Warm Home

Warm Home
Season 2 Chapter 23


__ADS_3

Mansion George.


"Apa?! Datang hari ini?" Tanya seorang maid dengan keterkejutannya. Namun, ia langsung membungkam mulutnya karena tidak sadar telah menaikkan suaranya kepada majikannya.


"Iya, memangnya kenapa? Kalian sudah mempersiapkan kamar tamu untuk keluarganya?" Sahut sang majikan dengan santainya.


"Su-sudah Tuan." Jawabnya terbata-bata.


"Hem! Kalau begitu, siapkan dessert di meja ruang tamu. Ingat, semuanya harus sempurna."


"Baik Tuan. Segera di laksanakan."


Seorang maid keluar dari kamar George dengan membawa cucian kotor. Ia berjalan tergesa-gesa menuju ruang tamu untuk memberitahu pelayan lainnya.


"Mohon tenang, ada informasi yang harus kalian tahu. Hari ini, Tuan Axello beserta keluarganya datang. Di perkirakan akan sampai pukul 10 nanti. Satu lagi, Tuan George ingin ada hidangan dessert diruang tamu."


Para pelayan yang mendengar berita tersebut langsung panik. Tuan Perfeksionis yang galak akan datang. Tidak hanya itu, kalau dia membawa keluarganya itu berarti, dia akan menginap di mansion itu.


Mereka sibuk membersihkan Lagi kamar-kamar tamu. Ada juga yang sibuk menyiapkan piring dan gelas untuk tamu.


"Aduh! Aku baru ingat. Dessert nya ada di kulkasnya Tuan muda. Itu berarti Kita harus memasuki dapurnya. Bagaimana ini?." Kata seorang pelayan.


"Katakan saja pada Nicholas. Dia pasti membolehkan, toh ini juga perintah dari Tuan George."


Akhirnya, dua orang pelayan pergi mencari Nicholas. Ternyata, ia berada di perpustakaan.


"Oh, kalau begitu ayo ikut aku. Kita tidak bisa berlama-lama." Ucap Nicholas sigap. Langkahnya langsung tertuju ke dapur tuannya yang belum pulang.


"Dessert nya ada di kulkas. Yang ada Topping buah Cherry dan stroberi, milik tuan muda." Ucap Nicholas sambil membukakan pintu dapur. Dua orang pelayan itu langsung mengambil dessert dari kulkas sambil di periksa satu persatu oleh Nicholas.


"Terimakasih Nich. Ayo! Kita harus cepat." Kata salah satu pelayan. Mereka pun keluar dari dapur itu dan bergegas menyediakan nya di atas meja ruang tamu.


"Aku harus memberitahu kakakku! Aduuh! Tuan muda belum pulang juga. Jangan sampai, Tuan perfeksionis itu datang sebelum tuan muda pulang." Ucap nya sambil bergegas menuju kamar tuannya.


"Sayang, Axel akan datang beserta keluarganya hari ini." Ucap Edward pada istrinya yang sedang duduk menghadap air mancur. Grace sedikit terkejut dengan berita dadakan itu.


"Kenapa tiba-tiba? Bukankah seharusnya besok lusa?" Tanyanya penasaran. Edward menggeleng pelan. Ia pun juga tidak tau penyebab kedatangan sepupunya yang mendadak. Lagi pula, ia tidak terlalu akrab dengan Tuan Perfeksionis itu karena karakternya yang Galak.


Kota S


"HM? Ada SMS dari Nich." Zack merasa handphonenya bergetar. Ia langsung mengeceknya. Ternyata SMS dari adiknya, ia membacanya lalu matanya terbelalak. Ia langsung menghampiri tuannya yang sedang berjalan-jalan melihat isi toko kue neneknya yang baru.


"Tuan muda, kita harus pulang sekarang juga." Ucapnya berbisik.


"Ada hal penting? Atau jangan-jangan tuan perfeksionis itu..."


"Ya. Ini sudah jam 9:15 . Beliau akan datang jam 10." Ucapnya sambil sedikit panik. Zack tidak ingin Raka terkena 'bentakan'nya. Sudah banyak yang tau galaknya Tuan itu.


"Iya, iya. Aku membayar ini dulu. Setelah itu, kita langsung pulang."


Lalu, Zack berjalan menuju kasir, membayarnya dan langsung berjalan keluar dari toko itu.


"Tunggu! Kenapa kalian terburu-buru? Apakah ada--"

__ADS_1


"Dia datang sebentar lagi." Kata Zack cepat dan terus melangkah lebar. Tangannya penuh memegang kue dan tangan bocah itu. Hans membelalakkan matanya, ia tentunya sudah hafal siapa.


"Kalau aku ikut, boleh tidak? Aku khawatir dengan Raka. Dia akan --"


"Ikut saja. Tapi, rumahmu sudah aman? Terkunci semuanya?" Kata Zack. Sekarang, mereka sudah berada di dalam taksi menuju bandara.


"Sudah, aku memang selalu mengunci semuanya meski hanya pergi sebentar." Jawabnya yakin. Zack tidak menjawab, ia fokus bagaimana supaya sampai di mansion tepat waktu.


Tak lama, sampailah mereka di bandara. Raka berlari masuk kedalam pesawat diikuti oleh Zack dan Hans.


"Seharusnya ini menjadi perjalanan yang menyenangkan, tapi.... kalau sudah begini, ceritanya lain lagi." Ucap Hans lirih.


"Baru saja santai beberapa menit. Haaahh! Kapan lagi aku bisa ke sana." Gerutu bocah itu sambil melihat pemandangan Awan.


"Kalau kondisi mansion sudah kembali seperti semula. Akan ada waktunya tuan muda bisa mengunjunginya lagi. Yang penting, anda sudah menyapa mendiang Nyonya Lynn." Sahut Zack yang bermaksud menghibur.


Raka hanya tersenyum tipis, ia masih belum puas. Masih ingin berjalan-jalan keliling kota kecil itu, tempat ia tumbuh.


Tidak ada obrolan lagi, mereka bertiga diam dengan perasaan yang tidak tenang.


Tak terasa pesawat sudah mendarat di bandara Kota X. Zack benar-benar khawatir karena jam sudah menunjukkan pukul 10:40 itu berarti...


"Sial! Kita terlambat!" Ucapnya kesal.


Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil yang seakan memanggil mereka.


"Kalian masuk duluan ke mobil hitam itu!" Ucap Zack. Raut wajahnya mengisyaratkan bahwa hal buruk akan terjadi. Ia melihat ponselnya lalu meremasnya.


Mobil pun melaju sangat kencang, tapi tidak ada diantara mereka yang bereaksi. Semuanya sama-sama tegang karena Sudah Terlambat!


Raka pun tidak bereaksi apa-apa. Ia juga sedang mempersiapkan diri untuk mengahadapi situasi yang tegang.


Tak lama, mobil sudah sampai di sebuah kediaman yang megah dan luas. Seorang satpam membuka gerbang Kokoh itu dengan sigap. Hans menarik napasnya dan membuangnya kasar.


"Aku ... Turun disini saja." Ucapnya sambil membuka pintu mobil lalu berjalan menuju pos satpam.


Supir itu menatap heran, sedangkan dua orang itu hanya diam tanpa reaksi. Akhirnya supir itu menjalankan mobilnya lagi memasuki halaman depan mansion.


Seorang pelayan menghampiri mobil itu dan membukakan pintu untuk tuan muda yang baru datang.


"Terimakasih. Ohya! Tuan Perfeksionis itu sedang apa dan dimana sekarang?" Tanya Raka saat baru turun dari mobil. Pelayan itu hanya melirik ke dalam mansion lalu tersenyum kaku.


"Tak perlu mengatakan apapun. Ekspresi wajah mu sudah memberitahuku." Raka melangkah masuk dengan mantap. Tidak ada ekspresi takut atau khawatir terlihat dari wajahnya.


Saat masuk, ia tidak mendengar suara apapun. Para pelayan berdiri sambil menunduk. Mereka juga tidak menyapa Raka yang baru datang. Bocah itu tidak mempermasalahkan karena sudah mengerti apa yang sedang terjadi.


Zack berjalan di belakangnya sambil menenangkan diri. Hans???? Oh! Dia sedang bersantai di post satpam.


Bocah itu akhirnya sampai di ruangan yang penuh dengan kesunyian dan ketegangan. Matanya memperhatikan siapa saja yang hadir disitu. Rupanya, sang kakak juga hadir, tangannya gemetar menahan ketakutan. Nicholas, pelayan pribadinya tidak ada disitu.


Ia tersenyum tipis lalu menunduk.


"Selamat siang, Tuan Axello dan keluarga. Maaf atas-"

__ADS_1


"DUDUK!"


Raka terkejut mendengar suara berat itu. Ia pun hendak duduk di sofa tapi...


"SIAPA YANG MENYURUHMU DUDUK DI SOFA?!"


Ucapnya lagi. Zack memandang bocah itu dari kejauhan. Ia memejamkan matanya, tidak tahan apa yang ia lihat.


"Tenang sedikit, Tuan. Saya akan duduk di lantai, Oke?" Sahutnya santai sambil membuka jaketnya dan duduk di lantai.


Raphael dan orang tua angkatnya sudah tidak tahan melihat itu. Ingin rasanya membantu tapi, nyali ciut.


"Siapa kau?!" Tanyanya dengan suara yang lebih rendah tapi terdengar tegas.


"Nama saya Rakasha Nathanael Vicenzo. Cucu dari ayah anda." Jawabnya tenang. George tersenyum, ia senang melihat caranya menghadapi anaknya yang berkarakter keras.


"Memangnya, kau pikir kau pantas menjadi bagian dari keluarga ini?! Hanya menyusahkan dan menambah masalah. Bukan karena kau dari kalangan bawah tapi, kau itu tidak jelas nasabnya. Seenaknya mengaku-ngaku sebagai cucunya ayahku. Memangnya, kau tau siapa orang tuamu?!"


Tangannya bergetar hebat. Matanya menatap tajam pria yang duduk di sofa itu. Orang tuanya???? Ya, ia tak pernah peduli siapa orang tuanya. Hanya memikirkan bagaimana menjalani hidupnya dengan tenang.


"Memanfaatkan kebaikan dan ketulusan ayahku untuk hal yang sia-sia! Jangan besar kepala! Statusmu, bukanlah anggota keluarga Vicenzo. Kau....!". Ucapnya lagi sambil berjalan mendekati Raka yang juga menatap tajam matanya.


"Hanyalah anak H*R*M yang tidak berguna." Katanya sambil berbisik tepat di telinganya. Tapi, George juga mendengarnya dan langsung berdiri.


"Axel! Kau tidak pantas berkata seperti itu! Dia tidak seperti apa yang kau tuduhkan!"


"Anak ini akan besar kepala dan menginjak ayah jika ayah terus membelanya. Begitu juga dengan anak itu!" Katanya sambil menunjuk ke arah Raphael.


"Mereka adalah anggota keluarga Vicenzo! Aku sudah mengkonfirmasi semuanya! Orang tuanya..". George tiba-tiba terdiam, wajahnya mendadak lesu. Ia menatap Raka dan Raphael bergantian.


Lidahnya kelu, matanya berkaca-kaca. Melihat Raka yang diam dengan wajah datarnya dan masih duduk di lantai.


"Sudah puas menginjak? Ayo, katakan lagi! Anda pikir, SAYA AKAN MENANGIS, HAH?!" Ucap Raka sambil berdiri mendekat. Ia tidak takut sedikitpun.


"Saya sudah terbiasa diinjak dan dianggap remeh. 'bocah penyakitan yang hanya bisa menghamburkan uang'. 'Bocah tidak berguna' 'anak aneh ' dan lainnya. Sudah banyak saya dapatkan dari orang luar macam Anda! Yang hanya bisa menghina.


Saya sadar status saya disini. Saya tau, saya bukan anggota keluarga ini. Hanya bocah malang yang kebetulan bertemu dengan pria tua yang baik hati dan tulus merawatnya."


Dadanya naik turun, mengatur nafasnya yang sesak. Tangannya gemetar dan terkepal kuat.


"Tidak perlu mengusir kita berdua. suatu hari nanti, Saya akan keluar dari mansion ini bersama kakak saya." Setelah itu, ia melewatinya dengan tangan yang masih terkepal.


"Ayo! Keluar dari ruangan ini! Jangan hanya diam saja saat ditindas oleh orang macam Dia!" Katanya sambil menarik kasar tangan Raphael. Ia berjalan keluar dari ruang tamu dengan langkah yang cepat.


Ucapannya barusan membuat tercengang semua orang hadir. Terlebih anak-anaknya Axello. Baru kali ini mereka melihat ada seorang bocah yang berani membalas ucapan ayahnya.


"ini menarik"


George menatap tajam anaknya dengan tatapan tidak suka. Edward berdiri mengantar istrinya yang menangis ke kamar untuk menenangkannya. Semuanya bubar kecuali keluarganya Axello yang masih duduk diam.


Para pelayan hanya saling menatap, tidak ada yang berani bersuara.


"Jahat!" Batin Hans yang sudah berdiri depan pintu.

__ADS_1


__ADS_2