Warm Home

Warm Home
Season 3 Chapter 9


__ADS_3

Pagi hari di mansion George.


"Hei, Anne. Kau tahu tidak kalau Tuan Richard dan keluarganya akan menginap selama beberapa hari?" Anne yang sedang menjemur pakaian, tangannya berhenti dan menoleh ke arah maid yang mengajaknya bicara ini.


"Aku belum tau. Memangnya kenapa?" Tanyanya sambil melanjutkan pekerjaannya.


"Duuh! Itu yang bahaya. Kau tahu? Istrinya Tuan Richard sangatlah 'berbisa' . Jangan sampai membuatnya kesal, bisa bahaya! Kelakuannya itu, lhoo. Dia pintar berkata-kata 'manis'. Hah! Menurutku, lebih baik dimarahi Tuan perfeksionis daripada wanita itu. Pokoknya, kau harus berhati-hati." ceritanya panjang lebar dengan nada yang serius.


Anne hanya mengangguk.


"Lagipula, aku akan selamat darinya karena Tuan muda menyuruhku untuk menjadi pelayan pribadinya selama beberapa hari." Batinnya sambil tersenyum tipis.


Sedangkan di ruangan lain,


Semua anggota keluarga Vicenzo menikmati sarapannya di meja makan dengan suasana yang menegangkan. Tidak ada ekspresi bahagia yang terpancar dari wajah mereka. Tidak ada sapaan atau senyuman yang menghiasi ruang makan.


Richard, anak ke-dua George yang saat itu datang tiba-tiba, membuat para pelayan panik. Apalagi, ia juga membawa istri dan anak pertamanya, Neil yang suka mengganggu para pelayan yang bekerja.


George sudah tau keributan antara Raka dan Neil. Tapi responnya hanyalah senyuman tipis yang mengandung sebuah arti. Hanya Zack yang tau. George percaya kalau Raka bisa mengatasinya sendiri.


Di sisi lain.... Raka menikmati sarapan paginya dengan hati yang damai di dalam kamarnya bersama seorang maid bernama Anne, ia menyukainya karena Anne tidak banyak bicara dan cekatan. Nicholas ia tugaskan untuk menjadi pelayan sementara si bocah menyebalkan itu, Neil. (Kasihan)


"Anne, tutup jendelanya." Maid itu langsung berdiri dan mengerjakan yang diperintahkan. Setelah itu, ia kembali duduk di sampingnya.


"Apakah kau pernah bekerja di tempat Tuan Terhormat?"


"Belum pernah. Sebenarnya, Saya juga belum pernah bertemu dengan beliau. Hanya bertemu dengan orang kepercayaannya saja. Beliau adalah orang yang sangat sibuk. Jadi, untuk bertemu dengannya sangat sulit. Apalagi kalau tidak ada kepentingan."


Raka mengangguk pelan sambil menikmati rotinya.


"Aku sangat penasaran." Ucapnya


"Yang saya tau, beliau bukanlah orang Amerika. Identitasnya sangat sulit di temukan. Suatu hari nanti, jika ditakdirkan untuk bertemu, pasti akan bertemu. Dan saya harap, kalian bertemu di waktu dan tempat yang tepat." Ucap Anne dengan tersenyum.

__ADS_1


Sarapannya telah selesai. "Aku merasa, ada beberapa pelayan yang bekerja di sini adalah kiriman dari seseorang. Jangan-jangan, bukan hanya kau yang dikirim oleh Tuan Terhormat."


Anne yang hendak berdiri, seketika terdiam.


"Sepertinya anda sudah tau banyak. Kalau begitu, saya tidak perlu memberitahu apa-apa."


"Tidak juga. Oh ya! Anak manja itu bagaimana kabarnya?" Raka penasaran dengan bocah yang ia buat babak belur. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun. Menurutnya, itulah pelajaran yang pantas untuk orang yang telah merendahkannya. Jika neneknya masih hidup, pasti akan melarangnya.


"Kata seorang pelayan yang membersihkan kamarnya, ia masih mengeluhkan perutnya yang sakit. Lukanya juga sudah di obati oleh ibunya."


Raka tersenyum menyeringai.


"Buah yang jatuh, tidak jauh dari pohonnya. Haha! Ibunya juga sama saja laah. Pantas ya, anaknya berani berbuat seenaknya. Oh ya! Kakek pasti tau kejadian itu. Responnya apa ya??" Pandangannya menatap langit-langit kamar membayangkan apa yang akan George lakukan kepadanya. Memberinya hukuman atau...??


********************************


"Ayah.... Kalau merasa kesepian, kenapa tidak mengajak salah satu cucu ayah untuk menginap?"


"Hm? Raphael dan Raka juga cucu ayah. Aneh sekali pertanyaan mu." Jawabnya santai yang membuat Richard geram.


"Mereka hanya beban. Apalagi si rambut merah itu. Dia sangat berbahaya! Lihat saja Neil. Di buat babak belur olehnya. Masih kecil saja sudah kasar begitu. Bagaimana --"


"Dia tau apa yang dia lakukan. Dia tidak akan memukul Neil jika ia tidak membuatnya marah. Selama ini, dia baik-baik saja. Nicholas, pelayan pribadinya sangat akrab dengannya. Haa! Sudahlah! Jika kau datang kesini untuk membahas tentang Raka dan Raphael, lebih baik pulang saja."


Kemudian George berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju rak buku mengambil sebuah kotak bewarna hitam yang diikat dengan pita putih. Ia mengeluarkan sebuah bingkai foto berukuran kecil dan satunya sedang.


"Kau perhatikan dua foto ini baik-baik." Kata George memberikan dua foto. Foto pertama adalah seorang pria dewasa dan foto ke-dua adalah seorang anak kecil yang usianya sama dengan Raka.


"Ini kan, fotonya kakek." Ucapnya lirih.


Lalu George menyodorkan sebuah foto seorang bocah yang sedang memeluk seorang wanita paruh baya dengan senyuman yang sangat manis.


"Hah? Siapa anak ini? Apakah ini... Bukan! Ini bukan kakek! Tapi, kok agak mirip yaa??" Richard mengernyitkan dahinya mencari jawaban siapa bocah di foto itu.

__ADS_1


"Kena kau! Dia adalah bocah yang membuat anakmu babak belur. Dialah bocah yang kau sebut sebagai BEBAN."


Richard tercengang mendengar jawaban tersebut. Tidak mungkin! Pikirnya. Tidak mungkin bocah yang 'berbahaya' itu adalah anggota keluarga Vicenzo. Tapi, ia tidak bisa mengelak bahwa bocah itu memiliki warna rambut dan tatapan yang sama dengan mendiang kakeknya, Nathanael.


"Siapa namanya?" Tanyanya penasaran.


"Raka."


"Hah?! Kenapa namanya aneh begitu? Siapa yang memberinya?"


"Mendiang neneknya. Dulu, dia di rawat oleh neneknya namun, kejadian yang menyedihkan terjadi. Sang nenek meninggal dunia, jadi sekarang akulah yang merawatnya." Jelasnya.


Pria itu masih belum percaya terlihat jelas ia masih merasa ragu untuk mengakui bahwa bocah itu adalah keponakannya.


"Orang tuanya siapa? Sudah diselidiki?"


"Masih dalam penyelidikan. Baru diketahui siapa ibunya."


Richard berpikir sebentar, tidak mungkin ia anak dari kakaknya, Axello apalagi adiknya, Robert. Karena yang ia tau, Robert hanya memiliki seorang anak perempuan.


"Tak perlu dipikirkan, fokus saja pada kerjaan dan keluarga mu. Apalagi anakmu itu, Neil. Jangan biasakan dia merendahkan orang lain. Raka berbuat kasar seperti itu karena Neil duluan yang mengganggunya."


Ucapan George barusan membuat hatinya memanas. Dirinya tidak terima jika bocah aneh itu yang di bela.


"Ayah membela psik*p*t kecil itu?!"


"Aku tidak membela siapapun. Aku membela yang benar. Kalau Raka memang salah, aku juga akan menyalahkannya. Meskipun sifatnya kasar, tapi dia juga punya hati seperti orang-orang pada umumnya!"


Richard langsung berdiri lalu melangkah keluar meninggalkan ayahnya tanpa berkata apapun.


Seketika, Ekspresi George berubah, ia murung karena merindukan kebersamaan dengan cucunya. Cucunya yang satu itu memang spesial baginya.


"Raka.... Sudah lama sekali kita tidak berbincang-bincang sambil menikmati secangkir kopi. Aku berharap, kau tidak membenci ku.."

__ADS_1


__ADS_2