
"Tuan Edward, Anda baru pulang?. Dari tadi, Nyonya Grace menunggu anda disini untuk menikmati hidangan makan malam bersama." Kata seorang pelayan laki-laki yang sedang membawa keranjang.
"Ohhh... Kalau begitu, istriku sekarang dimana?" Tanya Edward sambil memijat pelipisnya. Ia terlihat sangat pusing dan kelelahan.
"Maaf, saya kurang tau. Permisi" kata pelayan itu.
Grace yang habis dari taman, melihat dari kejauhan, seseorang yang sedang duduk bersandar di sofa ruang tamu.
"Sayang." Panggilnya. Edward menoleh kebelakang saat mendengar suara istrinya. Ia berjalan cepat menuju sang istri lalu memeluknya erat. Grace tau, suaminya sedang dalam masalah jadi, ia tidak bertanya apa-apa.
"Kepalaku pusing. Aku belum makan sejak siang tadi." Ucapnya berbisik.
"Maaf ya, aku lupa membuatkan mu bekal..." Sahutnya.
"Tidak apa-apa. Ayo temani aku makan setelah itu, kamu tidurlah duluan. Oh ya aku ingin makan di kamar saja." Grace mengangguk. Ia memang sudah mengantuk tapi, tidak tega kalau meninggalkan suaminya makan malam sendirian.
Ruang kerja
George memeriksa keuangan perusahaannya, F&G Group hasil jerih payahnya bersama mendiang istrinya dulu. Ia tampak senang karena semuanya berjalan lancar jaya.
Mother's taste, Perusahaanya di bidang kuliner makin meluas. Tidak ada yang bosan dengan menu-menu restoran yang Felicia, mendiang istrinya sajikan. Menu-menu di restoran itu adalah makanan-Makanan favorit mendiang istrinya. Dari negara Asia dan Eropa.
Mereka memang suka keliling dunia untuk merasakan makanan-makanan khas negara tersebut. Saat sedang berkeliling di negara Spanyol, tercetuslah ide dari Felicia untuk membangun sebuah restoran dengan menu-menunya yaitu makanan-makanan favoritnya dari negara-negara yang pernah ia dan George kunjungi.
Yap, perusahaannya bidang kuliner bukan miliknya. Ia hanya memiliki satu perusahaan saja di bidang textile.
Namanya Ashley Style. Memakai nama mendiang ibunya karena sejak kecil, ibunya lah yang mengatur gaya pakaiannya bahkan sampai ia dewasa dan George suka.
Tak jarang, wajahnya tampak sedih karena pekerjaannya selalu berkaitan dengan orang-orang yang sangat ia cintai. Semenjak kematian istrinya, ia mendesak anaknya yang kedua untuk mengelola F&G Group. Tapi, anaknya menolak karena ia tidak tertarik terjun ke dunia bisnis. Ia lebih menyukai dunia kesehatan dan kedokteran.
"Haah! Kenapa anak-anakku tidak ada yang mau mengurusnya ya? Sebenarnya aku sudah lelah bekerja. Aku hanya ingin bersantai, menikmati masa tuaku." Kata George sambil menatap layar komputernya.
Zack hanya tersenyum tipis mendengar keluhannya. Bukan hanya sekali Tuannya mengatakan ingin berhenti kerja. Sudah bertahun-tahun lamanya George mengatakannya tapi, kenyataannya ia tidak bisa melepaskannya. Banyak alasannya salah satunya adalah tidak mau mengecewakan mendiang istri kesayangannya.
"Silahkan dicoba." Zack menyodorkan sepotong kue tiramisu buatan Raka dan segelas susu hangat ke hadapan Tuannya. George melihat sepotong kue yang cantik itu dan langsung memakannya. Matanya terpejam meresapi kelezatan kue itu. Manisnya pas dan lembut.
Batinnya yang dulu terluka berangsur-angsur pulih setelah bertemu dengan cucu barunya. Apalagi saat mendengar menantunya sedang mengandung, kebahagiaannya bertambah.
__ADS_1
"Masih ada lagi kah?" Tanya George. Tanpa ia sadari, kuenya sudah habis. Susunya juga sudah habis ia minum. "Sepertinya, Tuan George kelaparan." batin Zack.
"Waktunya tidur, Tuan." Sahut Zack. George berdecak kesal. Kemudian ia membersihkan mulutnya lalu merapikan kertas yang sudah ia periksa tadi. Tidak lupa, mematikan komputernya sebelum beranjak dari meja kerjanya.
Baru saja Zack membukakan pintu, ia melihat Edward yang ingin mengatakan sesuatu. Matanya tertuju pada George. George mengerti, keponakannya sedang tertimpa masalah dan butuh bantuannya.
"Tuan Edward, sekarang sudah waktunya untuk Tuan George tidur.". Edward mengangguk pelan.
"Aku harap, besok pagi Paman ada waktu untuk kita berbincang. Ini masalah yang penting dan harus segera diatasi." Kata Edward sambil tersenyum tipis. George menatap punggung Edward yang semakin menjauh. Hati dan pikirannya menjadi tidak tenang. Firasatnya, masalah yang dimaksud adalah tentang perusahaan NathaLey.
"Apakah Jonathan memberitahu mu sesuatu?" Tanya George saat sudah sampai di kamarnya. Zack menggeleng.
"Saya belum mengecek email, Tuan." Jawabnya sambil mengambilkan piyama.
"Keluarlah. Tugasmu selesai." Kata George. Zack pun undur diri. Dia keluar dari kamar Tuannya lalu berjalan menuruni tangga dengan pandangan yang tajam. Matanya melirik kanan kiri,merasa ada yang janggal sewaktu baru keluar dari kamar Tuannya.
"Wah! Ada yang tidak beres. Mansion ini tidak aman."
Batinnya. Ia pun berjalan menuju kamar seseorang lalu masuk dan mengunci pintunya.
(Hayoo kamarnya siapa?)
Kota M
"Waaah! Baru kali ini aku mengunjungi festival makanan! Aku hanya tau dari ceritanya Raka. Benar yaa katanya inilah surga bagi pecinta makanan. Aku juga mau beli ahh! Maaf ya, Raka. Aku pakai uangmu dulu." Kata Raphael dalam hati.
Matanya berbinar-binar melihat pemandangan yang menyenangkan depan matanya. Banyak makanan yang belum pernah ia coba dari berbagai negara. Ada yang dari Perancis, Cina, Jepang, dll. Ia berjalan-jalan sendiri mengelilingi tempat itu sendirian.
Sebenarnya, ia pergi bersama Carl. Zevan, ayahnya Carl dan Casey sekaligus sepupu George sengaja menyuruh Carl yang menemani Raphael agar mereka makin akrab.
"Hei, bocah! Memangnya kau punya uang untuk membeli ini itu?" Tanya Carl sambil memperhatikan rambut indahnya. Pria itu ingin mengetahui lebih dalam mengenai siapa bocah rambut ungu ini dan kenapa tidak mau memotong pendek seperti laki-laki pada umumnya.
"Aku punya uang. Tapi, ini uang adikku. Aku meminjamnya dulu." Jawabnya sambil memperhatikan sekelilingnya. Matanya tidak bisa lepas dari jajanan-jajanan yang membuatnya lapar mendadak.
Tiba-tiba, Carl menariknya ke suatu tempat yang sepi kemudian mengeluarkan sesuatu dari kresek yang sedari tadi ia bawa. Jubah tudung bewarna coklat tua. Ia pun menyuruh Raphael untuk memakainya supaya tidak ada yang bertanya-tanya mengenai rambutnya.
"Seperti jubah milik penyihir." Gumamnya. Ia pun langsung memakainya. Tidak lupa, ia rapikan dan ikat kembali rambutnya supaya tidak kelihatan. Setelah itu, mereka kembali ke festival. Carl memperhatikan tingkah lakunya yang cukup menggemaskan tapi, gengsi untuk mengakuinya.
__ADS_1
"Wah! Aku tidak sadar sudah membeli sebanyak ini. Andaikan Raka bersamaku, pasti akan lebih menyenangkan lagi." Batinnya. Kepalanya menoleh ke segala arah sampai ia memutar badannya, mencari keberadaan Carl.
Jantungnya berdegup kencang, ia terpisah dari pria itu.
"Carl! Dia kemana ya??"
Akhirnya, ia bertanya kepada orang sekitar itu namun, jawaban yang didapat sama semua. Tidak melihat kemana perginya pria yang bernama Carl itu.
Raphael memutuskan untuk meninggalkan festival itu dan segera pulang tapi, di tengah jalan ia tersesat. Badannya bergetar, keringat dingin mengucur deras. Ia tak tau dirinya berada di mana sekarang.
"Raka.... Tolong aku!"
Raphael berbalik arah tapi ia malah makin tersesat. Pohon-pohon yang lebat dan terdengar suara merdu burung hantu di mana-mana.
"Padahal, aku baru saja keluar dari festival. Tak mungkin berakhir secepat itu. Aku dimana?! Pasti ada yang salah!"
Panik, khawatir, takut semua campur aduk. Ia benar-benar sendirian di tempat yang gelap.
Tiba-tiba ada yang membekap mulutnya dari belakang lalu menyeretnya masuk ke dalam semak-semak dan....
Bugh!
"Ah! Bocah s**lan! Berani-beraninya kau memukulku!" Kata orang itu.
"Aku harus kabur dari sini!" Melihat Raphael yang hendak kabur, orang itu langsung kakinya dan akhirnya bocah itu terjatuh. Lalu ia menarik kakinya dan
Buak!
Raphael memukul orang itu dengan tongkat kayu yang berada di genggamannya. Tiba-tiba, tercium bau amis darah dari hadapannya. Badannya bergetar ketakutan. Ia takut orang yang ia pukul barusan, meninggal.
"Bocah! Kau dimana?!"
Teriak seseorang memanggilnya. Itu suara Carl, hatinya merasa agak tenang. Ia pun membuang sembarangan tongkat itu lalu berjalan mengikuti suara tersebut.
"Kau! Kenapa bisa sampai disini?!" Bentak Carl.
"Jangan memarahinya! Raphael, kemarilah. Ayo kita pulang. Pasti kau merasa kelelahan." Zevan mengelus punggung Raphael yang bergetar. Matanya memindai sekelilingnya. Lalu menutup hidungnya dengan sarung tangan.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang terjadi."