
Beberapa Minggu kemudian........
Hubungan Raka dan kakeknya semakin renggang. Mereka tidak sedekat biasanya. Bicara seadanya, menyapa pun hanya sesekali jika ada keperluan. Tapi, Raka yang merasa bersalah karena telah berbuat semaunya berusaha memperbaiki semuanya meskipun Sulit.
Dibalik hatinya yang keras, ada rasa penyayang juga. Ia tidak suka ketegangan ini. Hatinya sesak saat kakeknya mendiamkannya. George sebenarnya juga tidak tega melihat cucunya yang selalu berusaha mendapatkan maafnya Tapi, kekecewaan di hatinya sangatlah besar.
Pencarian Raphael, ia yang laksanakan tanpa berkata apapun pada Raka. Sudah banyak orang yang ia kirim ke Kota M untuk menyelidiki seisi kota itu sekaligus membawa pulang bocah rambut panjang itu.
Jose? Pelayan itu sedang menikmati hari-harinya di ruang bawah tanah karena ia tidak mau menjawab alasan mengapa ia meracuni cucunya. Ia hanya pasrah saat diseret ke ruangan yang gelap tersebut oleh salah satu bodyguard George.
Raka... Bocah itu menjadi sangat pendiam. Ia bahkan tidak merespon jika diajak bicara. Nicholas yang setia menemaninya, diusir. Ia benar-benar ingin sendiri. Dibawah matanya terdapat lingkaran hitam menandakan bahwa dirinya kurang istirahat.
Ia melakukan semuanya sendiri, seperti dulu saat awal-awal tinggal di mansion itu. Yang lebih menyedihkan lagi, terdapat luka bekas cakaran di tangan kurusnya. Tiap hari, luka itu bertambah dan hanya diobati asal-asalan. Kondisinya benar-benar kacau dan menghawatirkan.
Grace dan Edward juga susah untuk mendekatinya. Raka selalu menghindar jika berpapasan dengan mereka.
Di suatu hari pada waktu Pagi...
Raka memasuki ruang makan untuk menikmati sarapan bersama kakeknya dan orangtua angkatnya. Ia tampak lesu karena semalam tidak bisa tidur. Matanya membengkak dan hidungnya memerah, semalaman ia menangis.
George berusaha untuk tetap tenang dan menikmati sarapan meskipun suasana di ruangan itu terasa hening dan tidak nyaman. Hatinya merasa perih melihat kondisi cucunya yang kian memburuk. Badannya kurus meskipun makannya teratur setiap hari.
Grace sedari tadi memperhatikan ekspresi wajah anak angkatnya yang tidak bersemangat. Ia merasa, inilah kesempatan untuk menghibur Raka dengan mengajaknya bermain bersama Lucy, kucing peliharaannya. Karena tiap harinya, bocah itu hanya bolak-balik ke kamar dan dapur.
"Raka, Lucy merindukan mu." Kata Grace tiba-tiba. Bocah itu diam sambil mengunyah makanannya. Pikirannya kacau, pandangannya kosong. Ia melamun.
"RAKA." Suara George menggema seisi ruang makan tersebut. Raka yang awalnya melamun, jadi tersadar. Ia menatap kakeknya dengan ekspresi linglung.
"I-iya.." jawabnya. Lalu menatap Edward yang kali ini melihatnya. Edward tersenyum tipis.
"Kamu harus merawat dirimu. Libur dulu ya aktivitas dapurnya. Bermainlah dan tenangkan dirimu."
"Haha. Iya." Sahutnya dengan senyuman yang dipaksa.
"Ibumu ingin kau bermain lagi dengan Lucy." Kata Edward lagi. Raka melihat Grace yang tersenyum dan mengangguk ke arahnya. Bocah itu berpikir sebentar.
"Ooh! Lucy! Ya, aku hampir melupakannya." Raka buru-buru menghabiskan makanannya setelah itu, ia pamit keluar meninggalkan mereka yang memperhatikan gelagat anehnya.
"Paman, apakah belum ada kabar terbaru mengenai..."
"Entahlah." Belum selesai Grace bertanya mengenai pencarian Raphael, George langsung menjawab dengan acuh.
Edward mengelus tangan istrinya untuk menenangkan. Grace mengerti, ia pun melanjutkan makannya meskipun hatinya gelisah.
#######################
"Lucy." Raka berteriak mencari hewan menggemaskan itu.
Meow..... Meow.....
Kucing itu seakan sudah hafal dengan suara bocah itu. Ia masih mengingat suaranya Raka meskipun sudah lama tidak bermain dengannya. Dari arah taman, ia berlari menghampiri Raka dan,
Hap!
Raka menangkapnya lalu memeluknya. "Aku merindukanmu! Sudah lama yaa kita tidak bermain." Katanya gemas. Ia pun berjalan ke taman dengan Lucy yang berada di dekapannya.
"Ayolah... Tuan muda tidak akan mengusir mu. Tetaplah disini." Terdengar suara Nicholas yang sedang berbicara dengan seseorang.
"Meskipun ia tidak akan mengusirku, aku tidak mau melihatnya! Aku tidak menyukainya."
Raka buru-buru menghampiri sumber suara dan...
"Kau siapa?"tanya Raka pada seorang gadis kecil yang sepertinya seumuran dengannya. Yang hendak keluar dari taman. Gadis itu cukup cantik. Matanya bewarna coklat, rambutnya hitam legam dan kulitnya yang tidak terlalu putih. Pakaiannya sangatlah sederhana.
Setelah Raka memperhatikannya, ia mengangguk seakan mengetahui sesuatu.
__ADS_1
"Kau anaknya.... Sumiati, pelayan yang bertugas di dapur?" Tanyanya sambil berjalan mendekat. Gadis itu berjalan mundur dengan kakinya yang sedikit bergetar. Tapi, masih menatap bocah itu.
"Iya! Kenapa memangnya?"
"Hanya memastikan. Silahkan lanjut bermain." Ucap Raka yang masih berdiri memperhatikannya sambil mengelus kucing imutnya.
Gadis itu diam, badannya kaku. Ia ragu, keluar dari taman atau tidak. Sebenarnya, ia masih ingin bermain disitu. Banyak bunga yang bermekaran yang menarik perhatiannya.
"Kenapa kau tidak menyukaiku? Apakah kau mengira aku akan mengusir mu?" Tanya Raka menyelidik.
"Bukannya tidak menyukai mu. Aku hanya tidak suka cara bicara mu yang galak!" Ketusnya.
"Yang bicaranya lembut belum tentu baik. Jangan menilai orang dari cara bicaranya!" Sahutnya sambil sedikit menaikan suara. Gadis itu tidak gentar ia makin mendekat.
"Kata ibu --" baru saja mulai berbicara, Raka memotongnya
"Mau sampai kapan kau bergantung pada ibu mu?!" Nicholas panik. Suasana mulai memanas, raut wajah Raka sudah menunjukkan ekspresi marah.
"Ma-maksudmu?" Nyali Gadis itu mulai ciut. Ia bisa melihat kilatan amarah dari wajah tuan muda itu.
"Jangan bergantung hidup pada manusia atau kau akan menyesal! Ingat itu." Setelah itu, Raka melewatinya, berjalan menuju air mancur sambil tetap mengelus kucing yang masih betah di dekapannya.
"Pantas saja tidak ada yang mau berteman dengannya!" Kata gadis itu dengan nada tinggi. Raka tiba-tiba tertawa. Tapi, bukannya terdengar lucu. Suaranya malah terdengar aneh, mengerikan.
Bocah itu yang semula membelakangi mereka, membalikkan badannya lalu berjalan ke arah gadis itu. Nicholas yang menahannya tersungkur jatuh karena Raka mendorongnya kuat.
"Unik! Kau unik. Haha! Namamu??" Tanya Raka sambil berjalan mendekat dan semakin mendekat.
"Naura! Tu-tuan muda, aku akan jatuh kalau terus jalan mundur." Ucap gadis kecil itu dengan ekspresi takut.
"Ah!" Raka mendorongnya sedikit, ia pun terduduk dengan wajah keheranan.
"Kursi? Sejak kapan.....?" Batinnya. Raka pun juga duduk dihadapannya dengan Lucy yang tertidur diatas pangkuannya.
Raka tidak menjawab. Nicholas datang membawakan teko berisi teh, dua cangkir dan setoples kue selai strawberry.
"Silahkan dinikmati." Katanya menyodorkan toples kaca itu kepada gadis kecil yang menatap heran orang dihadapannya.
"Kau tidak menyukaiku tapi, sering mengintip. Hahahaha!"
Mendengar itu, wajah gadis bernama Naura, memerah. Ia malu. Tak menyangka kalau tindakan mengintipnya ketahuan.
"Aku... Aku tidak bermaksud untuk melakukan hal yang buruk. Hanya penasaran bagaimana Tuan muda membuat kue-kue yang lezat itu." Ucapnya lirih sambil memejamkan mata.
"Aku tau kau anak yang baik. Kalau ingin tau, katakan saja langsung padaku dan Tak perlu mengintip seperti itu! Aku merasa tidak nyaman. Serasa diintai." Ketusnya. Bocah itu memang suka bicara blak-blakan.
Naura terdiam sambil meremat tangannya, kue yang disodorkan belum disentuh sama sekali. Melihat itu, Raka merasa kesal. Ia meletakkan cangkirnya
"Hei! Aku mengajakmu minum teh tapi, kau tidak menghargai ajakan ku. Cih! Untuk apa Nicholas meletakkan cangkir teh di hadapan mu?!"
Gadis itu tersentak. Dihadapannya sudah tersedia secanggih teh yang sudah dingin.
"Maaf. Lagi pula, ini kan salahmu karena membuatku takut dari tadi. Jadi..."
Raka langsung meninggalkannya. Bahkan Lucy ia berikan pada Nicholas. Rencananya ingin bersantai jadi batal.
Grep!
Raka terkejut karena gadis itu menahannya dengan memegang tanganny.
"Ada apa?! Sana menjauhlah! Jangan membuatku melukaimu!" Bentaknya tapi, gadis itu tetap menatapnya. Tidak ada ketakutan yang terlihat di wajahnya.
"Tanganmu banyak lukanya. Ayo, Ikut aku ke dalam Akan ku obati. Lihat lah! Luka bagian ini belum diobati."
Nicholas tersenyum mendengar perkataan dari mulut gadis itu. Tapi, Hatinya tidak tenang saat melihat ekspresi mengerikan dari tuannya.
__ADS_1
"Aku tidak butuh bantuan mu! Pergilah! Jangan sampai membuat kesabaran ku Habis!" Tangannya terkepal kuat. Ia berusaha untuk tidak melukainya. Meskipun karakternya keras, tapi Raka tidak pernah menyakiti perempuan.
Prok! Prok!
Tiba-tiba, terdengar suara tepukan tangan dari seseorang yang menghampiri mereka yang awalnya saling tatap. Naura tanpa sadar meremas tangan Raka. Bocah itu yang awalnya marah, sekarang keheranan.
Ia pun menoleh dan memperhatikan siapa yang datang. Seorang bocah laki-laki yang badannya lebih tinggi daripadanya dan usianya diatasnya.
Matanya bewarna biru, rambutnya sedikit bergelombang dan bewarna coklat tua, kulitnya putih gading. Pakaiannya terlihat sangat bagus dan mewah.
Bocah itu berdiri dekat pohon bunga, melipat kedua tangannya di dada dan menatap mereka sambil tersenyum remeh.
"Anak pelayan dan anak pungut. Hahahaha! Sangat cocok. Maaf ya, aku sudah mengganggu waktu kalian bekerja." Ucapnya meremehkan sambil memperhatikan penampilan Raka yang acak-acakan.
"Sudah selesai membersihkan taman ini? Lihatlah! Disitu masih ada sampah. Cepat bersihkan! Aku ingin menikmati segelas jus disini." Ucapnya lagi dengan nada yang terdengar menyebalkan, sambil menunjuk ke arah helaian daun kering yang belum disapu.
Raka tidak marah, ia tertawa mengerikan lalu berjalan santai menghampiri bocah yang lebih tinggi itu. Lalu melompat dan.....
Krak!
Raka mematahkan dahan pohon tersebut. Mereka yang berada di taman sangat terkejut. Pasalnya, dahan pohon itu sangat sulit untuk dipatahkan oleh bocah sepertinya tapi dengan mudahnya, Raka yang beranjak 7 tahun, dengan badan kecilnya bisa melakukannya. Bocah sombong itu juga terkejut tapi ia memendamnya.
"Oooh! Jadi ini orangnya.... yang otaknya kecil yaa. Badannya saja besar! Isi otaknya, NOL!" Balasnya dengan ketus.
"Anak pungut s**lan! Tidak berguna!! Kau tidak pantas bersikap seperti itu padaku. Seharusnya, kau makin sadar kenapa--"
Buagh! Bugh!
Dengan tangan yang terkepal kuat, Raka meninju wajahnya disusul dengan tinjuan di ulu hati. Bocah itu tersungkur, menangis meminta tolong.
Memori masa kecilnya teringat kembali. Saat Alan(anaknya Lynn, neneknya) memaki-maki nya dan merendahkannya. Dulu, ia sangat kecil dan lemah sehingga tidak bisa melawan.
Seiring berjalannya waktu, Raka yang merasa dirinya sudah kuat, diam-diam mempelajari cara berkelahi dan melatih otot-otot tubuhnya. Terutama tangan dan kakinya.
"Aarrrgh! Uhuk! Sakit! Ibu... Tolong aku hiks.!" Anak itu menangis sampai berguling di atas rumput sambil memegang bagian tubuhnya yang sakit. Ia menangis tersedu-sedu kesakitan.
"Aku ingin tau siapa orang tua dari anak manja ini." Ucap Raka sambil duduk santai di sampingnya.
"Ayolah.... Teriak lebih kencang lagi. Oh ya!" Raka menoleh ke kanan dan kiri mencari seseorang.
"Naura! Jangan bersembunyi. Anak manja ini tidak akan menyakitimu." Raka memanggil gadis kecil yang bersembunyi di balik semak-semak. Ia pun langsung keluar dari persembunyiannya dan dan menghampiri Raka.
"Apakah dia pernah menyakitimu? Saat melihatnya tadi, kau meremas tanganku dan mukamu sedikit pucat seperti orang yang ketakutan." Naura mengangguk.
"Dulu, saat masih tinggal di rumah Tuan Edward dan Nyonya Grace, dia pernah menarik rambutku karena aku tidak mau meminjamkan mainan untuknya. Aku pernah meminjamkannya tapi, dia malah merusaknya dan tidak mau menggantinya." Kata Naura sambil menatapnya sebal.
Bocah itu sesegukkan menahan sakit di ulu hatinya. Pukulan dari tangan kurus Raka memang bukan main-main.
Raka mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Ingin sekali rasanya menampar sekali lagi wajah sombongnya. Haha!"
"Tuan muda, lebih baik kita masuk saja. Jangan berbuat lebih. Nanti Tuan George memarahi anda lagi." Naura menarik-narik tangan Raka supaya pergi dari tempat itu namun, bocah keras kepala itu enggan untuk beranjak dari duduknya.
"Tunggu saja sampai Mamah nya datang memeluknya. Kalau kau takut, masuk saja sana. Biarkan aku disini menyaksikan si... B*J*NGN ini"
Gadis kecil itu merinding melihat ekspresi Raka. Ia pun segera berlari masuk sambil meremas tangannya.
Tak lama, datang seorang wanita yang berlari menghampiri bocah yang kesakitan itu. "HM? Ibunya ya?"batin Raka memperhatikan penampilannya. Ia langsung berdiri dan melangkah mundur
"Neil! Astaga, anakku!"
Matanya tertuju pada Raka yang tersenyum.
"Kau!"
__ADS_1