
"Sup jagung sudah jadi! Kakek pasti suka. Yang ini untuk Raphael dan ini untukku. Oh! Masih jam 6. Kakek sudah bangun atau belum yaa. Bagaimana kalau ku hampiri saja."
Raka sibuk sendiri dengan masakannya dari tadi. Sebelumnya, ia sudah mengisi perutnya dengan 2 lembar roti tawar yang dioles dengan selai kacang. Tidak lupa segelas susu hangat.
Sekarang, ia berjalan menuju kamar kakeknya dahulu untuk mengantarkan sup buatannya. Namun, baru ia sampai di depan pintu, dari dalam kamar ia mendengar suara Zack yang terdengar panik.
"Jangan begini, tuan. Tolong, katakan pada saya apa yang harus saya lakukan??? Jangan mengingat mimpi itu. Atau ceritakan saja yang sebenarnya pada cucu anda. Saya yakin, tuan muda tidak akan meninggalkan anda. Dia akan mengerti." Ucapnya berusaha tenang.
Raka kemudian membuka sedikit pintu kamar itu dengan sangat pelan. Lalu ia masuk dan mendekati ranjang kakeknya. George melirik dan terkejut melihat cucunya yang sudah ada di belakang Zack.
"Kenapa kakek sampai sakit begini? Apakah kakek bermimpi hal yang sama sepertiku? Kakek terlihat tertekan. Katakan, tolong katakan semuanya. Aku janji aku tidak akan meninggalkan kakek."
Zack menoleh ke belakang dan terkejut mendengar perkataan bocah itu. Kemudian, Raka keluar untuk mendorong masuk troli makanan tersebut lalu menutup kembali pintu kamar.
"Pasti Kakek sudah kehabisan tenaga. Aku buatkan sup jagung hangat. Rasanya agak manis. Tenang saja, rasa manis itu alami dari jagungnya bukan gula pasir.."
Raka menyodorkan semangkuk sup pada Zack. Zack mengambilnya lalu menyuapi tuannya yang terkulai lemas.
"Makan saja dulu. Setelah itu, aku ingin kakek menceritakan semuanya." Ucapnya yang terdengar tegas.
Setelah menyelesaikan makanannya dan mengganti pakaiannya, George merasa lebih baik. Sekarang, ia duduk berhadapan dengan cucunya.
"Maaf, aku bukannya tidak mau memberitahu mu. Aku hanya tidak ingin membuatmu tertekan dan tidak nyaman tinggal bersamaku." Kata George memulai pembicaraan.
Raka menggeleng pelan. "Bukan itu yang ingin aku dengar. Jangan merasa bersalah. Aku ingin bertanya. "Apakah kakek didatangi oleh seseorang yang bernama Nathanael di mimpi?" Tanyanya dengan suara yang tenang. .
George menghela nafasnya kasar kemudian mengangguk.
"Nah! Orang itu, Tuan Nathanael juga sering mendatangiku dengan kondisi yang berbeda tapi, mukanya samar. Yang terakhir kalinya, yaitu di hari ini, ia mendatangiku lagi. Tapi ia tampak marah. Tubuhnya terbakar dan dibelakangnya ada seorang wanita yang sudah tidak bernyawa terbakar juga." Kemudian Raka meminum jus yang ia buat lalu melanjutkan ceritanya.
"Pria itu menyuruhku untuk membalaskan dendamnya pada keluarga Napoleon. Karena mereka yang menghancurkan keluarga ini, Vicenzo." Setelah itu, Raka diam. Ia tidak ingin gegabah. Masih banyak lagi hal yang belum ia ketahui tapi, di paksa harus tau.
"Baiklah, aku sebenarnya ingin kakek menceritakan semuanya. Apa yang telah terjadi pada keluarga Vicenzo, siapa Napoleon, dan apa yang membuat Tuan Nathanael dendam sampai menghantui kita.
Ceritakan saja padaku. Aku akan membantu kakek. Tapi, untuk saat ini, Kakek beristirahat yaa."
George tersenyum kecil mendengar perkataan cucunya. Ia sudah khawatir berlebihan. Yang ia takutkan tidak terjadi.
"Kau begadang lagi ya semalam." Tebak George. Raka berusaha tenang dan menggeleng. George gemas melihatnya. Sudah ketahuan, masih saja tidak mau mengakui.
"Nanti jam 10, tidurlah lagi. Masih banyak yang harus di bahas, kan? Nah! Jaga kesehatan dan jangan sampai sakit ya." Kata George mengingatkannya. Suaranya terdengar lirih dan tenang. Badannya benar-benar lemas dan ia sangat butuh istirahat lebih.
"Hah! Aku butuh..... HI-BU-RAN! Bisa jatuh sakit lagi kalau pikiranku stres terus. Lagian, kenapa harus aku sih? Kenapa tidak yang lain saja? Nah! Belum lagi menulis jadwal harian. Untuk membaca buku saja sudah tidak bersemangat lagi." Gerutu Raka sambil menatap langit biru yang cerah.
Bocah mata ungu itu merasa lelah dengan masalah rumit yang tiba-tiba datang di hidupnya. Baru saja ingin bersantai, tapi ada saja penghalangnya. Karena terlalu fokus melamun, ia tidak sadar seseorang datang mendekat.
"Butuh yang manis dan segar? Silahkan dinikmati jus buatan saya." Seru Nicholas yang tiba-tiba datang dengan troli berisi makanan dan minuman.
__ADS_1
Raka langsung duduk dan menghampiri troli tersebut. Saat tangannya bersiap mengambil makanan, tiba-tiba ada yang menahan tangannya.
"Aduh! Kau? Kenapa menahanku?" Protesnya. Ia menoleh ke belakang dan ternyata itu Raphael.
"Cuci tanganmu, tuan muda." Ucap Raphael sambil mendelik tajam. Raka menggerutu sambil masuk kedalam untuk mencuci tangannya.
Saat kembali, semua makanan dan minuman yang mengundangnya itu telah tersaji dengan rapi di atas karpet. Raphael duduk di di situ sambil menuang tehnya.
"Mana jus buatan Nich?" Tanya Raka. Raphael mengerutkan dahinya dan melirik kearah pelayan yang sedang bersantai di bawah pohon sambil menggigit apel.
"Oh! Kau mengerjai ku, Nich?" Ucapnya kesal.
Akhirnya mereka berdua menikmati cemilan dan minuman kesukaan masing-masing. Dari tadi, Raphael memperhatikan raut wajah Raka seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu.
"Kalau ada yang membebani pikiranmu, katakan saja. Jangan di pendam sendiri."
Raka menghela nafasnya. Ia tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
Nicholas memperhatikan raut wajah tuannya yang tenang. Raka bisa mengontrol emosinya dan menjadi pribadi lebih tenang. Ia sangat bersyukur dengan kehadiran Raphael yang membawa pengaruh positif padanya.
"Kau Sudah menjenguk kakek?" Tanya Raka yang sedang duduk di tangga perpustakaan.
"Sudah tapi, cuma sebentar. Kata Zack, kakek tidak boleh di ajak bicara dulu. Sepertinya ada masalah besar yang sedang terjadi sampai kakek jatuh sakit." Jawab Raphael yang sedang duduk di samping Raka.
Buk!
Raka menutup buku tebalnya dan memerhatikan rambut panjang bocah yang di sampingnya.
"Rambutmu sudah sangat panjang. Kenapa tidak di potong? Apa tidak merasa berat?" Tanyanya penasaran.
Si pemilik rambut panjang itu reflek memegang rambutnya dan menoleh ke sampingnya. Ia memperhatikan matanya Raka dan tersenyum.
"Kata ibu, aku cocok dengan rambut panjang."
"Ibu.... angkat mu?" . Raphael mengangguk.
"Oh ya! Pernahkah kamu bertanya-tanya soal warna matamu? Maksudku.., tidak ada orang yang memiliki warna tersebut."
Kini Giliran Raphael yang bertanya. Sebenarnya, masih banyak hal tentang Raka yang sangat ingin ia ketahui. Ia ingin bertanya banyak hal tentang dirinya tapi, khawatir Raka akan merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Pernah ku tanyakan hal ini pada nenekku tapi, sayang sekali. Beliau tidak tahu apa-apa, hanya mengatakan bahwa itu normal dan tidak perlu di khawatirkan. Yasudah, aku tidak bertanya lagi. Selagi masih bisa melihat dengan normal, tak perlu di permasalahkan."
Raka melihat ekspresi aneh Raphael yang seakan belum puas dengan jawaban tersebut. Ia mengerti, orang di sampingnya ini pasti ingin bertanya banyak hal mengenai dirinya.
"Kalau ada waktu senggang, aku akan menceritakan semuanya tentang diriku agar kau tidak penasaran lagi." Raphael terkejut mendengarnya. Ia mengira bahwa Raka tidak akan mau menceritakannya. Ia senang, Raka sudah mau berbagi dan banyak bercerita.
Saat dua bocah itu menikmati kesunyian, , Tiba-tiba saja Raka berdiri dan menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Bahkan, bukunya ia biarkan tergeletak di bawah. Raphael yang melihatnya terdiam heran.
"Ada apa ya?" Batinnya.
××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××
"Sial! Aku lupa! Hah! Bagaimana aku bisa melupakan hal yang sangat penting???!!" Raka berlari menuju ruang kerja kakeknya dengan panik. Para pelayan melihatnya dengan tatapan heran.
Brak!!
Ia membuka pintu ruangan itu. Kosong. Tidak ada kakeknya atau pelayannya. Kemudian, ia masuk dan menutup pintunya kembali.
Bocah itu berjalan menuju meja kerja kakeknya dan melihat beberapa lembar kertas yang tidak beraturan. Ia pun merapikan meja tersebut. Kertas-kertas itu ia pindahkan ke meja kaca dekat sofa yang ada di situ.
Tak lama, meja itu rapi dan bersih. Kemudian ia duduk di sofa single dan membaca isi kertas-kertas tersebut.
"Hmm??!! 'Biaya operasional'. 'Bahan baku' tunggu... Tunggu..... kenapa dua kali di keluarkan dalam waktu sebulan?. Ini juga ada laporan yang terlewat. Aneh!Bulan April mengeluarkan biaya lebih banyak dari bulan kemarin. Bulan Januari sampai Maret stabil. Laporan juga tidak ada yang salah. Apakah ini kesalahan yang normal??"
Raka membaca satu persatu dengan hati-hati. Tidak ingin melewatkan satu huruf pun. Bahkan, angka-angka yang tertera juga tidak lepas dari pandangannya.
"Jangan-jangan.... Kakek jatuh sakit gara-gara ini. Wah! Ada yang nekad bermain-main dengannya."
Tok! Tok!
Ketukan pintu mengalihkan fokusnya. Dan saat orang itu bicara, ternyata itu suara Jonathan. "Ya! Ini Kesempatan emas!" Batinnya lega. .
Ia pun membukakan pintu dan pria dewasa itu terkejut. Bukan Zack, melainkan bocah pintar yang membuatnya penasaran. Jonathan atau yang sering di panggil Jo tersenyum kearahnya lalu masuk.
"Kita bertemu lagi, tuan muda." Sapanya.
"Yap! Memang kita harus bertemu lagi." Sahut Raka dengan wajah seriusnya.
"Saya ingin menemui --"
"Jangan temui Tuan George. Beliau sedang tidak baik-baik saja." Jonathan langsung memasang wajah seriusnya.
"Anda asistennya kan? Anda pasti tau kalau ada laporan pembayaran ganda di bulan kemarin." Ucap Raka sambil memberikan kertas laporan yang di bacanya tadi. Jonathan menerimanya dan mengangguk pelan.
"Iya, masalahnya sedang di atasi sekarang. Pelakunya sudah ketemu." Jelasnya. Raka lalu mengerutkan dahinya sambil menggulung kertas. Matanya terpejam, terlihat berpikir keras.
"Maaf, saya ingin tau mengenai keadaan Tuan George. Kata anda tadi, beliau sedang tidak baik-baik saja. Apakah beliau sedang sakit, atau ada hal lain?" Tanyanya.
"Jadi, perusahaan sedang baik-baik saja?" Tanya Raka balik. Jonathan mengangguk pelan. Raka memicingkan matanya seakan tidak percaya.
"Anda pikir saya tidak tau apa yang anda sembunyikan??! Saya lah yang merapikan kertas-kertas yang ada di meja kerja kakek." Ucap Raka sambil memegang dua lembar kertas yang di gulungnya tadi.
Jonathan menghembuskan nafasnya kasar, lalu duduk di sofa.
"Katakan."
__ADS_1