When Celebrity Meet CEO

When Celebrity Meet CEO
Apa Yang Kamu Inginkan


__ADS_3

Wanita yang tersenyum kala diwawancarai oleh salah satu stasiun televisi yang membahas tentang tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam bisnis.


Wajah rupawan, senyuman yang terlihat anggun. Tidak ada yang kurang darinya, penyataan yang mengejutkan para wartawan. Telah menikah? Bahkan dengan kalangan selebriti?


"Maksudnya William? Bukannya baru saja tersandung rumor penyuka sesama jenis?" tanya sang reporter, menghela napas kasar. Dari bisnis kini beralih ke masalah gosip.


Giovani tertawa kecil, terlihat bagaikan mendengar sebuah lelucon."Penyuka sesama jenis? Itu hanya foto shoot yang aku ambil untuk video klip terbarunya, tentang LGBT Ada beberapa orang yang menganggap itu adalah hak asasi manusia, walaupun melanggar norma. Tapi ada juga yang memandang jijik seperti pelaku kejahatan. Karena masih pro kontra untuk meluncurkan lagu itu, cemas jika akan menimbulkan konflik nanti, jadi peluncurannya di batalkan."


"Jadi William bukan penyuka sesama jenis?" tanya reporter semakin tertarik.


"Bukan, kami sudah menjalin hubungan selama 1 tahun sebelum menikah pada akhirnya. Itu benar-benar properti untuk video klip. Seharusnya diluncurkan 6 bulan lalu. Tapi karena batal, aku menyimpannya untuk mengolok-olok William. Kalian pasti mengerti tentang candaan sepasang kekasih. Beberapa minggu lalu phonecellku rusak dan diperbaiki. Mungkin orang yang mereparasi nya yang menyebarkan." Penjelasan detail dan benar-benar masuk akal. Tidak terbantahkan sama sekali.


*


Benar-benar rubah picik yang memegang kipas. Itulah Giovani di mata seorang William saat ini. Wanita tengil seperti ini jika dijadikan musuh, maka akan mengancam keselamatannya.


Pemuda yang saat ini tengah menonton televisi."Apa aku boleh pakai internet?" tanyanya melirik ke arah seseorang berpakaian rapi. Terlihat seperti seorang kepala pelayan.


"Boleh dengan pengawasan saya, tapi saya sarankan pada anda untuk segera menerima nona. Jika tidak dia akan datang." Ucap kepala pelayan menunduk memberi hormat.


Pria yang mungkin sudah berumur 55 tahun. Membimbing jalannya menunju ke ruangan lain. William menghela napas kasar. Semua orang membicarakan tentang tunangan Giovani, mungkin pria itu akan dapat menjadi celah untuknya melarikan diri dari sini.


"Omong-ngomong Giovani sudah memiliki tunangan kan?" tanya William penasaran.


Sang kepala pelayan mengangguk."Nona sudah memiliki tunangan. Namun nona memutuskan pertunangannya sepihak 10 tahun lalu."


"Memutuskan? Siapa nama tunangannya?" tanya William menyeringai benar-benar ingin tahu.


"Jika anda menganggapnya sebagai saingan aku akan memberitahu anda. Tapi jika hanya ingin meminta bantuan padanya untuk lepas dari nona. Sebaiknya jangan, membuang nona? Sedikit saja menyakiti perasaannya? Aku sendiri yang akan membunuh anda jika melakukannya pada nona." Ucap pria itu sedikit menoleh dengan seringai senyuman yang tidak biasa.

__ADS_1


William hanya dapat menelan ludahnya. Entah kenapa dirinya ketakutan saat ini. Pria di hadapannya ini berbeda, bukan pria tua biasa. Rumah besar ini seperti kastil yang dipenuhi dengan iblis.


"A...aku..." William tergagap-gagap.


"Anda boleh menggunakan laptop tapi dengan pengawasan saya." Ucap sang kepala pelayan.


Tidak seperti di ruang musik yang dipenuhi dengan penghargaan dan foto-foto Giovani bersama keluarga dan seorang anak yang mungkin lebih tua dua tahun darinya. Ruangan ini dipenuhi dengan berbagai buku bacaan, ada juga pedang bernilai ratusan ribu dollar, beberapa penghargaan di bidang bela diri.


Wanita yang benar-benar mengerikan bagi William. Mau jadi apa anak mereka nanti? Dapat dibayangkan olehnya. Jika pria lain bertengkar dengan sang istri mungkin hanya akan dipukuli menggunakan sapu. Tapi Giovani? Sekali bertengkar senjata laras panjang yang terpajang di rak akan digunakannya. Pedang samurai akan diayunkan olehnya. Hingga pada akhirnya seorang William hanya tinggal nama, tenang terkubur dalam tanah.


"Aku harus kabur," batinnya ketakutan. Tapi rasa penasarannya tetap ada dengan komentar netizen berikutnya. Bagaikan penulis novel online yang tersenyum-senyum sendiri membaca komentar reader nya.


William duduk pada akhirnya, membaca satu persatu komentar, di semua akun media sosialnya. Semuanya dibanjiri dengan permintaan maaf, hanya karena kesalahan pahaman membencinya. Wajahnya tersenyum membalas membuat postingan.


'Baiknya hati bukan orang lain yang tau. Tapi hanya diri sendiri yang tau. Terimakasih sudah mendukungku selama ini...'


Kata-kata yang ditulisnya dibanjiri dengan emoji tangisan. Ada fans berat yang bahkan mengaku melempar telur padanya.


Ada yang kemudian meminta maaf, sempat membuat postingan hoax anonim tentang William yang melecehkan seorang anak laki-laki di bawah umur.


"Tenang William," Ucapnya kali ini terlihat tersenyum dipaksakan.


Terakhir ada fans beratnya yang mengaku sudah terlanjur mengirim pembalut wanita dengan noda darah serta bangkai tikus lewat paket ke apartemen William, hanya karena kecewa ternyata idolnya penyuka sesama jenis.


"Br*ngsek! Apa aku pernah meminjam uangmu tanpa aku kembalikan!? Apa aku pernah menghina fansku!? Apa aku pernah mengata-ngatai orang tuamu!? Si*kan!" Sumpah serapah diucapkan William tapi jemari tangannya tidak membalas komentar netizen sama sekali. Sekali lagi, menjaga citranya sebagai selebriti ternama.


Sedangkan sang kepala pelayan hanya dapat mengangkat salah salah satu alisnya saja. Mendengar sumpah serapah tidak ada habisnya.


"Tidak waras! Dasar iblis!" batin kepala pelayan mendengar umpatan William. Yang tidak membalas pesan satupun pesan netizen, tapi mengomel bagaikan orang yang ditagih hutang.

__ADS_1


*


Tepat pukul 5 sore pintu gerbang besar itu terbuka. Terlihat Giovani turun dari mobil, berjalan menuju rumah, membawa sebuah paperbag. Wanita yang berjalan dengan cepat menuju lantai dua kamar tempat William berada.


Apa yang dibawanya? Kue ulang tahun, hari ini adalah hari ulang tahunnya. Hingga sang kepala pelayan menghentikan langkahnya.


"Nona, ada paket dari luar negeri." Ucapnya memberikan sebuah kotak yang entah apa isinya.


Perlahan dirinya membuka kotak di hadapannya.


'Untuk Giovaniku yang tercantik.'


Sudah jelas ini berikan oleh siapa. Isi di dalamnya? Sebuah kotak musik kecil dengan patung kecil seorang pria dan wanita menari bersama di dalamnya. Serta sebuah kalung, dengan blue diamond, bagian belakang liontin berisikan namanya dan nama seorang pemuda di belakangnya.


"Simpan di ruang musik," ucap Giovani mengembalikan pada pelayan.


"Tapi jika dia kembali karena mendengar kabar pernikahan anda---" Kata-kata sang kepala pelayan terhenti, menatap setetes air mata mengalir samar di pipi Giovani.


"Aku sudah menjadi seorang istri, apa aku akan memiliki anak sendiri nantinya?" tanyanya pada sang kepala pelayan.


"Tentu saja nona..." jawaban dari sang kepala pelayan menatap punggung Giovani yang berjalan cepat tidak sabaran menuju kamarnya.


*


Bug!


Pintu dibuka dengan cepat terlihat William di sana dengan raut wajah muram."Aku ingin keluar dari penjara ini!" tegasnya.


"Hanya satu minggu, setelahnya kamu boleh keluar beraktivitas. Aku---" Kata-kata Giovani terhenti. Kala William tiba-tiba mencium bibirnya. Jemarinya bergerak berusaha membuka pakaian Giovani.

__ADS_1


"Ini yang kamu inginkan? Apa hanya tubuhku?" bisiknya pada Giovani.


__ADS_2