
Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang dokter dan di belakangnya 2 orang suster masuk menyapa bocah yang terbaring lemas.
"Raka, bagaimana keadaan mu hari ini?" Tanya dokter itu. Yang di tanya tidak menjawab apa-apa. Matanya memandang langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
"Hi, Brian." Ucap Hans menyapa dokter itu.
Dokter itu menoleh dan terkejut melihat pria yang menyapanya.
"Kau, Hans?! Goodness! Aku benar-benar tidak mengenalimu. Penampilanmu sangat berantakan. Kenapa kau bisa ada disini?" Ucapnya panjang lebar.
"Aku kenal dengannya." . Dokter itu mengangguk dan kembali memperhatikan pasien kecilnya.
"Sepertinya kamu belum makan. Ini ada sup jagung yang lezat. Di makan sampai habis ya, agar tidak lemas lagi."
"Bagaimana dengan nenekku? Apakah beliau di kuburkan dengan layak?" Tanyanya tiba-tiba.
Dokter dan 2 suster itu terkejut dengan pertanyaannya. Mereka saling menatap satu sama lain, bingung harus menjawab apa.
"Hhhmmm Raka, mereka tidak tau karena itu bukan tugasnya. Lebih baik, kamu makan-"
"Tidak!!" Raka membentak, tidak suka dengan jawaban itu. Ia ingin memastikan keberadaan jasad neneknya. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha bangun. Sudah bosan ia berbaring berhari-hari.
"Saya ingin memastikan, nenek saya di kubur dengan layak! Tanpa ada proses AUTOPSI sebelumnya."
Semua orang yang berada di ruangan itu seketika kaku mendengar perkataan tegasnya. Dokter itu terdiam, ia memang tidak tau soal neneknya. Akhirnya, Hans mengatakan pada temannya untuk keluar.
"Biar ini menjadi urusan ku." Ucap Hans.
Akhirnya, mereka pun keluar. Tinggallah Hans dan Raka berdua. Suasana di kamar itu sangat hening dan menegangkan. Tak ada yang mulai bicara.
"Raka, mau sampai kapan kamu diam begini? Ayo dimakan supnya, ya. Ya " bujuknya.
"Baiklah. Tapi, setelah makan aku ingin melakukan sesuatu yang ku mau." Katanya sambil memegang mangkuk sup itu.
Hans terdiam sebentar kemudian bertanya. "Oke, apa yang ingin kamu lakukan? Aku akan menemanimu."
"Aku ingin masak sup jagung ini. Sudah lama nenek tidak memakannya. Nenek pasti senang jika aku membuatkan untuknya." Kata Raka dengan suara yang bergetar. Air matanya mengalir lagi.
"Raka... Ne-nenekmu... Hhmmm ....." Hans ingin mengatakan "sudah tidak ada" tapi terasa berat. Ia tidak tega melihatnya hancur.
"Bagaimana kalau aku pergi mencari nenek. Dari kemarin, aku tidak melihatnya. Hans temani aku-"
Grep!
Hans sudah tidak tahan mendengarnya, ia masih belum menerima kalau neneknya sudah pergi untuk selama-lamanya.
"Nenekmu sedang pergi menyendiri di taman bunga. Dia ingin menenangkan hati dan pikirannya. Sekarang, Raka harus mandiri ya... Kan Kamu tidak ingin melihatnya kelelahan." Hans memeluknya erat agar bocah itu tenang.
Bocah itu menggelengkan kepalanya, ia memberontak ingin keluar dari kamar itu untuk menemui neneknya.
__ADS_1
"Nenekmu sudah tidak ada, Raka." Kata Hans sambil melihat mata sayunya. Akhirnya, tangisnya pecah.
Ia berteriak dan menangis memanggil neneknya. Mangkuk yang dari tadi ia pegang, terjatuh. Supnya tumpah kemana-mana.
"Kenapa aku harus di tinggal sendirian?! Kenapa aku tidak ikut saja dengannya? Selama ini, Nenek tidak pernah meninggalkan ku sendirian!"
Entah tenaga dari mana, ia terus memberontak sampai infus yang menempel di tangannya lepas.
Brak!
Dua orang dokter masuk dan beberapa perawat masuk. Mereka berusaha menenangkan bocah yang sedang mengamuk. Akhirnya, salah satu dokter itu menyuntikkan obat bius.
Raka tertidur seketika tapi, napasnya tak beraturan. Ia seperti orang yang kekurangan oksigen. Para perawat langsung sigap menanganinya. Tak lama, Bocah itu selesai di tangani. Pakaiannya sudah di ganti, begitu juga dengan seprai, bantal dan selimutnya di ganti dengan yang baru.
Setelah itu, mereka keluar.
Tapi, belum sempat keluar, Hans memanggil dokter yang tadi menyuntik obat bius. Kemudian, dokter itu mengisyaratkan yang lain untuk keluar.
"Apakah dokternya sudah ganti? Bukankah Raka pasiennya dokter Brian?" Tanya Hans.
Dokter itu hanya tersenyum dan menjawab.
"Iya, sudah di ganti. Sekarang, kami yang bertugas untuk merawat pasien kecil ini."
"Maaf, boleh tau--" baru saja ingin bertanya lagi, dokter itu memotong pembicaraannya.
"Apakah itu tuan George? Oh, mungkin saja beritanya sudah tersebar sampai ke sana. Jadi Tuan George membayar para dokter dan perawat khusus untuk merawat Raka. Ah, sudahlah lebih baik aku istirahat juga. Selagi ia masih tidur. Mudah-mudahan setelah ini hatinya merasa lebih baik." Katanya dalam hati sambil memperhatikan Raka yang tidur pulas.
Kemudian ia berjalan menuju sofa yang ada di kamar itu dan tak lama, ia tertidur.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Seminggu kemudian...
"Bagaimana keadaanmu sekarang, Raka?" Tanya seorang dokter.
Bocah itu terlihat tampak lebih sehat dari sebelumnya. Ia lebih tenang meskipun masih sering menangis di malam hari.
"Aku merasa... Sehat. Badanku tidak lemas lagi. Tapi, aku tidak bisa tidur nyenyak." Jelasnya
Dokter itu hanya tersenyum mengangguk.
Kemudian, ia memberikan Raka sebuah buku tulis kosong dan pena.
Bocah itu menerimanya kemudian mulai menulis. Dokter itu melihatnya heran. Raka tersenyum sinis kearahnya dan menaikkan alisnya sebelah.
"Anda menyuruh saya untuk menulis perasaan saya kan? Biasanya sih, begitu. Yaaa memang, saya merasa sulit untuk mengatakannya secara langsung. Jadi, saya tuliskan saja."
Tangannya bergerak sangat luwes. Benar-benar bukan seperti anak kecil pada umumnya. Ia seperti pria dewasa yang sedang menulis. Tulisannya pun sangat bagus, rapi dan jelas terbaca.
__ADS_1
Tak terasa sudah 3 lembar ia menulis.
Kadang, tangannya bergetar menahan kesedihan di hatinya.
Dokter itu setia menemaninya. Ia memperhatikan raut wajahnya saat menulis. Tersenyum, murung dan marah semua itu tidak lepas dari pantauannya.
"Sudah selesai. Jangan bertanya lagi padaku. Jika polisi atau penyidik datang, berikan saja tulisan ku itu. Sudah ku tulis secara Detail dan Jelas. Terimakasih sudah meluangkan waktu untukku. Sekarang aku ingin sendiri. Oh, salam untuk 'seseorang yang kalian hormati' itu, yaaa. Aku sangat berterimakasih atas kebaikannya."
Setelah mengatakan itu, ia berbaring dan memejamkan matanya. Lalu terdengar dengkuran halus tandanya ia sudah tidur.
Dokter dan suster itu menatap satu sama lain. Kemudian mereka keluar.
Tak lama, Hans datang dengan membawa tas punggung berukuran besar. Ia masuk dan melihat Raka yang tertidur pulas.
"Hhmm? Dia masih tidur jam segini? Sudah makan atau belum ya? Untungnya aku sempat membeli roti tadi." Gumamnya.
"Aku mencium bau yang enak. Roti." Kata Raka tiba-tiba. Hans terperanjat. "Tenyata bocah ini hanya pura-pura tidur ya." Batinnya .
"Sulit sekali untuk tidur. Apakah harus minum obat tidur dulu?"
"Jangan. cukup tenangkan dirimu. Jangan bergantung pada obat." Kata Hans sambil menyodorkan sepotong roti.
"Tapi..... Pria itu selalu ada di mimpiku. Ia tidak melakukan apa-apa. Hanya menatapku dari jauh. Tatapannya tajam dan mengerikan. Tangannya terkepal kuat. Badannya yang tegap terbakar tapi anehnya, ia tidak merasa kesakitan."
Hans mengangguk sambil memejamkan matanya. Lalu menyodorkan kertas kosong dan pensil. Raka tidak menggubris. Ia malah asik dengan rotinya.
"Tadi aku sudah menulis 3 lembar. Sekarang di suruh menggambar. No! Tanganku pegal."
Hans tidak menyerah, ia terus membujuk bocah itu agar mau menggambarnya. Hans benar-benar penasaran dengan sosok yang di sebutkan tadi.
Akhirnya Raka mau tapi,
"Ada syaratnya."
"Oke, jangan yang sulit ya.." Ia takut Raka meminta yang aneh-aneh.
"Hari ini, aku tidak peduli kapan. Harus pulang. Sudah bosan duduk dan berbaring terus. Lama kelamaan aku seperti orang lumpuh." Gerutunya.
"Baiklah... Kalau begitu, pulanglah bersama ku.."
Raka memicingkan matanya. Hans tersenyum berharap ia setuju. Kemudian bocah itu mengangguk.
"Ok, agreed."
Hans berbicara dengan dokter yang menangani Raka, dan dokter itu membolehkannya.
"Bocah. Kamu diperbolehkan pulang." Hans masuk ke kamarnya dan menyampaikan berita gembira tersebut. Raka menyambutnya dengan senyuman sambil menyodorkan hasil gambarannya.
"Kalau begitu, aku harus segera berkemas."
__ADS_1