
"hah! Hah!"
Raka tiba-tiba terbangun dari tidurnya dengan wajah yang panik. Kemudian ia meraih gelas yang berisi air mineral tapi, karena tangannya bergetar gelasnya jatuh dan pecah berhamburan.
Bruk!
Bocah itu terjatuh dari ranjangnya tapi, bukannya merasa sakit ia malah merasa tidak nyaman. Pikiran negatif bermunculan. Ia khawatir dengan kakaknya di luar sana. Dadanya sesak, keringat membasahi wajahnya.
"Ini salahku! Tidak seharusnya aku menyuruhnya keluar sendirian. Apalagi kakak tidak punya.... Uang?? Ah! Iya. Apakah membawa uang?? Bagaimana jika ia kesulitan diluar sana dan ada orang yang berbuat jahat padanya??!" Ucapnya dengan sedikit menaikkan suaranya,.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan...
"Kemana Raphael pergi?!" George bertanya dengan ekspresi marah dan tatapan matanya yang sangat menusuk. Raka terdiam kaku. Jantungnya berdetak sangat kencang, lidahnya seketika kaku. Ia sudah menduganya, tak lama semuanya akan terbongkar dengan sendirinya.
Ia mengatur nafasnya, berusaha tenang. Ia akan menceritakan semuanya dan menghadapi konsekuensi atas apa yang telah ia lakukan.
"Biarkan aku mengganti pakaian dan makan sebentar." Ucapnya sambil menahan badannya yang bergetar. Bukan karena kedinginan, melainkan karena mimpi buruk yang baru saja ia alami.
George pun duduk dan berusaha tenang juga. Ia tidak ingin menyakiti cucunya. Tak lama setelah ia duduk, Nicholas datang membawa sarapan pagi untuk Raka.
Ia terkejut melihat pemilik Mansion itu ada di kamar tuan mudanya.
"Tak perlu merapikan kamar ini. Keluarlah dan jangan kembali sebelum ku perintahkan. Mengerti?!"
Nicholas yang menunduk, mengangguk pelan lalu buru-buru keluar dari kamar. Ia berlari mencari Zack. Ternyata Zack sedang berada di kamar George.
"Zack! Apakah kau tau kenapa Tuan Besar tiba-tiba berada di kamar tuan muda?" Tanyanya dengan nafas yang memburu. Zack mengernyitkan dahinya ia memang tidak tau. Ia hanya tau tuannya keluar untuk duduk di taman sendirian.
"Aku ingin pergi ke taman sendirian. Setelah merapikan kamarku, bawakan sarapan ku ke taman." Begitulah katanya.
"Ekspresinya terlihat marah. Apakah ada kesalahan yang tuan muda perbuat sampai --"
"Nicholas, kerjakan tugasmu. Lebih baik, kau bersihkan dapur tuan muda dan mengecek bahan makanan yang akan habis. Sudah masuk bulan February, pasti banyak yang harus di beli." Kata Zack sambil tetap sibuk bersih-bersih.
Nicholas menurut, ia keluar dari kamar George dengan perasaan yang khawatir. "Semoga anda baik-baik saja."
★★★★★★★★★★★★★★★★
"Sudah siap menjawab?"
Raka yang baru saja menyelesaikan sarapannya terdiam sejenak lalu membersihkan mulutnya. Setelah itu, ia berjalan menuju sofa dekat jendela kamarnya lalu duduk di situ. Tak lupa menutup rapat jendela dan gorden setelah itu, menyalakan lampu tidurnya.
George memperhatikan gelagat anehnya. Cucunya seperti orang yang sedang bersembunyi. Untuk apa menutup rapat jendela dan gordennya serta menyalakan lampu tidur?
"Kakek pasti tau penyebab aku koma."
George mengangguk.
"Sudahkah kakek menyelidiki siapa pelakunya?"
Pria tua mengangguk lagi.
"Masih di selidiki sampai sekarang. Pelakunya pasti salah satu di antara para pelayan itu. Karena orang itu tau seluk-beluk CCTV mansion ini."
__ADS_1
"Kali ini aku yang bertanya." Mendengar itu, Raka mengepalkan tangannya.
"Apakah kau melihat wajahnya?"
Dengan sekali tarikan nafas, cucunya menjawab.
"Ya, aku melihatnya dan masih ingat wajahnya."
Brak!
George menggebrak kuat meja itu.. Ia benar-benar sangat marah sekaligus kecewa.
"Kenapa selama ini kau diam saja?! Kenapa tidak --"
"Aku punya rencana lain! Jangan memarahi ku sebagaimana kau memarahi kakakku!" Ucapnya tegas sambil menatap kakeknya dengan tajam.
"Aku janji. Suatu saat, aku akan memberitahu kakek. Tahan dirimu jangan--"
Sret!
Belum selesai bicara, tiba-tiba kerah bajunya ditarik kuat oleh George yang mukanya memerah karena sudah tidak bisa menahan amarahnya.
"Seenaknya kau bicara, ya! Mau berapa lama lagi aku harus menahannya?! Hah?! Sekarang katakan! Katakan siapa pelakunya di depan mata ku!"
Seketika Raka termenung. Memikirkan siapa orang yang dihadapannya. Seperti bukan kakeknya. Baru kali ini ia melihat wajah marah kakeknya yang Sesungguhnya!
"Jose. Dialah pelakunya." George melepaskan cengkeramannya tapi matanya tetap menatap tajam cucunya. Sambil mengusap kasar wajahnya, ia bertanya lagi....
Bocah itu kesal setengah mati. Dirinya merasa 'tercekik'. Ia menyerah. Mau tidak mau, harus menceritakan semuanya yang ia simpan. Kepalanya pusing, hatinya juga merutuki diri sendiri kenapa harus melakukan semua sendiri padahal ada kakeknya yang akan langsung membantunya.
"Kalau anda bisa berjanji tidak akan marah lagi, saya akan menceritakan semuanya." Ucap Raka berusaha tenang. George mengangguk.
"Istirahat 3 menit dulu." George menuang teh yang telah dingin ke cangkirnya, begitu juga dengan Raka. Mereka berdua membisu dan saling membelakangi. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
3 menit berlalu. Akhirnya Raka sudah merasa lebih tenang dan siap untuk menceritakan semuanya.
"Kakek tau kota M?"
"Iya, kota itu terkenal dengan obat-obatan yang tradisional. Masyarakat kota itu sangat ahli untuk menjadikan tumbuhan sebagai obat. Kota itu sangat sederhana sama seperti Kota S tempat tinggal mu dulu."
Raka pun mengangguk sambil tersenyum. Kemudian George membelalakkan matanya.
"Jangan katakan kalau Raphael ada di...Sana.. Kota M?!". Raka mengangguk lagi. Pria tua itu ingin marah tapi, ia sudah berjanji tidak akan marah. Akhirnya ia mengatur nafasnya untuk menenangkan diri.
"Kenapa kau menyuruhnya kesana? Oh! Atau kau ingin kakakmu mencari obat penawar yang ampuh untuk... Memusnahkan racun Angel's Trumpet yang ada di tubuhmu." Tebaknya.
"Sebenarnya, aku ingin pergi berdua dengan kakakku tapi..... Waktunya tidak memungkinkan karena badanku semakin lemah." .
George mengusap kasar wajahnya dan menggeleng pelan. Benar-benar tidak di sangka cucunya terlewat pintar.
"Raka.... Haaah! Kota M, selain terkenal dengan obat-obatannya, ia juga terkenal dengan kasus Penculikan dan jual beli obat obatan terlarang! Banyak penculikan dan pencurian di sana! Bahkan para polisi sampai angkat tangan karena saking banyaknya kriminal di sana."
George menyandarkan punggungnya lalu menatap langit-langit kamar, memikirkan Raphael yang Malang sendirian di luar sana.
__ADS_1
"Aku memberinya uang supaya --"
"Diamlah! Biarkan aku berpikir sebentar!"
George merasa bersalah juga karena telah memarahi dan menghukumnya sampai bocah itu tersiksa. Ia pun bangkit dari duduknya tapi karena kepalanya sakit sebelah, ia duduk kembali.
"Lanjutkan ceritamu bocah!" Bentaknya. Amarahnya sudah tidak bisa ia tahan lagi.
"Aku menyuruhnya pergi 7 hari kalau aku belum bangun,, karena itu hari Jose libur jadi, kakak tidak akan bertemu Jose di hari ia pergi. Aku juga memberinya uang."
"Sebelum menyuruhnya kesana, kau sudah menyelidiki kota itu?"
"Ya, aku mengetahui dari orang yang ku percaya."
"Siapa orang itu?!"
Raka terdiam, ia bingung harus menjawabnya atau tidak.
"Sudahlah.... Lebih baik kau duduk diam di kamar. Aku akan mengirim beberapa orang untuk melakukan pencarian--"
"Kakak berada di tempat yang aman." Katanya yakin. George menaikkan alisnya, ia tidak percaya.
"Maksudmu?"
"Ada orang yang ku percaya untuk memberinya tempat tinggal selama berada di sana."
"ORANG YANG KAU PERCAYA?!"
BRUK!
Raka jatuh terduduk, wajahnya pucat melihat ekspresi kakeknya yang sangat mengerikan. Baru kali ini ia melihat kemarahan sesungguhnya dari seorang Tuan George..
"SIAPA ORANG ITU? YANG KAU LEBIH PERCAYAI DARI KAKEK MU?! JAWAB! JANGAN HANYA DUDUK DIAM SAJA, BOCAH!"
Suara teriakan George menggema di kamar itu sampai terdengar dari arah ruang tamu. Para pelayan saling berbisik-bisik, bertanya apa yang sedang terjadi. Zack dan Nicholas yang sedang berada di dapurnya Raka juga mendengarnya. Nicholas yang hendak menghampiri kamar tuan mudanya dihentikan oleh kakaknya.
"Zack! Tidakkah kau dengar teriakan itu? Aku khawatir dengan tuan muda!" Zack tidak menggubrisnya. Ia malah mengunci dapur itu, melarang adiknya untuk ikut campur.
"Katakan padaku! Apa yang kau mau? Apa yang kau rencanakan sampai menyembunyikan semua ini?!" Tanya George dengan tangannya yang terkepal kuat. Raka masih duduk dilantik dengan kepala yang menunduk. Pandangannya kosong, pikirannya melayang kemana-mana.
"Maafkan aku." Ucapnya lirih.
"Aku tidak mau mendengar permintaan maaf mu! Aku hanya ingin kau memberitahu semua yang kau sembunyikan!" Bentak George.
"Aku... Hanya ingin menangkap pelaku itu dengan caraku sendiri." Jawabnya dengan tetap menunduk.
"Mengenai Jose, akan ku serahkan pada Zack dan kepala pelayan. Sedangkan kau! Lebih baik berdiam diri di kamar dan jangan keluar jika tidak ada keperluan penting. Renungkan semua kesalahan dan rencana bodoh mu itu!"
Setelah mengatakan itu, George berjalan menuju pintu lalu membukanya, sebelum keluar ia sempat mengatakan..
"Ku harap suatu saat nanti, kau bisa mempercayai ku lagi, Dan tidak menyembunyikan apapun." Setelah itu, ia keluar dari kamarnya dengan berjalan perlahan sambil memegang kepalanya.
"Aku juga berharap seperti itu tapi, maaf. Maafkan aku. Aku belum bisa mengatakan SEMUANYA." Ucap Raka membatin sambil menatap pintu yang belum tertutup rapat.
__ADS_1