Warm Home

Warm Home
Season 2 Chapter 18


__ADS_3

Pagi harinya, Raka terbangun dari tidur nyenyak nya dan ia terkejut. Jam menunjukkan pukul 8:10 menit. Ia pun langsung berjalan menuju mejanya dan menghidupkan lampu di ujung mejanya.


"Laporan keuangan bulan ini! Oh ya ampun! Kenapa harus bangun terlambat sih!" Gerutunya sambil membuka lemari persegi panjang samping mejanya dan mengeluarkan buku tebal.


Buku tebal itu berisi pengeluaran dan pemasukan bulanannya. Ia memang sudah mahir dalam mengatur uangnya. Tidak pernah ada yang terlewat satu Penny pun.


"Sebentar... Struk belanja bahan kue kemarin mana ya? Sepertinya Nich lupa memberikan padaku." Ucapnya lirih. Tiba-tiba ada yang meletakkan secarik kertas di atas mejanya.


"Oh! Kakak sudah bangun? Dimana kakak menemukannya?" Raphael menunjuk kolong ranjangnya kemudian ia langsung merapikan kasurnya.


"Terimakasih." Ucapnya. Sudah satu jam, Raka belum bangkit dari tempat duduknya. Ia masih sibuk dengan angka-angka di depannya. Nicholas setia menemaninya, ia juga sering membantu tuannya mencatat keuangan bulanannya.


"Sebentar lagi selesai. Kau sudah menyiapkan sarapanku?" Tanyanya sambil fokus mencatat.


"Tentu saja. Oh ya, susunya hampir dingin. Apakah Anda ingin dihangatkan lagi?" Raka menjawab dengan gelengan. Akhirnya, ia berjalan menuju lemari pakaian lalu menyiapkan pakaian tuannya untuk di pakai nanti.


Tak lama, Raka selesai. Ia langsung merapikan alat tulisnya yang berserakan lalu bergegas menuju kamar mandi.


"Nich, kau yang berikan laporan itu pada kakek. Hari ini, aku malas keluar kamar." Kata Raka sebelum masuk kamar mandi. Pelayan itu langsung mengambil kertas berisikan catatan yang Raka tulis tadi lalu keluar.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


"Raka, Tuan Nathanael itu siapa?" Tanya Raphael tiba-tiba. Raka yang sedang bersantai di Sofanya langsung menoleh dan menatapnya.


"Dulu, aku seringkali mendengarmu mengigau tengah malam. Kamu menyebut Nama Nathanael terus. Aku belum pernah mendengar nama itu makanya ingin bertanya pada mu. Tapi, aku takut kamu merasa tidak nyaman jadi ..".


Raka duduk mendekat kemudian ia menjawab rasa penasarannya.


"Dialah orang pertama yang menghantui hidupku. Selama aku bermimpi, aku belum pernah di hantui siapapun. Dia adalah salah satu anggota keluarga Vicenzo yang sudah meninggal puluhan tahun yang lalu. Aku masih mencari penyebabnya."


Raphael terkejut mendengarnya, rasa penasarannya makin bertambah.


"Apakah kakek pernah menceritakanmu tentang Tuan Nathanael?" Tanyanya lagi. Raka terkekeh melihat ekspresinya.


"Pernah. Kakek mengatakan bahwa Tuan Nathanael adalah ayahnya yang sudah meninggal. Itu berarti....."


"Beliau adalah kakek buyut kita." Raka mengangguk.


"Beliau meninggal karena di bunuh oleh seseorang yang dendam padanya. Padahal, orang itu yang bersalah." Jelasnya. Raphael bergidik ngeri. Ia makin tak mau berurusan dengan anggota keluarga Vicenzo lainnya. .


"Raka, lebih baik kita berdiam diri saja. Hhmm... Usahakan untuk tidak berurusan dengan orang-orang yang kejam seperti mereka. Aku tau kamu pemberani tapi..."


Raka tersenyum, ia senang kakaknya khawatir padanya.


"Percayalah, semua akan baik-baik saja jika kita bisa berpikir kreatif, jernih dan tetap tenang. Aku sudah membayangkan betapa 'mengerikannya' mereka. Hidup ini terus mengalir. Suatu hari nanti, kita akan menghadapi orang-orang yang kejamnya berlipat-lipat."


Matanya berkaca-kaca, Raphael benar-benar trauma dengan apa yang telah terjadi di masa lalunya. Luka batinnya meninggalkan bekas yang sulit dihilangkan meskipun kehidupannya sudah berubah total.


"Kalau terus menghindar, kita tidak akan bisa menjalani hidup dengan normal. Hidup ini memang tidak bisa selalu sama dengan kemauan kita. Maka itu, kita harus kuat fisik dan mental. Aku mengerti, kakak masih trauma dengan masa lalu tapi, harus diusahakan untuk menghadapinya. Tidak bisa menghindar terus."


"Apakah kamu tidak takut?" Tanyanya sambil menahan tangisnya.


"Tentu saja! Aku bukan manusia hebat. Aku juga sangat takut, sama sepertimu. Tapi, harus dilawan jangan dituruti."


Raphael menangis sampai badannya bergetar seperti orang ketakutan. Raka bisa mengerti betapa terlukanya ia. Dibuang, di bully, diinjak semua momen menyedihkan itu masih ada di memorinya.


"Mau ku buatkan minuman segar?" Tanya Raka mengalihkan pembicaraan. Ia ingin segera mengakhiri momen sedih ini.

__ADS_1


"Ma-mau. Tapi aku ikut membuat juga yaa" jawabnya dengan suara yang serak. Raka mengangguk. Raphael bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya dan mengganti bajunya.


Sebelum keluar, mereka membereskan kamar dulu lalu pergi menuju kebun untuk memetik jeruk.



"Bagaimana? Apakah ada yang salah, Tuan?" Tanya Nicholas saat George sedang memeriksa laporan yang dibuat cucunya tadi pagi. Pria paruh baya itu tersenyum dan mengisyaratkan bahwa tidak ada yang salah.



"Tulisannya rapi. Semuanya tercatat dengan baik. Ngomong-ngomong, kemana dua kelinci itu? Aku belum mendengar ocehannya pagi ini."



Raka dan Raphael sudah lama di juluki sebagai 'dua kelinci' oleh George karena mereka suka dengan boneka kelinci. Sampai Di kasur dan meja belajarnya juga terpajang boneka kelinci yang ukurannya kecil.



"Mereka masih di kamarnya."


"Ya! Hanya Karena hari ini bebas, jadi mereka bermalas-malasan di dalam kamar." Nicholas terkekeh melihat tuannya kesal.



"Anda juga sebaiknya beristirahat di dalam kamar. Atau berjalan-jalan di taman. Sudah banyak bunga yang bermekaran." Ucap Zack tiba-tiba.



"Hhhmmm. Baiklah, ayo temani aku ke taman." George sudah merindukan bunga-bunga favoritnya dan mendiang istrinya. Selama ini, ia di sibukkan dengan pekerjaannya sampai lupa istirahat.




"Wah! Tak terasa kita memetiknya terlalu banyak." Ucap Raphael yang terkejut melihat hasil petikannya. Sudah satu jam mereka berada di kebun untuk memetik jeruk. Tentunya juga dibantu oleh seseorang yang bertugas di situ.



"Tenang saja. Sekejap akan habis. Hari ini, kita pesta jus jeruk. Kita akan membuat jus jeruk yang manis dan segar."



Mereka membawa jeruk-jeruk itu dengan gerobak kecil menuju dapur. Mereka akan membuat jus jeruk dengan para maid yang bertugas di dapur.


Saat sampai di dapur, para maid langsung menyambut mereka dan membantu membersihkan jeruk-jeruk itu.



"Raka. Ada jeruk yang asam." Raphael mencoba sedikit jeruk yang telah diperasnya ternyata ada yang tidak manis.



"Akan ku pikirkan nanti." Sahutnya. Tangannya sibuk memotong jeruk jeruk yang masih menumpuk. Walaupun banyak yang membantu, tapi masih kurang tenaga.



Satu jam kemudian, semua jeruk itu habis di eksekusi. Raka mencicipi hasil perasan itu lalu menggeleng.

__ADS_1



"Ambilkan aku madu." Pintanya. Salah satu maid mengambilkan apa yang diminta. Raka langsung menuangkan 3 sendok makan madu lalu mengaduknya.



Kemudian, ia menuangkan perasan jeruk itu ke gelas-gelas yang sudah disiapkan. Lalu menyuruh para maid untuk meminumnya.


"Ya ampun! Enak sekali."


"Iya! Biasanya aku memakai gula. Ternyata begini yaa rasanya kalau di campur dengan madu."



Semuanya menikmati jus jeruk itu. Tidak lupa di bagikan juga pada pelayan lainnya.



"Sejuknya... Sebentar lagi musim dingin datang, salju akan turun dan aku bisa bermain perang salju dengan tuan muda. Hahahah" Seru Nicholas sambil jalan-jalan sekitar air mancur.


"Awas saja kalau sampai cucu ku jatuh sakit gara-gara permainan konyol mu." Ancam George dengan wajah santainya. Meskipun terlihat santai, tapi Nicholas tau bahwa ancaman itu ada.


"Kalau tuan muda tidak mau, saya juga tidak masalah. Bisa main sendiri." Ucapnya sambil berjalan mundur. Zack menahan tubuh adiknya mengisyaratkan agar tetap di tempatnya.


"Tuan terhormat, bolehkah saya pergi mencari majikan saya?" George menoleh kebelakang sambil mengerucutkan dahinya lalu memanggil Zack. Lalu Zack menyuruh adiknya keluar dari taman dan bergegas menghampiri tuannya.


Saat Nicholas sudah benar-benar keluar dari taman, George memulai pembicaraannya.


"Tadi, saat adikmu mengatakan Tuan Terhormat aku jadi teringat dengan Raka. Ketika dia di rawat di rumah sakit, yang membiayai dan memberinya fasilitas lengkap adalah 'Tuan Terhormat'. Apakah kau sudah menyelidikinya?" Tanya George yang penasaran.


"Sudah di selidiki tapi belum ketahuan siapa orangnya. Identitasnya benar-benar di lindungi. Menurut saya, dia bukan orang sembarangan." Jawab Zack sambil berbisik. George memijat pelipisnya. Ia khawatir, orang tersebut adalah saingannya di dunia bisnis.


"Antarkan aku ke kamar dan panggil Raka."


\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#


"Aku tidak tau siapa orang itu. Saat bertanya pada dokter dan perawat di situ, mereka tidak memberitahu. Mengalihkan pembicaraan, terlihat sangat menghindar. Bahkan aku sempat memaksa ingin bertemu dengan Tuan itu tapi, mereka masih tutup mulut." Jawab Raka saat di tanya mengenai Tuan Terhormat itu.


Ia melihat raut khawatir dari wajah kakeknya lalu menghampirinya.


"Jangan terlalu dipikirkan. Nanti kakek jatuh sakit. Bukannya kakek ingin bertemu dengan keluarga besar? Sebentar lagi bulan Desember lhoo. Kan aku sudah berada di sini dengan keadaan yang sehat." Ucapan Raka memang ada benarnya tapi, ia masih khawatir.


"Kau benar. Seharusnya aku tidak perlu memikirkan hal itu. Oh ya! Ku dengar, tadi kau membuat jus jeruk?"


Raka mengangguk lalu mengambil segelas jus jeruk yang ia bawakan tadi dan memberikan pada kakeknya.


"Ini enak sekali." Raka senang mendengarnya, ia makin bersemangat membuat minuman lainnya.


"Kau sudah pintar mengatur uangmu ya? Siapa yang mengajarkan?" Tanya George tiba-tiba.


"Ya, sejak kakek memberiku 30% dari penghasilan toko kue, aku mempelajari lagi tentang money management. Dan aku juga sering melihat Kakek mencatat pengeluaran bulanan. Dari situ aku belajar."


George tersenyum mengangguk. Ia kagum dengan otak pintarnya.


"Ohya! Jangan memberikan ku uang lebih. Cukup dari pembagian 30% itu saja. Berikan saja pada kakak."


George hanya menjawab dengan anggukan. Akhirnya Raka keluar dari kamar dan tak lupa menutup rapat pintunya.

__ADS_1


"Maaf..... Aku berbohong.."


__ADS_2