Warm Home

Warm Home
Season 3 Chapter 8


__ADS_3

Plak! Plak!


Seorang wanita cantik menampar wajah Raka bolak-balik dengan amarah yang tak tertahankan, sampai melukai sudut bibirnya. Bocah itu tidak meringis sama sekali. Ekspresinya datar, seakan sudah terbiasa.


Grace dengan wajah yang memerah, langsung membalas dengan melayangkan sebuah tamparan keras pada wanita itu. Tangannya bergetar, air matanya mengalir deras. Ia tidak tega melihat Raka yang seenaknya di sakiti.


"Grace? Kau menampar ku??! Sadarlah! Bocah psik*p*t itu yang membuat ulah! Dia yang menyakiti anakku sampai tidak berdaya! Lihat tampangnya yang tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali! Anaknya siapa sih dia?!" Katanya sambil menunjuk-nunjuk wajah Raka yang tirus.


"Raka, kamu ke kamar ya. Ganti pakaian dan makanlah roti yang sudah ibu belikan khusus untukmu." Grace tidak memperdulikan wanita yang marah-marah itu. Ia mengelus-elus lembut rambut tebal anak angkatnya.


Raka tersenyum dan mengangguk. Bocah itu tidak mengatakan apapun. Ia hanya melambaikan tangannya yang di perban lalu menaiki tangga menuju kamarnya.


"Dengar ya! Aku sangat mengenal Raka. Dia anak yang baik dan tidak akan berbuat kasar jika anak Anda tidak membuatnya marah. Buktinya, aku tidak pernah diapa-apakan olehnya! Edward juga sangat menyayanginya. Lebih baik, tanyakan anak anda apa yang sebenarnya telah terjadi, dan didiklah ia dengan benar!" Ucap Grace sambil menahan amarahnya.


Tiba-tiba dari belakangnya berdiri seorang pria berbadan tinggi, menatapnya tajam.


"Grace, kau tidak pernah berubah ya. Sebegitu bencinya kau kepada istriku."


Suara berat tersebut membuatnya terkejut. Ia langsung membalikkan badannya saat melihat pria tersebut.


"Richard! Aku membenci seseorang karena ada alasan yang tepat. Lagi pula, dalam kasus ini, memang anak kalian yang bersalah! Didik anak kalian dengan benar. Agar ia bisa lebih menghargai orang lain!" Ucap Grace dengan menaikkan suaranya sambil memegang perutnya yang terasa kram.


Wanita itu memperhatikannya dengan sinis, ia pun mengajak suaminya untuk melihat anaknya yang terbaring di ranjang kamar tamu.


"Cih! Buah jatuh tak jauh dari pohonnya." Batin Grace


★★★★★★★★★★★★★★


Di kamar Raka, sudah ada Nicholas yang sedang menunggunya. Pelayan itu terkejut melihat tuan kecilnya berpenampilan berantakan dan pipinya yang tirus memerah bekas tamparan. Lalu, pandangannya teralihkan ke arah kedua tangannya yang di perban dengan asal.


Matanya berkaca-kaca, ia menangis sambil memeluknya.


"Tuan muda, hiks! Pasti sakit yaa. Lihat dua tangan anda. Kenapa sampai luka begini? Jangan sakiti diri anda sendiri. Kalau ingin menangis, menangislah! Jangan dipendam sendiri sampai terluka begini! Hiks! Kalau tuan Raphael kembali dan melihat anda begini, apa yang harus saya katakan??"


Nicholas benar-benar merasa hancur melihat tuan muda yang dulu sangat aktif, melakukan banyak kegiatan dan terlihat bersemangat. Sekarang.... kondisinya sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus, matanya sayu karena kurangnya istirahat dan tangannya yang penuh luka cakaran.


"Sekarang, tuan muda mandi, yaaa. Setelah itu, saya akan mengobati luka anda." Raka tidak berkata apapun. Membuka mulut saja tidak. Ia hanya membalikkan badannya lalu berjalan menuju kamar mandi.


Tak lama, ia keluar dan Nicholas pun langsung menghampirinya lalu mengangkat tubuhnya yang ringan karena bocah itu berjalan sangat pelan.


Obat-obatan sudah tersedia diatas meja. Dengan cekatan, pelayan itu mengobati luka-lukanya. Setelah itu, ia mengajaknya makan.

__ADS_1


Makanan porsi besar dengan lauk paha ayam favoritnya tersaji di depan matanya.


"Kedua tangan anda terluka. Jadi, disuapi saja yaa." Ucapnya dengan harapan tuan mudanya mau. Raka menoleh ke arahnya dan mengangguk. Pelayan itu dengan senang hati langsung duduk di sampingnya lalu menyuapinya sambil memperhatikan ekspresi yang telah lama hilang.


"Ku harap, Tuan Raphael datang di waktu yang tepat." Batinnya. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Raphael ketika melihat kondisi adiknya yang.... Menyedihkan.


Kota M


Orang-orang kiriman George sudah menemukan keberadaan Raphael dengan mudah. Mereka mengajaknya kembali ke mansion tapi, bocah itu menolak.


"Masih ada hal penting yang harus ku lakukan disini. Katakan saja pada Tuan George bahwa aku baik-baik saja disini. Aku juga tinggal dengan orang-orang yang baik. Mereka yang mengurus ku setiap hari. Jadi, kembalilah ke kota X."


"Tapi.... Tuan George akan--"


Tiba-tiba Raphael teringat sesuatu.


"Apakah kalian tau kondisi adikku? Apakah ia sudah bangun?" Tanya Raphael dengan ekspresi khawatir. Carl dan Casey yang menemaninya saling menatap. Mereka sudah tau cerita adiknya yang mengalami koma gara-gara racun bunga. Tapi, Raphael tidak menceritakan mengenai pria tersebut.


"Tuan muda sudah bangun beberapa hari setelah kepergian anda." Jawaban itu membuat Raphael menangis terharu. Ia bersyukur, adiknya bisa melawan racun tersebut.


"Kembalilah ke kota X. Ia pasti sedang menunggu kedatanganmu." Kata Casey menyarankan.


"Tugasku belum selesai. Maukah kalian menunggu ku lebih lama lagi? sekitar 3 hari saja."


"Kalian kembali ke Stiff House duluan, aku ingin berbicara dengannya sebentar." Mereka pun berpamitan kepada Carl dan Casey. Lalu, Raphael mengajak orang itu untuk duduk di halaman belakang rumah itu.


"Sepertinya,.. ada hal yang serius. Apakah ini mengenai adikku?" Tanyanya penasaran.


"Hhmm .. iya. Tapi sebelum membahas itu, saya ingin memberitahu bahwa pelaku yang meracuni Tuan muda adalah Jose. Pelayan yang sering ditugaskan untuk membersihkan perpustakaan. Dan setelah di selidiki, dia bukanlah sekedar pelayan. Tapi, dia orang yang ditugaskan untuk melenyapkan anda."


Jantungnya berdetak sangat kencang. Keinginan untuk hidup damai dan bahagia bersama adiknya hilang seketika. Ia tidak tau kesalahan apa yang membuat seseorang membencinya sampai ingin membunuhnya.


"Apakah aku harus kembali ke sana? Tapi, jika aku kembali, nyawa adikku akan terancam lagi." Ucapnya. Hatinya mulai ragu untuk pulang. Ia tak mau mengulang kesalahan fatal tersebut untuk kedua kalinya.


"Kenapa sekarang anda ragu untuk pulang? Tuan muda benar-benar membutuhkan kehadiran anda. Kondisinya....." Pria itu menutup mulutnya, ia tak sengaja mengatakan sesuatu yang tidak boleh diceritakan.


"Kenapa berhenti?! Ayo katakan! Apa yang sedang terjadi pada adikku?" Raphael menarik kerah baju pria itu. Ia terus memaksanya untuk bercerita hal lain tentang adiknya saat dirinya tidak ada.


Akhirnya, ia terpaksa menceritakan semuanya berdasarkan info dari beberapa orang pelayan yang sering mengobrol dengannya.


Bocah itu tidak bisa berkata-kata lagi. Ia menangis tersedu-sedu. Ia mengira, adiknya bisa menjalani hari-harinya seperti biasa ternyata dengan ketidakhadirannya terjadi sesuatu yang buruk menimpanya.

__ADS_1


"Kakek tidak seharusnya berbuat seperti itu." Batinnya.


"Aku akan pulang besok di pagi hari." Ucapnya tegas.


"Baiklah, saya akan memberitahu yang lainnya bahwa kepulangan anda dimajukan."


Perbincangan telah usai,, pria itu akhirnya berpamitan pada Raphael untuk kembali ke tempat penginapan.


Malam harinya, Bocah itu melamun di meja makan bahkan makanannya belum ia sentuh sama sekali. Padahal, yang lain sedang menikmati hidangan. Kekhawatiran memenuhi hati dan pikirannya. Meskipun hidangannya sangat lezat, itu tidak membuatnya nafsu makan.


"Raphael, ikut aku ke ruang kerja setelah kau menghabiskan makananmu." Kata Zevan sambil berdiri meninggalkan meja makan. Raphael hanya menjawab dengan anggukan.


"Apakah makanannya tidak enak? Atau mungkin --"


"Ah! Tidak, Bu. Aku hanya sedang memikirkan adikku. Maaf." Ia pun langsung memakan hidangan yang sudah dingin sampai habis. Setelah itu, ia buru-buru menaiki tangga menuju ruangan Zevan.


Pintunya tidak tertutup rapat, ada celah kecil sehingga Raphael bisa melihat Zevan yang sedang memegang sebuah bingkai foto berukuran sedang.


"Masuk, nak." Raphael sedikit terkejut mendengar suaranya, ia pun berjalan perlahan memasuki ruangan itu dan ternyata ada Carl juga yang sedang menunggunya.


"Ambillah." Zevan menyodorkan sebuah buku yang tebal kepada Raphael. Ia pun menerimanya dan langsung membuka buku tersebut. Matanya berbinar-binar melihat isinya.


"Buku ini sangat lengkap dan penjelasannya sangat mendetail! Aku suka."


"Memang itu untukmu. Ambillah dan jangan sampai hilang dari genggamanmu." Bocah itu menatap Zevan dengan ekspresi terkejut.


"Benarkah?! Anda benar-benar memberikan buku yang berharga ini untukku?" Tanyanya lagi. Zevan mengangguk sambil tersenyum.


"Kau mengingatkan ku pada seorang wanita yang memiliki rambut yang warnanya ungu. Tapi, aku lupa dimana aku melihatnya." Ucap Carl tiba-tiba.


"Apakah wanita itu benar-benar memiliki rambut berwarna ungu?"


"Hhmmm aku tidak begitu ingat apakah ungunya sama atau tidak. Aku melihatnya sekitar beberapa tahun yang lalu." Jawabnya sambil berusaha mengingat.


Keadaan seketika sunyi. Raphael sibuk dengan buku baru di tangannya. Sedangkan Zevan dan Carl, mereka memperhatikan bocah itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Mereka sangat menyayanginya seperti keluarga sendiri meskipun baru mengenalnya.


"Ingat, ya. Kau tidak boleh keluar rumah tanpa jubah itu. Banyak orang yang jahat diluar sana yang akan berbuat hal nekad padamu. Jangan sampai kejadian di hutan terulang kembali." Kata Carl yang memecah kesunyian.


"Semoga dengan kepulangan mu, adikmu bisa berbahagia lagi. Ingat. Kau adalah seseorang yang spesial yang bisa memberikan kebahagiaan bagi yang mengenalmu. Satu lagi, Jangan rendah diri tapi rendah hati."


"Aku tidak akan lupa saran-saran kalian. Terimakasih telah menerima ku disini dan memperlakukan ku dengan sangat baik meskipun aku orang asing. Aku akan selalu mengingat keluarga harmonis ini."

__ADS_1


"Pintu ini selalu terbuka untukmu. Oh! Jangan lupa untuk mengajak adikmu jika dia sudah benar-benar sehat." Suara Casey terdengar dari arah pintu. Mata Raphael berkaca-kaca, ia sudah sangat sayang dengan keluarga ini. Hatinya tidak rela untuk berpisah.


"Maafkan aku, selama ini sudah merepotkan kalian. Hiks! Aku tidak akan melupakan kalian semua. Aku sangat menyayangi keluarga ini. Suatu saat nanti, aku akan membalas semua kebaikan kalian." Bocah itu menangis sambil di peluk istrinya Zevan yang memperlakukannya selayak anak sendiri.


__ADS_2