
"Wah, tokonya ramai, ya. Pasti nenek sibuk. Pulang dulu ah. Nanti balik lagi." Raka yang awalnya ingin makan siang bersama neneknya, tidak jadi karena toko masih banyak pelanggan. Akhir tahun ini memang sangat sibuk bagi Lynn. Banyak orang yang memesan kue kering dan brownies buatannya. Meskipun sudah ada 4 orang karyawan, tetap saja masih kewalahan.
Raka ingin sekali membantu tapi, Lynn melarangnya. "Kamu main saja. Nikmati masa kecilmu. Ambil uang ini. Nenek sudah sisihkan untukmu membeli makanan." Begitu katanya.
"Huuh. Aku harus kemana ya. Aku sedang tidak ingin membaca buku. Tadi aku sudah membuat pudding lalu membersihkan dapur. Setelah itu, duduk menunggu nenek. Huuuhh bosan" Gerutunya sambil terlentang dekat danau.
"Rakaaa" seorang perempuan memanggilnya. Ia mengenali suara itu dan langsung menoleh.
"Miss Elsa. Sudah lama tidak bertemu." Raka berdiri menghampirinya.
"Apa yang kamu lakukan disini sendirian?" Tanyanya dengan ramah..
"Menunggu malam tiba." Jawabannya asal.
Gadis itu terkekeh. Ia tau, bocah di hadapannya ini sedang merasa bosan. "Bagaimana kalau aku menemanimu di rumah? Kita bisa ngobrol sepuasnya."
Raka berpikir sebentar kemudian mengangguk setuju. "Ayo, temani aku pulang." Ia langsung bangun dan jalan mendahuluinya.
Tak lama, mereka sampai. Raka membukanya pintu. Elsa kagum dengan rumah itu. Meskipun kecil dan sudah tua, rumah itu tetap rapi dan bersih.
"Sepertinya kamu rajin membersihkannya ya. Hhhmm... Wangi lemon." Elsa benar-benar merasa nyaman di rumah itu. "Rasanya ingin menginap 2 malam di sini." Batinnya.
"Silahkan di minum teh nya." Raka menyuguhkan secangkir teh dan biskuit choco chips sebagai pelengkap.
"Wah, Lemon tea! Terimakasih, ya. Sebenarnya Tak perlu repot-repot."
"Tidak repot, mudah kok membuatnya." Elsa menikmati teh yang wangi tersebut. Saking asiknya, ia sampai tidak sadar secangkir teh dan biskuit di piringnya sudah habis. Raka hanya duduk menemani sambil menulis.
"Aduh, maaf ya. Aku sibuk sendiri." Katanya dengan suara pelan. "Tidak apa-apa." Balasnya sambil terus menulis.
Gadis itu memperhatikan Raka dengan intens. Ia sangat penasaran tentang bocah unik di hadapannya.
"Rambutmu terlihat berbeda dari orang pada umumnya ya. Merah menyala."
Raka hanya mengangguk. "Pernah tanya pada nenekmu soal rambut?."
"Tidak. Lagi pula, tidak masalah kan? Maka itu aku heran dengan orang-orang yang selalu bertanya soal rambutku. Bosan mendengarnya." Jawaban Raka seakan memperingatinya untuk tidak membicarakannya lagi.
Elsa melihatnya sibuk menulis. Tangannya tidak berhenti meskipun sedang diajak bicara. Terlihat bukan seperti anak kecil. Melainkan seperti orang dewasa yang sedang bekerja.
Suasana sangat hening dan tegang.
Raka benar-benar tidak berbicara kalau tidak ada yang mengajak. "Jangan belajar terus, sekali-sekali bermainlah dengan temanmu. Nanti kamu stres lho. Memangnya kamu tidak butuh teman?" Kata Elsa, memecah keheningan.
Tangannya yang sibuk menulis seketika berhenti. Matanya melirik tajam ke arahnya.
Glek!
Gadis itu mendadak merinding. Tatapannya benar-benar menakutkan. "Hhmmm.... Maaf ma-maksudku..." Rasanya ingin sekali kabur dalam sekejap.
"Bisa diam, tidak? Aku benar-benar tidak suka DIATUR! Main atau tidak, itu bukan urusanmu. Tidak semua anak kecil SUKA BERMAIN. Tiap orang memiliki kesukaan masing-masing. Mengerti?!"
Matanya terbelalak tidak percaya. Cara bicaranya dan menatapnya benar-benar menakutkan. Ingin sekali keluar dari tempat itu tapi, badannya mendadak kaku.
"Ini kue pesanan Ibu anda. Maaf saya tidak bisa mengantar anda. Silahkan keluar sendiri." Kata Raka yang tiba-tiba memberikan kotak putih dengan hiasan pita merah diatasnya.
Dengan gemetar ia mengambil kotak itu dan segera keluar. "Huuuh apa itu? Kenapa mukanya sangat berbeda ya? Apa jangan-jangan dia memiliki kepribadian ganda?" Monolognya saat jalan pulang.
"Hhhmmm. Teman ya???? Hah!Lebih baik aku mencari es krim untuk mendinginkan otakku."
Ia berganti baju dan tidak lupa mengambil uang di lemarinya kemudian pergi keluar.
"Enaknya..... kalau saja nenek sedang tidak sibuk, akan ku ajak menikmati es krim ini sama-sama."
Saat sedang santai dengan eskrim di tangannya, tiba-tiba seseorang datang menyapanya. "Hai, kita bertemu lagi."
Suaranya tidak asing di telinganya. Malas sekali ia membalasnya. Akhirnya ia terus memakan es krimnya sampai habis.
"Tidak boleh diam kalau ada yang--"
__ADS_1
"Kau menyebalkan. Kenapa selalu datang saat aku sedang menikmati makananku? Paman Hans!" Raka beranjak dari tempat duduknya dengan muka masam. Sepertinya hari ini hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Aku tidak bermaksud mengganggu mu. Aku hanya ingin menyapa." Kata pria yang bernama Hans.
"Oooh kau sedang kecewa ya. Ya, ya. Namanya juga menjalin hubungan cinta. Pasti ada-" kata Raka saat melihat mawar kuning yang di pegang Hans.
"Hush! Kamu masih kecil kok sudah tau soal itu? Makanya jangan sembarang baca buku." Mendengar itu, Raka tersenyum miring.
"Kamu memata-matai ku ya?" Hans terkejut mendengarnya. Tak sadar, ia telah masuk kedalam jebakan bocah ini. Raka tertawa mengejek. Akhirnya ia berhasil.
"Di perpustakaan More Books, aku merasa ada yang mengikuti dan memperhatikan ku dari jauh. Cih! Berpura-pura sebagai petugas di situ. Memangnya aku sebodoh itu?! Aku sengaja mengambil buku soal percintaan untuk menarik perhatiannya. Hahahahhahaa yang ternyata, kena juga." Jelasnya.
Hans melongo mendengar penjelasannya. Benar-benar mind blowing. Bagaimana ia tau, padahal orang itu bersikap seperti petugas pada umumnya.
"Kenapa kau memata-matai ku? Sepertinya aku tidak pernah punya masalah dengan mu." Tanyanya sambil menahan kekesalannya. .
"Aku hanya penasaran dengan kehidupanmu. Aku tau kamu tidak akan menceritakannya." Jawabannya cepat.
Raka hanya manggut-manggut, ia tidak percaya begitu saja. Tapi ia malas memperpanjang. Rasanya ingin buru-buru pulang dan tidur dengan nyenyak.
"Do what you want! I don't care. Tapi, ingat! Jangan mengganggu nenekku." Setelah mengatakan itu, ia berlari meninggalkan Hans yang masih terdiam kaku.
"Benar-benar keturunan Vicenzo!" Gumamnya.
"Jengkel sekali! Kenapa tingkah orang makin aneh yaa. Yang di tanya juga bukan hal yang penting (?). Sepertinya aku harus makan sesuatu untuk menenangkan diri." Raka pulang dengan muka masam dan menggerutu. Ia berjalan dengan tergesa-gesa agar cepat sampai rumah.
Klek!
"Bagus! Kalian bersenang-senang, sedangkan aku kesusahan dan menderita di luar sana!"
Raka langsung masuk dan menatapnya tajam. Alan duduk dengan santai sambil memegang sebuah kotak berisi uang yang selama ini Lynn kumpulkan.
"Kembalikan kotak itu! Itu uang hasil kerja keras nenek."
Alan tidak menggubris. Ia masih duduk santai dengan kotak yang masih di tangannya.
"Bocah s\*\*lan! Tau apa kau soal KERJA KERAS?! Bocah seperti mu itu cuma tau menghabiskan uang. Contohnya obat-obatan yang kamu minum. Memangnya ada hasilnya? Tidak ada, kan?! Hahahaha ya, sama dengan yang mengkonsumsinya."
Napasnya naik turun, sudah sejak tadi ia menahan kekesalannya. Di belakangnya terdapat sebuah bangku kecil. Langsung saja ia ambil dan melemparnya ke arah Alan.
Brak!
Arrgh!
Lemparan itu tepat mengenai betisnya. Ia mengerang kesakitan. Tiba-tiba....
"Raka, Alan. Apa yang kalian lakukan?!" Lynn datang dengan napas yang terengah-engah. Ia berlari dari tokonya setelah mendapat laporan dari tetangganya yang melihat Alan datang.
__ADS_1
"Lempar bocah ini ke tengah jalan! Biarkan dia M\*TI! Berani sekali dia menyakitiku!!" Teriak Alan sambil menahan memar di betisnya.
"MANUSIA TIDAK BERGUNA SEPERTI KAU, TIDAK PANTAS HIDUP!"
DEG!!!
Lynn yang masih bingung dengan situasi kacau ini, dikejutkan dengan perkataan cucunya. Ia tau bahwa Raka tidak pernah menyukai Pamannya, Alan. Maka itu, jika Akan datang Lynn langsung menyuruh Raka bersembunyi di kamar agar tidak bertengkar dengan Alan.
Dan sekarang hal yang tak pernah ia harapkan terjadi. Raka berhadapan dengan Alan. Bahkan sampai melempar barang.
Mata ungunya menatap Alan dengan penuh amarah. Lynn menarik pelan lengannya untuk menjauh dan mengajaknya ke kamar. Saat di dalam kamar, ia berteriak.
"KENAPA NENEK MEMBIARKAN DIA MENGINJAK-NGINJAK NENEK? JANGAN MAU DI PERLAKUKAN SEPERTI ITU! MAU SAMPAI KAPAN HARUS BERSABAR?!"
Air matanya mengalir deras. Ia tau semua, meskipun Lynn berusaha menutupinya.
Lynn berusaha menenangkannya, ia panik. Selama ini, cucunya tidak pernah tantrum. Baru kali ini ia melihatnya mengamuk dan susah di kendalikan. Akhirnya, ia memutuskan untuk meninggalkannya sendiri dulu.
Lynn kembali ke ruang tamu, ternyata Alan sudah pergi. Ia menghela nafasnya berat. Badannya sudah sangat lelah. Begitu juga dengan pikirannya. Pintu langsung ditutup dan dikunci rapat setelah itu, ia duduk di lantai. "Hiks!, aku sudah tidak kuat." Ia menangis tersedu-sedu, mengeluarkan semua perasaan sedihnya yang tertahan.
Malam tiba.
Lynn tertidur di lantai. tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Raka keluar melihat neneknya yang tampak kelelahan. Ia merasa sangat bersalah. "Seharusnya aku tidak melakukannya. Maafkan aku." Ia berlari ke dapur mencari makanan.
"Nenek pasti belum makan."
Tangannya bergerak lincah mengupas dan memotong buah. Tak lupa ia mengeluarkan puding buah yang kemarin ia buat.
Dengan perlahan, ia meletakkan hidangan segar itu diatas meja ruang tamu. Setelah itu, ia membangunkan neneknya, Lynn langsung terbangun. Matanya bengkak sehabis nangis.
"Raka, hhmm."
Grep!
"Nek, aku minta maaf ya. sudah membentak nenek tadi. Pasti nenek sedih. Iya, kan?" Raka memeluknya erat. Ia benar-benar merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, sudah jangan menangis lagi. Kamu pasti lapar, ayo kita makan." Katanya menghibur Raka.
Lynn melihat hidangan yang disajikan cucunya. Terlihat segar dan menggiurkan. Mereka makan dengan hati yang terasa lega setelah mengeluarkan yang selama ini tertahan. Setelah itu, mereka membereskan rumah, berganti pakaian dan tidur.
"*Aku sebenarnya ingin pergi tapi, siapa yang akan menjaga nenek?. Aku heran dengan nenek yang selalu diam saat diinjak. Aku tidak suka melihat nenek yang tidak bisa membela dirinya sendiri. Alan, suatu saat kau akan mendapatkan balasannya. Jika nenek tidak mau melakukannya maka, aku yang akan melakukannya*."
__ADS_1