Warm Home

Warm Home
Season 3 Chapter 11


__ADS_3

"Aku tidak terima di perlakukan seperti ini! Suamiku, kita harus melakukan sesuatu untuk memberinya pelajaran. Bocah s**lan itu akan makin besar kepala karena di bela oleh ayah mu." Kata Nancy yang masih bersemangat untuk marah-marah.


Richard hanya duduk diam di sofa sambil menatap kosong. Tatapannya sangat tajam, seperti ingin melenyapkan seseorang. Tangannya terkepal kuat. Baru kali ini, ia di remehkan oleh seorang anak kecil yang pandai berkata-kata.


Sedangkan Neil, ia sudah memiliki rencana lain untuk membalas perbuatan Raka yang telah mempermalukannya.


***************************************


Dikamar, Raka dan Raphael asik mengobrol sambil merapikan barang-barangnya. Seketika Raphael teringat dengan kotak pemberian dari Carl. Ia pun membukanya lalu menjerit pelan. Ia langsung menunjukkan isinya pada Raka.


"Ini.... kalung! Wah! Indahnya.... Dulu, aku hanya melihatnya dari buku tapi sekarang, aku melihatnya secara langsung." Ucap Raka lirih.


"Kenapa Carl memberikan kalung yang sangat berharga ini pada ku? Ini... Emas putih bukan? Harganya pasti mahal.."


"Tapi.... Kalung ini, bukanlah kalung emas, melainkan alumunium. Lihat saja rantainya yang kecil ini. Kalung ini terbuat dari alumunium yang di cat oleh seorang profesional sampai terlihat mirip dengan emas putih."..


"Maksudmu.... Carl telah di tipu?" Tanya Raphael yang kebingungan.


"Memangnya, Carl tidak mengatakan apapun mengenai kalung ini?" Raphael menggeleng.


"Dia saja memberikan ini dengan melempar. Carl melempar kotaknya saat aku berjalan menuju gerbang Kota M."


Raka pun menyuruh kakaknya untuk menyimpan kalung itu. Setelahnya, ia lanjut membantu Kakaknya merapikan barang-barangnya dari Kota M. Raphael tak lupa membelikan adiknya oleh-oleh dari kota tersebut.


"Saat melihat pita ini, aku teringat Rambutmu yang lumayan panjang. Lihat! Warnanya merah seperti rambutmu. Dan ini, pena bulu. Aku tau kamu menyukainya dan bisa menggunakannya."


Raka menerima semua pemberian kakaknya yang sangat tau apa yang ia sukai. Pena bulu, dulu saat ia tinggal dengan neneknya, ia menulis menggunakan pena bulu bukan pena modern.


Saat sedang memegang pita rambut, seketika Raka teringat dengan rambut kakaknya yang berantakan.


"Oh ya! Waktunya merapikan rambut! Tak perlu khawatir, hasilnya akan memuaskan!"


Ucapnya meyakinkan.


"Wah! Rambutmu makin panjang saja. Kenapa tidak minta tolong pada Casey untuk memotongnya?"


Ucapan Raka barusan membuatnya terperanjat.


"Jadi, kamu mengenal mereka semua? Ku pikir, kamu hanya tau Ayah Zevan saja."

__ADS_1


"Ayah Zevan? Hahahaha! Hei! Dia pantasnya di panggil 'Kakek' umurnya saja hampir 50."


"Oh! Aku tidak tau. Beliau menyuruhku untuk memanggilnya Ayah. Oh ya! Kamu sebenarnya, tau Ayah Zevan dan keluarganya dari mana?" Raphael benar-benar penasaran. Banyak sekali tanda tanya mengenai keluarga itu.


Raka tersenyum tipis.


"Dari seorang gadis pemilik toko bunga. Dulu, ia sering berbincang-bincang berdua. Kita berbicara tentang segala hal yang kita tau. Dia bercerita tentang keluarganya dan pernah menunjukkan sebuah foto keluarganya dan memberinya padaku."


Ia pun mulai bercerita sambil merapikan rambut ungu yang panjang itu.


Flashback


Gadis itu bernama Elsa, dia adalah pemilik toko bunga yang sangat laris di kota S. Dia adalah gadis yang sering mengajakku mengobrol dan terkadang bertanya mengenai hal-hal yang belum ia ketahui. Aku sangat ingat ketika itu, ia memintaku untuk menemaninya membuat sebuah buket bunga tulip bewarna putih dan biru. Aku pun menemaninya sampai selesai. Tak terasa sore pun tiba.


Saat itu, Aku sedang duduk di sofa ruang tamu, melihat-lihat sekeliling sampai... mataku tertuju pada sebuah bingkai foto yang ukurannya sedang. Foto keluarga yang lengkap. Mereka terlihat bahagia. Tanpa ragu, Elsa memperlihatkannya padaku. Ku perhatikan foto itu, Ada tulisan yang sangat kecil bertuliskan Vicenzo. Elsa mengatakan bahwa ia sangat merindukan keluarganya yang berada di kota M. Saat itu, aku belum mengetahui apa-apa tentang kota tersebut.


Elsa bercerita bahwa ia tinggal terpisah dengan keluarganya karena kasihan pada pengasuhnya yang tinggal sendirian dan ia tidak punya keluarga. Ia sangat menyayangi pengasuhnya yang sudah merawatnya sejak bayi, seperti ibunya sendiri.


Dia pernah mengatakan bahwa aku sedikit mirip dengan saudara jauh ayahnya. Saat itu, Aku menganggapnya sebagai omongan belaka. Dan ternyata, di dalam bingkai itu ada foto lainnya yang terlipat. Aku mengambilnya diam-diam. Oh! Ketika itu, Elsa sedang mengambil cemilan untukku. Jadi, dia tidak tau.


Elsa pun datang dengan membawa nampan berisi semangkuk pudding dan susu hangat. Aku pun menikmati cemilan yang disediakannya. Tapi, tidak dengannya yang menatap tajam wajahku. Aku merasa seperti di targetkan. Tersenyum, itulah yang ku lakukan. Cemilan itu langsung ku habiskan supaya cepat pulang ke rumah.


Saat berumur 5 tahun, Elsa mengundangku ke rumahnya untuk merayakan kesuksesan bisnis toko bunganya. Ibu pengasuhnya mengajak nenekku ke suatu tempat sehingga, hanya kita berdua yang berada di rumah.


Dia menghidangkan dua mangkuk eskrim dan kita makan bersama-sama. Dia mengatakan bahwa ia akan menuliskan beberapa surat untuk keluarganya dan mengirimkan buket bunga yang besar untuk saudara perempuannya. Aku terheran dengannya yang begitu mudahnya menceritakan tentang keluarganya kepada orang asing seperti ku.


Apakah dia sudah menganggap ku sahabat? Tidak. Atau.....percaya bahwa aku tidak akan menceritakannya pada orang lain? Tidak juga. Aku tidak bisa menikmati kelezatan eskrim yang ku makan. Pikiran ku melayang kemana-mana. Rasa curiga muncul di hati ku.


Tanpa basa-basi, aku langsung mengatakannya.


"Apa yang kau mau dari ku? Aku tau, kau selalu memperhatikanku terutama wajahku. Sebenarnya, kau siapa? Gerak-gerik mu seperti orang yang memata-matai. Aku tau, kau bukanlah orang yang mudah bergaul. Pendiam dan tertutup, itulah sifat mu. Kau sengaja mendekatiku untuk tujuan tertentu."


Tubuh Elsa membeku, mulutnya tertutup rapat dan wajahnya terlihat sangat terkejut. Ia meremas roknya dan tetap diam.


"Kau sengaja menaruh bingkai foto di ruang tamu kan? Foto yang seharusnya tidak diketahui orang lain. Di belakang foto itu, ada foto lain yang terlipat. Foto keluarga beserta nama-namanya.. sudah jelas itu foto yang tidak boleh di letakkan sembarang tempat. Foto yang bersifat Rahasia, di letakkan begitu saja di ruang tamu. Memangnya untuk apa?"


Badannya bergetar, mukanya mulai pucat. Elsa tidak menyangka bahwa di hadapannya bukanlah bocah pada umumnya. Aku memperhatikan gelagatnya yang tidak biasa.


Akhirnya ia mengakui bahwa selama ini ia memperhatikan ku karena aku mirip dengan seseorang dari keluarganya. Terlebih warna rambut ku yang bewarna coklat kemerahan. Warna rambut ini sangat persis dengan orang tersebut. Dia dan keluarganya yakin bahwa aku adalah salah satu dari Vicenzo. Maka itu, Zevan menyuruh anaknya, Elsa untuk mendekatiku dan mengumpulkan info tentang kehidupanku.

__ADS_1


Setelah menceritakan semuanya, ia bercerita lagi. Tentang keluarganya. Dan darinya aku mengetahui siapa keluarganya yang tinggal di Kota M. Dan darinya aku tahu informasi mengenai Kota tersebut.


End


"Begitu ya... Jangan-jangan mereka juga tau saat kamu keracunan." Tebak Raphael


"Betul sekali! Tapi, Zevan tidak tau kalau kau akan mengunjungi rumahnya. Aku hanya memberitahu Casey dan kembarannya karena, saat itu Zevan sedang sibuk dan tidak berada di rumah."


"Ohya! Apa hubungan Hans dengan Kakek Zevan?" Tanyanya yang masih penasaran.


"Hans adalah... Suaminya Elsa." Raphael terdiam sejenak sambil mengernyitkan dahinya.


"Hahahaha! Maaf! tidak menyangka saja, pria yang cerewet itu menjadi suami seorang gadis pendiam. Hans dan Nicholas kan memiliki kesamaan yaitu tidak bisa diam dan cerewet. Terkadang aku kasihan pada Zack yang harus mendengar ocehan mereka yang berisik."


Raphael yang diajak bicara, lebih banyak diam karena pandangannya tertuju pada dua tangan Raka yang diperban. Sempat berpikir apakah Nicholas mengurusnya atau tidak. Apa yang membuat tangannya di perban, kenapa badannya sangat kurus, bagaimana kakek memperlakukannya, itulah yang masih menjadi tanda tanya di kepalanya.


"Sudah rapi. Kakak tidak mau terlalu pendek, kan? Lihatlah hasilnya. Apakah sudah sesuai dengan keinginan?"


Raphael tersadar dari lamunannya, ia pun memperhatikan penampilannya yang sudah berubah. Wajahnya terlihat lebih segar. Rambut ungunya sangat rapi.


"Raka, saat kamu pertama kali melihat rambutku, apa yang terbesit di pikiran mu?"


Raka merasa aneh dengan pertanyaan tersebut.


"Apa ya???? Aku hanya merasa terkejut saja. 'Ada yaaa rambut seindah itu' begitulah. Aku sempat iri melihat rambut mu yang sangat Indah seperti Bunga Wisteria."


"Kamu tau Bunga Wisteria? Pernah melihatnya?"


Raka diam, berpikir sejenak.


"Terlihat indah tapi sebenarnya ia beracun." Kata Raphael dengan senyuman getirnya. Bocah mata ungu itu diam. Badannya mematung. Ia langsung menutup mulutnya sambil memperhatikan ekspresi Raphael yang sedikit murung.


"Aku tidak bermaksud. Sungguh! Aku benar-benar tidak..... Dulu, aku pernah membaca buku yang ku pinjam dari perpustakaan mengenai bunga. Dan kulihat ada gambar bunga Wisteria disitu. Warna ungunya.... Seperti... Rambutmu. Tapi, sungguh! Aku benar-benar tidak tau kalau bunga itu beracun. Aku minta maaf."


Raphael menggeleng pelan lalu merangkul pundaknya


"Tak perlu minta maaf. Saat pertama kali melihat bunga Wisteria, aku pun begitu. Langsung memperhatikan rambutku dan ternyata memang warnanya sama." Ucapnya sambil berdiri meninggalkan adiknya yang memperhatikan wajahnya yang sedikit berubah


Setelah itu, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri bekas potongan rambutnya. Raka merasa bersalah karena telah menyinggungnya.

__ADS_1


__ADS_2