Warm Home

Warm Home
Season 2 Chapter 26


__ADS_3

Masih Flashback.


"Aku ingin berkunjung ke tempat tinggal ku dulu." Kata Raka yang sedang merapikan pakaiannya dan memasukkan kedalam tas punggungnya. .


"Kenapa tiba-tiba?? Aku boleh ikut tidak?" Tanyanya berharap dibolehkan. Raka menggeleng pelan.


"Ayah dan ibu kesepian nanti." Ucapnya lagi.. Raphael murung. Raka tersenyum tipis melihat ekspresi kakaknya.


"Kak.... Badanku makin melemah meskipun masih bisa menahannya." Ucapnya berbisik takut tiba-tiba ada seseorang di depan kamarnya dan mendengar rahasianya.


Raphael terkejut dan mulai menangis. Ia menggeleng lalu memeluk adiknya erat.


"Aku ingin mengunjungi kota itu selagi masih kuat. Mengunjungi rumah paman Hans sekaligus menyapa nenekku.. Aku takut.... sakit ku makin parah sehingga tidak bisa kesana lagi."


Raphael tidak bisa mengatakan apa-apa. Rasa bersalahnya makin sudah memenuhi hati dan pikirannya. Air matanya sudah tidak bisa terbendung lagi. Mainannya yang menumpuk tidak berguna lagi. Dipikirannya hanyalah bagaimana adiknya bisa sembuh dan racun-racun di tubuhnya hilang.


Akhirnya, ia mengangguk setuju.


"Ambil semua hartaku saat aku sudah tidak berada di sisimu. Aku bekerja bukan hanya untuk diriku sendiri. Untuk kakak juga. Agar kita punya uang sendiri." Raphael menggeleng cepat, tidak setuju.


"Kamu pasti bisa sembuh! Aku akan terus menemani mu. Jangan tinggalkan aku, yaaa. Kamu lah yang selalu menguatkan ku." Raka hanya meresponnya dengan senyuman. Setelah itu, mereka bersikap seperti biasa seakan tak ada hal yang terjadi.


Flashback off.


Ruang kerja George.


"Di racun?! Siapa yang..... Tunggu tunggu.."


"Racun ini bukanlah racun biasa tapi dari tanaman bunga Angel's Trumpet."


George tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Cucunya keracunan bunga. Bagaimana cucunya bisa keracunan bunga yang langka itu???! Bunga kematian itu sudah sangat langka. Dulu memang banyak di kota X. Orang-orang kaya biasa menanamnya di pekarangan rumahnya.


Namun, ada kejadian seorang remaja meninggal gara-gara keracunan bunga itu. Tidak hanya itu, beberapa anak kecil yang memetik dan menghirup bunga itu juga keracunan. Pemerintah akhirnya membasmi tanaman mematikan itu dan masyarakat tidak ada yang mau menanamnya lagi.


"Tapi anda tidak perlu khawatir, Tuan. Ada kabar baik yang akan saya beritahu." Kata dokter itu.. George menatap mata dokter itu, dokter itu tersenyum lalu mengangguk dengan yakin.


"Cucu anda memiliki harapan bisa cepat sembuh karena, racun yang berada di dalam tubuhnya tidak menyebar sampai jantung. Karena selama ini, ia mengkonsumsi makanan yang mengandung zat penawar racun."


Perasaan senang dan heran bercampur tapi, tidak ia tunjukkan. Ia ingin mendengarkan penjelasan lebih dari dokter itu.


"Kemungkinan penyebab cucu anda koma adalah, tubuhnya yang masih lemah dalam menghadapi racun itu, dan ia tidak mengkonsumsi makanan zat penawar racun selama beberapa hari.". George tidak merespon, ia tenggelam di pikirannya sendiri.


"Apakah tuan muda mengkonsumsi gula??" Tanya dokter itu. Pikiran George buyar, ia mengernyitkan dahinya.


"Apakah tuan muda mengkonsumsi makanan yang mengandung gula?" Tanya dokter itu lagi. George mengangguk.


"Ya. Dia makan banyak kue." Jawabnya.


"Terimakasih atas informasinya. Selamat bertugas, dokter. Saya mengharapkan kabar baik lainnya dari anda." Ucap George menyudahi perbincangan.


Setelah dokter itu keluar, George berdiri menatap jendela ruang kerjanya. Pikirannya di penuhi banyak pertanyaan. Tapi, ada satu nama yang muncul di pikirannya.


"Raphael... Ya, aku harus tanya dia. Dia pasti sedang menyembunyikan sesuatu."


Tak perlu berlama-lama, ia langsung keluar menuju kamar rawat cucunya.


Ceklek!


Pintu terbuka, terlihat Edward dan Grace sedang duduk di samping bocah yang masih tertidur.


"Paman kesini sendiri? Zack mana?" Tanya Edward yang melihat George datang tanpa ditemani pelayannya.


"Kalian keluar dulu. Aku ingin berdua dengan Raka." Ucapnya lirih sambil menatap wajah tenang cucunya.


Saat mereka hendak keluar,


"Raphael, duduk." Mereka semua terkejut ketika mendengar suara George berubah seperti orang yang menahan kekesalan. Mereka pun keluar dengan saling pandang. Bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.


Ceklek klek!


Raphael menutup sekaligus mengunci pintunya. Membuat Edward dan Grace makin penasaran dan khawatir.


"Sudah, biarkan saja. Kita tidak boleh mengganggu mereka." Edward mengajak istrinya ke taman bunga untuk mengalihkan kekhawatirannya. Grace mengangguk pasrah, berjalan meninggalkan kamar itu.


"Iya, kakek. Ada ap--"


"Kau pasti tau sesuatu kan?" Tanya George yang saat ini duduk di hadapannya dengan ekspresi marah.


"Iya, aku tau semuanya." Jawabnya tegas sambil berusaha tenang.


"Darimana dia bisa keracunan bunga yang langka itu? Aku sudah tau bahwa bunga itu sudah tidak ada di sini. Pemerintah sudah membasmi bunga mematikan itu."


Raphael menunduk ia sudah tahu hal ini akan terjadi. Tapi, dia ragu untuk memberitahunya.


"Ma-maaf. A-aku tidak menjaganya dengan baik."


Matanya terpejam rapat


BRAKK!!!

__ADS_1


Benar saja kakeknya marah, ia tidak mau melihat ekspresinya yang menakutkan.


"Bukan itu yang ingin ku dengar! Tapi, ceritakan semua detail kejadian sampai membuatnya keracunan!" Suara George Menaik, tangannya terkepal kuat. Ia sudah sangat marah dengan kejadian ini.


"Ada orang yang meracuninya." Kata bocah itu dengan sekali tarikan napas.


George membelalakkan matanya, tidak percaya.


"SIAPA?!"


Raphael memegang dadanya, jantungnya berdetak lebih cepat. Kepalanya pusing, tapi ia tahan. Ia merasa harus menceritakan semuanya meskipun nanti akan dibenci adiknya karena membongkar rahasia mereka berdua yang selama ini BERHASIL mereka simpan.


Raphael menyerah. Ia akhirnya membongkar semuanya. Kejadian malam itu, saat mereka ke ruang rahasia, dirinya di todong benda tajam oleh seseorang, lalu disuruh meminum cairan gelap sampai akhirnya, sang adik yang meminumnya.


"Kesalahanmu sangat besar, Raphael. Seandainya kau langsung memberitahuku hari itu juga, pelakunya pasti sudah tertangkap dan adikmu tidak akan mengalami koma!"


Raphael tetap diam, kepalanya tetap menunduk karena tidak berani melihat kakeknya yang sedang marah.


"Obat apa yang kau berikan?" Tanyanya


"Aku tidak memberikan obat, hanya memberinya makanan yang mengandung zat penawar racun." Jawabnya pelan.


"Bodoh! Racun Angel's trumpet bukan seperti racun biasa, ia sangatlah berbahaya!"


Bocah itu akhirnya menangis tersedu-sedu. Rasa bersalahnya bertambah. Tapi, tidak akan bisa berubah dengan hanya menangisinya.


"Siapa orang itu?!"


Raphael menggeleng. Ia memang tidak tau siapa. Ia hanya mengingat suaranya.


"Kau keluar dari kamar ini. Kembali ke kamarmu."


"Ta-tapi...."


"KELUAR!"


Raphael berdiri, ia langsung mengumpulkan barang-barangnya untuk di bawa ke atas, kembali ke kamar asalnya. Sebelum keluar dari kamar, ia menatap adiknya yang masih 'tidur' .


Saat membuka pintu, ternyata ada Nicholas dan kakaknya yang berdiri depan kamar. Mereka melihat bocah itu membawa barang-barangnya keluar dari kamar sambil menangis.


Zack melihat tuannya membelakangi mereka. Ia pun segera membantu bocah malang itu.


"Ini bukan salahmu. Tenang, Tuan George hanya sedang marah. Beliau tidak membencimu." Ucapnya menenangkan.


"Aku akan melakukan apapun untuk adikku. Hiks! Kakek tidak mau mempercayakan ku lagi untuk merawatnya."..


Seminggu kemudian....


Raphael tidak menikmati hari-harinya. Ia hanya sibuk dengan buku dan penanya. Tubuhnya makin kurus karena hati dan pikirannya sedang tidak baik-baik saja. Ia sering menangis tengah malam sendirian. .


Grace ingin menemaninya tapi, ia menolak. Beralasan Ingin sendirian dulu. Raka????


Masih betah dalam dunianya. Nicholas setia merawat tuannya sampai sembuh total. Dokter mengatakan bahwa kondisinya baik-baik saja. Tinggal menunggu ia terbangun dari komanya.


George bolak balik dari ruangan kerja ke kamar rawat cucunya. Semuanya dalam pantauannya. Pelaku kejahatan itu juga belum ketemu. Sudah berkali-kali memeriksa CCTV, tapi hasilnya nihil. Orang itu seakan sudah hafal celah-celah mansion itu. Yang pastinya, pelakunya adalah orang dalam.


Tuan Axello???? Ia dan keluarganya sudah kembali ke rumahnya sejak kemarin lusa. Para pelayan bernafas lega, akhirnya mereka bebas dari ocehan Si Perfeksionis itu.


---------------------------------------------


Malam hari, Raphael sibuk memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam sebuah tas ransel hitam yang cukup besar. Setelah itu, ia makan roti yang sudah disediakan untuknya sejak sore tadi. Ia sengaja tidak langsung memakannya karena sibuk dengan rencananya.


Saat sudah yakin dan siap, ia membuka pintu kamar dengan sangat pelan. Tak lupa ia mematikan lampu kamar itu tapi tidak dengan AC nya yang dibiarkan menyala.


Ia menuruni tangga dengan langkah yang pelan sehingga tidak menimbulkan suara sedikitpun. Dengan jantung yang berdegup kencang, ia berjalan menuju pintu ruang tamu.


Bocah itu tau, pintu itu pasti sudah di kunci. Ia mengutak-atik lubang kunci itu dengan lancar dan berhasil. Pintu itu terbuka. Ia langsung keluar dan berjalan menuju arah samping, bukan gerbang itu karena ada satpam yang berjaga.


"Duh, kok terasa lama sekali yaaa." Batinnya sambil berusaha tenang. Kemudian, sampailah ia di sebuah lubang yang sudah di gali menggunakan tangan. Ya, yang menggali lubang itu adalah dia dan adiknya, Raka.


Tangannya menggali lagi agar badannya muat memasuki galian itu bersama dengan tasnya dan tak lama,...


"Aku berhasil! Harus cepat!. Aku takut ketahuan kamera.". Raphael berlari sekencang mungkin. Udara dingin malam itu tidak ia pedulikan. Badannya berkeringat karena ketakutan tadi. .


"Sudah lama tidak berjalan-jalan di malam hari. Waaah pemandangan malam bagus juga ya." Ucapnya sambil terus berlari. Jam menunjukkan pukul setengah dua belas. Ia lelah berlari dan memutuskan untuk berjalan mencari bangku panjang untuk beristirahat.


Di perjalanan, ia melihat sebuah minimarket yang lampunya masih menyala terang tandanya masih buka. "Wah! Ada minimarket yang masih buka. Syukurlah.... Aku bisa membeli makanan dan minuman.".


Ia pun langsung masuk, lalu mencari roti dan susu untuk mengganjal perutnya esok hari. Tak lupa ia memeriksa harganya. Ia harus berhemat untuk bertahan hidup sendirian.


"Maaf ya, Raka. Uangmu kupakai. Suatu saat aku yang akan memberimu uang." Batinnya saat sedang membayar belanjaannya. Kemudian ia keluar dari situ. Berjalan dan terus berjalan mencari transportasi yang lewat.


"Aku lelah..... Lutut ku terasa seakan retak. Belum ada transportasi yang lewat. Wajar siih ini kan sudah tengah malam. Tapi aku butuh." Keluhnya.


Setelah beberapa menit beristirahat, ia melanjutkan perjalanannya. Ia berjalan menuju suatu tempat yang Raka ceritakan serta tuliskan alamatnya.


Sudah pukul satu dini hari. Ia tidak menyerah meskipun kelelahan. Beruntung, tadi ia menemukan toilet umum sehingga bisa mencuci mukanya dan tidak mengantuk.


Tiba-tiba ia mendengar suara klakson mobil. Mobil itu terparkir depan toko baju yang masih tutup. Lalu ada seorang perempuan dengan jaket coklat tua keluar menghampirinya. Bocah itu panik. Ia mundur dan hendak berlari. Sayangnya, tidak bisa. Kakinya terlalu lemas untuk berlari kencang.

__ADS_1


"Ka-kau siapa?! Jangan menggangguku!" Teriaknya sambil menguatkan diri. Berharap ada yang akan menolongnya.


"Jangan khawatir, saya disini untuk menolong anda." Kata perempuan itu menenangkannya. Raphael menggeleng, ia berusaha kabur tapi...


"Tuan Terhormat" kata perempuan itu lagi Raphael tentunya tau siapa yang dimaksud Tuan Terhormat. Raka pernah menceritakannya. Ia menatap mata perempuan itu. Hatinya ragu, harus percaya atau tidak. Ia khawatir tertipu lalu diculik.


"Anda pasti tau siapa Tuan Terhormat, kan?" Tanya perempuan itu. Raphael mengangguk. Akhirnya ia mengikuti perempuan itu dan masuk kedalam mobil biru tua itu. Tak perlu menunggu lama, mobil itu melaju kencang karena jalanan memang sangat sepi.


"Ya ampun! Pelan-pelan dong!" Gerutunya dalam hati. Ia duduk di bagian tengah sendirian, memperhatikan isi mobil itu. Sedangkan di depannya ada pria yang menyetir dan sampingnya adalah perempuan itu.


"Kita sedang menuju kota M. Kota itu ditinggali oleh masyarakat kalangan menengah atas. Kita akan ke rumah seseorang untuk membongkar identitas pelaku."


Raphael hanya mengangguk sambil meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Matanya mulai terasa berat dan kepalanya pusing karena menahan kantuk. Ia sangat ingin tidur beberapa menit. Tapi, khawatir barang-barangnya akan di rampok.


"Tidurlah, Raphael. Kalau sudah sampai, kita akan membangunkan mu." Kata perempuan itu.


"Haha! Dia masih belum mempercayai kita, Casey. Lihat saja. Ia memeluk erat tasnya seakan kita akan mengambilnya." Kata pria yang sedang menyetir itu.


"Jika berada di posisiku, Anda juga akan melakukan hal yang sama." Sahutnya kesal. Pria itu hanya tersenyum menanggapinya. Tak lama, bocah itu tertidur pulas sambil tetap memeluk tasnya. Perempuan itu memperhatikan wajahnya yang kelelahan.


"Tadi aku sempat menatap matanya. Warnanya indah dan belum pernah ku temui mata seindah itu." Kata perempuan yang bernama Casey itu.


"Ya, aku juga sempat melihatnya sebentar. Hanya orang tertentu yang memiliki mata seindah itu." Sahut pria itu.


×××××××××××××××××××××××


"Sayang, aku ingin sarapan bersama Raphael. Dia pasti senang dan terhibur. Setiap harinya ia selalu ingin sendiri." Kata Grace yang sedang mengganti pakaiannya.


"Ya sudah. Aku juga ingin ke kamar paman membicarakan mengenai pekerjaan. Tapi kamu tidak boleh lupa minum vitamin, ya." Mereka pun keluar dari kamar. Edward mengantar istrinya ke kamar Raphael terlebih dulu.


Tok tok!


Grace mengetuk pintu kamarnya tapi belum ada jawaban. Ia ketuk lagi, tapi masih belum ada tanda-tanda orang yang akan membukakan pintu. Mereka berdua saling menatap keheranan. Ada yang janggal...


Akhirnya Edward yang membuka pintu dan


"Gelap sekali. Uh! Dinginnya..... Lho? ACnya belum dimatikan. Apa dia tidak kedinginan?" Gumamnya. Ia pun menyalakan lampunya dan tidak mendapati Raphael disana. Grace merasa ada yang aneh, langsung memeriksa semua isi kamar itu.


"Sayang. Raphael kemana?!" Tanyanya yang mulai panik.


"Kamu tenang dulu. Duduk disini dulu yaa. Aku akan bertanya pada pelayan. Jangan panik, kita cari dulu. Siapa tau dia ada di lapangan." Kata Edward yang menenangkan istrinya. Sebenarnya, ia panik juga tapi tidak mau menunjukkan karena Grace akan lebih panik lagi.


Ia pun bergegas turun ke bawah bertanya kepada pelayan yang sedang membersihkan ruang tamu. Mereka mengatakan hal yang sama. Belum melihatnya hari ini.


Edward terus mencari bocah itu di bantu oleh para pelayan tapi hasilnya nihil.


Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak saat masuk, dan orang itu adalah tukang kebun di mansion itu. Ia mengatakan bahwa ada yang menggali tanah Di halaman samping, dan ia juga menemukan sebuah pita rambut berwarna ungu.


Edward langsung menghampiri orang itu dan mengambil pita rambut itu. Matanya terbelalak, jantungnya berdegup kencang. "Apa yang harus ku katakan pada Grace??" Batinnya.


"Bukankah itu milik Tuan Raphael?" Kata salah satu maid yang melihat pita itu.


"Permisi.... Tuan George memanggil anda, Tuan Edward." Kata seorang pelayan yang menghampirinya. Edward membalikkan badannya lalu berjalan cepat menuju kamar pamannya dengan perasaan campur aduk.


\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#


Tok tok!


"Masuklah"


Edward pun masuk dengan senyuman yang dipaksakan. George memperhatikan raut wajahnya, menduga ada hal buruk yang sedang terjadi.


"Ada apa dengan wajahmu? Apakah ada yang --"


"Raphael hilang." Ucapnya lirih. George mengernyitkan dahinya.


"Tadi kau bilang apa?"


"Raphael hilang." Kali ini Edward mengatakannya dengan jelas. Pria tua itu membelalakkan matanya, lalu tertawa.


"Kau jangan mengada-ada..". Edward menggeleng. Ia pun mengatakannya lagi dengan ekspresi yang meyakinkan


"Raphael benar-benar hilang. Dicari di seluruh ruangan, tidak di temukan. Kata tukang kebun, ada yang menggali tanah di halaman samping. Dan galian itu menuju arah luar mansion. Tidak hanya itu, di galian itu, juga ditemukan pita rambut berwarna ungu milik Raphael."


George memegang kepalanya. Tiba-tiba ia teringat saat memarahinya. Rasa bersalahnya muncul, tampak kesedihan dari wajahnya.


"Gara-gara aku memarahinya, dia--"


Tok tok!


"Permisi, Tuan George. Ada hal penting yang harus saya beritahu." Edward langsung membukakan pintu dan masuklah Zack sambil membawa sebuah gulungan kertas.


"Saya menemukan ini di ruang kerja anda.."


Kata Zack sambil memberikan gulungan itu. George langsung mengambilnya dan ternyata itu adalah selembar surat


"Kakek..... Aku minta maaf sudah mengecewakan mu. Aku mengira, apa yang kulakukan itu benar. Ternyata sebaliknya, adikku sekarat dan belum juga ada tanda-tanda ia akan bangun. Sesuai janji pada adikku, aku akan keluar dari mansion ini kalau dia belum bangun. Terimakasih sudah memberikan segalanya. Aku senang bisa merasakan kenikmatan dan kehangatan keluarga yang tak pernah kubayangkan.. Aku takkan pernah melupakan kakek. From : Wine Boy."


Season 2... END

__ADS_1


__ADS_2