Warm Home

Warm Home
Season 3 Chapter 12


__ADS_3

Mansion William


Seorang pria dewasa berkulit putih, bermata biru muda, rambutnya cokelat tua berdiri menghadap jendela. Ia melamun.... Wajahnya terlihat sedikit pucat dan pandangannya kosong.


"Sebenarnya, Apa yang telah terjadi? Aku dimana? Kenapa aku bisa berada di sini?" Batinnya bertanya-tanya tapi, jawabannya tidak kunjung ketemu.


Tok tok!


"Permisi... Tuan. Waktunya sarapan." Kata seseorang di balik pintu. Pria itu masih diam, dia berpikir keras mengingat apa yang telah terjadi di masa lalunya.


Klek!


Orang yang mengetuk tadi langsung masuk karena tidak ada jawaban dari pria itu. Seorang pelayan membawakan nampan berisi semangkuk bubur kacang dan segelas susu hangat.


"Tuan, ada apa? Apakah kepala anda sakit lagi?" Tanya pelayan itu karena pria tersebut terlihat menahan sakit di kepalanya.


"Kenapa aku berada disini?! Tempat apa ini?! Jawab aku!! Jawab!! Aku ingin pulang. Ayah dan ibu sudah lama menunggu ku! Aaaarrgghh! To-tolong pesankan.... Ah! Tiket pesawat. Aku..."


Pria itu berteriak kesakitan dan terus memanggil keluarganya. Pelayan yang mengantarnya sarapan langsung berlari keluar mencari bantuan.


Tuan Muda yang sedang berjalan-jalan mengelilingi mansionnya, terkejut mendengar salah satu pelayannya berteriak minta tolong.


"Tenang dulu.... Setelah itu, ceritakan pada ku." Kata Tuan Muda. Setelah merasa sedikit tenang, pelayan itu menceritakan apa yang terjadi pada pria itu.


Tuan Muda langsung berlari menuju kamar pria itu. Dari kejauhan, terdengar suara tangisan dan benda-benda yang di banting. Pria itu mengamuk, ia mengatakan bahwa ia hanya ingin pulang karena orangtuanya sudah lama menunggu kepulangannya.


"Aku ingin memberitahu orang tuaku bahwa aku sudah lulus S2 dan di terima di sebuah perusahaan pertambangan. Mereka pasti bangga dengan ku. Tolong.... Pesankan aku tiket pesawat, aku akan mengganti uang mu."


Pria itu terus meracau, sampai akhirnya ia pingsan karena Tuan Muda menyuntikkan obat bius sekaligus penenang.


"Bersihkan semua kekacauan ini. Jangan sampai orang tuaku mengetahui keberadaannya. Dan.... Cale, pasangkan peredam suara di kamar 00."


"Baik, Tuan Muda."


Setelah itu, Tuan Muda langsung pergi menuju kamarnya dengan pelayan pribadinya.


"Haaah! Gio, apakah persediaan obat sakit kepala masih ada?" Tanyanya sambil membaringkan tubuhnya di sofa.


"Masih ada, Tuan Muda. Tapi, sepertinya anda sudah terlalu sering mengkonsumsinya. Lebih baik, istirahat saja untuk menghilangkan sakit kepala. Atau.... Mau saya panggilkan Nanny Rose untuk memijat kepala anda?"


Tuan Muda hanya merespon dengan gelengan.


"Bagaimana perkembangan renovasi panti jompo di kota C?"


"Berjalan lancar. Sebentar lagi selesai. Barang-barang yang tidak layak pakai sudah di ganti dengan yang baru. Para tim dari luar kota juga ikut membantu pengecekkan di seluruh ruangan dan hasilnya memuaskan. Apakah Anda ingin kesana melihat hasilnya?"

__ADS_1


"Tidak. Aku percaya pada orang-orang kiriman ku."


Pelayan yang bernama Giovanni hanya mengangguk lalu tiba-tiba pandangannya teralihkan ke suatu kotak yang di letakkan di atas ranjang Tuan Muda. Kotak berbentuk segilima bewarna biru tua dengan hiasan pita bewarna putih.


"Tuan Muda, anda belum membuka kotak dari Tuan Raka, ya?" Tuan Muda langsung bangkit dan menoleh kebelakang, melihat sebuah kotak yang selama ini ia simpan di atas ranjangnya. Ia pun mengambilnya dan memperhatikannya sebentar.


"Hampir saja melupakannya! Haah! aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku."


"Saking sibuknya, anda sampai tidur di sofa dan melupakan kebahagiaan anda sendiri." Batin pelayannya.


*************************************


Esoknya, Anggota keluarga itu menikmati sarapan dengan mood yang berbeda. Ada yang kesal, ada yang berseri-seri. Raka dan kakaknya menikmati sarapan kesukaan mereka roti bakar dengan selai kacang beserta segelas susu coklat.


Neil meremas rotinya, menahan kesal. Ia menatap tajam dua bocah yang terlihat senang. Nancy yang duduk disampingnya, mengelus punggungnya untuk menenangkan anaknya. Ia juga merasa kesal dan benci tapi, ia tidak mau bertindak ceroboh lagi seperti kemarin.


"Kakek." Ucap Raka memanggil George yang duduk di hadapannya. George sedikit terkejut, lalu ia tersenyum.


"Iya, Raka."


"Apakah kakek Sibuk hari ini?" George masih tersenyum. "Tidak. Apakah ada hal yang ingin kau bicarakan?"


Raka tersenyum tipis, mengangguk. "Kita mengobrol di kamar ku saja, ya." George mengangguk tanda setuju. .


Tak lama, sarapannya selesai. George langsung mengajak Raka dan Raphael untuk mengobrol di kamar mereka.


"Kalian kan sedang menjadi orang tua yang baik, Nah! Ajarkan mereka cara beretika agar mereka menjadi anak-anak yang sopan. Terlebih bocah muka datar itu!ia tidak tahu cara bersikap kepada orang yang lebih tua. Bukankah --"


Brak!


Edward memukul keras meja makan, matanya melotot, ia sangat sangat marah.


"Hei! Raphael dan Raka sudah tau beretika. Jika mereka bersikap tidak sopan, cobalah bercermin terlebih dahulu! Raka, dia selalu bersikap sopan. Dia tidak pernah memperlakukan kami dengan buruk. Sikapnya sangat baik dan sopan. Ia selalu mendengar perkataan ku dan istriku."


"Kalian lah yang seharusnya diusir! Semua ini gara-gara kalian membawa masuk orang lain yang--"


"CUKUP! Kalau kalian membenci Raka dan Raphael, tidak masalah! Tapi, ingat! Jangan sampai menyakiti mereka sedikitpun atau kalian semua akan menyesal seumur hidup!" Kata Grace sambil berdiri, bersiap untuk keluar dari ruangan yang membuatnya dan suaminya sesak nafas.


Edward pun langsung menarik tangan istrinya agar segera bebas dari tatapan menjengkelkan keluarga kecil itu.


★★★★★★★★★★★★


"Sebelum kalian yang memulai bicara, aku ingin minta maaf karena telah bersikap kasar kepada kalian. Aku menghukum kalian dan--"


"Omongan kakek harus di ralat." Ucap Raka yang memotong pembicaraan kakeknya.

__ADS_1


George dan Raphael menatapnya heran.


"Masalah ini semua terjadi karena kecerobohan dan keegoisan ku. Aku minta maaf. Seandainya saat itu aku tidak menghalangi kakak untuk memberitahu kakek, ini semua tidak akan terjadi." Ucapnya menyesal sambil menundukkan kepalanya.


"Aku tidak mau menerima maaf mu jika kau berbicara dengan cara seperti itu. Angkat kepala mu! Dan tegakkan badanmu. Jangan bersikap seperti pecundang! Kau adalah calon pemimpin. Meskipun berbuat salah, tetap tegakkan badanmu! Dan luruskan pandangan mu kedepan!"


Raka dan Raphael saling menatap. Mereka sedikit terkejut mendengar suara George yang menggema seisi kamarnya. Akhirnya, Raka mengikuti ucapan kakeknya yang terdengar seperti perintah.


"Aku minta maaf atas keegoisan dan kecerobohan yang telah ku perbuat." George tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.


"Saat menghukum kalian berdua, aku merasa sangat marah dan kecewa. Kalian seperti tidak mempercayai ku sebagai seorang kakek. Setiap hari, aku berpikir apa yang membuat kalian tidak mempercayai ku sampai menyembunyikan rahasia besar itu."


"Kita hanya tidak ingin membuat kakek khawatir." Sahut Raphael.


"Tapi, hasilnya??". Raphael terdiam. Raka pun mengisyaratkan kepadanya untuk tetap tenang.


"Sebenarnya aku tidak tega menghukum kalian. Tapi, rasa kecewa dan marah telah menguasai diriku jadi--"


"Aku dan kakak mengerti. Kita juga tidak akan membenci kakek karena telah menghukum kita."


Raphael menyenggol pelan lengannya sambil menggeleng. George menghembuskan nafasnya, sambil menatap kesal cucunya.


"Bocah! Biasakan untuk mendengar perkataan orang lain dahulu. Jangan memotong semaumu! Mengerti?! Hah! Aku jadi lupa apa yang akan ku katakan."


Raka tersadar, kebiasaan buruknya belum hilang juga.


"Maafkan aku, Kakek. Aku akan berusaha untuk menghilangkan kebiasaan buruk ku."


"Ya sudah. Sekarang, aku ingin mendengar pengalaman yang menyenangkan dari bocah petualang ini."


Glek!


Raphael melirik kearah Raka yang pura-pura acuh.


"Huh! Menyebalkan." Batinnya.


"Tapi, sebelum itu..... Aku penasaran dan ingin bertemu dengan orang yang kau percaya untuk menjaga kakakmu selama berpetualang di kota M."


Raka hanya manggut-manggut sambil menaik-turunkan alisnya. "Nanti kakek juga bertemu. Orangnya sudah ada disini."


"Haaaah! Kenapa kau senang sekali menunda-nunda permintaan ku?"


"Apa?! Hei! Aku tidak--"


"RAKA."

__ADS_1


George terkejut mendengar Raphael memanggil adiknya dengan nada tinggi dan tatapan yang sinis. Raka langsung ciut dan diam menutup rapat mulutnya.


__ADS_2