, pikirannya mengingat masa lalu sebelum dirinya menjadi pelayan pribadi tuannya.
Raka merasa sedikit tersentil. Dulu, ia sempat menjauhi Nicholas karena ia tidak suka orang yang cerewet dan banyak tingkah.
Mereka pun saling diam, fokus dengan pikiran masing-masing sampai ada seseorang yang menghampiri mereka dari belakang.
"Hei, ada taksi. Mau sampai kapan kalian berjalan kaki? Kita kesana dengan taksi saja."
Orang itu Hans yang rupanya sedari tadi mengikuti mereka berdua.
__ADS_1
"Tuan-tuan, apakah kalian jadi menaiki taksinya?" Tanya supir taksi itu menunggu mereka bertiga. Zack dan Raka mendelik tajam ke arah Hans yang masuk duluan.