
"Jadi... Apakah kamu ada keinginan untuk menjadi pemimpin sebuah perusahaan?" Tanya Raphael sambil membersihkan buah-buahan yang ia dan Raka petik tadi.
"Tidak tau. Keinginan itu entah kenapa.... muncul lalu pergi lagi. Aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia saja. Memimpin sebuah perusahaan bukanlah hal yang mudah. Tanggung jawabnya sangat berat." Jawabnya.
Tangannya yang sibuk mengaduk-aduk saus tiba-tiba berhenti. Memori mengenai mimpi itu datang lagi.
"Aku belum menanyakan hal itu pada Kakek. Haaah! Melupakannya sangat sulit. Hhhmmm.... Jangan-jangan, dia pendiri perusahaan NathaLey."
Tak sadar, saus yang ia aduk, sedikit tumpah. Raphael melihatnya melamun langsung menepuk pundaknya.
"Ada apa? Lihat, apa yang kamu lakukan.. Jangan melamun."
Raka langsung tersadar dan terkejut melihat mejanya kotor. Ia langsung mengambil kain untuk membersihkan saus yang tumpah.
"Apakah pria itu masih menghantui pikiran mu?" Tanya Raphael tiba-tiba, yang membuat Raka terkejut dan langsung menoleh ke arahnya. .
"Sebenarnya... Aku sudah lama tau tapi, aku memutuskan untuk menunggu waktu yang tepat. Aku tau kamu sering gelisah saat tidur karena mimpi burukmu." Lanjutnya.
Raka tidak merespon apa-apa. Ia bingung harus mengatakan apa. Tak lama, buah-buahan yang mereka olah sudah jadi. Mereka membuat salad buah yang segar dengan saus yoghurt.
Nicholas datang membantu membawakan hidangan segar itu ke ruang kerja Tuan George.
Saat masuk, terlihat George sedang berbicara serius dengan asistennya dan Zack merapikan kertas-kertas di atas meja.
"Apakah itu hidangan untuk tamu?" Tanya Zack saat melihat adiknya mendorong masuk trolinya.
"Tidak hanya untuk tamu. Ada untuk Tuan George juga."
Lalu ia mencondongkan sedikit tubuhnya dan berbisik.
"Untuk kita juga ada, lho. Rasanya di jamin lezat."
Zack langsung mendorongnya dan menjauhkan tubuhnya kemudian menggeleng pelan.
"Permisi... Silahkan di nikmati hidangan segarnya." Ucap Nicholas sambil menatany diatas meja. Jonathan melihat salad buah yang menggiurkan di depan matanya, langsung menyantapnya lalu menyuap lagi.
"Wah! Benar-benar segar. Terimakasih. Ah! Maafkan saya, tuan George. Saya sudah tidak bisa menahannya lagi." Kata Jonathan sambil memperhatikan buah tersebut.
"Terserah. Ya, sedari tadi kau memang belum makan apa-apa. Sekarang, nikmatilah."
Saat dua orang itu sedang menikmati hidangan, Zack langsung menarik adiknya keluar. Lalu, setelah sudah jauh dari ruangan itu, ia mulai bersuara.
"Jangan ulangi lagi perbuatan tadi. Kau harus tau tempat. Tidak sopan berbisik-bisik di depan Tuan." Tegurnya. Nicholas hanya mengangguk pelan.
Zack memang orang yang tegas pada siapapun. Banyak yang mengatakan bahwa ia galak tapi, sebenarnya ia adalah sosok yang hangat untuk orang-orang yang ia percaya.
"Sudah makan?" Tanya Nicholas saat mereka berjalan menuju dapur. Zack hanya menggeleng. Nicholas mengambil dua buah gelas kaca dari dapur, lalu keluar.
"Ada jatah salad untuk kita. Ayo, ayo! Ke dapurnya tuanku." Serunya sambil berlari kecil. Zack hanya geleng-geleng melihat tingkah adiknya dan menyusul di belakangnya.
√√√√√√√√√√√√√√√√√√√√√√√√√√√√√√√√√√√
Kamar Raka.
"Pernahkah kakek menceritakan tentang keluarganya?"
"Aku tinggal dengan keponakannya kakek. Beliau dan istrinya lah yang mengangkatku sebagai anaknya." Jawabnya sambil tersenyum lebar.
"Ha?! Oh! Begitu." Sahutnya.
"Maaf ya.... Aku tidak menceritakannya lengkap. Heee"
"Oh... Tidak masalah. Hhhmmm.... Pernah bertemu dengan anak-anaknya kakek?" Tanya Raka yang masih sangat penasaran.
"Kalau bertemu, belum pernah. Tapi kalau melihat, pernah. Saat itu, anaknya yang pertama pernah menginap 2 hari disini. Aku hanya melihatnya dari kejauhan.
Wajahnya mirip kakek. Tapi, sifatnya lebih galak dari kakek. Aku tau dari salah satu pelayan yang pernah membersihkan kamarnya. Tatapan matanya sangat menusuk. Oh ya! Aku pernah mendengar suaranya. Sangat berat dan menggelegar." Cerita Raphael dengan ekspresi yang serius.
Raka memperhatikannya dan mendengarkan dengan seksama. Bukannya takut, ia malah penasaran dengan sosok pria itu.
__ADS_1
"Raka, jangan katakan bahwa kamu penasaran dan ingin bertemu dengannya." Ucapnya sambil melirik tajam ke arah Raka yang cengengesan.
"Memangnya kenapa? Hahahahaa! Dia kan bukan penjahat. Anaknya Kakek lhooo. Hahaha". Raphael berdecak kesal melihat responnya.
"Kau tau namanya?" Tanya Raka sambil membalikkan halaman bukunya.
"Tuan Axel. Ya, para pelayan memanggilnya itu. Oh iya! Aku baru ingat! Haaah! Sebenarnya.... Aku tidak mau mengingatnya lagi."
Raka melihat ekspresi wajahnya yang tidak bersahabat. Kemudian, ia menutup bukunya lalu duduk mendekat.
"Kalau tidak mau diingat, ya sudah. Jangan--". Raphael menggeleng cepat.
"Kamu harus tau hal ini. Supaya, saat orang itu kesini LAGI, kamu bisa berhati-hati" Raka diam dan mengangguk pelan.
"Ada salah satu cucu kakek yang bernama Lizzy. Dia sangat tidak menyukaiku karena asal usul ku yang tidak jelas. Dia mengatakan bahwa aku tidak pantas berada di kediaman keluarga Vicenzo.
Nah! Kita kan sama. Orang tuanya tidak jelas siapa. Nanti kamu hati-hati saja dengannya." Jelasnya
Raka menghela nafasnya, kemudian menyandarkan punggungnya ke sofa yang didudukinya.
"Ah! Lebih baik, aku berdiam diri di kamar saja." Ucapnya sambil memejamkan matanya.
"Ka-kalau di panggil kakek? Saat itu aku juga merasa enggan tapi, kakek memanggilku." Ucapnya khawatir.
"Sudahlah! Pikirkan nanti saja. Sekarang, kita tidur. Hari ini, tenagaku terkuras lebih banyak. Kau mau tidur disini atau kembali ke kamarmu?" Raka berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan menyikat giginya, bersiap-siap untuk tidur.
"Aku akan kembali ke kamarku. Sampai jumpa besok." Kata Raphael sambil membuka pintu dan menutupnya kembali.
Raka tersenyum menyeringai sambil bercermin. Ia seperti orang yang merencanakan sesuatu.
"Begitu yaaa. Silahkan lakukan yang kalian mau. Orang-orang yang tidak berguna, siap-siap saja dengan pembalasanku."
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sebulan kemudian.....
"Iya, maaf. Aku kan hanya merapikan sedikit dapurku." Ucapnya sambil cemberut.
"Memangnya tidak bisa kau suruh pelayanmu itu? Biasakan disiplin, Raka. Kau harus tau priority list! Hal terpenting yang harus dikerjakan dan diselesaikan apa. Nanti terbiasa sampai dewasa kalau tidak terlatih dari kecil." Jelasnya
"Iya, Kakek. Aku mengerti." Raka memejamkan matanya. Sudah tidak tahan melihat ekspresi kakeknya.
"Yasudah. Sekarang, kau ketik dua lembar ini. Dan ingat!"
"Iya..... Tidak boleh ada angka atau huruf yang salah. Oke, sekarang aku mau mulai. Minggir" ketusnya.
Plak!
"Tidak sopan, kau bocah." George memukul lengannya dengan penggaris. Cara bicaranya Raka yang ketus memang sulit dirubah.
"Duh, iya maaf. Tidak sengaja." Ucapnya enteng.
George berdiri meninggalkan Raka yang fokus mengetik sepuluh jari dengan lancar. George sering menyuruhnya mengetik surat dan dokumen lainnya.
Ia juga yang mengajarkan Raka software yang ada di komputer. Karena otaknya cerdas, maka itu ia mudah mengingat semuanya.
2 jam berlalu....
"Hah! Selesai. Dasar pria tua. Katanya, dua lembar. Eeehh dikasih lagi 4 lembar. Jari-jariku pegal semua deh. Padahal.... Aku sudah janji sama Kakak mau membuat ayam bakar." Gerutunya.
"Ya, bocah nakal! Gerutu saja terus. Hey, Nich. Suapi tuanmu yang cerewet itu dengan segenggam bunga." Kata George yang muncul tiba-tiba dari belakangnya.
Ia mengecek hasil kerja cucunya kemudian berjalan menuju laci meja kerjanya dan mengambil sesuatu. Sebuah kotak warna abu-abu diikat dengan pita bewarna Putih. Lalu menyodorkan ke cucunya.
"Ambillah. Sudah lama aku menyimpannya." Raka memperhatikan kotak itu lalu mengambilnya. Terlihat seperti masih bagus. "Kapan kakek membelinya" batinnya bertanya.
"Uummm... Terimakasih. Kalau begitu, aku undur diri. Ayo, Nich" Setelah mereka tak terlihat lagi, George duduk di sofa dan mengangkat kepalanya. Sambil melihat langit-langit ruangan itu, ia bergumam.
"Terimakasih sudah datang ke mimpiku, ayah. Ayah benar, dia yang akan menyelamatkan keluarga ini. Tapi, aku tidak akan memaksanya apapun. Ia berhak atas masa depannya."
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Kak, maaf ya. Sepertinya harus batal membuat ayam bakar. Kita buat Sandwich saja, ya" Raphael yang sedang membersihkan vas bunganya mengangguk pelan.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Lagi pula, kan sudah janji sama kakek. Nanti saja kalau jadwalnya tidak padat. Mau buat Sandwich? Ayo. Aku cuci tangan dulu yaa" sahutnya santai.
Hubungan Raka dan Raphael makin dekat. Mereka sudah seperti kakak adik. Apalagi dengan tubuh Raphael yang lebih tinggi, makin terlihat seperti saudara kandung. Bahkan, Raka yang awalnya suka sendiri, sekarang mau berbagi kamar.
Ia dan Nicholas mencari ruangan kosong di mansion itu yang ukurannya besar untuk kamarnya dan Raphael. Ia ingin sekamar dengan kakaknya. Ia mendesain sendiri kamar tersebut kemudian memberikan pada kakeknya.
George langsung memanggil para pelayan untuk membeli barang-barang sesuai kebutuhan cucunya. .
Raka kemudian mengatur tata letaknya dan dalam waktu 10 hari, kamar untuk dua orang itu jadi.
Raphael sangat senang melihatnya dan yang membuatnya lebih senang, saat Raka sudah menganggapnya sebagai kakaknya sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Hm?! Rotinya kenapa tidak ada ya?? Padahal, aku ingat masih ada beberapa lembar, lhoo." Kata Raka heran saat sedang mencari roti yang disimpannya. Memang, kemarin lusa, ia di beri roti oleh chef yang bekerja di mansion itu. Lalu, ia simpan di dapur pribadi miliknya.
"Iya ya. Padahal, kemarin saat kita mengambil toples cookies, rotinya masih ada disini. Masih banyak."
Suasana hening, mereka sibuk mencari ke seluruh lemari. Tetap tidak ketemu. Saat Raphael membuka kulkas, ia berteriak ketakutan dan langsung berlari menghampiri Raka yang masih mencari rotinya.
"Kakak kenapa? Ada apa?" Tanya Raka panik.
"Ku-kulkasnya! Buka! Kamu harus melihatnya. Hah.. hah......"
Raka pun berdiri menghampiri kulkas yang belum tertutup rapat itu dan...
"Aaaahhh! SIAPA YANG MENARUH LABA-LABA DISINI?!"
Tiga laba-laba yang berukuran besar, berkeliaran di kulkasnya. Tidak hanya itu, ada bau yang tidak sedap menyeruak menusuk hidung.
Tidak peduli lagi soal rotinya yang hilang, ia langsung menarik keluar kakaknya, lalu berlari ke kamar.
"Ya ampun.... Siapa yang dengan jahatnya melakukan hal itu?! Tidak mungkin laba-laba itu masuk dengan sendirinya. Pasti ada yang memasukkannya." Ucap Raphael sambil mengatur nafasnya.
Raka, ia tidak berkata apa-apa. Ia diam dengan ekspresi wajah yang mengerikan. Raphael tidak tau, ia sedang mengganti pakaiannya di kamar mandi.
Raka keluar dari kamar, untuk mencari pelayannya. Beruntung, mereka bertemu tengah jalan.
"Hai, tuan muda. Mencari saya?? Lihat. Bunga-bunga sedang bermekaran. Kata Roger, bunga-bunganya boleh di petik. Cantik kan?" Rupanya ia dari taman bunga dan sedang berjalan menuju kamar tuannya untuk memberikan bunga-bunga yang barusan ia petik.
Raka mengajaknya langsung ke kamar. Nicholas heran dengan sikap tuannya.
"Letakkan saja disitu. Biar kakakku yang mengurusnya. Kau harus ikut aku. SE KA RANG." Ucapnya tergesa-gesa. Nicholas hanya diam, sebenarnya ingin bertanya apa yang sedang terjadi.
Saat sudah sampai di dapur, Raka menyuruhnya untuk membuka kulkas. Nicholas heran, tapi ia tetap melakukannya. Saat membuka kulkas, bau menyengat itu keluar. Ia langsung menutup hidung dengan sapu tangan miliknya. Beberapa detik kemudian, keluarlah salah satu laba-laba yang ukurannya paling besar. .
Nicholas terkejut. Sama seperti Raphael, ia berteriak. Ia pun berlari keluar mencari kakaknya, Zack.
Zack yang saat ini sedang membersihkan kamar George, terusik dengan ketukan pintu yang beruntun.
"Mengganggu saja! Bisa yang --"
"Ku mohon, Zack. Kau harus lihat ini. Tinggalkan dulu. Aku jamin, Tuan George tidak akan marah. Beliau akan marah jika kita mengabaikan ini. Ayo, ikut aku!" Kata Nicholas panik sambil menarik-narik lengannya.
Zack melihat wajahnya, menandakan hal buruk sedang terjadi. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengikuti adiknya. Sampailah mereka di dapur. Zack benar-benar terkejut dengan apa yang ia lihat. Dua laba-laba berkeliaran di dapur dan satunya mati di dalam kulkas.
"Si-siapa pelakunya?? Ya ampun baunya! Membuatku mual. Dimana tuanmu?"
"Ah iya! Padahal tadi tuan muda di sini." Ucap Nicholas sambil mencarinya.
"Bodoh! Kenapa kau meninggalkannya??! Seharusnya, kau bawa dia ke tempat yang aman dulu. Setelah itu, lapor padaku." Ucapnya kesal.
Tiba-tiba, seorang pelayan datang dengan ngos-ngosan mengatakan bahwa Raka sedang di pukul oleh seorang maid.
"APA?!"
__ADS_1