
Malam harinya.....
Raphael yang sangat merindukan ranjang empuknya langsung menghempaskan tubuhnya lalu berguling-guling kegirangan.
"Waaaah!!! Aku benar-benar merindukan busa empuk ini! Hm?? Raka, kamu tidur di ranjang ku ya??"
Tidak ada sahutan dari adiknya. Raka fokus membaca selembar kertas yang dipegangnya.
"Oh iya! Aku hampir lupa!" Seru Raphael. Ia langsung membuka lemarinya lalu mengeluarkan sebuah botol kecil. Berisi cairan berwarna hijau muda.
"Raka, kesini sebentar. Ini penting." Katanya sambil sedikit berteriak. Raka sedikit terkejut, Ia langsung menghampiri kakaknya yang memanggil.
Raphael menunjukkan botol kecil itu dan memberinya. "A-apa itu? Kelihatannya tidak enak."
"Ini adalah Obat tradisional yang ku buat untuk menghilangkan racun yang ada di tubuhmu. Rasanya memang tidak enak tapi, khasiatnya bagus. SEKARANG juga kamu harus meminumnya. Sampai Habis." Ucapnya sambil senyum-senyum jahil.
Raka menjauhkan botol itu dari hadapannya. "Ta-tapi... Hhhmmm.... Bagaimana kalau meminumnya besok saja?" Bujuknya. Ekspresi Raphael langsung berubah.
"Raka. Dari dulu, aku sudah seringkali menuruti permintaanmu, ya! Sekarang, aku tidak mau melakukannya lagi. Ini penting, menyangkut nyawamu. Kan kamu tau sendiri, racun angle's trumpet tidak semudah itu mengeluarkan dari tubuh seseorang yang sudah meminumnya, meskipun sudah mengkonsumsi makanan-makanan penawar racun."
"Baiklah! Aku akan meminumnya sekarang, Sampai Habis."
Glek!
Badannya merinding saat botol itu dibuka penutupnya. Sambil menutup matanya, ia menghabiskan semua cairan hijau itu.
"Huek! Gimme glass of water!"
"No! Tidak boleh makan/minum apapun. Bertahanlah sebentar saja. Rasa yang tidak enak itu akan hilang dengan sendirinya."
Kemudian Raphael meninggalkan adiknya yang menutup mulutnya rapat-rapat seakan hendak muntah.
Setelah merasa sudah tenang, Raka berbaring di atas ranjangnya.
"Sebenarnya... Aku tidak meminum cairan 'itu' semuanya. Sebagiannya, ku keluarkan lagi tanpa sepengetahuannya. Saat itu, keadaan sedang gawat sehingga dia tidak memperhatikanku dan buru-buru pergi."
Pernyataan tersebut, membuat Raphael terkejut. Ia pun langsung menghampiri adiknya. .
"Sungguh?! Seberapa banyak kamu meminumnya?" Tanyanya dengan khawatir.
"Biar ku ingat-ingat... Botol itu... Sepertinya untuk minuman ukuran 100 ml. Sepertinya, aku hanya meminum separuhnya. Lalu... rasanya pahit dan membuat hangat tenggorokan. Tapi, saat sudah sampai lambung, perut akan terasa seperti di remuk." Jelasnya.
"Sedikit saja sudah membuatmu koma, bagaimana kalau kamu minum semuanya?" Ucapnya khawatir.
"Sudahlah, lupakan! Oh ya! Obat buatan kau tadi, rasanya juga sedikit pahit! Hih! Aku tidak suka yang pahit pahit. Hidup ku sudah banyak 'pahit'nya."
Raphael tertawa mendengar perkataan adiknya barusan. "Ya ampun! Hahaha! Kamu seperti orang tua saja."
"Hey! It's truth! Apa ya?? Rasanya pahit dan aneh.. seperti rumput." Suara tawanya seketika berhenti, ekspresinya heran. Ia ingin memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.
__ADS_1
"Rumput? Kamu pernah makan rumput?" Tanyanya sambil menggerak-gerakkan tangannya seperti orang yang sedang makan.
Raka mengangguk. "Dulu, saat aku kelaparan di tengah jalan. Sial! Gara-gara aku lupa membawa bekal dari rumah. Mau tidak mau, aku mencabut rumput dekat danau, mencucinya lalu ku makan langsung. Untungnya... Tidak ada orang disitu."
Ia memperhatikan kakaknya yang tampak memikirkan sesuatu sambil senyum-senyum. "Oh, jangan bilang..."
"Ya, aku pernah memakan rumput karena tidak bisa menahan rasa lapar yang sudah menyiksa selama 3 hari." Raka menatap intens mata merahnya.
"Jadi, dulu aku pernah bekerja di bar selama 2 minggu. Karena aku membuat kesalahan, jadinya aku di hukum tidak di--"
Prang!!
"Ah! Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Duh, bagaimana ini??!" Raka tidak sengaja menjatuhkan gelas yang ada ditangannya. Entah kapan, ia mengambilnya.
"Tenang, tenang. Sekarang kita bersihkan pecahannya lalu tidur, ya. Kamu terlihat kelelahan."
Mereka pun membersihkan bersama-sama, tidak lama pekerjaan itu selesai. Jam menunjukkan pukul 23:00 Raka pun tidur duluan. Di ranjangnya Raphael masih duduk merapikan selimutnya. Ia tersenyum menyeringai menatap pintu kamar. Sambil memikirkan rencana esok hari.
"Heh, dasar penguntit, pecundang."
########################
Mansion William
Untuk Tuan yang Saya Hormati
Apa kabar? Senang sekali menerima suratmu yang menggembirakan! Ini benar-benar mengejutkan dan menyenangkan untuk berkomunikasi dengan seseorang yang belum pernah saya temui sebelumnya. Saya senang mendengar bahwa kamu juga tertarik untuk menjalin pertemanan meskipun kita berada di tempat yang jauh. Saya harap, Anda berkenan untuk sedikit terbuka dalam berbagi cerita dan pengalaman.
Jika kamu memiliki pertanyaan lebih lanjut atau ingin berbicara tentang sesuatu, jangan ragu untuk menulis. Saya selalu ada di sini untuk mendengarkan.
Sekali lagi, terima kasih atas suratmu yang luar biasa ini. Semoga kita dapat membangun persahabatan yang langgeng melalui surat-surat ini. Sampai jumpa di surat berikutnya!
"Haaah! Ya ampun, baru sempat aku membacanya. Aneh ya! Hatiku merasa tersentuh. Padahal belum pernah bertemu dengannya. Inilah surat pertama dari orang asing yang membuatku tersentuh. Hatiku terhibur, pikiranku tidak stres lagi."
Setelah membaca surat itu, Tuan Muda meletakkannya kembali di amplopnya dengan sangat rapi. Lalu menyimpan surat berharga itu di lemarinya.
"Baiklah....Waktunya istirahat! 15 menit saja cukup. Balasannya kan ku tulis nanti." Gumamnya sambil memejamkan mata.
★★★★★★★★★★★★★★
"Kau, lihatlah bangunan itu."
"HM? Itu... Hanya sebuah gedung tapi, gedung apa ya? Hei, Tuan. Memangnya ada apa dengan gedung itu??"
"It's yours."
"Hah? Apa maksud mu?! Hey! Tunggu dulu. Jangan pergi begitu saja.."
"Aku mempercayakan padamu. *Smile* until then, Mr. Nathan"
__ADS_1
"Kembali! Katakan apa yang kau mau! Jangan membuat ku seperti orang bodoh! Hey!"
Plak!!
"Raka! Bangun!" Raphael menggoyang goyang adiknya yang sedang mengigau supaya bangun dari tidurnya.
Raka pun langsung duduk sambil menangkup wajahnya. Piyamanya basah karena ia berkeringat padahal, udara di kamarnya cukup dingin.
"Tenang dulu, ya. Kalau sudah tenang, minumlah perlahan." Raka masih mengatur nafasnya
"Dia datang lagi, menghantuiku lagi! Dia memperlihatkan ku sebuah bangunan, gedung yang berdiri kokoh dan tiba-tiba saja terbakar hangus. Aku tidak tau maksudnya apa. Dia hanya tersenyum lalu meninggalkan ku begitu saja!"
Raphael hanya diam, mendengar cerita dari adiknya. Setelah merasa tenang, Raka minum segelas air yang diberikan kakaknya. Air itu langsung habis, dia seperti orang yang sangat kelelahan.
"Jam berapa?" Tanya Raka sambil memandang jendela.
"Jam 4 AM. Mau tidur lagi?" Raka menggeleng. Rasa kantuknya sudah hilang dan sekarang ia merasa lapar.
"Kakak mau tidur lagi?" Raphael yang sedang menatap langit-langit kamar, tersadar. Ia melihat adiknya yang siap keluar dari kamar.
"Tidak, kamu mau kemana jam segini?"
"Ikut aku ke dapur. Aku akan membuat sarapan untuk kita berdua." Raphael tersenyum dan langsung turun dari ranjangnya.
__ADS_1
"Hati-hati, ya. Ada yang mengikuti kita. Jadi, Kakak tidak boleh jauh-jauh dari ku." Ucap Raka sambil menuruni tangga.