
Tanggal 10 Desember 1985 Pukul 2 dini hari. Adalah momen yang tidak akan pernah bocah itu lupakan dari ingatannya.
Nenek kesayangannya tergeletak tak berdaya di hadapannya dengan tubuh yang berlumuran darah.
BRUK!!
Ia jatuh terduduk, lututnya lemas. Pandangannya kosong, air matanya mengalir deras. Bibirnya gemetar, tangannya terulur menggoyang tubuh yang tergeletak itu.
Percuma.
Neneknya tidak akan bangun, ia sudah meninggalkannya sendirian. SELAMANYA.
"AAAAARRRRGHH!"
Sekencang apapun ia teriak, neneknya tidak akan bangun. Dunianya hancur seketika. Mata ungunya menyala memancarkan kemarahan.
Pria jelmaan iblis itu hanya berdiri dengan santai setelah memb*n*h ibu kandungnya sendiri. Ia tidak merasa bersalah samasekali. Malah berkata.
"Jika kau tidak mau bernasib sama, keluarkan semua hartanya sekarang juga!"
Raka tak menjawab apapun.
Ia berdiri, memperhatikan anak durhaka itu berjalan masuk ke kamar ibunya yang sudah tiada. Tanpa Alan sadari, Raka sudah memegang sebuah alat pemecah es yang ia sembunyikan di balik baju tebalnya.
"Cih! Dimana dia menyimpan uangnya. Benar-benar --"
JLEB!
Raka m*n*suk tepat di punggungnya bagian kiri, kemudian...
JLEB!!
M*n*suk lagi bagian kakinya. Alan jatuh tersungkur. Ia mengerang kesakitan. Tangannya meraih ranjang dekatnya, berusaha bangun tapi, bocah itu menginj*k kakinya yang terluka. Dan....
BUAGH!!!!!
Ia sekarat setelah kepalanya di h*nt*m dengan tiang besi. Matanya terbelalak, mulutnya terbuka dan napasnya tersengal.
Dia m*ti.
Akhirnya m*ti.... Raka menatap pria yang telah menjadi mayat itu dengan datar. Tidak ada ekspresi takut sama sekali. Badannya berdiri tegak, tangannya yang berl*m*ran d*rah masih terkepal kuat..
Setelah memastikan benar-benar tak bernyawa, ia pergi meninggalkannya begitu saja. Namun, ia teringat sesuatu. Ia berjalan menuju lemari neneknya dan mengambil kotak berharga milik neneknya.
__ADS_1
Kemudian, ia ambil tas berukuran besar dan memasukkan kotak tersebut, beberapa cemilan dan baju neneknya. Setelah itu, ia keluar dari kamar dan melihat jasad neneknya masih tergeletak dekat pintu. Memandangnya sebentar kemudian... Menyeret tubuhnya keluar rumah.
~~~~~~~~~~~~\`~~~~~~~~~~~
Badai salju belum reda, bocah itu terus menyeret tubuh neneknya yang mulai kaku. Pikiran dan hatinya mengatakan bahwa neneknya hanya tertidur. Ia sedang berhalusinasi jalan-jalan bersama neneknya ke wahana permainan.
"Nanti kita main apa yaa di sana? Oh ya! Nenek kan sedang sakit, jadi kita ke klinik dulu ya....." Katanya sambil tersenyum tapi matanya berair.
Badannya bergetar menahan udara yang sangat dingin, tapi hal itu tidak menghentikan langkahnya. Sampai akhirnya, ia sampai di sebuah klinik. Klinik Dr.Hans itu tulisannya. Mata sayunya menatap nanar. Ia meninggalkan jasad neneknya kemudian melangkah masuk.
"Permisi, apakah masih ada dokter yang bertugas?" Tanyanya dengan suara serak.
Petugas yang sedang merapikan kursi menoleh kearahnya dan terkejut. "Ya ampun. Ada apa? Kenapa tanganmu berdarah? Ayo masuk sini." Ajaknya.
Tapi, Raka menggeleng pelan. "Bukan aku yang sakit, tapi nenekku. Sebentar ya. Ku panggil dulu." Lalu ia keluar dan petugas itu berjalan di belakangnya.
Alangkah terkejutnya ia, melihat bocah itu menyeret tubuh neneknya yang sudah kaku. "Tunggu tunggu! Kamu bilang, nenek mu sakit? Dia tidak sakit tapi..."
Petugas itu langsung menghubungi 911 tapi, ternyata gagal karena Raka merusak teleponnya. "Aku butuh dokter! Bukan polisi!"
Seorang dokter keluar dari ruangannya saat mendengar kegaduhan di ruang tunggu. "Hei, ada apa? Siapa bocah itu?" Tanyanya. Sebelum Raka menjawab, si petugas langsung mengajak dokter untuk melihat keluar.
Dokter itu tak kalah terkejut. "Ya ampun! Ini... Bantu saya mengangkatnya. Hubungi 911! Sekarang!"
Petugas itu langsung menghubungi 911 dengan telepon yang lain. Sedangkan Raka, ia berdiri memperhatikan dokter dan petugas yang panik.
"Dik, kamu istirahat dulu ya. Oh ya! Kamu pasti lapar. Aku punya roti manis, mau?" Bujuk dokter itu.
Raka menggeleng ia pun celingukan mencari sesuatu. "Mana tas ku? Aku membawa cemilan untuk di makan nanti bersama nenek." Katanya sambil tersenyum. Senyuman yang menyedihkan.
Dokter itu bingung harus mengatakan apa. Hatinya teriris melihat kondisi bocah itu.
"Apakah kamu tau apa yang terjadi pada nenek mu?" Tanyanya hati-hati.
Seketika Mukanya langsung berubah datar. Ia tidak menjawab, hanya menatap dokter itu dengan tajam.
Tiba-tiba polisi dan ambulans datang. Mereka langsung membawa jasad Lynn ke rumah sakit untuk di autopsi. Raka yang melihat itu langsung berlari, berusaha mencegah mereka.
"Mau kalian bawa kemana??! Nenekku sedang sakit! Jangan pisahkan aku dengan nenekku."
Dokter itu memegang tubuh kecilnya yang memberontak. Tak lama, bocah itu pingsan karena kelelahan.
Esok harinya, berita mengenai pembunuhan di rumah Lynn tersebar cepat di mana-mana. Para tetangga tak menyangka hal memilukan itu terjadi padanya. Termasuk Elsa dan ibunya, teman dekat Lynn.
__ADS_1
Rumah itu tampak sangat kacau. Pintunya rusak, darah berceceran di mana-mana.
Dan yang paling mengejutkan adalah penemuan jasad seorang pria dengan kepala yang hancur, mukanya sangat mengerikan. Matanya terbelalak hampir keluar dan mulutnya terbuka. Di punggungnya tertancap pemecah es.
Para penyidik dan polisi di buat geleng-geleng dengan tragedi yang mengenaskan ini.
Polisi bertanya kepada tetangga sekitar, mereka mengatakan hanya mendengar suara pintu di gedor. Dan pelakunya adalah Alan.
Sudah menjadi rahasia umum, kalau Alan pulang, selalu menggedor pintu.
Dari dulu, Alan memang selalu membuat ulah bagi siapapun yang mengganggunya (menurut dia).
Para tetangga merasa gelisah jika Alan pulang. Jadi, mereka mengunci rapat pintu rumahnya jika melihat Alan datang dari kejauhan.
"Yang tinggal di rumah itu, hanya Alan, Lynn dan cucunya Raka. " Kata seorang tetangga saat di tanya tentang penghuni rumah itu.
Tak lama, polisi keluar membawa jasad pria itu yang diduga kuat adalah Alan, ke rumah sakit untuk di autopsi.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Rumah Sakit J
Seorang pria muda berlari terengah-engah menuju kamar pasien.
Krieeettt...
"Astaga!!! Sebenarnya apa yang telah terjadi? Terakhir kali kita bertemu, kamu sangat sehat dan baik-baik saja. Ku harap, kamu mau menceritakan semuanya padaku." Ucapnya lirih.
"Kenapa kau datang, Hans?" Kata Raka tiba-tiba dengan matanya masih terpejam.
Pria yang dipanggil Hans itu terperanjat. Ia pikir, bocah itu sedang tidur. "Bagaimana kabar mu?" Tanyanya.
"Seperti yang kau lihat." Ia membuka matanya yang membengkak karena terlalu banyak menangis.
"Bolehkah aku minta minum?" Hans langsung menuangkan segelas air dan membantunya minum.
"Aku terkejut saat diberitahu temanku bahwa kau datang ke klinik ku bersama nenek mu yang...." Ia ingin mengatakannya tapi ragu.
"Nenek sudah bahagia. Sekarang, nenek sedang duduk bersandar di bangku taman, sendirian. Tapi, nenek bilang, nenek merasa bahagia. Nenek tidak stress lagi.... Hiks!"
Bocah itu menangis lagi, menceritakan mimpinya. "Nenek bilang, nenek mau duduk sendirian saja di sini(taman). Di sini sejuk, nyaman dan tidak ada yang mengganggunya. Nenek tidak merasa lelah lagi." Hans sungguh tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Seorang bocah yang saat itu terlihat tegar, sekarang menangis tersedu-sedu. Ekspresi datarnya tidak terlihat lagi. Hanya kesedihan yang mendalam.
__ADS_1
"Aku sebentar merasa lega tapi, kenapa yaaa nenek tidak mau melihat ku? Nenek menatap lurus saja. Hanya mau melihat hamparan bunga dan rumput segar yang hijau. Apa mungkin, nenek sudah melupakan ku ya?"
Suaranya serak, tangisnya terdengar memilukan. Hans tidak bisa menahan air matanya. Ia bisa merasakan kepedihan dan kesengsaraan yang menimpa bocah itu.