
Ruang kerja George
"Jadi, kau ingin tinggal di sini?" Tanya George pada pria di hadapannya. Pria yang menunduk itu mengangguk pelan. Dari Raut wajahnya sangat terlihat bahwa ia sedang menghadapi masalah yang rumit
"Iya. Aku minta maaf, merepotkan Paman lagi. Aku bingung harus berbuat apa. Uang ku sudah tinggal sedikit. Semua tabungan ku yang selama ini sudah banyak terkumpul, habis untuk membayar ganti rugi dan menggaji para pelayan. Itupun belum cukup. Aku harus menjual emas ku supaya bisa memberi mereka bonus karena awalnya mereka tidak ingin berhenti kerja. Tersisa dua orang pelayan yang tidak mau dipecat. Untungnya mereka mau mengerti kondisi kami.". Jelasnya panjang lebar.
Siapa lagi kalau bukan Edward, keponakan George. Awalnya, dia bekerja di suatu perusahaan besar terkenal bidang properti. Saat itu dia menjabat sebagai direktur. Ada suatu kesalahan yang tak disengaja nya yang membuat perusahaan itu rugi besar-besaran. Akhirnya, ia membayar ganti rugi dan pastinya dipecat secara tidak terhormat.
Sebenarnya, biaya ganti ruginya tidak begitu besar. Yang membuat tabungannya terkuras adalah ancaman masuk penjara. Ia tak mau hidupnya disorot oleh media maka itu, ia mengeluarkan hampir semua tabungannya agar tidak berurusan dengan kepolisian.
Grace sempat menawarkan suaminya untuk menjual rumahnya namun, ia menolak karena tidak mau menyentuh harta istrinya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menumpang di mansion George. Edward juga berencana untuk bekerja di perusahaan pamannya, agar tidak menganggur dan terus ada pemasukan. Hartanya sudah melayang, lebih dari separuhnya.
Ia juga harus menggaji dua pelayan setianya, meskipun mereka tidak pernah mengeluh soal gaji.
"Silahkan saja. Aku tidak masalah. Lagipula, Raphael pasti akan sangat senang jika tau kalian tinggal di sini." Ucap George santai. Edward bersyukur memiliki paman yang mau membantunya. Setelah berbincang-bincang cukup serius dan panjang, ia pamit keluar dan kembali ke kamarnya.
Saat sampai di kamarnya, ia melihat istrinya sedang membaca majalah.
"Sayang, aku sudah menceritakan semuanya pada paman. Beliau membolehkan kita tinggal disini."
Grace menoleh ke arah suaminya dan tersenyum lega.
"Syukurlah.... Ada yang membantu."
"Aku akan mulai bekerja tahun depan tepatnya pertengahan bulan Januari." Imbuhnya.
"Di F&G group atau NathaLey?" Tanya Grace.
"Di F&G Group." Jawabnya.
"Pelan-pelan saja. Tak usah memaksakan diri. Anggap saja sekarang kamu sedang beristirahat. Kita kan masih punya tabungan. Untuk persalinan nanti, aku sudah menyisihkannya." Ucapnya sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Aduh! Kita lupa memberitahu paman kabar gembira ini" Seru Edward. Grace hanya tersenyum menanggapinya.
"Sudahlah, besok saja kita umumkan. Sekarang, Kita harus beristirahat."
××××××××××××××××××××××××××××××××××××××
Esok harinya.....
Tok.tok!
"Permisi Tu--"
Ceklek!
"Apa? Aku sudah bangun dari tadi." Raka terlihat kesal. Nicholas heran melihat raut mukanya yang tidak bersahabat, padahal masih sangat pagi.
"I-ini ada kiriman dari dokter kebanggaan kita, Hans." Ucapnya sambil memberikan sebuah kotak berukuran sedang.
"Hans?! Sudah lama tidak mendengar kabarnya." Wajahnya berubah sumringah. Ia langsung mengambil kotak itu dengan hati yang senang. Masih melekat di memorinya siapa Hans dan saat-saat ia menetap di rumahnya.
"Isinya apa ya." Gumamnya.
"Sudah tidak marah lagi, kan? Boleh saya masuk? Tuan Raphael masih tidur?" Tanya Nicholas mencecar. Raka mendelik tajam, lalu ia mempersilahkan pelayannya masuk.
"Sambutlah hari dengan senyuman, heheh. Lihat, saya sudah menyiapkan sarapan yang lezat." Raka tidak menyahut pelayannya, ia menyimpan kotak itu di kolong ranjangnya.
Pintu kamar mandi terbuka, Raphael keluar dengan penampilan yang segar. Perutnya berbunyi saat melihat sarapan yang menggiurkan tersedia depan matanya.
"Terimakasih, Nicholas." Ucapnya tersenyum. Nicholas mengangguk. Ia menoleh kanan kiri mencari tuan mudanya. Tiba-tiba...
"RAKA" Nicholas terkejut sampai memegang dadanya. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Raphael berteriak. Selama mengenal Raphael, ia belum pernah mendengar teriakannya.
"Sabaaarr!" Sahut Raka dengan berteriak juga. Nicholas memperhatikan cara mereka berinteraksi. Ingin sekali bertanya tapi, ia pendam. "Nanti tunggu momen baiknya" batinnya.
Tak lama, Raka keluar dari kamar mandi dan melihat sarapannya sudah berjejer rapi lengkap. Ia pun langsung duduk dan menyantap makanan dengan santai.
\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#
"Silahkan dinikmati, Tuan dan Nyonya." Kata seorang pelayan yang menyambut Edward dan istrinya di ruang makan. George tersenyum gembira, akhirnya ia bisa merasakan kembali momen bahagia dengan keponakannya yang sudah ia anggap anaknya sendiri.
__ADS_1
Edward dan Grace duduk di hadapan George. Lalu mereka mulai makan. Grace, ia celingukan mencari dua anak kecilnya yang tidak hadir di situ.
"Mereka biasa makan bersama di kamar sambil memberi makan kelinci-kelincinya." Ucap George yang seakan tau isi pikirannya.
"Mereka punya kelinci?" Gumam Edward.
"Nanti kau juga lihat sendiri. Lanjutkan makannya."
Edward dan istrinya saling menatap keheranan kemudian mulai menikmati sarapannya lagi.
Selesai sarapan, mereka duduk di taman menikmati matahari pagi sambil mengobrol santai.
"Aku ada kabar baik untuk paman." Kata Edward dengan senyuman yang memperlihatkan kebahagiaannya.
George menatap mereka berdua bergantian dengan rasa penasaran.
"Saya sedang mengandung anak pertama kami. Usia kandungan sudah menginjak bulan ketiga." Kata Grace dengan wajah bahagianya.
George terdiam, ia tersenyum bahagia. Kemudian memeluk pasangan suami istri itu.
"Aku bahagia, sangat bahagia mendengarnya. Selamat ya, Edward, Grace." Ucap George dengan mata yang berkaca-kaca.
"Saya sudah tidak sabar ingin memberitahu anak-anak. Mereka pasti senang mengetahui akan punya adik." Ucap Grace sambil menggenggam tangan suaminya.
"Oh! Jadi, Raka sudah menjadi anak kalian?" Tanya George meyakinkan. Mereka mengangguk tanda mengiyakan.
"Yakin? Hahahaha!" Tanya George lagi. Senyum mereka pudar, Edward dan Grace bingung maksud dari pertanyaan tersebut.
"Tanya saja pada Raphael, dia orang yang seperti apa. Hahahaha" ucap George sambil tertawa.
Lalu ia berdiri, dan berjalan menuju air mancur di taman itu.
"Selamat menghadapi Mr Ice yang cerewet dan perfeksionis." Pria tua itu meninggalkan pasangan suami istri yang menatapnya heran. Ucapan George memang bukan sekedar ejekan. Itulah kenyataannya.
\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#
"Benarkah? Selamat ya, ayah, ibu. Impian kalian terkabul. Akhirnya aku akan punya adik lagi." Ucap Raphael kegirangan ketika tau Grace sedang mengandung.
"Raka, apakah kamu senang akan menjadi seorang kakak?" Tanya Edward yang penasaran dengan bocah yang disampingnya.
"Aku tidak tau. Tapi, menurut ku itu akan menjadi pengalaman hidup yang mengesankan." Jawabnya sambil memperhatikan kakaknya yang mengobrol dengan ibunya.
"Ohya! Aku sudah tau kalau Nyonya Grace sedang mengandung. Kelihatan kok." Celetuknya.
Seketika taman itu menjadi hening. Dari mana ia tau. Begitulah kira-kira apa yang didalam pikiran mereka. Raphael menerka-nerka dari mana adiknya bisa tau.
"Sejak kemarin, Nyonya Grace memegang dan mengelus perutnya. Saat kakak berlari menghampiri Nyonya Grace, aku melihat beliau melindungi perutnya dengan kedua tangannya. Maka itu, Nyonya Grace tidak langsung membalas pelukannya." Jelasnya.
Seketika Edward tertawa pecah, ia geleng-geleng tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar.
"Istriku, kamu dengar sendiri, kan? Mr Ice ini benar-benar berbeda dari Mr Ice satunya." Ujarnya.
Grace hanya tersenyum mendengar perkataan suaminya. Ia menatap lekat wajahnya Raka lalu bergantian menatap Wajah Raphael. Ia tampak berpikir mengenai sesuatu. "Apakah ini suatu kebetulan?" Batinnya.
Lalu, datanglah beberapa orang pelayan yang membawakan aneka macam kue yang lezat dengan beragam rasa. "Silahkan menikmati." Setelah menata kue-kue itu, mereka pergi.
"Wah! Semuanya terlihat lezat. Aku bingung harus mulai dari mana." Grace merasa lapar lagi melihat kue-kue yang cantik dihadapannya. Raphael langsung memberinya kue bolu dengan topping lelehan coklat hitam dan stroberi. Ibu hamil itu terlihat menikmatinya.
Tapi, tidak dengan suaminya. Edward tidak begitu suka kue bolu. Ia lebih menyukai kue kering.
Raka menyodorkan dua toples kaca berukuran sedang berisi kue kering dengan topping choco chips dan kismis. .
"Raka suka kue apa?" Tanyanya. Ia ingin tau lebih mengenai dirinya.
"Kue yang sedang anda nikmati." Jawabnya singkat. Aneh. Batinnya.
"Memangnya, dari dulu cara bicara mu sudah seperti ini ya?" Raka mengangguk.
"Raka, dengar ya. Mulai sekarang, kita adalah orang tuamu. Jadi, panggil kita Ayah dan ibu." Ucapnya hati-hati. Raka berpikir sebentar, ia melirik ke arah kakaknya. Raphael tersenyum lebar dan akhirnya ia mengangguk tanda setuju.
.
__ADS_1
Edward langsung memeluknya erat. Raka kaget sekaligus bingung. Entah.... Ada perasaan yang dulu hilang, muncul lagi. Terlebih saat Grace ikut memeluknya.
"Begini yaa rasanya di peluk orang tua? Nyaman sih Tapi kok aku merasa kurang yaaaa." Batinnya. Akhirnya, tangannya terulur dan membalas pelukan mereka.
"Raka, kita berfoto lagi yuk!" Kata Raphael tiba-tiba. Raka pun teringat dengan kameranya, ia dan Raphael bergegas menuju kamar mencari kamera.
"Ini dia! Sudah ketemu.!". Dengan tergesa-gesa mereka menuruni tangga menuju taman dan tak lama mereka sampai.
"Tuan ingin ikut berfoto di taman?" Tanya Zack yang sedang menemani tuannya di ruang tamu. George yang di tanya tidak menjawab, hanya tersenyum tipis.
"Biarkan mereka menikmati momen barunya. Aku hanya ingin melihat ekspresi Mr Ice itu dari sini." Katanya sambil terus menatap cucunya yang sibuk dengan kameranya.
"Baiklah, sudah siap semuanya? 3... 2.... 1!"
Cekrek! Semuanya tampak tersenyum bahagia kecuali Raka. Sampai foto yang ketiga kalinya, ia tetap belum tersenyum juga meskipun sedikit.
"Bocah.... Bocah..... Aneh! Kau lihat, kan? Zack. Semuanya tersenyum sedangkan dia beda sendiri. Mukanya kaku sekali sampai sulit tersenyum. Sedikitpun tidak tampak." George geleng-geleng melihat tingkah Raka yang kebingungan.
Sepertinya bocah itu sedang berusaha untuk tersenyum, ingin menunjukkan bahwa ia memang merasa senang. Tapi entah kenapa sangat sulit. Ia akan tersenyum di momen-momen tertentu.
Edward dan Grace tidak mempermasalahkan hal itu. Menurut mereka, setiap orang memiliki ciri khas masing-masing. Setelah berfoto, mereka mengobrol lagi sampai menjelang sore.
Dikamarnya, Raka senyum-senyum sendiri sambil memegang kotak peninggalan neneknya. Ia pun membukanya dan ternyata kotak itu berisi foto-foto dirinya dengan sang nenek.
"Aku sekarang punya orang tua. Nenek senang, kan? Ohya! Kenapa nenek tidak datang lagi di mimpiku? Aku kangen nenek lho." Ucapnya lirih. Raphael memperhatikannya dari jauh, ia membiarkan adiknya menyendiri dulu.
Setelah melihat-lihat isi kotak itu, Raka mengembalikan ke tempatnya lalu mengambil sesuatu. Kemudian menutup kembali lemarinya.
"Kak, ini untukmu. Terimalah." Raphael menoleh saat dipanggil. Ia melihat adiknya memberi sesuatu. Sebuah kotak persegi panjang berwarna biru dengan hiasan pita ungu.
Ia langsung menerimanya lalu membukanya perlahan. Isinya adalah syal dan sepasang sarung tangan tebal. Ada inisial huruf R di kedua benda itu.
"Terimakasih... Kapan kamu --"
"Itu pemberian dari mendiang nenekku. Beliau membuatnya saat aku masih 4 tahun, saat musim hujan salju. Aku duduk di sampingnya sambil memegang buku cerita bergambar. Nenek merajutnya sambil menceritakan tentang impiannya. Yaitu memiliki toko kue." Ucapnya sambil memaksa tersenyum.
Matanya sudah berkaca-kaca, dadanya sesak menahan diri untuk tidak menangis.
"Terimalah. Aku sengaja memberinya untukmu. Kalau tidak --"
Raphael tidak sekuat Raka, ia menangis tersedu-sedu. Merasakan kesedihan yang saat ini Raka rasakan.
"Kenapa kakak menangis? Padahal aku sudah sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menagis. Aku tidak mau menangis lagi. Kalau ayah ibu tau,nanti mereka khawatir. Kita harus tetap tersenyum dan terlihat senang."
"Hiks! Aku tidak sekuat mu. Aku tidak bisa menahannya lagi. Hatimu pasti sedang menangis. Hiks!"
Kakak adik itu menangis, mengeluarkan semua kesedihan dari hatinya. Mereka berpelukan, saling menguatkan satu sama lain.
"Aku lelah menangis, tapi hatiku berkata lain." Ucap Raka menggerutu. Raphael tersenyum di sela tangisannya kemudian mengambil kotak yang Raka berikan tadi.
"Apakah kamu yakin memberikan kenangan yang berharga ini pada ku?" Tanyanya meyakinkan. Raka mengangguk.
"Nenek bilang, suatu saat nanti kalau aku sudah memiliki teman, berikan kotak ini padanya. Sekarang, aku memberikan kotak ini pada orang pertama yang ku anggap saudara. Kakak, terima yaa"
Raphael tersenyum lebar sambil memakai syal dan sarung tangan itu.
"Terimakasih yaaaa. Aku akan menyimpannya dengan baik. Benar-benar hangat dan membuatku nyaman. Ada inisial R juga."
Raka senang melihat kakaknya suka dengan pemberiannya.
"Mari kita menikmati momen akhir tahun ini dengan penuh kebahagiaan!" Raphael berkata sambil menarik tangan Raka dengan syal dan sarung tangan itu masih menempel di badannya
Mereka berlari menuju sebuah lapangan yang sangat luas, penuh dengan tumpukan salju.
"Apa harapan mu untuk tahun depan?" Tanya Raka sambil berguling diatas salju. Raphael yang kegirangan juga ikut berguling-guling. Mereka tertawa bersama.
"Aku berharap. Tahun depan, kita bisa lebih kuat menjalani hidup, makin bahagia dengan keluarga baru dan terus bersama meskipun banyak rintangan yang harus kita hadapi."
"Harapanku untuk tahun depan adalah Kebahagiaan, keluarga harmonis, dan menjadi pribadi yang lebih tenang dalam menghadapi masalah hidup."
Nicholas sedari tadi tersenyum haru melihat tuannya bisa menikmati akhir tahun dengan kebahagiaan yang berbeda di tempat yang berbeda dan orang-orang. Ia merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan bocah yang mengubah warna hidupnya. Walaupun merasa kesulitan di awal-awal pertemuan.
__ADS_1
"Aku berharap. Momen bahagia ini terus berlanjut terus sampai tuan muda dewasa nanti." Batinnya sambil mengambil foto tuannya yang sedang bermain salju bersama seseorang yang sudah menjadi bagian penting dari hidupnya.