
"Carl, Casey. Terimakasih yaa sudah menjadi temanku. Bu, terimakasih sudah memasakkan makanan-makanan yang lezat setiap hari untukku. Aku tak akan melupakan kalian semua. Maaf yaaa jika kehadiran ku merepotkan kalian." Ucap Raphael berpamitan kepada mereka.
Casey, perempuan cantik itu terlihat murung karena tidak rela jika Raphael harus pulang. Ia sudah menganggap bocah itu sebagai adiknya sendiri. Dari dulu, ia ingin sekali mempunyai adik laki-laki.
"Huuhhuuu! tinggallah beberapa hari lagi disini. Aku akan kesepian. Carl sudah terlalu sibuk dengan teman-temannya." Ucapnya menangis.
"Apa?! Hei. Jangan mengada-ada ya! Aku kan bekerja! Tidak seperti mu yang hanya--"
Tuk! Tuk!
"Sudahlah! Kalian adu mulut terus. Tidak malu di lihat para 'manusia hitam' itu?" Kata Zevan yang menunjuk ke orang-orang kiriman George yang berpakaian serba hitam.
Mereka hanya saling pandang saat di juluki manusia hitam.
"Hih mengerikan! Seperti malaikat maut saja." Ucap Casey lirih.
"Baiklah, Tuan Raphael. Supir sudah menunggu lama di depan gerbang kota. Sebaiknya kita segera pulang." Ucap salah seorang diantara mereka.
"Kalau begitu, aku pamit pulang ya. Bye"
"Bye, my little boy! Jangan lupakan kita yaaa."
Raphael dan lainnya berjalan semakin jauh meninggalkan rumah sederhana yang hangat dan nyaman itu. Ia akan menceritakan pengalaman terbaiknya di Kota M kepada adiknya dan kakeknya.
Ia berharap.... Kepulangannya akan disambut baik oleh kakeknya dan dimaafkan kesalahan fatalnya.
"Bocah! Ini untukmu!" Tiba-tiba suara Carl terdengar. Ia pun berbalik badan dan
Hap!
Salah satu pria yang mengantarnya pulang menangkap sebuah kotak kecil yang Carl lempar. Kemudian, saat melirik ke tempat Carl berdiri tadi, ia sudah tidak ada.
"Simpanlah, Tuan Raphael. Sepertinya, isi kotak ini sangat berharga. Kotak ini bukan kotak biasa. Ia terbuat dari kayu yang mahal" Kata pria itu sambil memberikan benda yang Carl lempar.
"Iya, kotaknya sangat halus. Ada ukirannya juga yang menarik. Waah isinya apa ya?"
"Bukalah saat sudah sampai di mansion." Kata pria itu.
Mereka pun segera berjalan menuju gerbang kota M yang sudah terbuka lebar. Orang-orang kiriman George sudah masuk ke dalam mobil masing-masing. Tidak ada yang tau mereka siapa, karena George memberikan mereka mobil sederhana layaknya orang-orang biasa.
Tingkah laku mereka juga tidak biasa sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dan tidak menarik perhatian para penghuni kota M.
Raphael menoleh ke belakang dan tersenyum. Momen-momen indah bersama keluarga Zevan tidak akan ia lupakan.
"Aku tidak tau harus berbuat apa jika tidak ada mereka. Terimakasih telah merawat ku dan mengajarkan banyak hal yang penting untuk hidupku. Aku sangat berharap, suatu saat nanti, kita akan bertemu lagi."
"Silahkan masuk." Lamunannya buyar. Ia langsung berjalan menuju mobil yang sudah disediakan dan masuk ke dalam.
"Raka.... Aku pulang membawakan mu cerita-cerita yang menarik dan pengalaman yang sangat berharga. Ku harap, kamu dalam keadaan baik-baik saja."
.
*****************************************
Mansion George
__ADS_1
Di sebuah ruangan yang luas, terdengar suara wanita yang memenuhi ruangan tersebut. George, sebagai Tuan rumah hanya memijat keningnya. Sudah pusing dengan masalah cucunya, Raka kini ditambah lagi adanya drama pertengkaran antara Raka dan cucunya yang lain, Neil. Anak pertama dari Richard dan Nancy, wanita yang sedang ngoceh-ngoceh sekarang ini.
Ia tidak terima anaknya disalahkan. Ia mengatakan bahwa Raka lah sumber permasalahannya. Grace sudah mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah yang sangat ingin ia keluarkan.
Nicholas dan Naura yang dipanggil untuk menceritakan kejadian itu, hanya saling tatap melihat wanita yang marah-marah itu.
"Kalau terbukti saya yang bersalah dan mengada-ada, USIR SAYA DARI SINI!" Ucap Raka dengan lantang. Wajahnya dipenuhi dengan amarah karena tidak di perbolehkan untuk menceritakan apapun.
Tapi, hatinya tetap tenang karena Naura dan Nicholas tau siapa yang sebenarnya bersalah. Dan ia memang tidak berbohong.
Mendengar itu, Grace langsung berdiri. Ia tidak terima jika anak angkat yang ia sayangi di salahkan.
"Ini tidak adil! Biarkan Raka yang -"
"Diam kau, Grace!" Kata Richard dengan membentak.
"Nyonya Grace, serahkan pada saya dan Nicholas." Ucap Naura dengan lirih, menenangkan Grace.
Akhirnya, Naura di suruh menceritakan semuanya bersamaan dengan Nicholas. Cerita mereka sama. Neil yang bersalah. Dialah yang mengganggu Naura dan Raka duluan, dan ia yang memancing amarah Raka sampai mendapat tinju yang menyakitinya.
"Tapi, dia juga bersalah, Ayah. Tidak seharusnya dia memukul Neil. Kan bisa dibicarakan baik-baik." Kata Richard yang sudah sangat membenci Raka. Ia sangat gengsi untuk mengakui bahwa anaknya lah yang bersalah.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Hahaha!" Kata Raka sambil tertawa. Di belakangnya, Naura sudah menyenggol tangan Nicholas, menyuruhnya untuk membungkam mulut pedasnya.
"Aku tidak berani!" Kata Nicholas berbisik.
"Aduh! Jangan sampai dia berkata-kata lebih! Kan kau tau betapa mengerikan tiga orang itu."
Raka mendengar pembicaraan mereka lalu menoleh kebelakang.
"Naura. Kalau harga diri kita sudah diinjak, Kita tidak boleh diam saja. Harus berani bicara. Apalagi orang-orang macam mereka." Tangannya menunjuk ke arah Richard, Nancy dan Neil.
"Nancy." Wanita itu melihat raut wajah George yang sudah tidak bersahabat. Ia pun langsung memalingkan wajahnya dan menutup rapat mulutnya.
"Silahkan dinikmati tehnya, Nyonya Nancy." Kata Zack yang muncul tiba-tiba dihadapannya, memberikan secangkir teh tepat di depan wajahnya.
"Pfft! Minumlah, Nancy. Dan Tenangkan dirimu. Zack sudah membuatnya spesial untuk mu." Grace menahan tawanya melihat Nancy di perlakukan seperti itu.
"Tuan George, jangan lupa naikkan gaji kakak saya yaa."
Kriik....
Semua mata tertuju ke arah Nicholas termasuk Naura.
"Ah! Maaf. Jadi, bagaimana ini? Hehehe. Sudah ketahuan kan siapa yang salah, siapa yang benar?"
Mata Zack melotot, terlihat menakutkan bagi Nicholas.
"Ayah. Ini sudah keterlaluan! Aku tidak terima keluarga ku di perlakukan dengan --"
"Tidak ada yang mau di perlakukan dengan buruk. Hewan pun ingin di perlakukan baik juga. Jika kau ingin di hargai, hargailah orang lain. Meskipun kastanya berbeda."
Nicholas tersenyum, begitu juga dengan Naura. Baru kali ini ia melihat secara langsung sang Pemilik Mansion. Ia kagum dengan Tuan George yang selalu menghargai siapapun tanpa memandang harta seseorang.
"Neil, minta maaf pada Naura dan Raka. Se-ka-rang!"
__ADS_1
Bocah itu gemetaran ketakutan sedangkan kedua orangtuanya mengepalkan tangannya yang masih tidak terima anaknya harus minta maaf pada orang yang levelnya di bawah mereka.
"Minta maaf saja pada Naura. Aku harus keluar karena ada sesuatu yang penting." Raka membalikkan badannya siap keluar. Richard langsung menghampiri untuk menahannya. Tapi, sebelum itu terjadi...
"Aku mencium aroma bunga." Kata Raka
George membelalakkan matanya dan berdiri.. Grace, Richard, Nancy dan Neil terheran-heran melihat mereka yang berekspresi terkejut.
Baru saja Raka membuka pintu, seseorang langsung masuk dan memeluknya. Benar saja, aroma wangi bunga yang menyegarkan tercium darinya.
"Raka.. aku sudah pulang. Aku mencarimu di kamar, dapur, taman tapi kamu tidak ada disitu. Kata salah satu pelayan, kamu disini."
Bocah itu tersenyum bahagia, akhirnya ia bisa bertemu kakaknya lagi. Kondisinya sangat sehat. Raphael melihat tangan Raka yang diperban, langsung panik. Ia terus mendesaknya agar mau cerita.
"Tenang ya, tidak perlu khawatir." Raka mengajaknya masuk dan saat melihat-lihat isi ruangan, matanya tertuju pada seseorang. Ia terkejut.
"Dia! Dia yang selalu menggangguku dan Naura. Apakah kamu juga diganggu olehnya sampai terluka begini?" Tanyanya khawatir.
"Luka ini sudah ada sebelum bertemu dengannya dan.... Ya, dia menggangu ku. Maka itu, aku memberinya pelajaran supaya tidak menggangu orang lagi." Jawabnya dengan tersenyum sinis.
"Hei, anak pungut! Jangan --"
"Kau keluar dari sini, Nancy! Beraninya kau memanggil mereka 'anak pungut'! Sudah dari dulu aku diam terhadap kebiasaan buruk mu yang selalu merendahkan orang lain. Hei! Kau pikir, kau itu siapa?! Kalau bukan karena anakku yang jatuh cinta padamu sampai menikah dengan mu, kau tidak akan bisa merasakan kenikmatan menjadi seorang Ratu! Ingatlah dirimu dulu. Jangan sampai kesombongan mu menjerumuskan mu dan melenyapkan kemewahan yang kau miliki sekarang!"
Amarah di hati Richard memuncak saat melihat ayahnya lebih membela Raka. Ia pun langsung menarik keluarganya keluar dari ruangan tersebut. Dalam hatinya, ia menyumpahi bocah yang mengacaukan hari liburnya.
"Raka, kau belum tau sedang berhadapan dengan siapa. Kan ku balas semua perbuatan mu!"
★★★★★★★★★★★★★★★
"Raphael... Ibu merindukanmu. Ibu khawatir kamu sendirian di luar sana. Jangan tinggalkan ibu lagi ya..." Grace menangis sambil memeluk anaknya yang telah kembali. Meskipun bukan anak kandungnya, ia tetap menyayanginya dan menganggapnya sebagai anak pertamanya.
"Iya, ibu. Aku tidak akan meninggalkan ibu lagi. Lagi pula, aku hanya pergi sebentar kan? Lihat! Aku baik-baik saja. Hanya... Rambutku sedikit berantakan karena sudah lama tidak di potong." Raphael memperlihatkan rambutnya yang makin panjang. Ia mengalihkan pembicaraan supaya Grace tidak bersedih lagi.
"Aku yang akan memotongnya." Ucap Raka meyakinkan.
"Kamu bisa?" Raka mengangguk.
"Baiklah, tapi setelah itu ibu ingin minum teh bersama kalian berdua. Sudah lama ibu tidak mengobrol dengan kalian."
"Grace!" Edward datang tiba-tiba dengan nafas yang memburu. Melihat mobil Richard yang terparkir di mansion, ia merasa tidak tenang. Ia tahu Richard sangat tidak menyukai istrinya, khawatir Grace diperlakukan buruk olehnya.
"Ada apa, sayang? Kamu terlihat panik begitu." Grace mengusap wajah suaminya.
"Dia tidak menyakiti mu kan?"
Grace mengerti yang di maksud suaminya. Dengan tersenyum, ia menjawab.
"Tidak. Sekarang tenang yaa. Oh ya! Apakah kamu mencium aroma bunga?"
Edward terdiam, ia memang sedari tadi mencium aroma bunga tapi, tidak menyadarinya karena sedang khawatir tentang istrinya.
"Iya ya. Apakah kamu membeli bunga?" Grace menggeleng.
"Raphael telah kembali dengan selamat." Edward diam, meyakini bahwa ia tidak salah dengar.
__ADS_1
"Raphael sudah kembali ke mansion? Benarkah??? Dimana dia sekarang?" Hatinya lega, anaknya yang saat itu tidak tau keberadaannya, telah kembali.
"Sekarang, dia sedang bersama Raka di kamar. Kita biarkan mereka mengobrol berdua dulu."