
"Pergi kau! Anak tidak tau diri! Pembawa kutukan! Selama kau berada di sini, ada saja hal-hal buruk yang terjadi. Hidupku sial gara-gara manusia seperti mu!"
"Enyahlah dari pandangan ku! Rambut mu membuat mataku sakit."
PLAK! "Tundukkan kepala mu! Kita sangat muak melihat matamu yang mengerikan itu.!!"
"Hey, dia anaknya siapa sih?? Kasihan sekali... Sepanjang hari berkeliaran terus. Badannya kurus. Jangan-jangan dia sudah lama belum makan."
"Entahlah! Aku tidak mau berurusan dengannya. Lagi pula.... Siapa yang mau tinggal dengan Manusia Terkutuk sepertinya."
"Oh ya! Hati-hati kalau bicara dengannya. Jangan sampai melihat matanya yang mengerikan itu."
"Ah! Jangan sampai dia menghampiri ku. Ayo kita pulang saja."
Omongan-omongan itu masih menari di pikirannya. Itulah yang membuatnya menjadi penakut dan cengeng.
Seperti tadi, setelah mengatakan itu. Ia langsung berlari ke kamarnya lalu mengunci pintu dan menangis.
"Hik hik! Aku kenapa lemah sekali yaaa. Mudah menangis dan penakut. Kalau saja aku kuat, Raka tidak akan jatuh sakit. Kenapa yaaa orang-orang yang dekat dengan ku selalu--"
Dugh! Dugh!
"Bocah! Buka pintunya."
"Hei, Carl! Kau tidak boleh kasar pada anak kecil. Kasihan dia."
"Aku tidak kasar, hanya menyuruhnya untuk membuka pintu.".
"Bukan begitu caranya. Minggir!"
Baru saja Casey hendak mengetuk pintu..
Ceklek!
"Ah! Ma-maaf. Aku tadi ketiduran." Raphael sudah membukanya duluan. Kepalanya menunduk dan tangannya meremas pakaiannya.
"Jangan bohong.... Tadi ku dengar kau menangis." Ucap Carl sambil menyingkirkan rambut panjangnya yang menghalangi wajahnya. Matanya terlihat merah dan membengkak.
"Angkat Kepalamu, Raphael!" Suara berat yang tegas mengejutkan semua orang termasuk Raphael. Mata mereka tertuju pada seorang pria paruh baya di belakang mereka.
"Ta-tadi... Ayah bilang apa?" Bisik Carl pada kembarannya. Casey hanya melongo melihat tatapan ayahnya yang tajam menusuk. Pria paruh baya itu langsung menghampiri bocah yang gemetaran itu.
"Angkat kepala mu saat diajak bicara! Dan tatap matanya!" Ucapnya lagi sambil memegang wajahnya supaya tidak menunduk lagi.
Raphael yang gemetaran, sekarang ini menangis. Ingin kabur tapi badannya kaku.
"Hik! Hik"
"Ayah ja--" Casey di tahan ibunya saat ingin mengambil bocah yang ketakutan itu. Akhirnya ia ikut ibunya ke dapur. Sementara Carl yang sangat penasaran mengenai bocah itu tetap berdiri di tempatnya.
__ADS_1
"Raphael, aku sudah memperhatikan gelagat aneh mu sejak pertama kali kau tinggal disini. Selalu menunduk dan mengalihkan pandangan. Ada apa?? Oh! Jangan-jangan karena matamu yang merah itu ya?!"
Bocah itu mengangguk.
"Memangnya kenapa dengan mata yang bewarna merah?! Tidak ada yang merasa terganggu." Kali ini Carl yang berbicara.
"Itu... Hhmmm... "
"Kutukan?"
Bocah itu mengangguk lagi.
"Dengar! Rambut ini dan mata ini. Adalah anugerah! Bukan kutukan! Jangan dengarkan orang-orang tak berguna itu! Rambut dan mata yang kamu punya adalah sesuatu yang berharga dan indah." Kata pria paruh baya itu sambil menyentuh rambut dan matanya bergantian.
Entah kenapa... Raphael merasa orang yang dihadapannya ada sedikit kemiripan dengan kakeknya, George. Dan gaya bicaranya sama seperti George dan Raka.
"Apakah orang ini bagian dari Vicenzo?"
Pikirannya kemana-mana, ia tidak fokus.
"Oh ya! beberapa hari kemudian,, kota ini akan mengadakan festival jajanan dari berbagai negara. Bocah, sebaiknya kau ikut kita." Kata Carl tiba-tiba yang mendapatkan cubitan dari ibunya.
"Aduh! Ibu, aku hanya mencairkan suasana." Keluhnya.
"Dipikirannya hanya ada makanaaannn terus." Sahut Casey.
"Raphael, ikut aku sebentar." Kata pria itu sambil menarik pelan tangannya.
Lalu, matanya menangkap sesuatu yang pernah ia lihat. Sebuah buku tua yang tebal. Mirip dengan buku yang pernah Raka baca di suatu ruangan di mansion kakeknya.
"Memangnya.... Buku ini tentang apa ya??" Gumamnya Sambil menghampiri buku tersebut.
"Sejarah keluarga Vicenzo generasi pertama dan kedua. Isinya tidak begitu lengkap hanya sebagian cerita saja. Sepupuku yang memiliki versi lengkapnya." Ucapnya.
Raphael terdiam sejenak, lalu matanya terbelalak.
"Apa? Sepupu.... Sebentar... Jangan-jangan..... Anda adalah...."
Pria paruh baya itu mengangguk pelan. .
"Ok! Waktunya untuk menceritakan semuanya. Aku adalah Zevan Alberto Vicenzo. Adik sepupunya George."
Bruk!
Raphael terkejut sampai jatuh terduduk di lantai.
"Pantas saja.. terlihat mirip." Gumamnya..
Pria bernama Zevan itu tersenyum tipis.
__ADS_1
\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#
"Jadi, kau akan pulang sekarang?" Tanya Zack yang mengantar Hans ke pintu depan.
"Ya, tugasku sudah selesai disini. Aku sangat berterimakasih pada rekan ku yang mau memberikan tugasnya pada ku. Jadi, aku bisa bertemu dengannya lagi." Jawabnya sambil tertawa.
"Pantas saja kau yang datang.... Awalnya aku sudah panik karena mendapat tatapan tajam dari Tuan George. Huh! Ternyata dia rekan kerja mu." Ketus Nicholas yang merasa dikerjai oleh Hans.
"Kan aku ingin membuat kejutan."
"Sudahlah jangan ribut-ribut. Kau pulang saja sana." Kata Zack sambil mendorong sahabatnya.
"Zack! Kau makin kejam padaku." Ucapnya memelas.
"Oh! Itu balasan untuk orang yang usil di waktu genting." Nicholas berlari masuk ke dalam.
"Jangan sering datang kesini, kau mengerti kan maksud ku apa?" Kata Zack berbisik. Hans langsung memasang muka seriusnya lalu mengangguk. Setelah itu, ia berpamitan kepada sahabatnya.
\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#
"Tuan muda ingin makan apa?" Tanya Nicholas yang saat ini menemani majikannya membaca. Raka memanggilnya tapi, tidak menyuruh apapun. Ia hanya menyuruh Nicholas untuk duduk setelah itu, fokus pada bukunya lagi.
Raka tak menjawab. Ia malah menulis... Nicholas menghela nafasnya. Ia tau betul kalau bocah itu menulis, ia akan melupakan semuanya. Termasuk lupa diri. Dulu, ia sering menunda makan karena menulis. Ia tidak akan berhenti menulis sampai merasa lehernya pegal. Baru ia akan berhenti.
Pelayannya menyerah. Ia akhirnya keluar dari kamar untuk membawakan makanan untuknya. Kali ini, ia akan sedikit memaksa 'tuan kecil' itu untuk makan. Seingatnya, bocah itu belum makan lagi.
"Yah! Makanan di dapur sudah habis.... Oh! Bagaimana kalau aku membuat sup jagung campur ayam.... Sepertinya enak. coba dulu ah!"
Semenjak menjadi pelayan pribadi Raka, ia seringkali di suruh ikut memasak sampai akhirnya ia bisa membuat beragam makanan enak. Hatinya senang saat hasil masakannya di habiskan oleh tuannya yang hobi makan. Raka.
Tak perlu menunggu waktu yang lama, 30 menit saja. Makanan itu jadi. Karena Raka tidak mau bubur, jadi ia membuatkan sup jagung campur potongan ayam. Terlihat lezat dan aromanya sangat menggoda.
"Ku harap, rasanya memuaskan." Gumamnya sambil mengantar sup itu. Saat sedang menaiki tangga menuju kamar tuannya, ia merasa ada yang mengikutinya ternyata itu Anne yang sedang membawa sebuah kotak berukuran sedang.
"Oh, Anne. Kotak apa itu?" Tanya Nicholas.
"Hadiah untuk tuan muda." Jawab Anne sambil berjalan di sampingnya. Ia memang dikenal pendiam dan jarang bergaul. Tapi, sangat baik dan sering membantu pelayan lain yang kesusahan saat bekerja. Dialah pelayan wanita yang paling pintar dan gesit di antara mereka.
Nicholas menatapnya aneh karena baru kali ini ia memberi seseorang hadiah. Dan itu kepada Raka padahal, bisa dihitung jari kapan mereka bertemu. Tiba-tiba saja ada pelayan laki-laki yang berlari melewati mereka menuju arah tangga.
Nicholas dan Anne saling tatap seakan bertanya siapa orang yang barusan lewat dan apa yang terjadi??
Nicholas langsung teringat si tuan kecil. Dengan tergesa-gesa, ia berjalan menuju kamarnya lalu saat membuka pintu, ia menemukan Raka sedang duduk bersandar di kasurnya sambil menggambar sesuatu.
Raka yang menyadari kehadirannya langsung bertanya sambil terus fokus menggambar.
"Tadi... Apakah ada yang datang kesini?"
Raka menjawab dengan gelengan kepala. Anne yang baru masuk, matanya langsung menyapu segala arah. ia mengernyitkan dahinya lalu kembali bersikap seperti biasa.
__ADS_1
"Hi, Anne." Raka menyapanya. Maid itu langsung menghampirinya dan memberikan kotak hadiah itu padanya.
"Tuan Terhormat." Bisik Anne