
Tahun 1985
Di sebuah taman bunga yang luas, seorang bocah laki-laki sedang asyik memetik bunga tulip dengan beraneka macam warna. "Nenek pasti suka kalau dapurnya di hias dengan bunga-bunga ini. Hhmmm" batinnya sambil senyum sendiri melihat hasil petikannya.
Tiba-tiba saja pundaknya di tahan seseorang saat ia hendak berdiri.
"Hey, bocah! Beraninya kau memetik tanpa izin! Tidakkah kau tau ini bunga kesukaan Ny Hoffman?"
Ternyata itu adalah seorang pria paruh baya yang bertugas sebagai penjaga taman di situ.
Bocah itu kaget dan langsung minta maaf.
"Ah! Maafkan aku. Aku benar-benar tidak tau. Ku pikir taman ini taman umum karena--" bocah itu benar-benar ketakutan.
"Biarkan saja dia"
Seorang wanita yang anggun dan cantik menghampiri mereka. Berjalan dengan anggun dan ditangannya terdapat buket berisi aneka macam bunga.
Ia melihat bocah laki-laki itu duduk sambil menggenggam erat bunga-bunga yang ia petik tadi.
"Siapa namamu?" Tanya wanita itu sambil ikut duduk di sampingnya. Suaranya terdengar halus, tatapannya menenangkan.
"Namaku Raka." Bocah itu menjawab dengan tenang.
"Wah! Nama yang unik. Aku baru mendengarnya. Artinya apa?"
Bocah itu tampak berpikir sebentar kemudian menggeleng pelan. "Aku tidak tau. Nenekku yang memberikan nama itu"
Wanita cantik itu menatapnya heran dan tersenyum kembali. "Apakah kamu suka bunga?" Tanyanya lagi.
Raka melirik bunga-bunga yang ia petik.
"Aku tidak begitu menyukainya. Bunga-bunga ini akan kuberikan untuk nenekku. Nenek sangat suka bunga tulip." Jawabannya
"Kalau begitu, berikan ini juga ya. Lihat ada mawar, tulip, dan bunga lainnya." Wanita cantik itu memberikan buket bunga yang dari tadi ia bawa.
"Benarkah? Waah sangat cantik." Lirihnya. Wanita itu terkekeh. Ia gemas melihat ekspresi bocah tampan itu.
"Iya, ambil saja. Saya masih punya banyak."
Grep!
Raka langsung memeluk buket itu dan tersenyum lebar. Matanya berbinar, ia memang sangat menginginkan buket itu sejak pertama kali melihatnya.
"Aku sangat berterimakasih. Hhmmm Nyonya..."
"Grace. Namaku Grace."
Bocah itu langsung menunduk tanda ia sangat berterimakasih.
__ADS_1
"Bye, Nyonya Grace. Aku tidak akan melupakan kebaikan anda" katanya sedikit berteriak. Kemudian ia melambaikan tangannya dan meninggalkan tempat itu dengan hati yang bahagia.
~`````````~~``````~```~~
Toko kue D'sweets
"Terimakasih, semoga anda suka." Kata seorang wanita paruh baya yang sedang melayani pembeli.
"Oh, itu pasti! Kue buatanmu selalu pas rasanya. Keluarga ku selalu suka dan tak pernah bosan." Kata pembeli itu.
Wanita itu hanya tersenyum. Kemudian pembeli itu pergi. "Akhirnya... Selesai juga." katanya sambil mengurut pinggangnya.
"Bu Lynn, sebaiknya anda beristirahat. Ibu sudah banyak membantu kita. Biar saya dan yang lainnya menjaga toko ini." Kata seorang karyawan laki-laki yang sedang membersihkan lantai.
"Terimakasih. Kalian juga istirahat dan jangan lupa makan. Tutup toko jam 6 saja." Kata Lynn sambil bersiap keluar.
Ya, Lynn sekarang sudah punya toko kue yang jaraknya tak begitu jauh dari rumahnya. Dulunya tempat itu adalah toko buku cerita namun, karena ingin pindah ke luar kota, akhirnya si pemilik menyewakan tempat itu. Lynn yang mengetahuinya langsung saja menyewa toko itu dan menjadikannya toko kue yang ia beri nama D'sweets. (Maaf aku bingung cari nama)
Saat sudah buka, banyak orang yang menyerbu tokonya. Kue buatan Lynn memang tidak pernah mengecewakan. Rasanya pas dan bikin ketagihan.
Awal-awal, Lynn kewalahan melayani para pembeli meskipun cucunya juga membantu. Lynn tidak mau cucunya kehabisan waktu untuk dirinya sendiri dan tidak bisa menikmati masa kecilnya. Ia butuh satu atau dua orang untuk membantunya tapi, uangnya belum cukup untuk menggaji.
Akhirnya, ia nekat buka lowongan kerja dan sudah 4 orang yang bekerja di toko kuenya. Karena tiap hari selalu ada pembeli, jadi Lynn bisa menggaji mereka. Para karyawan sangat senang berkerja dengannya. Lynn tidak pernah marah pada karyawannya dan selalu ramah. Jika mereka melakukan kesalahan, Lynn hanya menegur dengan baik-baik. Dan kalaupun harus lembur, ia langsung terjun membantu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Akhirnya sampai di rumah. Hhhmmm..... Nenek sudah pulang atau belum, ya?"
Bocah itu membuka pintu rumahnya sambil membawa kumpulan bunga itu. Matanya menyapu segala arah mencari keberadaan neneknya.
"Sepertinya nenek belum pulang." Gumamnya. "Baguslah kalau begitu." Ia berlari menuju dapur. Membuka lemari, mencari sesuatu.
"Ketemu! Ini yang ku butuhkan. Untungnya nenek masih menyimpannya." Ternyata itu sebuah vas bunga yang dulu Lynn ingin jual tapi, tidak jadi karena Raka menyukai bentuknya.
Vas itu sedikit berdebu karena sudah lama. Ia pun mencucinya dan mengisi dengan air. Vas itu diisi bunga-bunga yang Raka petik tadi. Kemudian di letakkan di ruang tamu.
"Oke! Semuanya beres. Sekarang aku harus langsung mandi. Pokoknya kejutan hari ini harus berjalan lancar." Ucapnya sambil terus tersenyum membayangkan ekspresi senang neneknya.
Setelah mandi, ia duduk di ruang tamu sambil mengisi perutnya yang lapar dengan sepotong roti dan segelas susu coklat favoritnya.
Satu jam berlalu......
Tok Tok!
Sebuah ketukan membuyarkan lamunannya. Neneknya sudah pulang. "Nenek, aku sudah lama menunggu lhoo." Bocah itu menyambut neneknya dan memeluknya erat. Lynn tersenyum sambil mengusap kepalanya.
"Maaf, ya. Tadi banyak pembeli yang datang dan banyak juga yang memesan selai. Jadi, nenek menulis daftar pesanan dulu."
Saat masuk, Lynn melihat ada bunga tulip dalam vas yang dulu pernah ingin ia jual. "Kamu memetik bunga lagi?" Tanyanya
__ADS_1
"Iya, nek. Bagus kan hasil petikanku?" Jawab cucunya bersemangat. "Bagus, kok. Nenek hanya khawatir kamu dimarahi lagi."
Beberapa hari yang lalu, Raka pulang dengan muka sedih dan badannya kotor. Dia cerita pada Lynn bahwa, ia memetik setangkai bunga mawar merah muda yang ada di depan rumah orang. Pemilik rumah itu menyadari ada yang mengambil bunganya. Bocah itu langsung dimarahi.
Saat perjalanan pulang, ia tersandung batu dan bunga yang ia petik hancur seketika. Lynn tidak mau hal menyakitkan itu terjadi lagi padanya.
"Bagaimana kamu mendapatkan bunga sebanyak ini? Memangnya boleh?" Raka pun menceritakan kejadian tadi siang tapi, tidak menceritakan soal buket bunga.
Lynn tersenyum lega mendengarnya. "Yasudah, terimakasih ya... Bunganya. Nenek sukaaaa sekali." Raka puas melihatnya. Setelah itu, Lynn beranjak ke kamar. Tapi sebelum sampai di kamar, Raka mencegatnya.
"Hm? Ada apa?" Tanyanya heran. Raka menggeleng cepat. "nenek tidak boleh masuk dulu. Pokoknya tidak boleh!"
"Tapi, nenek mau ambil baju ganti. Nenek mau mandi"
"Biar aku yang ambilkan. Aku mengerti kok."
Akhirnya Lynn menuruti keinginan cucunya meskipun Batinnya bertanya-tanya. Setelah mandi dan berganti baju, Ia melihat cucunya berdiri di depan kamar sambil tersenyum.
"Sekarang nenek boleh masuk." Lynn membuka pintu kamar dan melihat sesuatu di atas meja dekat ranjangnya.
Sebuah buket bunga yang cantik. Di sampingnya ada sepucuk surat. Lynn langsung membukanya dan membaca isi surat tersebut.
"Kejutan untuk nenekku sayang. Walaupun aku belum bisa membelinya, ku harap nenek menyukainya. Terimakasih ya, sudah sabar mengurusku dan memberikanku kasih sayang. Oh ya! Jangan lupa di makan kuenya."
Matanya berkaca-kaca, Lynn membalikkan badannya untuk mengatakan sesuatu tapi, ternyata ada kejutan lainnya lagi. Raka menyodorkan sebuah kotak kecil warna putih. Dengan perlahan, Lynn membukanya dan isinya adalah kue tiramisu kesukaannya.
Lynn menangis terharu dan memeluknya. Ia sangat bersyukur memiliki cucu yang sangat menyayanginya.
"Nenek suka kejutannya?" Lynn mengangguk. "Tentu saja, nenek suka semua yang kamu berikan. Terimakasih ya. Nenek tidak akan melupakan momen ini."
Raka tersenyum puas, semua rencananya berjalan lancar.
Malam harinya
"Raka, besok nenek akan -- Ya ampun! Ini sudah jam 10 lewat. Simpan dulu buku-bukunya. Ingat jangan sampai rusak." Lynn yang awalnya ingin memberitahu cucunya bahwa besok ia akan pulang telat sekaligus mengecek apakah sudah tidur atau belum, kaget melihat tumpukan buku di atas ranjang.
Sedangkan bocah itu terlihat tenang dan fokus dengan buku yang di depannya.
"Jangan panik begitu, nanti aku juga tidur kok." Ucapnya. Tatapannya tidak teralihkan sama sekali.
"Haahh. Kamu boleh baca buku sebanyak-banyaknya tapi, jangan lupa waktu. Nanti kalau kurang istirahat, kepala mu sakit lagi."
Raka punya kebiasaan membaca buku sebelum dan sesudah tidur, sejak ia sudah bisa membaca sendiri.
"Besok lagi, ya." Kata Lynn sambil mengambil buku yang cucunya pegang dengan perlahan.
Raka hanya cemberut dan pasrah. "Iya, selamat tidur." Beberapa menit kemudian, ia terlelap.
Lynn mengusap rambut tebalnya dengan lembut. "Zoe, anakmu sudah besar. Tidakkah kamu ingin menemuinya dan memeluknya? Kamu dimana sekarang?" Batinnya.
__ADS_1
Lynn sangat ingat bagaimana Zoe menyerahkan sang anak yang masih bayi padanya dan meninggalkanny begitu saja.