
Bulan Desember tiba dan Hal yang ditunggu-tunggu datang. Musim salju.
Para pelayan menyambut dengan gembira. Ada sebagian diantara mereka yang pulang ke rumahnya, karena tinggal tidak begitu jauh dari mansion itu. Ada yang tetap berada di mansion karena kota tempat mereka tinggal sangat jauh.
Para pelayan yang tidak pulang, disibukkan dengan membersihkan seluruh kamar di mansion itu. Ada juga yang sibuk di dapur mengecek bahan makanan, membuat aneka kue yang lezat dan masih banyak lagi.
Raka dan Raphael tidak ingin ketinggalan momen yang menyenangkan. Mereka asik bermain di taman yang sudah di tutupi oleh salju. Mereka membuat rumah salju, boneka salju bahkan kolam salju.
Tentunya di temani pelayan yang juga suka bermain. Padahal, ia hanya di suruh menemani mereka, bukan ikut bermain tapi, ia malah asik bermain juga.
"Kita adukan saja pada kakek." Ucap Raka bercanda.
"Jangan, kasihan dia. Sudahlah... Yang penting, Nicholas tetap berada di dekat kita." Sahut Raphael tidak setuju.
"Aku tidak sabar menunggu malam. Salju yang turun di malam hari akan terlihat lebih indah. Kita ke lantai atas ya nanti malam." Raphael berpikir sebentar, ia bukannya takut di marahi George, tapi ia bukan orang yang tahan dingin seperti Raka.
Kalau Raka sebaliknya, tidak tahan panas. Maka itu, ia menghindar untuk meminum atau memakan yang hangat. Tak peduli musim hujan atau salju, ia tetap minum atau makan yang dingin.
Pernah suatu hari ia minum coklat dingin padahal hujan salju sedang turun dan cuaca sangat dingin.
Bukannya kedinginan, ia malah menikmati eskrim. Para pelayan yang melihatnya menggeleng tidak percaya. Sampai Nicholas memanggilnya Mr Ice.
"Tenang saja... Aku punya banyak pakaian tebal untukmu. Pakai saja.... Hhmmm". Raka memperhatikan tubuh Raphael yang tambah tinggi meskipun hanya 3CM.
Ia sering kesal dengan tubuhnya yang pendek. Apalagi jika ingin mengambil barang. Harus memanggil pelayan atau tidak, mencari kursi yang tinggi.
"Kapan badanku bisa tinggi ya,?! Huuh aku tidak mau pendek terus. Aku ingin tinggi seperti Paman Hans." Gerutunya.
"Raka, kamu masih.... Kecil. Ehm! Maksudku masih berumur 6 tahun. Aku yakin. 10 tahun kemudian, kamu akan menjadi pria berbadan tinggi dan kekar. Tidak kecil seperti ini terus. Semua ada waktunya." Raphael sangat berhati-hati mengatakannya karena ia tau Raka tidak suka dianggap masih kecil.
"Kalau mau, nanti aku akan mengatakan pada kakek untuk mencarikan atlet profesional khusus." Raka menggeleng. Ia tidak mau menambah jadwalnya. Sekarang saja sudah cukup penuh (menurutnya)
"Ohya! Kakak tau tidak, kau lahir tanggal berapa dan di kota mana?" Tanya Raka tiba-tiba.
"Kata Kakek, aku lahir bulan Mei tanggal 5 tahun 1978. Di Inggris. Kalau kamu?". Raka tampak berpikir sebentar lalu ia berjalan menuju meja belajarnya dan membuka lacinya. Ia mengeluarkan sebuah kertas berisikan informasi tentang dirinya.
"Masih belum diketahui. Lihat! tidak tertera disini. Haaah nasib buruk jadi anak yang di buang hahahaha." Ucapnya sambil tertawa. Tawanya mengandung kesedihan yang mendalam.
Meskipun terlihat kuat, ia tetaplah anak kecil yang sangat ingin di sayang orang tuanya sendiri. Sayang sekali.... Hal itu tidak akan ia dapatkan. Ia dibuang oleh orang tuanya entah penyebabnya apa.
Pernah ia bertanya pada kakeknya bagaimana rasanya disayang oleh orangtuanya. George terdiam.... Ia sangat sulit untuk menjawab. Akhirnya ia menangis sambil memeluk cucunya yang malang.
Raka tidak menyerah, ia pun bertanya kepada pelayannya. Tapi Nicholas hanya mengatakan "luar biasa." Setelah itu, ia menangis terisak-isak. Bocah yang masih penasaran itu memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Ia pun menghilangkan pertanyaan itu dari pikirannya dengan menyibukkan diri.
__ADS_1
"Meskipun kita dibuang, masih ada yang mau menerima kita dan menyayangi kita." Ucap Raphael sambil tersenyum. Tapi, tidak dengan hatinya yang sedang menangis. Ia juga belum pernah merasakan kasih sayang orang tua.
"Kalau menurut kakak, apa yang membuat orang tua kita membenci kita?" Tanya Raka yang penasaran. Raphael menghela nafasnya kasar. Dadanya terasa sesak, sebenarnya ia tidak mau membahas hal ini. Tapi, ia juga penasaran. Apa yang membuat orang tuanya membencinya sampai membuangnya.
"Aku pernah membaca sebuah cerita fiksi tentang anak yang terbuang. Ia dibuang orang tuanya karena mereka tidak bisa menghidupinya. Ayahnya berprofesi sebagai kasir, dan ibunya berprofesi sebagai penjaga toko. Gaji mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Maka itu, mereka membuang anaknya di depan panti asuhan." Jawabnya sambil berusaha tenang.
Raka terdiam, ia memejamkan matanya dan mengerutkan keningnya. Tampak berpikir keras.
"Raka, kita akan tau suatu hari nanti. Untuk sekarang, hal ini tidak usah di pikirkan. Akan ada waktunya semua pertanyaan di pikiran kita terjawab. Ayo, kita siapkan pakaian untuk melihat salju malam nanti." Raphael sudah tidak tahan dengan perasaan yang menyayat hatinya.
"Maaf sudah membuat kakak tidak nyaman."
"Tidak apa-apa. Aku juga penasaran, tapi terlalu sakit untuk mengetahui kenyataan. Maka itu, lebih baik tidak perlu tau. Yang penting, hidup kita aman disini."
Akhirnya, mereka sibuk menyiapkan pakaian yang akan dipakai nanti malam. Raphael terkejut melihat pakaian yang akan Raka pakai nanti malam. Kaos panjang coklat muda dan celana panjang hitam. Ia sama sekali tidak menyiapkan mantel untuk menghadapi cuaca dingin malam hari.
"Aku tidak akan kedinginan. Cukup dengan minuman coklat hangat." Ucapnya santai.
"Nanti kalau kamu sakit, bagaimana? Katanya mau bertemu dengan orangtua (angkat)ku. Jangan begini, Raka. Pakailah sarung tanganku atau syal rajutku. Ini tidak terlalu tebal kok." Rayunya. Akhirnya Raka menerima sarung tangan itu.
"Kita harus menjaga kesehatan supaya bisa menikmati momen-momen akhir tahun. Ohya! Kita juga belum membuat rumah iglo yang besar."
"Kenapa kakak bersemangat sekali? Aku malah mulai bosan dengan bermain salju. Aku hanya ingin memandangnya." Sahutnya enteng. Raphael tercengang mendengar pernyataan tersebut. "Bosan?!" Gumamnya.
"Haaahh! Aneh. Ya sudah, ku buat saja sendiri. Tunggu! Dia belum merapikan kembali pakaiannya. Raka!" Ternyata ia di kerjai bocah itu agar merapikan pakaian yang dikeluarkannya tadi.
\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#
"Zack, kakek masih bekerja?" Tanya Raka ketika bertemu Zack yang sedang membawa nampan berisi semangkuk buah.
"Tidak, hanya melihat laporan keuangan bulan kemarin."
"Kapan kakek libur?" Tanyanya penasaran. Zack hanya menggeleng pelan. Saat sudah sampai depan pintu kamar George, Raka membukakannya.
Ia terkejut ternyata ada Jonathan yang sedang duduk di sofa dan kakeknya berdiri merapikan bunganya yang terletak dekat jendela.
"Bunganya layu ya?" Tanya Raka menghampiri Kakeknya. George mengangguk pelan. Terlihat kesedihan dari wajahnya. Tangannya tiba-tiba di tarik pelan oleh Jonathan dan pria itu menggeleng pelan. Raka tentu mengerti maksudnya. Ia langsung meninggalkan kakeknya yang sibuk dengan bunganya.
"Anda tidak libur?" Tanya Raka memecahkan keheningan. Pria dewasa itu hanya terkekeh. Ia senang bisa bertemu bocah pintar itu lagi.
"Libur tapi nanti. ." Jawabnya sopan. Kemudian Zack meletakkan hidangan dalam mangkuk itu diatas meja kaca yang ada di kamar itu.
"Terimakasih." Jonathan terlihat menikmati potongan buah itu.
__ADS_1
"Kapan perusahaan libur?" Tanya Raka. Jonathan melirik sebentar.
"Pekan besok tanggal 15." Jawabnya.
"Apakah Tuan Axello akan datang kemari?" Tanyanya lagi dengan sedikit berbisik. Jonathan mengangguk.
"Masih penasaran dengan Tuan Axello?" Tanyanya yang sekarang sudah duduk disamping bocah itu.
"Tentu saja. Aku sangat ingin bertemu dengan pemilik perusahaan besar itu." Jonathan tersenyum sambil menahan tawanya.
"Beliau bukan orang yang ramah dengan orang yang baru ia temui." Raka hanya mengangguk. Ia tidak terlihat takut, malah makin penasaran.
"Siapkan mental anda, Tuan Raka jika ingin bertemu dengan anak saya." Suara George yang terdengar tegas mengejutkan mereka berdua yang sibuk mengobrol sambil berbisik.
"Tak perlu marah begitu. Kalau tidak boleh bertemu, juga tidak masalah." George melotot mendengar sahutan dari cucunya.
"Hey, kelinci nakal. Kalau ingin bertanya sesuatu, tak perlu berbisik-bisik. Sejak kapan kau suka bisik-bisik?"
Raka melotot tidak terima dengan julukan itu.
"Tadi ku lihat kakek sedang sedih, makanya aku bisik-bisik. Agar tidak menggangu."
"Ada saja jawabannya, bocah ini. Mana kue yang kau janjikan."
"Kapan ya, aku janji membuatkan Tuan ini sebuah kue?"
Zack dan Jonathan berusaha menutup rapat mulutnya agar tidak tertawa. "Berani sekali cucunya yang satu ini " Kata Jonathan dalam hati.
Zack sudah terbiasa dengan adu mulut antara kakek dengan cucunya. Memang, inilah salah satu yang membuat George makin dekat dengan cucunya. Kakek dan cucu ini memang sering adu mulut tapi, tidak serius. Hanya candaan saja walau tidak terlihat seperti bercanda.
George sudah banyak berubah sejak kedatangan Raphael dan Raka. Ia tidak lagi sakit-sakitan karena sedih kehilangan separuh hidupnya, sang istri. Ia juga sudah tidak melamun dan menatap kosong bunga-bunga di kamarnya.
"Sudahlah kalau kau tidak ingat. Keluar sana. Tuan Pikun." Usirnya.
"Aku sudah mengingatnya. Tadi kan hanya bercanda." Protesnya.
"Ya sudah, pergilah ke dapur dan buatlah kue dengan jumlah yang besar. Banyak tamu yang akan hadir nanti." Raka melotot tidak percaya yang barusan ia dengar.
"Akan saya buatkan spesial untuk anda, asalkan tidak lupa kalau saya butuh uang." Setelah itu, ia keluar sambil tertawa.
Jonathan yang sudah tidak tahan, akhirnya tertawa tapi tidak lama karena George menatapnya tajam.
"Permisi saya undur diri. Akan saya lanjutkan tugas ini di kantor." Ucapnya sambil bergegas merapikan barang-barangnya lalu ia keluar.
__ADS_1