Warm Home

Warm Home
Season 3 Chapter 4


__ADS_3

Italia


Disebuah hotel bintang lima di kamar private terdapat dua orang pria yang sedang berdiskusi serius ditemani pengawal masing-masing.


"Kerjasama ya? Kau tau kan Vicenzo dan Napoleon tidak akan bisa bersatu. Kita akan terus bersaing."


"Aku tau. Tapi... Aku sudah bukan bagian dari mereka. Ayahku sangat pilih kasih. Dia terlalu membanggakan anak pertamanya. Apalagi si Tuan Perfeksionis itu, sangat arogan dan merasa paling tau segalanya."


Kata seorang pria yang sedikit mabuk.


"Haha! Memang, tak heran aku sangat membencinya. Ingin sekali ku ratakan bangunan kokoh perusahaan kesayangannya." Kata pria satunya sambil menenggak minuman.


"Jadi, kerjasama ini bukan antara Napoleon dan Vicenzo. Tapi aku, Gerald dan Steven Napoleon." Lalu, ia membuka kopernya yang berisi tumpukan uang. Pria satunya yang bernama Steven langsung mengangguk setuju dan mereka berjabat tangan.


"Oke! Jadi, kita sepakat. Mulai saat ini, kita bekerjasama. Aku harap, kau tidak akan mengecewakan ku." Pria bernama Gerald itu tersenyum tipis. Setelah itu, mereka keluar dari ruangan itu dengan kepuasan masing-masing.


###########################


Malam Hari...


Raka membuka kotak hadiah yang Anne berikan tadi. Ia sengaja menunggu malam karena inilah rahasianya. Bahkan kakeknya belum mengetahuinya.


"Apa ini? Buku catatan? Bukan! Ini buku khusus menulis jurnal. Apalagi ya.... Hm???! Ini kan, stelan jas untuk kerja. Terlihat besar. Kenapa Tuan itu memberikan ini padaku?"


Saat sedang memperhatikan stelan jas itu, tiba-tiba sebuah amplop jatuh dari jas tersebut. Amplop dengan sebuah cap segel yang terlihat mewah. Raka tidak langsung membukanya. Ia memperhatikan detail cap segel yang terlihat unik. Segel itu berlambang bunga matahari dan seekor kupu-kupu yang cantik.


Raka tersenyum tipis. Dengan hati-hati, ia melepas segel itu lalu menyimpannya. Setelah itu, ia mengeluarkan surat tersebut. Tiba-tiba, hidungnya mencium sesuatu. Aroma wangi yang ternyata dari kertas surat tersebut.


Ia terdiam sejenak, berpikir keras. Suratnya masih terlipat rapi, belum ia buka sedikitpun karena masih fokus pada aroma wangi mirip madu.


"Lavender??? Bukan.. bukan! Apa ya??? Ah! Aku tidak begitu mengerti soal bunga. Eh? Ini benar-benar aroma bunga, kah?? Seandainya kakak tidak ku suruh pergi... Hah!"


Akhirnya ia memutuskan untuk membuka surat yang terlipat rapi itu kemudian langsung membacanya.

__ADS_1


Untuk Tuan Muda yang saya hormati. Saya harap, saat membaca surat ini anda dalam keadaan baik. Meskipun kita belum pernah bertemu secara langsung, saya merasa senang bisa mengenalmu melalui berbagai cara.


Saya ingin mengucapkan terima kasih atas hubungan yang telah kita bangun, meskipun hanya melalui surat dan orang-orang yang ku kirim.


Terkadang, saya merasa seperti kita telah menjadi teman baik bahkan sebelum bertemu secara fisik. Hal ini tentu saja menggembirakan, dan saya berharap suatu saat kita memiliki kesempatan untuk bertemu secara langsung.


Bagaimana kabarmu di sana? Saya ingin mendengar lebih banyak tentang kehidupan Anda, minat Anda, atau apa pun yang ingin Anda ceritakan. Saya juga punya cerita menarik yang ingin saya bagikan.


Meskipun kita berada di tempat yang berbeda, jarak tidak selalu menjadi halangan. Kita masih bisa menjalin persahabatan yang berarti dan saling mendukung satu sama lain, meskipun hanya melalui pesan.


Sampai saat kita akhirnya bertemu, saya berharap kita dapat terus mengembangkan hubungan ini dan menikmati setiap momen yang kita bagi bersama. Terima kasih lagi atas pertemanan yang istimewa.


Salam Hangat dari 'Tuan Terhormat'


"Apakah ini tulisan tangannya?? Benar-benar tersusun sangat rapi. Hmm... Kalau dari kata-katanya.... Ia seperti orang yang sungguh-sungguh dan sepertinya tau banyak tentang diriku tapi, ia menyembunyikannya.


Tuan Terhormat... Semoga anda tidak mengecewakan ku. Aku juga berharap, kita akan bertemu dan berbincang secara langsung sebagai teman baik."


Setelah membacanya, ia menyimpan surat itu dengan rapi, lalu meletakkannya di kotak pribadinya. Stelan jas yang masih kebesaran itu, ia simpan rapih di lemari pakaiannya. 20 menit berlalu, akhirnya ia merasa lelah lalu berbaring di atas kasur kakaknya.


*******************************


Beberapa hari kemudian...


Raka berjalan menuruni tangga menuju dapurnya yang sudah lama tidak ia kunjungi.


"Anda belum sepenuhnya pulih. Sebaiknya jangan membuat apa-apa." Kata Nicholas yang mengikutinya dari belakang. Bocah itu hanya diam acuh. Ia bertekad untuk membuat sesuatu hari ini. Ia ingin membuatkan kue untuk kakeknya dan orang tua angkatnya.


Ya, Raka sudah mengingat semuanya. Keadaannya benar-benar sehat. Hanya kakinya saja yang masih agak lemas. Ia juga sering menyempatkan diri untuk mengobrol santai dengan Edward dan Grace. Mereka bersyukur ada Raka meskipun masih mengkhawatirkan keberadaan Raphael yang belum diketahui.


"Panggil beberapa maid untuk membantu ku!" Kata Raka sambil mengeluarkan bahan-bahan yang ia butuhkan. Nicholas pasrah ... Ia hanya bisa menuruti perintah tuannya.


Raka membuka jendela dapur itu dan masuklah matahari yang menerangi dapurnya. Matanya menyapu segala arah lalu, ia menemukan sesuatu yang janggal. Lemari penyimpanan pisau terbuka sedikit. Ia pun membukanya dan.... ya, ada yang mengambil pisau miliknya.

__ADS_1


Pisau yang bewarna emas hilang. Padahal, itu salah satu pisau kesayangannya karena pemberian dari kakeknya. Anehnya...... Bukannya kesal, ia malah tersenyum menyeringai. "Mungkin dia sedang kekurangan uang."


Raka pun meninggalkannya dan langsung membuka lemari lainnya yang berisikan alat-alat untuk membersihkan dapurnya. Ia ambil cairan pembersih kaca dan kain putih lembut.


"Beruntung Nich selalu membersihkan dapurku jadi, debunya tidak begitu banyak." Ucapnya lirih.


Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Nicholas beserta tiga orang maid datang untuk membantunya membuat kue. Tak perlu menunggu lama, mereka langsung melakukan sesuai arahan bocah itu. Memasukkan bahan-bahan untuk membuat adonan kue yang lezat.


Ia ingin membuat kue tiramisu kesukaan Edward dan biskuit selai coklat kesukaan Grace yang sedang mengidam. Saat Tangannya sibuk mengaduk adonan, tiba-tiba kakinya merasa kaku. Betisnya kram lagi. Raka meminta kursi lalu setelah kram nya hilang, ia duduk.


Bocah itu terlihat sedang mengatur nafasnya. Nicholas langsung menghampirinya dan memberinya segelas air mineral yang agak dingin.


"Mau istirahat 5 menit dulu?" Raka menggeleng. Ia ingin memastikan kue-kue nya sempurna. Setelah menghabiskan minumannya, ia lanjut membuat kue. Sampai tak terasa, waktunya untuk tidur siang datang. Matanya sedikit mengantuk tapi, ia menahannya dengan memakan sandwich yang sempat Nicholas buat.


Jadilah kue tiramisu dan biskuit coklat yang menggiurkan. Raka memasukkan biskuit biskuit itu kedalam toples kecil. Sebagian ia bagi pada maid-maid yang telah membantunya. Sedangkan kue tiramisu, ia letakkan di kulkas.


"Nich, ini untukmu dan kakakmu." Nicholas senang saat tuan kecilnya menyodorkan dua buah toples kecil berisi biskuit yang barusan dibuat. Setelah itu,, ia pergi meninggalkan Raka tanpa berkata apapun.


Para maid yang masih di dapur saling memandang keheranan dengan tingkah Nicholas.


"Tak perlu memasang wajah seperti itu. Aku sudah terbiasa dengan tingkah lakunya." Ucapnya santai saat melihat ekspresi para maid.


"Ah! Hahaha iya." Mereka pun kembali membersihkan dapur itu sampai selesai. Setelah itu, mereka berpamitan pada Raka dengan perasaan senang.


"Rasanya pasti enak."


"Iya! Dari aromanya saja, sudah ketahuan."


"Aku menyesal dulu pernah tidak menyukainya. Ternyata, tuan muda kita sangat berbeda."


"Iya. Aku tidak sabar untuk mencicipi kue ini."


Tanpa mereka sadari, seseorang sedang menggerakkan giginya, menahan kesal.

__ADS_1


"Sial! Gara-garanya aku jadi babak belur begini! Awas saja! Ku balas dengan lebih kejam lagi!!"


__ADS_2