Warm Home

Warm Home
Chapter 7


__ADS_3

Flashback tahun 1980 bulan Desember


Saat itu, Amerika sedang di landa badai salju yang kencang. Tidak ada warga yang berani keluar rumah. Jalanan penuh dengan salju- salju yang tebal sampai rumah-rumah hampir tertutup dengan salju.


Lynn duduk diatas kursi kayunya, menikmati coklat hangat dengan sepotong roti. Memandangi jendela luar, menunggu anaknya yang sudah lama tidak ia dengar kabarnya.


"Alan, apakah kamu baik-baik saja? Kenapa belum mengabari ibu? Kapan kamu pulang?" Katanya sambil melamun.


Tok Tok!


Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Lynn bergegas bangun dari kursinya. Ia pikir itu Alan, anak bungsunya.


Ceklek!


Saat membuka pintu, alangkah terkejutnya ia. Yang datang bukanlah Alan melainkan seorang wanita yang sudah lama tidak terdengar kabarnya.


Dia adalah Zoe, anak sulungnya yang sudah bertahun-tahun pergi dari rumah. Lynn merasa sedih, kecewa dan senang saat ia bisa bertemu dengannya lagi.


"Ibu sangat merindukanmu, nak. Selama ini kamu kemana saja?. Ayo-" . Belum selesai Lynn bicara, sang anak menyodorkan sebuah keranjang yang ukurannya cukup besar.


Keranjang itu dibungkus dengan kain bewarna biru gelap. Ia bingung tapi, tetap menerimanya. Baru saja Lynn ingin bertanya, wanita itu berkata dengan cepat.


"Tolong urus dia. Di dalamnya ada uang untuknya dan ibu. Dan koper ini, berisi keperluannya." Setelah mengatakan itu, ia membalikkan badannya dan berkata lagi dengan lirih "Maafkan aku." Ia langsung lari meninggalkan Lynn yang masih bingung dengan apa yang telah terjadi pada anaknya.


Lynn buru-buru masuk ke rumah karena salju sudah mulai masuk kedalam.


Brak!


"Sebenarnya apa yang terjadi? Zoe.... Kenapa kamu tidak mau cerita sama ibu?" Lynn tidak merasa kesal sama sekali pada anak sulungnya itu. Ia merasa kasihan karena ia tau. "Zoe pasti sedang menyembunyikan sesuatu dari ku." Batinnya.


Sruk sruk!


Keranjang itu bergerak. Lynn yang terkejut reflek mundur. Ia penasaran tapi, sedikit takut juga untuk membuka kain itu.


Srek!


Sambil menutup mata, ia membuka kain tersebut dan betapa terkejutnya. Seorang bayi sedang tertidur pulas dengan sebuah empeng di mulutnya.


Lynn memegang dadanya. Benar-benar hal yang mengejutkan. "Hah? Ini anakmu, Zoe?!" Teriaknya.


Bayi itu merasa terusik dengan suara Lynn, ia langsung bangun dan menggoyangkan kakinya yang tertekuk. Matanya bulat dan warnanya sangat indah dan langka.


Lynn menghampiri keranjang itu, ia sangat penasaran dengan 'cucu'nya. Saat melihat wajahnya... "Tampan." Ucapnya lirih.


Bayi itu mengulurkan kedua tangannya seakan ia ingin digendong. Lynn mengangkat tubuh kecilnya dan mengeluarkannya dari keranjang tersebut. "Kamu cukup berat, ya." Lynn tertawa kecil, bayi itu tersenyum seakan paham dengan apa yang Lynn katakan.


"Kasihan sekali. Masih kecil tapi sudah tidak merasakan kasih sayang orangtuanya. Bahkan belum di beri nama." Kata Lynn sambil memandang wajah bulatnya.


"Mulai sekarang, nenek akan menyayangimu dan membesarkanmu. Walaupun hidup sederhana, nenek akan berusaha menjamin hidupmu tidak kekurangan kasih sayang." Bayi itu hanya tertawa sambil memainkan jari-jarinya.


"Raka, maukan temani nenek? Nenek kesepian setiap hari. Temani nenek ya? Nanti nenek akan memberikanmu susu hangat yang enak." Candanya..


Sejak Lynn memutuskan untuk membesarkannya, hidupnya berubah. Meskipun banyak kesulitan yang harus di hadapi, ia tetap berjuang. Cucunya adalah obat kesedihannya.

__ADS_1


Flashback off


Sebulan kemudian



"Aku mau jalan-jalan sama nenek nanti malam, ya" kata bocah kecil yang sedang menikmati es krimnya di taman bermain.


"Jalan-jalan nanti malam? Memangnya ada apa nanti malam?" Tanyanya.



Raka langsung menghampiri neneknya sambil tersenyum lebar.


"Nanti malam ada festival makanan. Aku ingin sekali membelinya. pasti enak-enak." Lynn berpikir sebentar. Ia sebenarnya merasa keberatan karena angin malam sangat dingin dan khawatir cucunya jatuh sakit.



Melihat ekspresi Lynn, bocah itu langsung merayunya. "Ayolah, nek... Aku sudah menabung untuk jajan di festival. Banyak makanan yang ingin ku coba. Ya, ya." Lynn tidak tega melihatnya memohon, akhirnya ia mengangguk setuju. Bocah itu senang bukan main.



"Tapi harus cepat pulang. Kalau nenek bilang pulang, harus pulang ya " Tegasnya. Bocah itu mengangguk cepat.


"Aku pulang duluan, ya." Kata Raka sambil berlari meninggalkan neneknya.



"Sepedanya jangan lupa, Raka." Seru Lynn melihat Raka pulang dengan berlari. Bocah itu kembali lagi sambil senyum-senyum. "Hehee maaf ya, nek. Lain kali aku tidak akan lupa lagi."




Flashback (sedikit ajah)



Kemarin lusa, saat ia pergi ke tepi danau, ia asik mengelus kucing yang menarik perhatiannya. Lalu tiba-tiba kucing itu berlari. Ia pun ikut berlari di belakang kucing itu. Merasa lelah, ia memutuskan untuk pulang.



Saat sampai di rumah, Lynn bertanya kemana sepedanya. Ia pun panik. Khawatir sepeda kesayangannya hilang. Akhirnya, sang nenek menemaninya untuk mencari. Kata Raka, sepedanya ia letakkan di dekat danau.



Sesampainya di tepi danau, mereka mendengar suara bel sepeda. Dan itu sepedanya Raka. Lynn melihat seorang bocah yang kira-kira seusia dengan cucunya memainkan sepeda itu.


Saat melihat ada yang mendekat, bocah itu langsung membungkukkan badannya dan pergi. Lynn dan cucunya saling pandang dengan keheranan.



Raka menghampiri sepedanya dan pulang dengan hati yang lega.

__ADS_1


"Lain kali, hati-hati ya." Kata Lynn sambil mengusap-usap kepalanya. Bocah itu mengangguk. "Iya, nek. Ayo kita pulang."



Flashback selesai.



Malam hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Raka sudah siap dengan tas kecilnya berisi uang yang sudah lama ia kumpulkan.


"Semua sudah siap. Ayo kita pergi." Kata Lynn sambil menggenggam tangannya. Mereka berjalan sambil menikmati keindahan malam hari. Banyak bintang yang bermunculan menghiasi langit.


Tak terasa mereka hampir sampai di festival. Banyak pertunjukan seru, permainan dan pastinya jajanan yang terlihat lezat. Raka berlari kesana-kemari melihat penjual makanan yang belum pernah ia makan.


"Aku mau yang manis itu, ah! Itu terlihat pedas, tapi aku mau mencobanya. Wah! Jus itu terlihat menggiurkan. Aku mau beli." Lynn geleng-geleng melihat tingkahnya yang menggemaskan. Tangannya penuh dengan jajanan.


"Jusnya biar nenek yang bawa, tanganmu sudah penuh." Bocah itu hanya cengengesan. Lynn melihat ada bangku panjang dekat pohon rindang. Ia mengajak cucunya beristirahat di situ sambil menikmati jajanan.


"Nek, coba yang ini. Katanya ini makanan dari Jepang namanya takoyaki." Lynn menggeleng "nenek sudah kenyang minum jus. Untukmu saja, ya." Raka hanya manggut-manggut sambil menguyah.


Tiba-tiba seseorang duduk di samping Raka dan menyapanya. "Selamat malam, bocah tampan." Ketika Mendengar suaranya yang tidak asing, Lynn langsung menjawab "Oh! Dr.Hans, selamat malam."


Raka tidak menjawab, ia sibuk dengan makanan yang lezat itu.


" Panggil Hans saja, ya." Katanya sambil memperhatikan bocah disampingnya yang mengacuhkannya.


"Paman habis berkencan ya" tanya Raka tiba-tiba. Hans terkejut mendengarnya. Lynn juga tak kalah kaget. Darimana ia tau kata 'berkencan' itu. Batinnya bertanya-tanya.


"Jaketmu tercium bau parfum perempuan. Sungguh membuatku pusing." Katanya dengan ketus. Raka langsung berdiri dan pindah tempat duduk.


Lynn merasa tidak enak dengan Hans langsung minta maaf


"Maafkan cucu saya. Saya benar-benar--" tapi Hans memotong omongannya.


"Bolehkah saya berbicara sebentar dengan cucu anda?" Tanya Hans dengan tenang. Lynn yang awalnya khawatir, menjadi heran. Ia mengangguk dengan ragu. Hans langsung menghampiri bocah itu yang sedang menikmati jus alpukatnya.


Melihat Hans yang menghampirinya, ia langsung bergeser. "Menjauhlah sedikit. Aku sedang sibuk." Hans benar-benar heran dengan tingkah bocah satu ini. "Dia memang spesial." Batinnya.


"Oke. Silahkan lanjutkan kesibukanmu menikmati jus itu. Aku hanya ingin bertanya." Ujarnya sambil melipat kedua tangannya.


"Oh... Yang tadi. Tentu aku langsung tau. Dari bau parfum perempuan dan goresan lipstik yang tipis di dekat bibirmu. Tandanya kamu habis memeluk dan mencium perempuan itu." Hans kehabisan kata-kata. Ia menggeleng dan menertawakan dirinya.


"Hey, siapa yang mengajarimu, bocah?" Tiba-tiba saja kakinya diinjak. Ia meringis. Raka menatapnya kesal. "saya yakin. Anda pasti sudah tau nama saya." Ia memang bukan tipe anak yang suka bercanda. Terlebih orang asing.


"Iya, Raka. Kamu tau dari mana kata-kata itu? Kamu kan masih kecil. Buku apa yang..." Ucapannya terhenti melihat matanya yang nyalang menatapnya.


Glek!


Entah kenapa nyalinya ciut di hadapan bocah ini. "Maaf aku tidak akan mengganggumu lagi." Raka mendengus kesal. Sebelum meninggalkannya, ia berkata. "Aku baru menemukan orang dewasa yang cerewet. Ku pikir, orang yang semakin dewasa itu, akan menjadi pendiam. Ternyata, tidak semua ya." Lalu, ia pergi meninggalkan Hans yang menatapnya penuh arti.


Raka menghampiri neneknya yang dari tadi menunggunya dengan khawatir. Ia meyakinkannya bahwa tidak terjadi apa-apa. Mereka pun pulang karena sudah larut. Lynn memperhatikan cucunya yang berjalan di depannya. Sikapnya benar-benar berubah. Tidak seperti tadi yang penuh senyum.


"Orang itu. Ya, pria yang bernama Hans. Sejak awal bertemu, tatapannya sangat mencurigakan. Dia mendekati ku karena ingin sesuatu. Saat aku dirawat di klinik itu, dia diam-diam mencabut sehelai rambutku. Untuk apa?! Dia pikir aku tidak tau."

__ADS_1


Raka sibuk dengan pikirannya sampai tak sadar neneknya menarik tangannya karena ia berjalan lurus melewati rumahnya.


"Sudah sampai, kamu sibuk memikirkan apa?" Tanya Lynn sambil membukakan pintu. Raka hanya menggeleng pelan.


__ADS_2