
"HM! Lezat sekali. Tidak terlalu manis. Waaaahh... Sudah lama aku tidak memakan kue."
.
George memang sudah lama tidak makan makanan yang manis karena merasa tubuhnya makin lemah jadi, ia mengurangi gula dan gluten.
"Syukurlah kakek suka. Aku dan Nicholas yang membuatnya" kata Raka tersenyum lega.
"Wah! Sepertinya ia sudah banyak berubah ya. Keputusanmu untuk menerimanya menjadi pelayan pribadi adalah keputusan yang tepat."
"Jadi, sebenarnya Kakek keberatan kalau dia menjadi pelayan ku?" Tebaknya. George menjawabnya dengan mengangguk.
"Kau tau kan sifatnya seperti apa? Kakaknya saja sampai geleng-geleng menghadapi tingkahnya."
Raka terdiam sejenak kemudian menghabiskan kuenya.
"Yaaa memang. Aku juga lelah melihat mulutnya yang terus mengoceh, badannya yang bergerak sana-sini. Seakan tenaganya tak pernah habis. Tapi.... Tingkah menyebabkannya itu yang cukup menghibur ku."
George senang mendengarnya berbicara panjang lebar.
Biasanya bocah muka datar itu hanya mengatakan "Hem" atau dengan isyarat anggukan dan gelengan kepala.
"Dialah orang yang membuat ku tau, berteman itu seperti apa. Tidak buruk juga."
"Baguslah kalau tidak ada masalah." Kata George sambil menatap tehnya.
"Baiklah! Waktunya bekerja lagi. Terimakasih sudah menemani ku."
George berdiri dari sofa dan kembali ke kursinya untuk menyelesaikan kertas yang menumpuk di atas meja kerjanya.
Setelah itu, Raka pamit keluar dan berjalan ke dapurnya untuk meletakkan piring-piring kotor tersebut.
Sesampainya di dapur, ia melihat ada bubuk yang tumpah diatas meja. Ternyata, itu adalah bubuk coklat. Langsung saja ia keluar dari dapur dan berlari ke arah taman.
~~~``````~`````````~~~
"Nenek..... Kapan ya aku bisa hidup tenang seperti dulu. Yaa walaupun ada si br*ngs*k tukang gedor pintu. Tapi.... Itu lebih baik daripada hidupku yang sekarang. Kakek memang tidak mengekang ku. Ia membebaskan ku dan memberikan apa yang ku mau. Para pelayan itu yang membuatku tak nyaman. Rasanya ingin mengeluarkan mereka tapi, aku tidak bisa . Bukan aku pemilik mansion ini. Tidak boleh egois." Lalu, ia terdiam sejenak.
"Nenek sedang apa ya? Kenapa tidak mengajakku sih?!Haaahhhh rasanya lelah sekali menghadapi 'pasukan serangga' yang sangat mengganggu. Apa aku diam-diam keluar saja ya? Tapi nanti tinggal dimana?"
Air matanya tiba-tiba mengalir deras. Ia berbaring diatas rumput yang hijau, memandang langit yang cerah dengan perasaan yang mendung.
"Apa karena aku tidak punya orang tua yaaa makanya mereka meremehkan ku. Tapi, yang salah kan.. Hiks! Orang dewasa. Aku yang tak tau apa-apa, to boleh di salahkan. Hiks!!"
Meskipun pikirannya beda dengan bocah pada umumnya, ia tetaplah seorang anak kecil yang hatinya lembut. Seorang anak kecil yang butuh pelukan hangat dan perhatian dari orang dewasa.
Nicholas melihat semuanya sejak tadi dengan tatapan sendu. Ia bisa merasakan kesedihan tuannya. Dia bahkan tau kalau banyak pelayan yang tidak menghormatinya.
Padahal, Raka adalah cucunya majikan mereka.
Nicholas pernah berniat untuk mengadukan perbuatan buruk mereka kepada Tuan George tapi, Raka melarangnya karena ia tidak mau menimbulkan masalah di kediaman itu.
Pelayan muda itu memutuskan untuk menghampiri bocah pintar yang sedang asik berbaring itu. Saat sudah berada di sampingnya, ia melihatnya tertidur tapi, ada airmata yang mengalir disudut matanya.
Langsung saja ia mengeluarkan sapu tangannya dan mengusap perlahan.
"Selamat beristirahat, tuan muda. Ah! Melihatnya tertidur begitu pulas, aku jadi ikut mengantuk." Akhirnya ia ikut tidur di samping bocah itu.
Di ruang kerja George
Zack memberitahu tuannya mengenai perilaku buruk para pelayan kepada cucunya.
"Ooohh! Jadi sudah mulai berani melawan ku, ya? Tapi, Kenapa bocah itu tidak mengadukan kepada ku?" Tanyanya sambil menatap Zack
"Nicholas mengatakan bahwa tuan muda tidak ingin menimbulkan masalah."
Brak!!
__ADS_1
"Hah?! Ya ampun. Aku tidak mengerti cara berpikirnya. Oh! Atau mungkin saja dia sedang merencanakan sesuatu."
Meskipun sudah 2 bulan Raka tinggal disitu, George masih sulit memahami cucunya yang sangat berbeda. .
"Kita ikuti keinginannya. Tapi, katakan pada Nicholas untuk selalu menjaganya dan jangan biarkan dia sendirian. Oh ya! Aku ingin informasi lengkap tentang pelayan itu." Kata George sambil memijat pelipisnya.
"Baik, tuan. Kalau begitu... Sekarang saya harus ke taman untuk membangunkan orang-orang yang asik di dunia mimpinya." Kata Zack yang izin keluar.
"Ada yang tidur di taman? Jangan-jangan mereka berdua sengaja tidur disitu lagi"
"Mau sampai kapan kalian tidur di sini?" Ucap Zack dengan suaranya yang meninggi. Sudah 10 menit ia duduk di taman menunggu mereka yang tak kunjung bangun.
"Jangan-jangan mimpinya sangat menyenangkan makanya tidak mau bangun." Ucapnya lirih.
Tiba-tiba Raka membuka matanya. Ia menggeliat sedikit kemudian duduk sambil melihat bunga-bunga di depannya.
"Sudah siang ya?" Tanyanya tanpa melepas pandangannya.
"Iya, tuan muda. Pakaian dan makanan sudah saya siapkan di kamar anda."
Mendengar itu, Raka menoleh sebentar kemudian mengangguk. Ia berjalan dengan gontai menuju kamar sendirian. Sekarang waktunya membangunkan adiknya yang masih terlelap.
"Haaaaa... Sepertinya ini akan terasa lebih sulit" gumamnya.
∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆
Klek!
"Ah! Sampai juga di kamar. Kenapa rasanya jauuuhh sekali. Atau aku yang terlalu malas ya? Sudahlah! Lebih baik aku mandi saja."
Ia melihat pakaiannya telah tersedia di atas ranjangnya. Lalu, ada 2 potong roti dan segelas susu hangat. Ia tersenyum lebar kemudian berjalan cepat ke kamar mandi. Tak lama, ia keluar dengan muka yang lebih cerah. .
"Terimakasih, Zack. Sekarang waktunya makan. Yummy!"
Ia memakan rotinya sambil tersenyum dan memejamkan matanya. Roti memang bisa membuat dia kesenangan. Itu adalah salah satu makanan favoritnya. Apalagi kalau di campur susu.
"Waah enak! Tapi....... Perutku masih belum kenyang."
Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru arah kemudian matanya tertuju ke lemari kecil samping ranjangnya. Seketika ia teringat kata-kata pelayannya.
"Kalau tuan muda tiba-tiba lapar dan malas keluar kamar, buka saja lemari ini. Sudah saya siapkan semuanya."
Langsung saja ia buka lemari itu dan JRENG!!!
"Wooow! Banyak makanan! Ini kan kesukaan ku. Akhirnya aku bisa makan lagi sampai kenyang! Terimakasih Nicholas."
Ia langsung mengambil dua toples isi biskuit coklat dan selai stroberi kemudian meletakkannya diatas meja, setelah itu, mengambil buku dan duduk di sofa singlenya yang empuk.
Ia makan sambil membaca buku. Kakinya ia letakkan di atas meja. Benar-benar terlihat seperti bos yang bersantai.
"Ini yang ku butuhkan. Ketenangan. Pintu sudah di kunci jadi, tidak akan ada yang bisa masuk."
2 jam berlalu.....
Perut bocah itu berbunyi tanda ia harus tutup buku dan pergi mencari makanan LAGI. Dengan malas, ia turun dari sofa empuknya menuju dapur. Namun,, di tengah jalan ia berhenti dan berbalik ke arah kebun.
Sayang sekali, ia harus batal ke kebun karena Nicholas memberitahunya kalau Tuan George memanggilnya.
Dengan kesal sambil terus komat-kamit, ia berjalan ke ruang makan di temani oleh pelayan pribadinya.
"Jangan ikuti aku terus. Aku sedang ingin sendirian." Katanya dengan muka cemberut sambil membuka pintu ruangan itu.
Nicholas hanya terkekeh dan menutup pintunya kembali.
"Sepertinya ada yang sedang marah. Apa yang membuatmu kesal?" Tanya George saat melihat cucunya makan.
"Maaf, tuan. Belum bisa cerita sekarang." Jawabnya sambil cemberut.
__ADS_1
"Hahahaha. Baiklah. Lucunya anak ini "
Raka mendelik tajam ke arahnya. George diam saja dan mulai memakan hidangannya.
"Mau ke kebun bersama ku?" Tanyanya saat selesai makan. Raka mengangguk cepat. Kemudian, ia turun dari kursinya dan keluar dari ruang makan, disusul oleh kakeknya.
"Ajak pelayanmu." Kata George.
Raka menggeleng cepat kemudian ia berlari sambil membawa keranjang buah di tangan kanannya.
"Sejak kapan keranjang itu ada di tangannya?" Gumamnya.
Saat sudah sampai di kebun, Raka langsung mengambil buah strawberry, apel, alpukat dan lainnya.
"Bagaimana cara supaya kau tersenyum begini setiap hari?" Tanya George sambil memperhatikan mukanya.
"Caranya adalah dengan membebaskan ku melakukan apa yang ku mau." Jawabnya sambil mengangkat keranjang yang penuh dengan buah-buahan.
"Oh! Tentunya aku juga akan melakukannya sesuai dengan aturan. Jadi, aku tidak akan merugikan orang lain." Lanjutnya.
George mengangguk pelan sambil membantunya membawa keranjang itu.
Saat sudah sampai di dapur pribadi Raka, George duduk dan menghela nafasnya berat.
"Ya ampun! Aku merasa seperti habis berolahraga." Katanya sambil mengelap keringatnya.
"Silahkan dinikmati kopi dingin buatan ku." Raka membawa nampan berisi segelas kopi dingin dan ada sedikit cemilan ia letakkan di piring.
"Waah terlihat segar. Terimakasih ya." George langsung meminumnya segelas. Ia benar-benar kehausan.
"Seharusnya, kakek tak perlu ikut. Aku terbiasa sendiri." Katanya sambil membersihkan buah-buahan yang di petiknya tadi.
"Tidak apa-apa. Kau mau buat apa dari Buah-buah itu?"
Raka yang sedang mengupas apel tiba-tiba berhenti dan berpikir sebentar.
"Salad. Tapi, buah alpukat untuk campuran minuman coklat. Nah, kalau stroberi, aku akan mengolahnya menjadi selai." Jawabnya sambil tersenyum.
"Hhhmm. sebenarnya aku ingin menanyakan hal ini dari dulu. Nenekmu tau tidak 'karakter aslimu '?"
Mendengar itu, Raka hanya tersenyum kecil sambil memotong-motong buahnya. Setelahnya, ia memasukkan ke dalam kulkas. Lalu, ia duduk sambil meminum segelas air dingin.
"Sudah, tapi tidak semuanya. Terlebih nenek sering keluar untuk bekerja. Banyak yang ku sembunyikan dari beliau. Bukan apa-apa sih. Tapi kalau nenek tau, bisa khawatir sampai tidak tidur." Jelasnya.
George diam sambil memperhatikan ekspresinya yang mulai berubah.
"Pernah saat Alan pulang untuk meminta uang pada nenek, aku melemparkannya sebuah kursi kecil. Aku sudah tidak tahan dengan sikap buruknya yang selalu semena-mena. Ia tidak pernah menghargai perjuangan ibunya dan kasih sayang yang ibunya curahkan padanya. Yaaa maka itu ia pantas M*T*!
Nenek selalu minta maaf padaku saat Alan menyakiti ku. Padahal nenek tidak salah sama sekali! Saat itulah aku mengeluarkan semua amarah yang terpendam selama ini. Aku berteriak, bahkan membentaknya juga. Aku bisa merasakan keterkejutan dari beliau. Nenek tidak mengatakan apapun tentang itu. Hanya menangis."
George menghela nafasnya berat. Ia tidak mau bertanya lagi. Pikirannya melayang ke masa mudanya. Sebelumkehilangan orangtuanya.
"AKU BERSUMPAH!! SUATU SAAT, GENERASI KU AKAN MENGHANCURKAN KALIAN SEBAGAIMANA KALIAN MENGHANCURKAN KAMI! AKU AKAN TERUS MENGINGATKAN KEJADIAN INI PADA PENERUS-PENERUS KU! AKU SELALU BERDOA KEPADA TUHAN UNTUK MENURUNKAN SATU ORANG SEPERTI KU UNTUK MENGHANCURKAN KALIAN BESERTA FITNAH-FITNAH YANG KALIAN BUAT. INGAT ITU! SERAPAT-RAPATNYA KALIAN MENYEMBUNYIKAN BANGK**, SUATU HARI NANTI AKAN TERCIUM JUGA. INGAT ITU.!"
"Bersenang-senanglah ayah. Orang itu sekarang ada di depan mataku." Katanya dalam hati sambil menatap sendu cucunya.
"Kakek terlihat pucat. Ayo! Ku antar ke kamar." Kata Raka sambil mencuci tangannya.
George menggeleng dan minta tolong padanya untuk memanggil Zack. Tak lama, Zack datang dengan membawa kursi roda. Setelah itu, George berdiri lalu duduk di kursi roda itu dan keluar dari dapur dengan muka yang sedikit murung..
"Hhhmmm, Zack. Apa --"
"Tuan George hanya kurang istirahat. Anda juga istirahat ya, tuan muda." Kata Zack dengan sedikit terburu-buru.
"Apa ada perkataan ku yang menyinggung kakek?" Batinnya..
Tiba-tiba Nicholas datang dan langsung membersihkan dapur itu. Kini, mereka berjalan dengan saling diam, fokus pada pikirannya masing-masing.
Saat sudah di dalam kamar, Nicholas bersuara.
"Are you in bad mood, Young Master?" Tanyanya.
Raka menggeleng pelan dan berjalan menuju lemarinya untuk mengganti pakaiannya.
Setelah sudah bersih, ia memakan buah yang tadi ia potong sambil memejamkan matanya. Bocah pintar itu tampak berpikir keras.
"Kenapa yaaa kakek selalu menatap ku dengan tatapan yang sulit diartikan. Tapi tadi ku lihat tatapannya terlihat sedih. Kau pasti tau sesuatu, Nich."
__ADS_1
Nicholas tersenyum kemudian duduk di dekat tuannya.
"Suatu hari nanti, anda akan tau jawabannya. Tapi, yakinlah. Tuan George, Kakek anda sangat menyayangi anda dengan tulus. Jangan tinggalkan beliau ya, meskipun suatu saat nanti anda merasa kesal padanya. Beliau sudah kehilangan banyak hal termasuk keluarga." Katanya