
Sama seperti hari-hari lainnya. Sepasang ibu itu meninggalkan anak mereka bermain. Sedangkan mereka mengobrol, sembari tertawa, membayangkan ketika tua nanti akan memiliki cucu.
Tapi apa benar-benar bermain?
Plak!
Giovani memukul kepala Kenzie menggunakan kipas."Sakit!" pekiknya, yang menyerang Giovani dengan pedang kayu.
Tidak menggunakan pengaman sama sekali Giovani yang kini berusia 13 tahun itu membelokkan arah serangan pedang kayu menggunakan kipas. Menghindari serangannya, kemudian memukul tengkuk Kenzie, menekan punggungnya hingga jatuh tersungkur.
Gadis wanita yang terlihat pucat pasi itu tersenyum, masih membawa kipas putih kesayangannya."Kalah lagi?" gumamnya tersenyum, memakai pakaian sederhana, kimono berwarna abu-abu.
"Iya! Aku kalah!" dua orang tertawa bersama, meraih minuman isotonik.
Hingga keduanya orang tua mereka sepakat untuk membuat perjodohan. Tidak ingin sepasang monster itu berakhir dengan orang lain. Sepasang monster yang tinggal bersama akan menghasilkan banyak monster kecil yang manis suatu hari nanti, itulah yang ada dalam imajinasi Eveline dan Denisa.
Eveline dan Denisa saling melirik, menipiskan bibir, sudah merencanakan pertunangan anak mereka tanpa pemberitahuan sama sekali. Empat tahun ini entah berapa penghargaan yang telah mereka raih, benar-benar bakat dua ekor monster kan?
Tapi satu hal yang tidak diketahui Denisa. Betapa rapuh putrinya yang hanya dapat melihat belas kasih dan raut wajah iba keluarganya dari kecil.
Terkadang sang ayah mengeluh tengah malam, mengapa Giovani memiliki penyakit jantung. Mengurus dirinya bukanlah hal yang mudah, beberapa perjalanan bisnis harus dibatalkan bahkan ditunda ayahnya, hanya untuk menemani putrinya menerima perawatan intensif.
"Kenapa aku tidak mati saja?" pertanyaan yang ada dalam diri Giovani mengingat serangan jantung yang sempat dialaminya dua minggu lalu. Tidak mengatakan di hadapannya, tapi dirinya tau keluarganya begitu lelah menjaganya, mungkin sudah muak.
"Sakit! Sabarlah, mungkin sebentar lagi akan mati..."batin Giovani dengan keringat dingin yang menetes, berusaha untuk tersenyum, menahan rasa sakit di dada kirinya, melirik ke arah sang ibu yang tengah berbincang dengan Eveline
"Kita bertarung sekali lagi," kalimat yang diucapkan Giovani pada Kenzie. Tidak ingin hidup lebih lama lagi.
Kenzie yang tidak mengetahui apapun hanya tersenyum kembali bangkit, bersiap-siap dengan pedang kayunya. Hingga dirinya mendekat.
Namun, remaja berusia 16 tahun itu membulatkan matanya. Kala Giovani roboh dalam pelukannya, tanpa memberikan perlawanan sama sekali.
"Giovani? Giovani! Jangan bercanda..." Ucap Kenzie memeluk tubuh Giovani mengguncangnya ketakutan. Tapi tidak ada sahutan sama sekali. Hanya hening dengan tubuh lemas yang dingin.
"Giovani!" Denisa dan Eveline segera berlari mendekati mereka.
__ADS_1
Tidak ada yang diingat oleh Giovani lagi, semuanya gelap kala terjatuh dalam pelukan Kenzie. Kala matanya sedikit terbuka, alat bantu pernapasan telah terpasang. Matanya menatap, seperti biasanya dirinya ada di atas tempat tidur yang didorong menuju ICU.
"Aku masih hidup? Seharusnya aku mati saja," kata-kata yang tidak dapat diucapkan Giovani. Dengan air mata mengalir, tatapannya kosong. Hingga dirinya sedikit melirik, Kenzie ada di sampingnya tetap ikut berlari bersama perawat memegang jemari tangannya.
"Jangan mati!" teriak Kenzie benar-benar ketakutan, dengan air mata mengalir.
Giovani hanya terdiam, menatap ibunya dan Eveline juga ada di sana dalam keadaan panik. Hingga akhirnya tubuhnya masuk ke ruang ICU guna mendapatkan perawatan.
*
Setiap hari Kenzie, Sakha dan Fifi selalu datang menjenguknya. Namun di hari yang berbeda.
Hingga hari ke tiga dirinya kembali pulang ke rumah.
"Hati-hati..." Fifi tersenyum membantunya berjalan, walaupun sejatinya pelayan lain ingin membantu. Gadis yang seakan tidak membiarkan Giovani dekat dengan orang lain.
Kamar yang benar-benar luas, tidak ada nuansa anak perempuan sama sekali. Hanya kamar elegan dengan warna senada sesuai seleranya.
Hadiah bertumpuk di atas tempat tidur. Tentu saja kiriman ayahnya yang mengurus bisnis di luar negeri. Mungkin ada perasaan takut kehilangan putrinya. Memang sang ayah mengeluh, tapi rasa lelah akan menghilang berganti rasa takut kala maut dihadapkan dengan nyawa putrinya.
Beberapa hadiah lain terlihat, dari ibu, kakak, bahkan coklat kemasan dari Jimmy yang saat itu baru berusia 9 tahun itu. Hampir semua hadiah ingin diambil Fifi, kecuali hadiah dari Jimmy tentunya yang hanya jajanan sekolah dasar.
Pada akhirnya kotak terakhir terlihat, sebuah kotak musik didesain khusus dengan seorang wanita memainkan piano dan seorang pria memainkan biola di atasnya.
"Aku boleh---" Kalimat Fifi dipotong.
"Tidak, itu milikku, bawa sisanya ke kamarmu," untuk pertama kalinya Giovani mengeluarkan nada bicara yang cukup dingin. Membuat Fifi mengepalkan tangannya, berusaha tersenyum meninggalkan kamar Giovani.
Giovani tersenyum tipis, memutar kotak musik dengan rekaman kompetisi musik didalamnya. Saat mereka memenangkan kompetisi bersama, dalam kategori harmoni. Memang mengisyaratkan untuk memainkan musik secara berkelompok. Dua orang yang mengalahkan banyak group.
'Untuk sainganku, semoga cepat sembuh.'
'Kenzie'
Itulah yang tertulis dalam kartu. Ada orang yang mengingatnya selain keluarganya. Gadis yang kali ini tersenyum, terlihat lebih bersemangat."Aku harus lebih banyak belajar!" ucapnya bersemangat.
__ADS_1
Sebuah gejala yang tidak diketahui satu orangpun. Bagaimana seorang gadis berusia 13 tahun sudah memikirkan tentang bunuh diri, bagaimana gadis itu tiba-tiba aktif dan banyak bicara. Bukan hanya kekerasan ketika kecil yang mungkin dapat menjadi gejala bipolar disorder. Tapi mungkin juga rasa kesepian, merasa dikasihani, menyimpan luka hati seorang diri tanpa memiliki seseorang untuk bercerita.
Wajah yang begitu ceria kini, mengambil kipas putihnya berjalan ke ruang latihan.
Sedangkan Fifi menutup pintu, membawa pergi pakaian dan boneka yang seharusnya dimiliki Giovani. Wajahnya tersenyum akan membawa semua benda ini ke kamarnya. Selama bersahabat dengan nona muda, tentu apapun yang dimintanya akan dikabulkan Giovani. Tapi tetap saja terkadang dirinya ingin menggantikan posisi Giovani. Mengapa? Seorang nona muda yang diketahuinya harus seperti dirinya yang bersikap lemah lembut dan feminim. Sedangkan Giovani? Macam beruk berayun.
*
Bukan beruk lebih tepatnya siluman penggoda yang membuat Kenzie tidak dapat mengalihkan pandangannya. Telah tiga tahun berlalu dan satu tahun lalu cincin berlian tanda pertunangan telah tersemat di jari mereka.
Sebentar lagi Kenzie harus kembali ke negara tempatnya melanjutkan pendidikan. Sedangkan Giovani yang saat itu berusia 16 tahun akan tinggal di luar negeri untuk menjalani operasi, mungkin akan kembali untuk menjalani masa pemulihannya.
Hari ini dirinya memakai dress putih, memainkan tuts dengan nada-nada yang indah. Lagu yang benar-benar sulit untuk dimainkan. Wajah rupawannya terlihat, menyenangkan untuk memandang dari sudut mana pun. Inilah tunangan kecil seorang Kenzie.
Tidak menyadari Fifi juga berada di sana menghela napas kasar. Menghembuskan asap dari rokoknya, hanya diam di parkiran. Sakha mengikuti sekolah militer, sedangkan Jimmy selalu berprestasi. Jujur dirinya merasa rendah hidup di lingkungan yang begitu tinggi. Ingin memiliki status seperti mereka, bahkan Giovani sebentar lagi akan melakukan operasi jantung setelah dikabarkan mendapatkan donor seorang pasien mati otak di luar negeri.
"Bagaimana caranya?" hanya itulah yang ada difikiran Fifi saat ini. Benar-benar menyalahkan keluarga Sandayu yang tidak menjadikannya sebagai anak asuh saja.
Hingga matanya menelisik mengamati Kenzie yang tertawa bergandengan tangan dengan Giovani. Dua orang yang baru saja keluar dari gedung pertunjukan.
Kekasih kaya? Dirinya sudah memilikinya. Tapi berkahir putus setelah tidur bersama dan memberikan beberapa barang padanya.
Wanita yang mengepalkan tangannya. Akan ada saatnya dirinya dapat menyaingi Giovani.
...Besi berkarat....
...Kala dia menghinggapi tubuhku, aku hanya terdiam. Menyambut hangat sebagai cahaya kecil membahagiakan....
...Membiarkannya menggapai seluruh tubuhku. Karena hanya ada dia yang menempel padaku....
...Tapi tubuh ini mulai remuk perlahan, terkikis keinginannya untuk menjadi diriku....
...Aku hanya sebongkah besi, bersahabatkan karat....
Giovani...
__ADS_1