
"Bagaimana perkembangannya?"
"Sangat Baik, Tuan muda. Semua organ tubuhnya sudah sangat membaik. Kata dokter, Tinggal menunggu dia bangun. Lukanya juga sebentar lagi sembuh."
"Haaah! Aku sangat berharap agar ia segera bangun. Aku hampir dibuat gila dengan kedatangan pria itu dalam tidurku. Aku merasa malu dengan apa yang telah diperbuat oleh keluarga ini."
"Tuan muda.... Saya akan selalu membantu anda. Jangan menyerah. Semuanya akan berakhir."
"Aku ingin Akhir yang Baik. Aku sudah muak dengan semuanya. Banyak impian yang belum ku capai."
"Tuan muda... Ingatlah. Anda boleh mengeluh tapi, jangan sekali-kali berpikir untuk menyerah. Kalau Anda lelah, saya yang akan menggantikan tugas anda."
"Tidak semudah itu. Menjadi diriku, bukanlah hal yang mudah. Terlihat menyenangkan tapi dibaliknya.... sangatlah menyedihkan."
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Waktu terus berjalan.... Tak terasa sudah masuk pertengahan Desember. Biasanya, keluarga besar Vicenzo akan datang berkumpul. Tak jarang mereka menginap jadi, kebersihan kamar, stok makanan dan kebutuhan lainnya harus cukup. Kepala pelayan yang memeriksanya semua. Harus sempurna dan tidak boleh ada cacat sedikitpun.
Semua orang sibuk, bukan hanya para pelayan. Para majikan juga sibuk dengan urusan masing-masing. Seperti Raka dan Raphael, mereka sibuk di dapur menyiapkan deretan kue berbagai ukuran dan rasa.
"Nich, ini kue yang ke-berapa?"
"Kue yang kelima, tuanku. Haaah! Izinkan saya minum sebentar."
"Raka, kue mana yang harus dihias dengan stroberi?"
"Ah! Yang topping nya coklat."
Dapurnya Raka penuh dengan kue-kue yang sudah matang. Sedangkan pembuatannya di dapur utama karena membuat jumlah yang banyak, jadi butuh ruang yang lebih.
Para pelayan yang bertugas di dapur tidak henti-hentinya bolak-balik mengantarkan kue-kue yang sudah matang untuk di dinginkan dan dihias. Semuanya berjalan lancar sesuai arahan Tuan kecil itu sampai akhirnya para pelayan dikejutkan oleh teriakan Raka.
Ia terjatuh saat sedang berjalan ke dapur utama tapi tiba-tiba kakinya kram. Bocah itu belum pernah mengalami kram makanya ia sangat terkejut.
"Biar saya yang mengantarnya ke kamar. Kalian fokus pada tugas masing-masing." Titah kepala pelayan.
"Apa?! Tuan muda kram?! Lalu, siapa yang menolongnya sekarang?" Tanya Nicholas panik saat salah satu maid menceritakan yang ia lihat tadi saat mengantar kue.
"Tak perlu panik. Tuan muda sudah langsung di bawa Sir Arthur ke kamarnya." Ucap maid itu sambil merapikan kue yang sudah di hias. Nicholas bernapas lega kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Maaf merepotkanmu. Padahal masih banyak yang belum selesai dikerjakan." Ucap Raka sambil menahan sakitnya. ..
"Tidak masalah, ini juga tugas saya. Lagipula, mereka sudah tau apa yang harus dikerjakan. Masalah pengecekan, masih bisa besok Saya kerjakan." Sahutnya tenang.
"Aku ingin sendiri." Ucap Raka dengan nada yang tegas. Kepala pelayan itu langsung keluar tanpa berkata apa-apa. Sampai di ruang tamu, ternyata ada suara mobil yang baru masuk ke halaman mansion.
Mobil hitam besar disusul mobil pengangkut barang. Para pelayan yang laki-laki langsung keluar, memasukkan barang-barang tamu. Sedangkan pelayan yang perempuan, menyambut para tamu yang datang.
"Selamat datang, Tuan Edward dan Nyonya Grace." Para pelayan menunduk menyambut tamu-tamu majikannya. Datanglah George dari atas dengan raut wajah yang memancarkan kebahagiaan, ternyata ada seorang maid yang memberitahunya bahwa Keponakannya datang bersama istrinya.
Ya, Edward adalah keponakan George yang sangat dekat dengannya. Bagaimana tidak? George dan mendiang istrinya lah yang membesarkannya karena orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat ia masih kecil.
Edward sudah menganggap George dan mendiang istrinya sebagai orang tuanya sendiri. Tak hanya itu. Edward dan istrinya, Grace adalah orang tua angkatnya Raphael. Mereka yang belum dikaruniai anak lagi setelah Grace mengalami keguguran, sangat senang dengan kehadiran Raphael diantara mereka.
"Paman! Oh, aku sangat merindukanmu. Sudah lama tidak bertemu. Maaf, selama ini aku sangat sibuk." Kata Edward sambil memeluk pria paruh baya itu. Grace
“Tidak apa-apa, yang penting sekarang kalian berkunjung. Ku harap, kalian akan menginap lebih lama.” Lalu Grace menghampiri George dan memberi salam.
"Kalian berdua tampak lelah. Beristirahatlah dulu. Jose akan menunjukkan kamar kalian." Kata George sambil memperhatikan raut wajah pasangan suami istri itu.
"Paman, kami juga merindukan Raphael. Dimana dia?"
__ADS_1
“Iya, paman. Saya sangat ingin memeluknya. Sudah berbulan-bulan kami berpisah ”
Akhirnya, George mengajak mereka untuk duduk di sofa ruang tamu. Sambil menunggu kedatangan Raphael, mereka mengobrol dan menikmati dessert yang dihidangkan.
«»«»«»«»«»«»«»«»«»«»«»«»«»«»«»«»«»«»«»«»
"Jangan dipaksakan, Raka. Sudah sudah. Duduk saja dulu. Kue-kuenya sebentar lagi selesai dan siap untuk di pajang di ruang tamu." Ucap Raphael menenangkan adiknya yang bersikeras ingin keluar dari kamar.
“huuuh. Baiklah. Tapi aku ingin mengganti pakaian. Tadi saat jalan sebentar, terasa sangat ngilu.” keluhnya.
“kan sudah ku bilang jangan bergerak. Saat salah satu anggota badan kita kram, kita tidak boleh bergerak."
”Iya, iya. Sekarang sudah tidak kram lagi, tapi masih terasa ngilu."
"Makanya, kalau kakek bilang berhenti, turuti saja.“ ucap Raphael yang sedikit kesal.
Raka memang pendiam tapi kalau sedang sakit, mode cerewetnya keluar sampai membuat orang yang menemaninya pusing cara menghentikan ocehannya.
"Sini, ku bantu ke kamar mandi. Aku sudah menyiapkan pakaianmu ”
Beberapa menit kemudian,
Mereka berdua sudah mengganti pakaian kotornya. Sekarang mereka berjalan menuju dapur. Raka diam, menutup rapat mulutnya masih dalam keterkejutannya. Bagaimana tidak?barusan ia dibentak kakaknya, disuruh diam.
Raphael yang sehari-harinya berbicara lembut, tiba-tiba membentaknya. Ia sedikit ciut dan memilih diam.
Saat sedang menuruni tangga, sayup-sayup terdengar suara orang dewasa yang tertawa. Raphael berlari menuju ruang tamu karena ia hafal betul suara siapa itu.
"Ayah? Ibu? Kapan kalian datang?" Raphael berlari menghampiri pasangan suami istri itu. Ia menagis terharu karena sudah sangat merindukan mereka yang sudah membuatnya bisa merasakan kasih sayang orang tua.
"Kira kira 30 menit yang lalu." Jawab Grace sambil mengelus rambutnya. .
"Kita ingin memberi mu kejutan."
Raphael memeluk mereka erat, menyalurkan rasa rindu yang selama ini dipendamnya. Raka memperhatikan pemandangan didepan matanya tanpa ekspresi. Tapi, tidak dengan hatinya.
Hatinya merasa iri, ingin sekali rasanya dipeluk oleh orang tua meskipun bukan orang tua kandung. Ia pun membalikkan badannya dan berjalan sendirian menuju taman bunga untuk mengalihkan pikirannya.
Nicholas memperhatikan gelagat tuannya dari tadi. Hatinya merasa teriris, ia bisa merasakan kesedihan tuannya. Pelayan itu memutuskan untuk berjalan pelan di belakang tuannya.
Ia ingin menemaninya agar bocah itu tidak menangis lagi seperti dulu.
"Kenapa kau mengikutiku?! Biarkan aku sendiri." Ketusnya. Rupanya, ia sudah tau bahwa seseorang mengikutinya. Padahal, Nicholas berjalan sangat pelan, tanpa suara.
"Hhmmm... Izinkan saya menemani anda. Saya tau apa yang ada dipikiran anda sekarang. Itu normal, saya pun juga iri meskipun sebelumnya pernah di sayang orangtua. Tapi, saya masih ingin merasakannya lagi dan lagi." Kata Nicholas sambil duduk di sampingnya.
Raka tidak berkata-kata, ia hanya menikmati salju yang mulai turun perlahan. Matanya terpejam, mengeluarkan airmata. Memori masa lalunya bersama mendiang sang nenek muncul lagi di pikirannya. Dadanya sesak, menahan tangis.
"Keluarkan saja, Tuan muda. Selagi taman masih sepi." Ucap Nicholas sambil mengalihkan pandanganya. Ia juga sedang menahan tangisnya, masih teringat bagaimana keluarganya yang hangat, hancur seketika gara-gara seseorang yang tidak bertanggung jawab.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Ayah, ibu. Ayo ikut aku. Aku ingin memperkenalkan kalian adikku." Raphael menarik tangan Grace sambil menatap keduanya. Edward dan istrinya saling menatap sekaligus tersenyum. Mereka pun berjalan mengikuti Raphael dari belakang.
Mereka berjalan menuju taman dan mendapati Raka dan Nicholas yang mengobrol sambil membuat rumah iglo yang besar.
“Raka.” Teriak Raphael memanggil adiknya. Raka langsung menoleh dan terkejut melihat sosok yang datang.
"Nyonya Grace??“ ucapnya terheran. Edward memperhatikan wajah Raka dengan intens sambil mengingat sesuatu. ”mirip siapa yaaa. Aku seperti mengenalinya.“ batinnya.
"Oh ya ampun! Jadi, kamu adiknya Raphael ya. Waaah bisa begini yaaa. Aku sudah lama tidak melihat mu. Ternyata kamu tinggal disini."
__ADS_1
Raphael menatap Raka dan ibunya bergantian. Grace terkekeh melihat mukanya, lalu ia dan Raka menceritakan bagaimana ia dulu bisa bertemu dengan Nyonya Grace.
"Waah! Bisa kebetulan begini yaa.” Ucap Raphael yang terkesan dengan cerita pertemuan mereka.
"Sayang, jadi dia ya bocah yang kamu ceritakan.“ Tanya Edward yang berdiri di samping istrinya. Grace mengangguk.
Mereka pun berbincang santai. Kesedihan yang muncul di hati Raka seketika hilang. Ia menyambut baik pasangan suami istri itu. Tiba-tiba seekor kucing berlari menghampiri mereka yang duduk santai di atas salju yang tebal dan melompat ke atas pangkuan Raka.
Ia terkejut sebentar setelah itu berdiri memeluk kucing itu.
"Lucy! Kau sudah besar yaa. Hei, masih mengingatku? Sudah lama kita tidak bermain!"
Mereka heran melihat Raka yang tersenyum lebar karena ia sangat jarang tersenyum seperti itu.
"Nyonya Grace, aku pernah bermain dengannya di danau kecil itu. Anda pasti tau. Saya sering menemukannya berburu serangga terbang sendirian. Aku penasaran dengannya lalu menghampirinya. Awalnya ia takut tapi, karena sering bertemu, kita jadi teman bermain." Ceritanya.
Nicholas tersenyum lega, melihat tuannya sudah melupakan kesedihannya. Kebahagiaan benar-benar terpancar dari wajahnya. Sebenarnya Raka memiliki wajah yang menggemaskan layaknya anak kecil pada umumnya. Tapi, karena jarang tersenyum dan selalu datar, maka itu tidak ada yang tau gemasnya.
Malam harinya....
"Oh! Jadi ini kamar kalian berdua. Bagus sekali... Wah! Koleksi boneka mu bertambah ya." Grace kagum melihat isi kamar dua bocah yang tertata rapi dan sangat bersih. Mereka merapikan dan membersihkannya sendiri, meskipun para maid menawarkan bantuan.
Mereka bercerita tentang keseharian mereka, hobi, dan bagaimana mereka sampai akrab. Wanita cantik itu benar-benar terharu dan senang mendengarnya.
"Ibu sangat senang, kalian bahagia disini. Ingat! Yang kompak, yaaa. Jangan bertengkar. Ibu tau kalian memiliki sifat yang berbeda, maka itu harus saling menerima dan mengerti. Kalau ada hal yang tidak disukai dan membuat tidak nyaman, katakan dengan baik-baik. Pokoknya kalian harus saling menyayangi, mengerti, dan menerima."
Kata Grace menasihati dua anak itu yang sedang duduk dihadapannya. Grace adalah sosok wanita yang lembut. Mereka mengangguk pelan tanda mengerti. Kemudian Grace memeluk keduanya dengan kasih sayang. Raka terkejut, ia belum pernah merasakan di peluk oleh seorang IBU.
Dengan sekuat tenaga, ia menahan airmata nya agar tidak keluar. Tak lama, Grace keluar dan pergi menuju kamarnya. Raka yang sudah tidak tahan, langsung tengkurap di atas kasurnya, menumpahkan air matanya.
Raphael mengerti perasaan adiknya. Ia membiarkan adiknya meluapkan semuanya. Setelah beberapa menit, Raka merasa sudah lebih tenang. Ia membalikkan badannya. Matanya menatap kosong langit-langit kamar.
Lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan mukanya.
"Sudah merasa lebih baik?" Tanya Raphael yang dari tadi menunggu adiknya. Raka mengangguk.
"Mau cerita?" Tanyanya lagi. Raka menggelen. Ia benar-benar tidak mau membuka mulutnya.
"Yasudah, sekarang tidur, ya." Raka menggeleng. Ia langsung berlari keluar kamar tanpa menutup kembali pintunya. Raphael terkejut melihatnya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari mengikutinya.
Rupanya, Raka sedang berada di lantai paling atas. Tepatnya di rooftop, bocah itu sedang duduk, matanya menatap langit yang indah. Ia benar-benar menikmati butiran salju yang turun.
Ditangannya terdapat sebuah benda untuk mengambil gambar.
Cekrek! Cekrek!
Raka mengambil beberapa gambar salju yang turun. Sangat indah dan menenangkan hati. Ia benar-benar tidak peduli dengan cuaca dingin.
Kemudian bocah itu memanggil kakaknya yang berdiri di belakangnya. Raphael menggeleng. Ia menolak karena sudah merasa kedinginan.
Raka langsung memberinya jaket tebal yang ia pakai.
"Selagi salju masih turun, ayo kita berfoto. Aku sudah lama mengumpulkan uang untuk membeli benda ini dan akhirnya sampai juga di tangan ku." Ucapnya sambil membersihkan lensa kameranya.
Meow....
Lucy, kucing peliharaan Nyonya Grace juga ada disitu. Hewan lucu itu memang sudah akrab dengan Raka.
Akhirnya mereka duduk berdua sambil memeluk Lucy dan
Jadilah foto pertama mereka.
__ADS_1