
Di sebuah negara Eropa Barat
BRAKK!
"B*d*h! Kenapa kau tidak memb*n*hanya saat itu?!"
"A-aku sangat menyayanginya. Sebagai seorang ibu, aku tidak tega meleny*pkannya begitu saja. Tolong mengertilah."
"Heh! Kau pikir, aku tidak tau masa lalumu seperti apa? Anak yang pertama, kau membuangnya begitu saja. Apa bedanya?"
"Jelas beda! Anak itu... Dia membawa kutukan! Dan ingat! Aku hanya membuangnya tidak memb*n*hnya. Lagi pula, kenapa kau gelisah?!"
"Wanita b*d*h! Kalau mereka tumbuh besar dan menghancurkan ku bagaimana?! Memangnya, kau bisa membantuku? Hah?!"
"........"
"Kalau sampai ketahuan, ku b*n*h kau."
BRAKKK!
"Hiks! Maaf aku, ibu. Aku tidak mendengar omongan mu. Hiks! Ibu...."
××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××
Malam hari....
Di sebuah kamar yang penuh dengan mainan dan boneka. Ada dua bocah yang masih belum mengantuk sedang mengobrol santai di atas karpet bulu.
"Oh! Jadi, nenekmu punya toko kue?" Tanya Raphael yang sedang menggambar.
"Iya. Dan sekarang, kakek yang mengurusnya. Aku pernah belajar tentang cara mengelolanya. Ternyata tidak mudah." Sahut Raka yang sibuk menulis jadwalnya untuk pekan depan.
"Tentu saja. Itu kan pekerjaan orang dewasa."
Setelah itu, tak ada pembicaraan lagi. Kamar seketika hening.... Mereka asik dengan kegiatan masing-masing. Sampai tiba-tiba
"Sudah selesai! Ayo siap-siap tidur." Kata bocah yang berambut panjang itu.
"Tunggu! Aku belum selesai. Ini kan gara-gara kakek yang melarang ku keluar." Gerutu bocah yang sedang menulis.
"Tenang.... Aku akan menunggumu. Selesaikan saja dulu." Ucapnya sambil merapihkan peralatan menggambarnya.
"Besok, bolehkah aku membantumu membuat kue?" Tanya Raphael sambil berharap. Dia tau dari Nicholas bahwa hanya orang yang dapat izin dari Raka yang boleh masuk.
"Tentu saja! Tapi, kita harus ke gudang makanan dulu untuk mengambil buah yang kita butuhkan. Kau pernah kesitu?"
Raphael menggeleng pelan. Ia memang belum pernah ke tempat itu. "Kenapa kamu tidak meminta tolong pada Nicholas saja?" Tanyanya lagi.
Raka tersenyum tipis. Ia memilih untuk tidak langsung menjawab. Pandangannya pun masih fokus ke catatannya. Tak lama, ia selesai menulis lalu merapikan alat tulisnya.
"Malam ini, tidur di kamar ku. Aku akan menjawab rasa penasaranmu itu. Jangan lupa bawa Fluffy juga." Kata Raka sambil bersiap keluar dari kamar itu.
Raphael tersenyum. Ia pun bangkit dari kasurnya dan tidak lupa membawa Fluffy. Boneka kelinci kecil bewarna biru cerah.
Mereka berjalan menuju kamar Raka sambil melihat-lihat pajangan yang di sekelilingnya.
__ADS_1
"Aku heran. Ini mansion atau museum sih?! Banyak sekali pajangan disini." Gumamnya.
"Kakek tidak begitu suka tembok yang penuh dengan pajangan. Tapi, semua pajangan ini, adalah kenangan dari keluarga dan kerabatnya beliau yang sangat berharga." Sahut Raphael yang mendengar gumaman nya.
"Oh! Maksudmu, setiap pajangan ada maknanya ya?" Tanyanya.
"Iya. Seperti pajangan kendi itu. Kamu bisa melihatnya, kan? Kakek mengatakan bahwa itu adalah kendi favoritnya mendiang ibunya." Jawab Raphael sambil menunjuk sebuah kendi yang cantik dengan ukiran bunga sakura.
"Hanya pelayan yang terpilih yang membersihkan pajangan-pajangan tersebut." Tambahnya. Ia tidak sadar, bahwa Raka telah meninggalkannya.
Raka berjalan menuju suatu tempat yang membuatnya penasaran. Karena tak sabar, akhirnya ia berlari dan sampailah ke tempat tujuan. Sebuah lorong yang penuh dengan foto. Ada foto pernikahan, foto keluarga dan ada juga foto seorang wanita.
Matanya memperhatikan foto itu satu persatu dan berhasil menemukan sebuah foto seorang pria yang pernah menghantui pikirannya.
Seorang pria dewasa dengan matanya bewarna biru, hidungnya mancung, rambutnya yang coklat dipadukan dengan warna merah menyala. Tatapannya benar-benar tajam seakan dia masih hidup. Dan ia memakai jas berwarna abu-abu.
Dibawahnya ada tulisan yang sangat kecil sehingga Raka merasa kesulitan untuk membacanya. Tapi, ia tidak menyerah. Ia mengambil kursi kayu yang tinggi. Menaikinya lalu membaca tulisan itu.
''Nathanael Felipe Abraham Vicenzo'' akhirnya ia bisa membacanya dan tau siapa pria itu. Kemudian, ia langsung turun dengan perlahan dan mengembalikan kursinya ke tempat semula.
Sebelum meninggalkan tempat itu, ia mencatatnya di sebuah buku kecil yang muat dalam sakunya.
"Ternyata, begini yaaa wajahnya Tuan Nathanael. Di mimpiku... Ia tidak menunjukkan wajahnya entah alasannya apa." Gumamnya sambil keluar dari lorong itu.
Drap drap drap!
"Hah! Hah! Raka dimana ya? Duuh. Ini sudah sangat malam. Para Pelayan saja sudah berada di kamarnya. Kenapa dia tiba-tiba meninggalkan ku? Kalau kakek tau kita belum tidur, bisa gawat!" Raphael berlari kesana-kemari mencari Raka yang menghilang.
Berkeliling mansion memang butuh tenaga yang tidak sedikit. Tempat itu sangat luas dan banyak ruangannya. Raphael memang tidak jarang berkunjung tapi, tetap saja dia belum hafal semua jalan dan ruangan mansion itu.
"Kamu kemana saja sih? Aku mencarimu. Kalau kakek tau kita belum tidur, bisa-bisa dimarahi." Cecar Raphael sambil mengatur nafasnya.
"Maaf. Yasudah... Ayo ke kamarku. Sebentar lagi sampai kok." Kemudian mereka berjalan dengan sedikit berlari dan tak lama, sampai ke kamar Raka.
Ceklek!!
"Haaaahhh ya ampun! Aku merasa seperti orang yang sehabis mencuri. Sudahlah. Sekarang waktunya Tidur!" Raka merebahkan tubuhnya di kasurnya dan tak lama ia tertidur pulas.
Raphael mendengus kesal karena rasa penasarannya belum terjawab. . Rasanya sangat malas untuk menghampiri kasur empuk itu. Akhirnya ia mematikan lampu dan tidur di atas sofa yang didekatnya.
"*Rakasha Nathanael Vicenzo. Kaulah yang bisa ku percaya. Kau harus menghancurkan orang-orang yang telah memb\*n\*h keluargamu. Napoleon. Mereka adalah musuhmu. Balaskan dendam ku! Mereka yang telah memfitnah dan mencerai-beraikan keluarga Vicenzo. Kau harapan keluarga ini*."
Kata seorang pria dengan pakaian yang sudah robek dan banyak cipratan darah. Wajahnya menunjukkan kemarahan yang amat sangat dan Kedua tangannya terkepal kuat. Nafasnya naik turun.
Tiba-tiba, seluruh tubuhnya terbakar. Di belakangnya ada seorang wanita yang tergeletak tak bernyawa, juga ikut terbakar.
__ADS_1
Raka terkejut melihat pemandangan mengerikan itu. Ada rasa kasihan di hatinya yang paling dalam. Ingin sekali membantu mereka tapi, kakinya tak bisa bergerak.
Hah!
Tiba-tiba bocah itu terbangun dengan ngos-ngosan. Ia mengatur nafasnya, dan mengelap keringat di wajahnya. Padahal, kamarnya sangat sejuk karena angin AC. Mimpinya terulang lagi.
Bertemu untuk kesekian kalinya dengan seorang pria misterius itu. Tapi, sekarang bukan misterius lagi karena ia sudah tau siapa Dia. ..
"Apa yang kau mau dariku? Hah! Aku bisa sakit kepala lagi kalau begini terus. Katakan sajalah! Jangan terlalu banyak memberiku kode. Dendam?? Dendam apa?" Batinnya bertanya-tanya.
Sebenarnya, ia sudah sangat lama ingin menceritakan kepada kakeknya. Tapi, lidahnya terasa berat. Ingin melupakannya tapi, mimpi itu muncul lagi.
"Tuan Nathanael... Aku akan membantumu jika kau tidak menyiksaku begini. Haaah!" Ucapnya tiba-tiba.
"Aku tidak bisa tidur lagi. Sudahlah! Lebih baik ke dapur. " ucapnya sambil turun dari kasur yang berantakan. Ia langsung membuka seprai dan meletakkannya di lantai. Kemudian berjalan ke kamar mandi. Setelah itu, mengganti pakaiannya dan keluar membawa cucian kotor.
"Aduh! Berat juga ya. Kenapa tidak ku tinggalkan saja yaa di kamar. Mana ku lupa lagi letak tempat cuci bajunya." Gerutunya sambil menyeret cucian ember berisi cucian kotor itu.
"Tidak mungkin ku tinggalkan di sini. Aha! Di letakkan di dapur saja." Sampailah ia di dapur. Raka langsung mencuci tangannya dan memeriksa isi kulkasnya. Ada beberapa buah seperti semangka, apel, dan stroberi.
Beruntung stroberinya sudah di cuci, jadinya ia bisa langsung memakannya.
"Lupakan sebentar mimpi itu. Aku harus menenangkan diri. Pokoknya, hari ini harus menceritakan semuanya pada kakek. Dia pasti tau." Batinnya.
Sedangkan Di kamar lain, George berbaring di atas kasurnya dengan seorang pelayan setia di sampingnya, menemani tuannya yang sedang sakit. Wajahnya sangat pucat dan badannya menggigil. Padahal, dari tadi pagi sampai sore ia baik-baik saja.
Sekitar jam delapan malam, ia merasa badannya sangat lemas, dan kepalanya pusing. Zack setia menemaninya dan mengurusnya. Ia ingin memberitahu dua cucu tuannya tapi, George melarang.
"Ayah, biarkan dia. Jangan mengganggunya." Itulah kalimat yang diucapkan George dari tadi sambil memejamkan matanya.
__ADS_1