
Tak terasa sore telah tiba. Para pelayan yang bertugas di dapur sibuk membersihkan sayuran dan menyiapkan bahan lain untuk hidangan makan malam.
Di kamarnya, George menikmati buah yang pelayannya petik tadi sambil memandang bunga kesukaan mendiang istrinya.
"Aku tidak kesepian lagi. Dia datang membawa warna kehidupan yang selama ini mati." Katanya sambil berkaca-kaca.
"Ku harap, dia juga bahagia tinggal bersamaku."
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tok Tok!
Seorang pelayan mengetuk pintu perpustakaan yang terbuka sedikit dengan pelan. Di dalamnya ada seorang bocah yang sibuk dengan dunia bacanya. Ia tak menghiraukan ketukan tersebut.
Akhirnya pelayan itu masuk, mencari keberadaan cucu kesayangan tuannya. "Permisi, tuan muda. Waktunya makan malam." Katanya sambil terus mencari.
Raka yang merasa di panggil langsung berdiri melambaikan tangannya. "Aku disini."
Pelayan itu terkekeh melihat bocah itu berdiri diantara buku-buku yang menumpuk.
"Pantas saja tidak ketemu. Anda ternyata disini membangun istana sendiri."
Raka tidak menjawabnya. Ia sibuk merapikan buku-buku yang ia ambil tadi untuk mengembalikan ke tempatnya.
"Bisakah kau membantuku?" Bocah itu merasa keberatan dengan buku-buku yang ia bawa.
"Tentu saja, tuan. Ambil saja sedikit dulu. Sisanya, biar saya yang rapikan." Mereka sibuk mondar-mandir mengembalikan buku sesuai temanya
Tak lama, mereka selesai. Pelayan itu langsung berbaring di lantai marmer yang mengkilap. .
Raka terheran melihatnya. "Kau lelah? Aku tidak pernah lelah setelah merapikan buku." Katanya sambil memperhatikan wajahnya.
"Hehehe saya memang mudah lelah. Tapi, pekerjaan yang saya kerjakan, hasilnya selalu memuaskan." Balasnya dengan percaya diri.
"Ohya! Siapa namamu?"
Pelayan itu langsung bangun dan duduk dengan sopan sambil tersenyum yang menurut Raka itu aneh.
"Nama Saya Nicholas Matthew. Panggil saja Nich atau Nicholas. Terserah anda." Jawabnya.
"Adiknya Zack ya?" Tebak Raka.
Pelayan itu langsung memeluknya. Dari awal mendengar kedatangannya, Nicholas sudah sangat penasaran dengan bocah satu ini.
"Oohhh! Tuankuuu. Anda sungguh menggemaskan. Jadikan saya pelayan anda. Tidakkah anda merasa betapa gemasnya ---"
PLAK!
Raka terpaksa memukul lengannya. Ia sudah tak merasa nyaman dari tadi.
"Kau! Hih! Tiba-tiba memelukku! Aku tidak suka Orang Asing." Ketusnya.
"Maafkan saya, habisnya --"
"Berani sekali mengganggunya. Mau Ku Potong Gaji mu?!"
Suara berat menghentikan ocehannya. Seketika mukanya ketakutan. Raka menoleh kebelakang. Ternyata itu kakeknya dan pelayan pribadinya, Zack.
Zack menggeleng pelan. Ia sudah pusing dengan kelakuan konyol adiknya.
"Maafkan saya. Saya hanya ingin akrab dengannya. Iya kan, Tuan muda?" Katanya sambil nyengir.
Raka melangkah keluar dari perpustakaan tanpa menghiraukannya. "Kau sudah membuat ku tidak nyaman. Aku ingin ke kamar."
Pelayan yang bernama Nicholas itu pun menyusul di belakangnya.
"Apakah cucuku akan baik-baik saja?" Tanya George pada Zack yang berdiri di sampingnya.
"Do'akan saja m, Tuan." Jawabnya dengan ragu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Kenapa kau ikut masuk?" Tanya Raka dengan tatapan sinisnya.
Pelayan itu hanya tersenyum. "Haah! Tolong Keluar. Aku mau tidur." Raka berjalan ke arah kasur dan langsung berbaring membelakanginya.
"Anda belum mandi, Tuan." Raka terkejut tiba-tiba ia sudah di dekatnya tapi, ia tidak menoleh.
Nicholas yang merasa tuannya sedang tidak baik-baik saja, memutuskan untuk duduk di lantai. Ia khawatir hal tak terduga terjadi padanya.
__ADS_1
Setelah satu jam..... Pelayan itu berdiri dan berjalan pelan menuju kasur untuk mengintip sedikit karena dari tadi ia mendengar napas yang terengah-engah dari tuannya..
Saat membalikkan badannya, ia terkejut karena badan bocah itu panas sampai mukanya memerah.
"Ya ampun!! Tuan kenapa?" Tanyanya panik. Ia langsung keluar mencari Hans tapi, saat tengah jalan ia bertemu kakaknya dan langsung memberitahunya.
Dengan cepat Zack berjalan ke kamar tuannya dan memberitahu kondisi cucunya yang tiba-tiba drop.
Tak lama, Nicholas dan Hans datang. Dokter muda itu langsung memeriksa.
"Menurutku dia lelah." Kata Hans.
"Lelah? Maksudnya? Tanyanya.
"Lelah batinnya. Bukan fisiknya. Dia seperti orang yang merasa tertekan." Kata Hans lagi.
Tanpa di sadari, dari tadi George sudah berada di belakang mereka dan mendengar itu. Hatinya teriris melihatnya. Batinnya bertanya-tanya, apa yang membuatnya tertekan.
"Mungkin dia belum terbiasa sendirian. Biasanya, neneknya yang menemani. Dia belum sepenuhnya melupakan kejadian tragis itu. Tidak perlu panik. Bantu saja perlahan. Nanti dia juga akan terbiasa dan merasa nyaman."
Nicholas mendengar penjelasan Hans sambil melirik ke arah George dan Zack. Ia terkejut dengan kedatangan tuannya.
"Hans, rawat dia sampai pulih dulu."
Dokter muda itu kaget dan menoleh ke belakang. George berdiri tidak jauh darinya.
",Hhhmmm.. Tuan--"
"I trust you." Setelah itu, ia pergi meninggalkan mereka yang masih terkejut.
Tengah malam, Raka terbangun lagi tapi kali ini ia menangis dan menyebut neneknya. Sampai memegang tangan Nicholas, memohon untuk dicarikan neneknya.
Pelayan itu tak bisa berbuat apa-apa. Hanya menemani dan menghiburnya.
"Nanti saya tanyakan Tuan George keberadaan nenek anda. Sekarang, anda tidur dulu yaa" Katanya sambil menahan airmata. Ia sudah tau apa yang telah menimpa bocah malang ini dari Hans.
Raka terus menangis terisak-isak. Tangisannya terdengar menyedihkan.
Nicholas menghela napasnya. Ia sempat panik menghadapi tuan kecilnya yang mengigau..
Belum pernah ia menangani bocah yang menangis selama hidupnya dan ini yang pertama kali.
Setelah memastikannya terlelap, ia mengambil pakaian baru dari lemari. Stelan piyama anak yang warnanya abu-abu.
Dengan cekatan, ia mengganti pakaiannya dan membersihkan wajahnya yang pucat dan berkeringat.
"Sepertinya tuan butuh angin segar." Gumamnya. Ia pun segera membuka sedikit jendela kamar. Seketika ruangan terasa sejuk. Bocah itu tidur dengan tenang ditemani calon pelayan pribadinya.
"Selamat tidur, tuan muda. Semoga anda bisa melupakan semua kesedihan yang mendalam itu."
Pagi telah tiba! Matahari bersinar terang di luar sana memanggil orang-orang yang tidur nyenyak.
"Selamat pagi! Waaah cerahnya! Oh ya! Tirainya harus di buka." Kata pelayan itu.
Srek!
Seorang bocah yang sedang menikmati mimpinya, merasa terganggu dengan kecerahan sinar matahari pagi.
"Uuh! Silau! Tolong di tutup lagi! Jangan buka dulu.!" Ia berusaha membuka matanya tapi sulit. Akhirnya, ia menutup mukanya dengan bantal.
"Maaf mengganggu tidur nyenyak anda, tuan. Tapi, ini sudah jam 7. Saya sudah menyiapkan sarapan anda." Kata Nicholas.
__ADS_1
"Aku ingin mandi dulu. Badanku --"
"No! Please don't!" Nicholas langsung menggeleng tidak setuju.
"Badanku lengket! Berkeringat dan bau! Aku tidak suka!" Ketus nya sambil turun dari kasur empuknya.
"Sebentar saja! Biar saya bantu, ya. Anda belum sepenuhnya pulih." Pelayan itu teringan kejadian semalam. Ia khawatir akan terulang lagi.
"Give me five minutes!"
Nicholas berpikir sebentar kemudian mengangguk.
"Ok! Five minutes!"
Bocah itu langsung masuk ke kamar mandi dan buru-buru membersihkan badannya yang penuh keringat.
5 menit kemudian, ia keluar dengan mukanya yang makin segar.
"Ya, ini yang ku mau! Ah! Segarnya..." Katanya sambil berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian.
Ia tidak sadar di belakangnya ada kakeknya yang memperhatikan tingkahnya sambil menggeleng pelan.
"Seharusnya jangan mandi dulu, tuan tampan!"
Bocah itu terperanjat sampai pakaian yang baru ia ambil jatuh dari tangannya.
"Aku merasa tidak nyaman dengan badan yang penuh keringat. Lagi pula hanya 5 menit kok. Jangan khawatir." Balasnya dengan santai.
Setelah berpakaian rapi, ia berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamar. Tapi, hal itu tidak terlaksana karena George menariknya dan menyuruhnya duduk di sofa.
"Aku mau ke taman." Katanya dengan mata yang melotot. George gemas melihatnya. Ia benar-benar senang menggoda cucunya yang sangat keras ini.
"Haaahhh.... Besok boleh ke taman. Hari ini, istirahat saja di kamar. Kalau kamu bosan, suruh pelayanmu mengambil buku favoritmu dari perpustakaan. Di kebun banyak semangka yang baru panen. Nanti Nicholas akan mengantarkan untuk mu." Bujuknya.
"Baiklah... Janji yaaa besok aku boleh ke taman."
"Hei, bocah! Aku tidak menjanjikan lho. Kalau kamu sudah benar-benar pulih, boleh ke taman." Protes George.
Raka tidak menjawab apapun, hanya menikmati segelas susu dan roti selai strawberry yang sudah di sediakan pelayannya.
"Aku ingin bertanya." Kata George sambil memperhatikan cara cucunya makan. Raka menaikkan alisnya sambil terus mengunyah.
"Apakah kau mau menjadikan Nicholas Matthew sebagai pelayan pribadi mu?" Tanya George dan dijawab dengan anggukan yang meyakinkan.
"Kau tau kan karakter nya seperti apa?" Tanya George untuk meyakinkan cucunya.
"Iya,aku tau dia orang macam apa. Berisik dan cerewet. Tapi, menyenangkan juga. Kemarin saat aku sakit, dia mengurus ku dengan baik dan menemani ku. Padahal, dia juga sudah lelah mengerjakan pekerjaan lain."
Brak!
Tiba-tiba pintu kamar di buka paksa. Masuklah 3 pria dewasa dengan ekspresi yang berbeda.
Raka yang baru saja selesai menikmati sarapannya terkejut saat ada yang memeluknya.
"Tuankuuu. Saya akan melayani anda dengan sungguh-sungguh. Percayalah pada saya. Jika saya membuat kesalahan, jangan marahi saya. Oh! Bonus --"
Tuk tuk!!
Tiba-tiba kepalanya di jitak dua kali dan pelakunya yaa tentu kakaknya yang bosan menghadapi kekonyolannya.
"Zack! Jangan menyiksa ku terus. Aku--"
"Kan ku ambil semua bonus yang kau terima." Katanya dengan muka tanpa ekspresi.
"Hiiii! Aku kan hanya bercanda!"
Raka melamun membayangkan hari-harinya di temani oleh pelayan muda yang energik.
"Apakah aku akan baik-baik saja?" Monolognya
∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆
"Ooh begitu yaa. Aku penasaran ingin bertemu dengannya."
"Datanglah kesana agar rasa penasaranmu hilang. Lagi pula, kamu juga belum mengunjunginya sejak beberapa bulan yang lalu. Nanti Ayah dan ibu menyusul."
"Kalau Nanny..."
"Nanny masih sakit. Kasihan... Dia baru saja merasa kehilangan. Nanti kalau hatinya membaik, dia akan kembali. Tenang saja, sayang.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku ingin menyelesaikan buku ini dulu setelah itu, baru aku mendatanginya. Aku ingin menjadi teman baiknya yang sangat berharga di hidupnya.
"Raka, aku datang! Kamu tidak akan kesepian lagi."