
Amerika, Kota X
Beberapa saat yang lalu.....
Tok tok!
"Masuk!" Kata seorang pria paruh baya yang sedang duduk memegang setangkai mawar.
Klek!
"Oh, Zack! Cepat juga kau kembali. Bagaimana??"
Zack tersenyum . "Tuan, dia sudah datang. Hans juga." Kata pelayan setianya.
"Bagus! Aku ingin segera menemuinya."
"Mari saya antar ke ruang tamu." Zack berjalan di belakang majikannya. Belum sampai ke ruang tamu, Hans berlari ke arah mereka dengan muka khawatirnya.
"Ah! Beruntung sekali! Ayo ikut aku. Lihat! Pelayan itu berulah lagi." Zack dan tuannya saling menatap kemudian berjalan mengikuti Hans.
Di ruang tamu, terdengar suara ribut dari seorang pelayan laki-laki yang memarahi bocah yang memetik bunga majikannya. Dia menyeret bocah itu sampai terjatuh. Untungnya, bocah itu tidak mudah menangis. Dia hanya meringis kesakitan, lututnya lecet.
Goerge melihat itu semua dengan tangan yang terkepal, menahan amarahnya. Akhirnya ia bersuara.
"BERANI SEKALI KAU MENYAKITINYA, BEN!"
Pelayan itu terkejut mendengar suara itu. Ia sudah hafal pemilik suara yang bergema dan terdengar tegas itu. Tuan George menatapnya tajam, terlebih saat melihat 'cucu'nya di perlakukan dengan buruk.
Bocah itu melihat pria paruh baya yang sedang turun dari tangga ditemani Zack. Ia berusaha bangun tapi sulit, lututnya terasa ngilu.
"Raka, jangan memaksakan diri. Biar ku bantu." Kata Hans yang muncul dari belakang Zack dan tuannya.
George dan Raka saling pandang. Sejenak, mereka melamun memperhatikan wajah satu sama lain.
"Benar-benar mirip. Yaa walaupun bukan 100%. Mengingatkan ku dengan ayah. Kalau saja matanya tidak bewarna ungu. Rambutnya juga. Sepertinya harus di rapikan sedikit."
Pria paruh baya itu bermonolog agak lama. Sampai Zack harus menepuk bahunya dua kali.
"Apakah anda baik-baik saja?" Tanya Zack.
"Ya." George tersadar dan menggeleng pelan. Hans dan Zack bingung melihat tuannya.
"Zack, kau urus dia. Ganti pakaiannya." Setelah mengatakan itu, ia pergi meninggalkan mereka yang menatapnya heran.
1 jam berlalu....
Raka sudah terlihat lebih segar. Lecet di lututnya juga sudah di obati. Zack kagum dengan bocah itu karena dia sangat mandiri di usianya yang masih belia.
Raka tidak mau dimandikan bahkan memilih bajunya sendiri. Tidak hanya itu, bocah pintar itu menyisir rambutnya sendiri. Zack menawarkan diri untuk membantunya tapi ditolak. Ia mengatakan bahwa ia biasa melakukan sendiri.
"Sudah siap?" Tanya Zack yang gemas melihatnya merapikan kemejanya.
"Hm. Ya, sudah siap." Katanya dengan yakin.
Saat berjalan-jalan, Raka melihat ke kanan dan kiri, memperhatikan desain bangunan yang tinggi dan kokoh tersebut. Sekali-kali ia berhenti untuk melihat lebih dekat. Sampai kepalanya menengadah ke atas.
"Kita sudah sampai, tuan muda." Kata Zack membuyarkan fokusnya. Bocah itu terkejut. Tanpa disadarinya, sudah sampai di depan pintu bewarna pink pastel. Dihiasi oleh bunga anggrek yang diawetkan.
Ceklek!
"Silahkan masuk." Zack mendorongnya sedikit karena Raka sedikit ragu untuk masuk. Kemudian menutup pintunya kembali.
"They'll be good friends." Gumam Zack sambil tersenyum.
"Waaaah! Banyak sekali bunga disini. Seperti museum saja. HM? Mawar hitam? Oohh pasti ada sesuatu."
George memperhatikan cucunya yang asik melihat-lihat jenis-jenis bunga di kamarnya.
__ADS_1
"Kamu boleh melihat-lihatnya nanti setelah kita berbincang." Kata George.
Raka terkejut mendengar suara itu.
"Ah, maaf, tuan." Kemudian ia duduk di sofa yang di sediakan.
George diam sejenak kemudian memulai pembicaraannya.
"Siapa namamu?." Tanyanya langsung..
Raka tersenyum kecil dan menjawab "Raka "
George mengerutkan dahinya. Bocah itu mengangguk
"Maksudnya nama panjang ya? Aku tidak punya. Nenekku yang memberikan."
"Pernahkah nenekmu cerita tentang masa lalu mu?"
Raka menggeleng pelan. "Tidak begitu tertarik. Yang penting ada yang peduli denganku. Dan terpenting menyayangiku dengan tulus."
George merasa tertarik dengan gaya bicaranya. Memang berbeda dari anak kecil lainnya.
"Baiklah... Karena kamu bukan anak kecil pada umumnya, aku akan bertanya hal yang sensitif."
Raka menaikkan alisnya menunggu pertanyaan yang siap dijawabnya.
Bocah itu hanya mengangguk santai.
"Dia yang memulai semua itu. Membunuh orang yang telah menyayanginya dengan tulus Dan Menyia-nyiakan kasih sayang sang ibu. Aku melihatnya semua. Kalau ingin detailnya, tanyakan saja pada paman Hans."
Bocah di hadapannya berbicara dengan enteng tanpa merasa gelisah. "Ini menarik." Katanya dalam hati.
"Oh ya! Tuan George." Raka berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati George.
"Sebenarnya, saya sudah bosan di tanya ini itu. Kan anda sudah mengutus 3 orang mata-mata untuk mengorek informasi mengenai kehidupanku. Seharusnya, saya yang bertanya. 'Kenapa saya dibuang, asal usul orang tua saya, saya lahir kapan dan dimana.' "
Katanya sambil menyeringai. George terkejut mendengar perkataannya. Ekspresi bocah itu sungguh mengerikan.
"Bagaimana dia bisa tau?" Batin George bertanya-tanya.
"Gerak-geriknya ketahuan. Sekilas terlihat seperti orang yang beraktivitas pada umumnya. Bahkan, salah satu dari mereka pernah membeli kuenya nenekku saat festival malam di kota N. Aku bisa merasakan tatapan seseorang yang memperhatikanku saat itu."
Jelasnya dengan santai sambil melihat-lihat koleksi bunga di kamar itu.
Suasana seketika hening. George benar-benar kehabisan kata-kata oleh cucunya yang satu ini.
"Apakah kamu akan membenciku karena aku tidak membantumu? Tanyanya dengan hati-hati.
Raka memperhatikan wajah pria paruh baya itu dan menggeleng pelan. Ia pun berjalan kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
"Tentu tidak. Kita kan orang asing yang memiliki kehidupan dan kesibukan masing-masing. Lagipula, kalau anda muncul saat itu, belum tentu saya mau menerima anda." .
George tersenyum lega mendengar jawabannya.
"Jangan bicara formal begitu. Aku ini kakek mu. Panggil aku Kakek. Tadi kamu memanggilku Tuan. Aku terkejut mendengarnya. Bukannya Hans sudah memberitahu mu?" Protesnya.
Raka tersenyum dan mengangguk. "Iya, Kakek."
Tiba-tiba George tertawa terbahak-bahak. Raka yang melihat kakeknya tertawa merasa terkejut. "Ada yang lucu ya?" Gumamnya.
"Hahahaaaa ya ampun! Hahahaaa kau aneh! Tapi aku suka! Memang benar-benar paling beda dari yang lain!" Setelah itu, ia diam mengatur napasnya.
"Sudah puas menertawakan ku? Padahal tidak ada yang lucu." Kata Raka dengan ekspresi kesalnya.
"Hei! Jangan salah paham. Aku menertawakan mu bukan maksud menghina. Aku hanya kagum dengan cara berpikirmu. Oh! Silahkan di makan. Bukankah kamu suka biskuit?"
George menyodorkan sebuah mangkuk kaca berukuran sedang yang isinya biskuit yang terlihat lezat.
"Terimakasih." Bocah itu mengambil dan memakannya. Ia terlihat menikmati cemilan itu.
"Oh ya! Aku sangat ingin tau kenapa kamu bisa bertingkah seperti orang dewasa. Bahkan, cara berpikirmu juga. Sampai Kamu tidak mau bermain, hanya ingin membaca. Bagus sih...tapi, Tidakkah kamu ingin bermain.?"
Raka manggut-manggut kemudian menyeruput secangkir teh hangat. Setelah itu, membenarkan posisi duduknya. Ia tersenyum kecil.
"Dulu, Ada seseorang yang pernah bertanya seperti itu dan aku merasa risih. Jadi aku membentaknya." Katanya dengan santai.
George menghela nafasnya. Memang agak lain bocah satu ini.
" I'll tell you. Dari awal, kehidupanku memang sudah berbeda dari anak kecil pada umumnya. Sejak masih bayi, aku sering sakit. Aktivitas yang kulakukan hanya di atas kasur. Nenek tidak membolehkan ku ke ruang tamu. Alasannya dingin. Padahal udaranya sejuk, tidak begitu dingin. Badanku saja yang terlalu lemah."
Kemudian ia diam seperti menahan sesuatu.
"Ehm! Saat itu, usiaku 2 tahun. Aku sangat ingat buku yang nenek bawakan untukku adalah buku cerita bergambar penuh warna dan tidak ada tulisannya. Cerita itu tentang Alice in Wonderland. Aku merasa tertarik dan langsung suka. Setiap kali aku melepas buku itu, aku merasa gelisah. Buku itulah yang menemaniku saat nenek sibuk di dapur.
Setelah berbulan-bulan melihat buku itu, akhirnya aku meminta buku cerita lainnnya. Tapi, yang ada tulisannya. Kemudian Nenek memberikanku buku cerita tentang kue jahe yang 'hidup'. Nenek membacakan ku tiap malam sebelum tidur. Aku memperhatikan tiap kata yang nenek baca. Dan ternyata aku lebih tertarik membacanya daripada melihat gambarnya. .
Keesokan harinya, nenek membawakan 2 buku lagi mengenai kerajaan. Aku tidak tertarik melihat gambarnya. Aku malah penasaran bagaimana cara membacanya. Nenek tidak mengajarkanku membaca. Hanya memberitahu cara membacanya kalau aku bertanya. Dari situlah aku belajar membaca.
Saat umurku 4 tahun, nenek membawakan buku tentang tubuh manusia. Gambarnya tidak terlalu banyak dan aku senang. Karena itulah yang ku mau.
Saat aku di belikan sepeda oleh nenek, aku berkeliling sendiri ke taman dan perpustakaan. Di perpustakaan, aku bebas memilih buku yang sangat ingin ku baca.
Membaca adalah teman terbaik. Aku tak pernah merasa kesepian karena tidak punya teman. Aku punya dunia sendiri. And I enjoy that."
__ADS_1