
Giovani menghela napas kasar, ini adalah hari ulang tahun putranya. Dirinya harus tetap tersenyum. Seperti janjinya tepat pukul 8 malam mobil berhenti di panti asuhan.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, segala persiapan telah dilakukan oleh pihak EO. Anak-anak panti terlihat tersenyum ceria, menikmati cup cake berbentuk mawar, boneka, bahkan wajah Conan tokoh animasi yang digemari putranya.
Hingga dirinya melangkah, menatap wajah seorang anak yang berlari ke dalam pelukannya."Ibu..."
Giovani tersenyum simpul, tubuh anak ini adalah satu-satunya tempat teraman untuknya beristirahat. Anak yang membuatnya harus berbohong pada orang tuanya. Mengatakan dirinya tidak mendapatkan beasiswa, dan tinggal di apartemen mewah saat bersekolah di Jerman. Selama 7 bulan dirinya berbohong, tinggal di tempat yang terkesan kumuh, memakan mie instan dalam kemasan untuk berhemat, bahkan melakukan dua pekerjaan paruh waktu di sela kuliahnya, salah satunya bekerja di bar sebagai bartender wanita. Tapi ini sepadan setelah 7 bulan dirinya berhasil membawa anak ini, anak manis ini menjadi miliknya, mata jernih yang tidak akan mengkhianatinya. Itulah putranya, rasa kasih seorang ibu, pada anaknya. Dirinya benar-benar menjadi seorang ibu, tidak peduli pendapat orang-orang.
"Giovani..." Yuni (pemilik panti asuhan) tersenyum padanya.
"Ini uang untuk putraku dan sumbangan untuk panti asuhan. Terimakasih sudah membantu menjaganya," ucap Giovani tersenyum memberikan amplop coklat yang cukup besar, sembari berusaha mengangkat tubuh putranya yang kini benar-benar berat. Seorang anak yang telah berusia 9 tahun.
"Ibu, setelah ini kita tinggal bersama kan?" tanya Eden.
"Iya! Tinggal bersama." Kalimat yang terlontar dari Giovani mengecup dahi seorang anak dalam gendongannya.
Pesta ulang tahun, segera dimulai. Sang anak tersenyum menatap ibunya. Kemudian mengucapkan permohonannya dalam hati.
"Aku ingin ibu selalu tersenyum seperti hari ini," doa sang anak dalam hatinya. Wajah rupawan yang benar-benar mirip dengan sang ayah ketika muda.
Lilin segera ditiupnya segera setelah mata itu terbuka. Memberikan potongan kue pertama pada sang ibu, kemudian menyisakan satu potong lagi untuk ayahnya. Setiap tahunnya selalu sama, ingin tau rasanya memiliki seorang ayah.
Hingga pesta berakhir, pada pukul 10 malam. Giovani tidak pulang malam ini, berbaring bersama putranya di tempat tidur dalam kamar terbesar di panti asuhan.
"Ibu, ayah orangnya seperti apa?" tanya Eden, menatap wajah ibunya.
"Ayahmu? Seperti apa ya? Dia orang yang tidak pernah mau kalah. Hanya itu..." jawaban dari Giovani penuh senyuman.
"Dia masih hidup?" Eden kembali bertanya.
"Masih, kamu mungkin akan lebih menyukainya dari pada menyukai ibu." Kalimat yang diucapkan Giovani penuh senyuman. Sebuah senyuman yang menutupi rasa takutnya.
Ikatan batin ibu dan anak? Mungkin itulah yang terjadi. Eden menangis terisak, mengetahui perasaan sang ibu yang sebenarnya, seorang anak yang menggeleng dengan cepat."Eden menyayangi ibu! Tidak pernah akan menyayangi ayah..." teriaknya, memeluk tubuh ibunya.
__ADS_1
Hanya putranya yang memahaminya. Wanita yang merasa lebih nyaman saat ini. Ada satu orang yang tulus mencintainya sebagai seorang ibu."Bagaimana jika ibu pergi?"
"Tidak boleh!" bentak Eden.
Sedangkan Giovani mulai tersenyum simpul."Kalau ibu mati, maka tidak akan ada yang cerewet padamu."
"Kalau ibu mati! Maka aku akan mati!" celoteh sang anak, membuat Giovani mendekapnya erat.
"Ibu akan hidup hingga berusia 100 tahun untukmu!" Kata-kata penuh semangat dari sang ibu. Wanita yang mulai menyanyikan lagu pengantar tidur.
Perlahan pelukan sang anak melonggar setelah 20 menit. Mata Giovani menatap iba padanya, mengelus pelan rambutnya. Sang anak yang tidur dengan wajah damai. Ingin melihatnya tumbuh dewasa, hanya itulah harapan Giovani.
*
Sedangkan di tempat lain pemuda itu kini tengah memakai skincare, bahkan memakai masker. Matanya menelisik ke arah jam dinding, pukul 12 malam. Tapi istrinya belum pulang juga, kalau klien tidak mungkin bertemu hingga jam 12 malam.
William menelan ludahnya sendiri membayangkan istrinya berada di club'malam dikelilingi para pemuda tampan yang disewa oleh Giovani.
Ada alasan mengapa dirinya tertawa. Kini dirinya seperti adegan film istri yang diselingkuhi suami. Kala sang istri mulai curiga dengan suaminya yang seorang pengusaha pulang malam, dengan alasan rapat atau meeting.
Sejenak tawanya terhenti, keadaan memang berbalik. Istrinya seorang CEO wanita yang pandai menggoda, bagaikan Casanova.
"Tidak mungkin Giovani berselingkuh kan?" gumam William, mulai ketakutan.
Dengan cepat meraih phonecellnya, mencoba menghubunginya berkali-kali namun tidak ada jawaban. Beralih mengetikan pesan.
'Kamu sudah tidur? Apa acaranya sudah selesai?'
'Sudah makan?'
'Kamu dimana?'
'Apa kamu berselingkuh hanya karena aku menolak berhubungan!?'
__ADS_1
Itulah pesan gila yang dikirimkan William. Pemuda yang kembali merebahkan matanya, berusaha untuk tidur. Tapi sayang, matanya tidak dapat tertutup juga.
"Apa aku diselingkuhi? Cinta memang sebuah penderitaan. Saat berumur 16 tahun aku dicampakkan, saat mulai berusaha membuka hati untuk Yesy dia malah menyukai pria lain, dan saat benar-benar jatuh cinta pada Giovani, istriku berselingkuh..." gumam pemuda dengan masker masih menempel di kulit wajahnya yang putih mulus bak porselen.
Perlahan matanya terpejam.
Bug!
"Awww..." pemuda yang meringis membuka matanya. Hari kini sudah pagi, seperti biasanya Giovani melompat ke atas tubuhnya untuk membangunkannya. Wanita yang telah memakai mini dress berwarna hitam, dengan desain berbeda. Mungkin sudah bersiap untuk pergi bekerja. Membangunkan William yang tidurnya bagaikan kebo.
"Bangun..." Giovani tersenyum, mengecup sekilas bibir William. Pemuda yang membulatkan matanya dengan otak yang masih loading mendapatkan nafkah dari istri.
Giovani segera bangkit kemudian berjalan beberapa langkah, tersenyum cerah."Maaf tidak pulang, aku ketiduran di tempat lain. Jika aku berselingkuh, apa kamu mau melakukannya denganku?" tanyanya mengedipkan sebelah matanya, membuat William mengalihkan pandangannya.
Dirinya benar-benar malu, kenapa sampai-sampai mengirim pesan maksiat itu pada Giovani. Ingin rasanya mengumpat pada jempolnya sendiri. Bagaimana pun ini salah jempolnya.
"Aku mencintaimu..." Satu kalimat yang diucapkan Giovani. Sebelum pergi meninggalkan kamar.
"Aku sudah gila..." gumam William memegang dadanya sendiri dengan jantung yang berdegup lebih cepat. Sejenak kemudian berguling-guling seperti orang gila, tertawa sendiri. Benar-benar aneh rasanya.
*
Sementara di tempat lain, seorang pemuda terdiam menatap tajam ke arah ibunya yang baru datang dari negara lain.
"Ke... kenapa tidak ada yang memberikan informasi padaku!?" tanya Kenzie, dengan bibir yang bergetar, berusaha tetap tersenyum.
"Tempat terpencil, bahkan hanya di hotel saja baru mendapatkan sinyal." Eveline sang ibu menghela napas kasar.
Kenzie terdiam sejenak, menatap ke arah jendela.
"Kalian akrab sejak muda, saling mencintai ketika remaja. Ingat kesalahanmu tidak kecil! Ibu begitu menyayangi Giovani seperti anak ibu sendiri. Bahkan ketika hubungan kalian berakhir, dia tetap memperlakukan ibu seperti biasanya. Kenzie, apa yang akan kamu lakukan? Ibu akan menghargai keputusanmu." Ucap Eveline menunggu jawaban.
Kenzie tersenyum hangat, melirik ke arah ibunya."Tentu saja, akan menyingkirkan batu kerikil..."
__ADS_1