Warm Home

Warm Home
Season 3 Chapter 2


__ADS_3

"Baiklah! Pemeriksaan selesai. Hasilnya, kamu sehat. Selamat yaa, kamu sudah berjuang melawan racun itu. Nah! setelah ini, kamu harus menjalani terapi karena badanmu agak kaku. Tenang saja, tidak lama kok." Kata Hans setelah memeriksa Raka.


"Lalu, kenapa dia tidak mengingatku?" Tanya Grace.


"Tenang saja, Nyonya. Itu adalah efek samping yang terjadi saat seseorang baru bangun dari koma. Hanya sementara, tunggu beberapa hari saja." Jawab Hans yang membuat Grace lega.


"Ingat yaa. Kamu tidak boleh memaksakan diri untuk mengingat semuanya. Kamu mau cepat pulih, kan?? Rutin makan dan istirahat yaa. Oh! Hampir lupa. Kamu makan makanan yang lembut dulu seperti bubur. Belum boleh makan kue yaa." Ucap Hans yang membuat bocah itu cemberut.


"Nicholas, ini makanan Lembut yang harus di konsumsinya setiap hari." Hans memberikan secarik kertas pada Nicholas. Ia pun membacanya lalu mengangguk.


Raka sudah menatapnya dengan tatapan tidak suka, ia memang kurang suka bubur. Tiba-tiba ia teringat lagi dengan kakaknya. Dulu, ia pernah dibuatkan bubur oleh kakaknya saat sakit. Dan rasanya sangat lezat. Sekarang ,Ia ingin dibuatkan lagi. Tapi, kakaknya tidak ada.


"George memerintahkan mu untuk memindahkan cucunya ke kamar asalnya." Kata Zack yang tiba-tiba muncul di belakang adiknya.


"Ya ampun! Zack!!! Bisa tidak memberitahuku dengan cara biasa? Membuatku kaget saja." Protesnya.


"Bocah nakal! Aku sudah dua kali memanggil mu tapi kau tidak menggubris." Balasnya ketus. Hans hanya duduk memandang kakak adik yang saling sahut.


"Sudahlah. Sana! Kerjakan tugasmu." Lalu Zack langsung keluar dari kamar tanpa menutup pintunya.


"Hih! Kebiasaan!" Gerutunya.


"Maaf ya, tuan muda hehehe. Uummm... Kita pindah ya, sekarang. Anda pasti merindukan kamar itu. Sudah lama anda tinggalkan." Ucapnya sambil mengangkat tubuh kecilnya dan mendudukinya di kursi roda.


Para pelayan terkejut melihat tuan muda yang sudah bangun. Ada yang menghampirinya, ada juga yang menyapa dari jauh. Mereka pun akhirnya sampai di kamar. Raka langsung menjalani kursi rodanya mengelilingi kamar. Ia mencari keberadaan kakaknya namun hasilnya nihil.


Tiba-tiba pintu kamar yang tadi sudah di tutup, terbuka lagi karena Hans masuk. Ia kagum dengan desain kamar yang unik itu


"Wah! Jadi ini kamarmu ya... Luas sekali. HM? Dua ranjang..... Itu--"


"Diam! Jangan mengatakan apapun lagi." Bisik Nicholas sambil membungkam mulut Hans.


"Jadi, yang satunya ranjang Raphael??" Tanyanya sambil berbisik. Nicholas mengangguk.


Raka melihat meja belajarnya yang sudah lama tidak ia sentuh. Terlihat Tidak Ada perubahan sedikitpun di meja itu. Tapi, ia menemukan sesuatu di selipan rak bukunya. Ia pun meminta Nicholas untuk mengambilnya. Sebuah bingkai foto yang tertutup kertas bagian depannya.


Raka menyobek kertas yang menutupi foto itu lalu ia terkejut saat melihat foto itu. Foto pertama yang diambilnya bersama Raphael sambil memeluk Lucy, kucing milik Grace.


"Oh iya, foto ini diambil saat.... Salju turun. Ya. Tapi aku tidak ingat dimana." Gumamnya.


"Hans, kau tau dimana kakak?" Tanyanya. Hans menggeleng pelan. Ia memang tidak tau dimana tapi, ia tau Raphael hilang.


"Makanan sudah siap! Ayo kita makan." Kata Nicholas sambil menghidangkan semangkuk bubur dihadapan tuannya. Raka sudah menatapnya tidak suka, ia pun mengatakan bahwa ia ingin roti dan segelas susu.


"Belum boleh. Kamu ingin cepat pulih, kan? Makanlah sesuai dengan yang ku tulis tadi."


Akhirnya, Raka memakannya sendiri tidak mau disuapi. Meskipun masih lemas, tapi ia tetap ingin makan sendiri.


"Sudah. Terimakasih." Katanya ketus. Lalu ia mengambil buku yang sudah di letakkan disampingnya dan langsung membacanya.

__ADS_1


"Obatnya belum diminum." Ucap Hans mengingatkan. Raka melotot sambil menggeleng.


"Kenyang." Sahutnya singkat.


"Baiklah, kalau begitu.."


"Aku ingin sendiri." Mereka berdua saling menatap lalu keluar meninggalkannya sendiri.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


"He"ll find out soon." Kata Hans tiba-tiba


"Iya, aku tau. Maka itu dari tadi aku berpikir cara memberitahunya. Aku tidak mau membuatnya jatuh sakit saat mengetahui kenyataannya." Sahut Nicholas disertai helaan nafas yang panjang.


"Kalian berdua di panggil Tuan George." Kata Zack yang tiba-tiba muncul entah darimana di hadapan mereka.


"Are you ghost???!! Selalu saja mengagetkan orang! Mau ku berita-"


"Cerewet! Ikut aku ke ruang kerja beliau." Kata Zack sambil menarik-narik adiknya. Hans geleng-geleng melihat kebiasaan Zack yang belum berubah dari dulu. Entah ilmu apa yang ia miliki. Selalu tiba-tiba muncul dari depan, samping atau belakang.


#############################


"Oh! Ini kan buku kesukaan kakak. Aku baru ingat. Huuuh menjadi pelupa itu menyebalkan dan merepotkan." Bocah itu berbicara sendiri di kamar sambil membaca isi buku yang dipegangnya.


Buku itu adalah buku kesukaan Raphael, mengenai tanaman liar dan beracun. Saat sedang membacanya, ingatannya tentang kejadian malam itu saat dirinya meminum cairan itu, muncul.


"Pria B*jng*n itu! Ah! Aku tidak akan pernah melupakan wajahnya. Kau! Semua ini gara-gara kau! Akan ku balas perbuatannya lihat saja nanti." Katanya sambil memegang kepalanya.


##########################


Raphael yang saat ini sedang menulis tiba-tiba teringat adiknya. Dulu, ia dan Raka sering bersaing soal tulisan siapa yang paling bagus.


"Cih! Padahal, aku yang lebih sering menulis tapi , Kenapa tulisanmu yang lebih bagus? Ini tidak adil."


"Yaa anggap saja,kakak mu ini spesial."


"Mana ada seperti itu. Atau mungkin aku harus menulis dengan tangan kanan juga?"


"Tulisanmu juga rapi kok. Buktinya, kakek tidak berkomentar apapun. Nicholas juga mengatakan bahwa tulisanmu sudah bagus. Sudahlah terima saja Haha."


"Ku harap kamu sudah bangun. Aku disini baik-baik saja." Katanya dalam hati.


Yap... Setelah pertemuan dengan seorang perempuan yang bernama Casey, dan seorang laki-laki yang ternyata adalah kembarannya, Carl. Ia di ajak menginap di rumah mereka. Mereka tinggal bersama orangtuanya yang berprofesi sebagai tukang roti.


Rumah itu bertingkat dua dan sederhana, berbanding terbalik dengan mansion George yang luas dan mewah. Tapi, Raphael tidak pernah mempermasalahkan atau mengeluh saat pertama kali tinggal di situ. Hanya belum terbiasa dengan orang-orang asing.


Tok tok!


"Hey, makanan sudah siap." Kata seorang pria yang mengetuk pintu. Raphael sedikit terkejut karena orang itu mengetuknya cukup keras.

__ADS_1


"Iya, sebentar." Ia pun langsung merapikan bukunya lalu keluar kamar. Kamarnya terletak di dekat dapur. Jadi, sangat mudah baginya untuk pergi ke ruang makan.


"Maaf, aku terlambat." Katanya. Seorang pria paruh baya yang sedang membantu istrinya menyiapkan makanan hanya tersenyum. Dialah yang paling pendiam diantara mereka.


"Tidak apa-apa, Raphael. Kamu pasti sedang sibuk tadi." Kata seorang wanita paruh baya. Lalu, Datanglah Casey dan Carl kembarannya. Mereka duduk lalu mengambil makanannya masing-masing. Raphael yang hendak mengambil sendiri di tahan oleh Casey. Perempuan itu mengambilkan untuknya.


"Dia kan sudah besar. Biarkan dia ambil sendiri." Kata Carl ketus.


Tuk!


"Tidak boleh seperti itu! Dia masih kecil." Sahut Casey sambil memukul kepalanya dengan sendok di tangannya.


"Naah ini untukmu, Raphael. Makan yang lahap yaa." Kata Casey sambil menyodorkan semangkuk sup ayam.


"Terimakasih, Casey. Wah... Terlihat lezat." Bocah itu langsung memakan sup itu dan ia terlihat senang Pasangan paruh baya itu tersenyum melihatnya. Mereka sangat senang dengan kehadiran Raphael.


Setelah makan, Raphael di ajak pria paruh baya itu ke halaman sampingnya yang cukup luas. Disitu, terdapat banyak jenis bunga yang pernah ia lihat di buku favoritnya.


"Kenapa anda menanam banyak bunga yang beracun? Bukankah itu sangat bahaya dan mematikan? Contohnya putih itu. Lilly of the Valley. Semua bagiannya sangat berbahaya. Kenapa tidak..."


Tiba-tiba ia berhenti karena merasa terlalu banyak bicara.


"Mmmm ... Maaf. Aku terlalu banyak bicara." Katanya sambil meremat tangannya. Pria paruh baya itu hanya terkekeh. Ia tidak merasa kesal sama sekali.


"Lanjutkan saja.... Aku senang mendengarnya. Itu berarti, kau adalah anak yang pintar dan suka membaca buku. Jangan merasa rendah diri yaa." Katanya sambil mengusap kepalanya.


Ia pun mengajak Raphael untuk duduk di sebuah bangku kayu yang terlihat sudah lama.


"Dulu, salah seorang temanku meninggal secara tiba-tiba saat ia sedang bersantai di rumahnya. Saat di periksa, tidak ada tanda-tanda kalau ada yang membunuhnya. Namun, saat di teliti lebih lanjut, ia ternyata meninggal karena memegang setangkai bunga ungu itu. Namanya Foxglove. Aku terkejut ketika mengetahui penyebabnya. Sejak saat itulah, aku mempelajari sekaligus menanam bunga-bunga yang terlihat indah padahal beracun."


Suasana menjadi hening setelah pria itu bercerita. Raphael tidak tau harus berkata apa. Hatinya makin merasa bersalah dan khawatir dengan kondisi adiknya. Ia takut, cairan itu benar-benar membunuh adiknya. Racun Bunga Angel's trumpet tidak bisa di remehkan, benar-benar berbahaya dan mematikan!


Ia menggeleng cepat, hati dan pikirannya berusaha optimis. "Adikku akan sembuh!" Batinnya. Tanpa disadarinya, pria paruh baya yang duduk disampingnya memperhatikan kelakuannya dari tadi. Ia tertawa kecil.


"Kau terlihat sedang menghadapi sebuah masalah yang besar." Raphael langsung tersadar dan menoleh ke pria sebelahnya yang tersenyum.


"Ah! Ma-maaf tadi.... Aku..." Pria itu mengusap kepalanya, sambil memperhatikan rambutnya.


"Rambut yang indah. Baru kali ini aku melihat rambut seindah ini."


"Benarkah?? Anda tidak menganggapnya aneh?? Atau..."


"Kenapa aneh? Ini sangat indah dan langka! Sejak pertama kali melihat mu? Mataku langsung tertuju ke rambutmu. Istriku sampai iri denganmu. Ia juga ingin mempunyai rambut indah sepertimu."


Bocah itu hanya diam sambil tersenyum, mengingat banyak sekali orang yang mengatakan bahwa warna rambut miliknya adalah kutukan. Apalagi ia juga memiliki mata bewarna merah. Kalau kata adiknya, seperti Ruby.


"Rambutku seperti bunga wisteria." Kata Raphael sambil memainkan rambutnya. Pria paruh baya itu mengerutkan dahinya.


"Maksud mu??"

__ADS_1


"Warna ungunya Terlihat indah tapi sebenarnya ia Beracun." Jawabnya sambil tersenyum kecut.


__ADS_2